Selasa, 03 Februari 2015

Happily Ever After

 “Hanya karena sebuah cerita nggak berakhir sesuai keinginan kita, bukan berarti cerita itu nggak bagus.” Tangannya bergerak menuju hati. “Happily ever after itu masalah persepsi, Lu. Kebahagiaan selama-lamanya yang sesungguhnya dirasakan di sini.” (Hal. 7)


http://photos-c.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10957224_1594132150823138_1750605029_n.jpg
Penulis: Winna Efendi
Editor: Jia Effendie
Penyelaras Akhir: Widyawati Oktavia
Penata Letak: Gita Ramayudha
Penyelaras tata letak: Erina Puspitasari
Desainer Sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: x + 358 halaman
ISBN: 979-780-770-2
Bisa order buku ini di Kobu: http://tokobuku.getscoop.com/products/happily-ever-after
Tak ada yang kekal di dunia ini.
Namun, perempuan itu percaya, kenangannya, akan tetap hidup dan ia akan terus melangkah ke depan dengan berani.

Ini adalah kisah tentang orang favoritku di dunia.

Dia yang penuh tawa. Dia yang tangannya sekasar serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat sinar matahari. Dia yang merupakan perpaduan aroma sengatan matahari dan embun pagi. Dia yang mengenalkanku pada dongeng-dongeng sebelum tidur setiap malam. Dia yang akhirnya membuatku tersadar, tidak semua dongeng berakhir bahagia.

Ini juga kisah aku dengan anak lelaki yang bermain tetris di bawah ranjang. Dia yang ke mana-mana membawa kamera
polaroid, menangkap tawa di antara kesedihan yang muram. Dia yang terpaksa melepaskan mimpinya, tetapi masih berani untuk memiliki harapan...

Keduanya menyadarkanku bahwa hidup adalah sebuah hak yang istimewa. Bahwa kita perlu menjalaninya sebaik mungkin meski harapan hampir padam.

Tidak semua dongeng berakhir bahagia. Namun, barangkali kita memang harus cukup berani memilih; bagaimana akhir yang kita inginkan. Dan, percaya bahwa akhir bahagia memang ada meskipun tidak seperti yang kita duga.

***

“..., bagaimana caranya mempersiapkan diri  untuk kehilanga orang yang paling kita sayangi? Nggak akan pernah ada moment saat kita siap untuk hal semacam ini.” (hal. 268)

Novel Happily Ever After ini bercerita tentang seorang remaja yang sejak kecil mengakrabi dongeng. Lucia Surya, akrab disapa Lulu menjalani kehidupan yang berbeda dari remaja lainnya. Di awal masa ia menjadi siswi sekolah menengah atas, ia harus menghadapi banyak hal. Saya bahkan menyebutnya sebagai cobaan yang bertubi-tubi.

Kehilangan sahabat, Karin, dan kekasih, Ezra, di waktu yang sama sebab keduanya malah mengkhianatinya dengan menjalin kasih di balik punggungnya. Menjadi anak yang mengalami penindasana (bullying) yang bahkan ikut dimotori oleh Karin. Harus melihat kedekatan Karin dan Ezra di sekolah. Itu jelas bukan hal yang mudah dihadapi oleh seorang remaja. Syukurlah, keakraban Lulu dengan dongeng, buku, dan ayahnya membuat Lulu tumbuh menjadi perempuan yang kuat. Ia mampu berdiri sendiri meski dianggap berbeda.

“Setiap individu pada dasarnya berbeda satu sama lain. Tapi banyak orang cenderung menutupi keunikan mereka agar bisa serupa dan sesuai dengan orang lain, agar bisa diterima oleh masyarakat.” (hal. 45)

Namun cobaan itu kemudian menjadi terasa berat untuk ditanggung saat mendapati bahwa ayahnya mengidap kanker hati, Hepatoma, atau hepatocellular carcinoma. Seketika itu juga, kehidupan dalam keluarga Lulu berubah.


“Kanker itu mimpi buruk buat semua orang, sesuatu yang bikin hidup berhenti begitu aja.”  (Hal. 85)

Kondisi ini memaksa Lulu menjadi semakin dewasa. Membuat Lulu merasa harus tegar dan bahkan mengabaikan semua penindasan yang dialaminya dengan lebih berfokus pada kondisi ayahnya.
Hingga suatu hari ia berkenalan dengan Eli, seorang remaja yang mengidap kanker otak. Laki-laki yang memperlihatkan sebuah optimisme pada Lulu. Mengajari Lulu untuk menghargai setiap detik yang dimilikinya terutama setiap waktu yang tersisa untuk dia habiskan bersama ayahnya.

“Ini memang salah satu resiko yang dibawa sama orang sakit, Lu. Setiap detik berharga. Setiap moment penting. Dan, lama-kelamaan, seseorang yang sakit akan paham bahwa orang-orang takur berada di sampingnya. Takut ketularan, takut merasa sedih, takut ditinggalkan, takut kehilangan. Lalu, mereka akan mulai menghindar. Pada umumnya, orang-orang punya insting defensif –sebelum ditinggalkan, mereka akan meninggalkan lebih dulu. Itu juga risiko jadi orang sakit – kehilangan orang-orang di sekitarnya.” (Hal. 127)

Setelah itu, cerita bergulir. Tentang bagaimana Lulu dan Bundanya menghadapi kondisi sang ayah. Serta bagaimana Lulu belajar melepaskan cinta pertamanya dan juga bersiap mengahadapi kehilangan (kembali).
Kisah dalam Happily Ever After, mengajak pembaca menyadari bahwa dongeng memang memberi kita mimpi. Namun bukan berarti itu hanya angan belaka. Sebab kadang kita perlu percaya tentang akhir bahagia untuk bisa bertahan menghadapi tantangan hidup.

“Jatuh cinta itu gak pake milih, Zra. Nggak milih waktu yang tepat atau momen yang pas. Tahu-tahu, kamu udah jatuh cinta. Kalau kamu beruntung, kamu akan tahu begitu saja. Kalau kamu beruntung, orang itu juga akan membalas perasaanmu.” (Hal. 106)

***
Dapat kiriman buku dan Kalender dari KoBu (^_^)

“Hidup adalah sebuah hak yang istimewa, Lu. Karenanya, kita perlu melakukan kewajiban kita untuk menjalaninya sebaik mungkin.” (Hal. 99)

Membaca blurb novel ini, saya ragu akan sebagus apa kisah yang bisa diungkapkan dari  anak laki-laki yang bermain tetris di bawah ranjang? Tentang “tidak semua dongeng berakhir bahagia”(?). Namun saat menutup buku ini saya berani berkata, “Saya jatuh cinta pada dongeng yang dibuat oleh Winna Efendi ini.”

Satu yang membuatku sangat terikat pada isi dalam novel ini: kedekatan Lulu dengan ayahnya. Hubungan anak perempuan dengan ayahnya. Sebagian besar anak perempuan akan menyetujui bahwa laki-laki yang paling mereka sayangi di dunia ini adalah ayah. Bahwa laki-laki yang paling mampu memahami mereka di dunia ini adalah ayah.

Saat membaca apa yang dialami Lulu dan ayahnya khususnya perjuangan mereka melawan kanker yang diidap sang ayah, membuat saya menangis haru. Mendadak disergap rindu. Membayangkan bahwa saya berada di posisi Lulu jelas tidak mudah. Kedekatan saya dengan papa saya jelas sangat mempengaruhi emosi saya saat membaca buku ini. Tapi sungguh, kemampuan  Winna dalam menggambarkan emosi dan kekalutan Lulu sangat baik. Bahasanya lugas, namun bermakna.

Saya tidak menyangka bahwa novel dengan tokoh anak remaja bisa sangat padat renungan. Konflik yang disajikan bisa dibilang berat namun diuraikan dengan ringan oleh Winna. Banyak kutipan-kutipan yang sarat nilai kehidupan di dalam buku ini. Hm.. meski tokohnya adalah remaja, namun kisah ini bisa memikat semua kalangan.

Saya jadi teringat dengan novel The Fault in Our Stars. Bedanya, jika di novel itu John Green lebih banyak bermain dengan pemikiran suram, maka di Happily Ever After, Winna Efendi malah menampilkan sisi sebaliknya. Berkali-kali Winna Efendi menampilkan sosok Lulu sebagai gadis remaja yang kuat dan tangguh. Ditambah lagi dengan menggambarkan sosok Ayah Lulu sebagai laki-laki pejuang dan humoris. Ini membuat Lulu dan keluarganya tampil sebagai keluarga yang tegar dan bisa mengambil sikap positif menghadapi semua cobaan yang datang.

“Kadang-kadang kita cukup beruntung untuk ketemu orang-orang yang baik dalam kondisi yang buruk.” (hal. 149)
“Nggak semua cerita punya akhir yang bahagia, Lu. Begitu pula hidup. Bahkan, sering kali hidup punya kejutan tersendiri.” (Hal. 184)

Ah, bacaan remaja semacam ini akan membuat remaja Indonesia bisa selalu berpikir positif. Selain itu, dengan kehadiran potongan-potongan dongeng dan cuplikan-cuplikan berbagai buku, semoga bisa mengajak remaja Indonesia semakin suka baca buku. (^_^)v

“Hidup adalah kanvas kosong; kamu bebas menciptakan  ceritamu dan menentukan akhirnya. Jadilah arsitek untuk hidupmu sendiri.” (Hal. 354)

***
http://photos-a.ak.instagram.com/hphotos-ak-xpa1/t51.2885-15/1889142_1526242987641336_1823440468_n.jpg
Sumber foto: Instagram @atriasartika

 Untukmu yang mencintai dongeng, biarkan mimpimu tetap hadir, jangan biarkan dunia menghalangimu.
Sebab kadang, saat kenyataan terlalu pedih untuk ditanggung, cerita tentang Pangeran, Ksatria, dan sihir akan membuatmu bertahan dan percaya bahwa hidup selalu menyimpan keajaiban


***
Berhubung di novel ini banyak quote yang bagus, aku sertakan aja ya semuanya (^_^). Semoga banyak manfaatnya.
 “... kenapa  takut kalah kalau kamu mungkin akan menang?” (hal. 18)

“Dunia ini penuh kejujuran yang menyakitkan, tapi juga kebohongan.” (hal. 119)
“Aku percaya, orang-orang yang ditakdirkan untuk ada di sisi kita, pada akhirnya akan ada bersama kita, Lu. Mereka yang ingin pergi nggak bisa dipaksa untuk tinggal.” (Hal. 126)

“Di dunia ini, nggak semua orang dapetin apa yang mereka mau, Mi.” (Hal. 140)

“Size the day, live in the moment, hope for tomorrow” (hal. 348)

3 komentar:

  1. Wah, kayaknya ini buku terbaik Winna sejauh ini ya, Tria?
    Omong-omong, mupeng banget ama kalendernya. Kok bisa dapet kalender gitu? :)

    BalasHapus
  2. Penasarannnn... Racun banget nih! :"
    Pengen baca novel ini!

    BalasHapus
  3. cie yang dapet kalender dari Scoop juga :D

    BalasHapus