Minggu, 22 Februari 2015

Confession



“Kadang kita harus melakukan sesuatu meskipun enggan, membiarkan semuanya mengalir meski menyakitkan, melupakan sakit hati meski perihnya membuatmu hampir mati. Ada yang tersembunyi dan tidak ditunjukkan takdir dalam perjalanan, tapi akan terlihat ketika kita telah sampai di tujuan.” (Hal. 250)

21487346
Penulis: Fakhrisina Rovieq
Penyunting: Nilam Sari
Perancang sampul: Teguh Tri Erdyan
Penata Letak Isi: Teguh Tri Erdyan
Penerbit: Ice Cube
Cetakan: Pertama, Maret 2014
Jumlah hal.: vii + 270 halaman
ISBN: 978-979-91-0698-8
"Kak… terima kasih sebelumnya. Tapi… saya gak akan pingsan kalau hanya berdiri dan dijemur di bawah matahari terik," jawabku jujur.

"Oh ya? Ya sudah, cepat habisin makanannya, saya antar kamu kembali ke barisan," serumu sambil memalingkan wajah yang mulai memerah.

Alan Abimanyu. Senior kutu buku yang jenius dan cakep. Aku dan beratus siswa perempuan di sekolah ini langsung jatuh hati ketika pertama kali melihatmu. Tapi, aku sedikit lebih beruntung karena kita punya kenangan manis sewaktu MOS. Selain itu, kamu mirip dengan teman masa kecilku, Abi Gendut. Tapi tidak mungkin, umur kita kan beda 2 tahun.

Lagian Abi yang kukenal itu anaknya lamban, gendut, tapi suka banget tertawa. Beda dengan kamu yang cakep, pintar, dan punya senyum dengan lesung di pipi kirimu. Well, yang terakhir itu sebenarnya kamu sama dengan Abi.

Tanpa bisa dicegah, aku mulai membandingkan dirimu dengan Abi. Mencari-cari kesamaan dan perbedaan kalian. Sampai akhirnya, dirimu selalu ada di pikiranku.

Sampai akhirnya, setiap melihatmu jantungku berdebar lebih kencang. Sampai akhirnya sebuah kenyataan membuatku tak bisa lagi menggapaimu.
***

“Kadang sesuatu yang sebelumnya pernah dilalui menjadi tidak terasa lagi ketika diulangi.” (Hal. 21)

Prolog dibuka dengan setting tempat dan suasana di sebuah farewell party. Seorang remaja perempuan tengah kalut mencari satu sosok. Hingga akhirnya ia bertemu dengan orang tersebut dan dengan gugup menyerahkan setumpuk surat.

Setalah itu cerita masuk ke Bab awal cerita dengan judul “Juli”. Setelah itu, setiap Bab dinamai dengan nama bulan. Setiap Bab dibuka oleh surat-surat yang ditulis oleh seorang perempuan yang kemudian akan diceritakan lebih detail.

Cerita dalam novel ini mengetengahkan kehidupan tokoh “aku” yang bernama Karina Ozyla. Karena sikapnya yang cenderung macho, ia pun disapa Jill. Saat SMP Jill sempat menekuni olah raga sepak bola. Sayangnya, di SMA ia tidak bisa melanjutkan hobi bermain bolanya itu. Tidak ada ekskul sepak bola di sekolahnya. 

Saat MOS, Jill dibuat terpesona pada seorang senior, Kak Alan Abimanyu. Cowok itu membuatnya teringat pada teman masa kecilnya yang bernama Abi. Laki-laki tambun teman sekelas Jill yang menghilang selepas mereka lulus SD. Jill tidak bisa menemukan jejak keberadaan Abi. Ada sesuatu yang belum selesai antara Jill dan Abi. Ini membuat ia ingin meyakinkan diri apakah Abi dan Kak Alan adalah orang yang sama atau tidak. Namun seiring itu Jill malah jadi benar-benar menyukai Kak Alan.

Berhasilkah Jill menjawab penasarannya tentang Kak Alan dan Abi? Apakah mereka memang orang yang sama?

“Darling, mungkin ada beberapa hal yang memang hanya merupakan suatu kebetulan, pertemuan kalian, misalnya.” (Hal. 152)

***

“.... Kita nggak akan bisa bikin orang lain bahagia, kalau kita nggak bahagia dengan diri sendiri.” (Hal. 180)

Ide cerita sebenarnya menarik. Penggambaran dengan menggunakan sudut pandang orang pertama seharusnya mampu lebih menggugah emosi pembaca. Sayangnya di dalam buku ini hal tersebut kurang terasa.

Bahasanya terlalu “berbunga” untuk sebuah novel yang ditujukan untuk remaja. Ini membuat saya selaku pembaca kadang menjadi malas melanjutkan membaca pelan. Lebih baik membacanya dengan cepat agar konfliknya semakin terasa cepat.

Konflik utama dan pendukung dalam cerita ini sebenarnya menarik. Tentang Jill yang mencari tahu lebih jauh tentang Kak Alan dan berusaha menemukan Abi. Konflik tambahan tentang hubungan Jill dan ibunya yang ingin menikah lagi. Sedangkan Jill tidak ingin posisi papanya yang telah tiada digantikan oleh orang lain.

Semua konflik ini sudah disusun dengan baik. Sayangnya, jadi terasa datar sebab peningkatan “suhu” konflik tidak terasa. Alur maju dengan cerita yang bisa tertebak dengan mudah hasil akhirnya tentu bukan kombinasi yang menarik. Sebab pembaca tidak bisa ikut merasakan perubahan yang berarti dalam keseluruhan cerita saat klimaks konflik.

Hm..tapi untuk sampulnya aku suka kok. Dengan gambar loker yang dipenuhi surat dan sebuah kalimat “Rasa yang selalu tersimpan di sudut hati ini, perlahan mulai menemukan jalannya.”

“Tak ada hal yang  bagus dari sebuah perpisahan. Tidak ada pertemuan yang hadir sebagai pengganti. Pertemuan adalah hal yang berbeda yang mereka yakini sebagai obat untuk luka perpisahan.” (Hal. 195)

***
Puisi yang terinspirasi oleh novel Confession
https://igcdn-photos-e-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/11005243_443745935783332_36396228_n.jpg
posted on my instagram

Selalu butuh keberanian untuk sebuah pengakuan
Namun butuh keberanian lebih besar untuk menemukan sebuah kebenaran
Dan bukan hal mudah mengumpulkan keberanian untuk berani menemuimu dan mengaku padamu


2 komentar:

  1. eh, kebetulan lagi baca buku ini juga XD

    BalasHapus
  2. Wah, makasih ya reviewnya :) semoga karya selanjutnya lebih baik lagi ^^

    BalasHapus