Jumat, 23 Januari 2015

Yummy Tummy Marriage

 “After getting married, most of us realise that we have so many differences with our spouse. And to make our marriage work, we have to adapt. We have no other choice” (hal. 65)

21469375
Penulis: Nurilla Iryani
Penyunting Noni Rosliyani
Perancang Sampul: Wirastuti
Pemeriksa aksara: Intan, Shera & Tiasty
Penata aksara: Endah Aditya
Penerbit: Bentang
Cetakan: 2014
Jumlah hal.: vi + 270 halaman
ISBN: 978-602-291-009-1

Meski pesta pernikahanku jauh sekali dari impianku, tetapi kebahagiaanku enggak berkurang sedikit pun karena aku sudah resmi menikah dengan seorang pria yang membuatku jatuh cinta setiap hari selama tiga tahun terakhir ini, Bara Wiryawan. 

Yes Darling, let me tell you this: 
When you marry the one you love, everything is perfect.

But now I know, Bara is not perfect enough, dan terutama sama kliennya yang demanding banget. Argh!
—Gina

Gila, gue enggak pernah menyangka rangkaian acara pernikahan bisa bikin badan gue pegel-pegel. Harusnya jasa pijet masuk ke dalam paket pernikahan yang ditawarkan Wedding Organizer gue. But hey, gue tetep seneng banget karena wanita yang selama ini gue cintai akhirnya resmi jadi istri gue. Gina Anjani, you’re all mine now!

Until I know, tiga tahun ternyata enggak cukup buat gue mengenal Gina dan semua rahasia besarnya. Sigh!
—Bara

***
“... when you marry the one you love, everything is perfect.” (hal. 3)
Cerita dibuka dengan penjabaran Gina tentang pesta pernikahan impiannya yang ternyata nggak terwujud. Tapi ternyata semua impian itu bersedia untuk ia kubur sebab ia bisa menikah Bara, laki-laki yang telah menjadi kekasihnya selama tiga tahun. Setalah itu, cerita kehidupan Gina dan Bara selama 30 hari dijabarkan satu persatu. Benar-benar satu persatu. Hari per hari. Lihat saja judul babnya yang tertulis Day 1:  Minggu hingga di bab terakhir tertulis Day 30: Senin.

Tapi meski rentang cerita cukup pendek yakni 30 hari namun banyak hal menarik yang diketengahkan oleh penulis. Tentang bagaimana Gina dan Bara yang meski sudah berpacaran selama tiga tahun, masih perlu penyesuaian di sana-sini. Tentang Gina yang menderita OCD (Obsessive Compulsive Disorder) sehingga tidak bisa melihat ruangan atau susunan barang yang berantakan namun harus terus menahan kesabaran melihat kebiasaan Bara yang tidak peduli pada detail. Di lain pihak Bara merasa tidak nyaman dengan Gina yang dirasanya terlalu cerewet.

Konflik pun muncul dari dalam hubungan mereka. Ditambah lagi dengan Gina yang ternyata menyembunyikan kenyataan bahwa ia punya hutang puluhan juta rupiah. Bara yang mengetahui hal ini sangat marah. Ia merasa dibohongi. Gina ternyata memiliki hobby shopping yang gila-gilaan yang membuat tagihan kartu kreditnya mencapai puluhan juta rupiah.

Selain itu, kehadiran Elsa, mantan kekasih Bara, sebagai klien Bara menambah daftar perselisihan mereka. Semua ini menjadi masalah yang mengisi kehidupan mereka dalam satu bulan pertama. Belum lagi keresahan tentang keinginan untuk segera memiliki anak namun Gina belum kunjung hamil.

Hm..jadi ingin bertanya pada mereka yang sudah menikah, apa iya sebulan pertama konfliknya bisa “seseru” itu?? (>_<) *pertanyaan seorang single*
“Simple reason: your happiness is my responsibility. Oh, and your smile is my little heaven.” (hal. 87)
***
“Aku pernah baca, 90% of your happiness come from the one you marry” (hal. 3)
Awal baca buku ini, saya langsung berpikir, ini serius pernikahan bisa seheboh itu? Masa iya, sejak malam pertama suami istri udah ngedumel sendiri dalam hati seperti yang dilakukan Gina dan Bara?

Jadi ingat pesan papa, “Pernikahan itu tidak akan senang-senang terus. Bahkan sejak selesainya pesta pernikahan, kamu dan pasanganmu pasti langsung bingung sendiri. Setelah ini harus bagaimana? Ngembaliin pernak-pernik pesta pernikahannya gimana? Bagi waktu silaturahim ke keluarga dan keluarga suamimu gimana? Belum lagi kalau ternyata suamimu tidurnya ngorok. Ha..ha.. Jadi jangan harap bakalan banyak enak-enaknya.”

Di awal-awal membaca novel ini saya jadi berpikir, “Ini kenapa kesannya menikah itu ngeri-ngeri gimana gitu ya?” Tapi syukurlah, penulis memang mengetengahkan masalah namun juga menampilkan solusi ala tokoh-tokohnya. Karakter Gina yang mandiri namun mau belajar memudahkan penyesuaian dirinya dengan kehidupan sebagai seorang istri. Sikap Bara yang penyabar membuatnya mampu menghadapi Gina yang lebih sering keras kepala dan gampang marah.

Pembaca disuguhi kehidupan penuh kompromi yang dijalani oleh Gina dan Bara. Mereka juga ditampilkan sebagai sosok yang tidak sempurna namun saling mengisi. Hal ini semakin menarik sebab penulis menggunakan sudut pandang orang pertama dari kedua tokoh tersebut secara bergantian. Membuat pembaca bisa mengetahui seluruh bagian cerita secara utuh. Namun meskipun begitu tidak ada pengulangan yang bisa membuat pembaca bosan karena plot cerita menggunakan alur maju.

Sayangnya, meski menggunakan sudut pandang orang pertama secara bergantian antara Gina dan Bara, yang paling banyak dijelaskan adalah logika perempuan. Dari sisi Gina, logika perempuan ini menjadi alasan bagi Gina menentukan sikapnya sedangkan dari sisi Bara logika perempuan ini membuat Bara berusaha memahami sikap Gina. Seperti yang ditampilkan di halaman 181, “I don’t understand why women remember so many things. Mulai dari tanggal jadian, tempat kali pertama nge-date, film pertama yang ditonton bareng.” Namun meskipun begitu, sikap Bara tetap ditampilkan maskulin tidak bersifat perempuan. Sebab biasanya penulis perempuan agak kesulitan menampilkan tokoh utama laki-laki yang tidak terasa feminim. Penulis berhasil melewati jebakan tersebut.

Oiya, ada satu protes yang menarik yang ditampilkan lewat sudut pandang Bara. Di halaman 121, saat menduga Gina hamil, Bara segera meng-googling informasi tentang kehamilan. Bara kemudian merutuk dalam hati, “... artikel-artikel ini memanggil pembacanya dengan sebutan ‘Bunda’. Mereka enggak pernah mempertimbangkan kalau yang baca ini laki-laki, ya?” Apakah jumlah laki-laki yang berpikir seperti Bara cukup banyak? Kalau iya, berarti ini menjadi masukan yang menarik nih bagi para penulis artikel tentang kehamilan dan parenting. 

Secara keseluruhan kisah kehidupan Bara dan Gina menarik diikuti meskipun intensitas konfliknya kurang tajam. Puncak konfliknya agak samar sebab cukup banyak hal menjadi pemicunya. Selain itu ada satu nilai plus yang akan membuat perempuan muda menyukai buku ini. Yaitu selipan resep-resep makanan dan snack yang cukup mudah dipraktekkan. Ini karena Gina sebagai perempuan yang juga bekerja di luar rumah harus bisa mentaktisi kondisi agar ia tetap bisa memasak dan menyenangkan suaminya.

“Menurutku, cinta itu sesuatu yang harus tetap dijaga, seperti tanaman. Harus dipupuk terus, sedikit, tapi rutin agar terus tumbuh dengan baik. bukan banyak, tapi jarang. Hal-hal kecil yang rutin kita lakukan untuk menjaga cinta kita yang akan membuatnya bertahan. Bukan dicuekin kelamaan, dan sesekali ditengokin.” (Hal. 173)
***
Puisi inspired by Yummy Tummy Marriage
http://photos-f.ak.instagram.com/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/10665595_1550417075225021_1554122376_n.jpg
Sumber foto: instagram
 Will you marry me?
Ketika mengetahui betapa aku menggilai buku dan tak mengakrabi wajan dan kompor
Will you marry me?
Jika tahu bahwa kekeraskepalaanku kadang menjengkelkan kawan-kawanku
Will you marry me?
Jika yang bisa kujanjikan hanyalah kesediaan untuk belajar menjadi pendamping yang baik bagimu

 ***

“You know, happy wife makes a happy husband.” (hal. 50)

1 komentar:

  1. " Will you marry me?
    Ketika mengetahui betapa aku menggilai buku dan tak mengakrabi wajan dan kompor"

    Haha, saya suka, saya suka..

    BalasHapus