Senin, 05 Januari 2015

[Review Buku] A Girl Who Loves A Ghost



“Aku selalu bersyukur bisa hidup satu hari lagi. Mereka yang tidak lagi bangun pada pagi ini adalah mereka yang tidak cukup beruntung untuk bisa menghabiskan waktu sehari lagi bersama orang-orang yang mereka cintai.” ( Hal. 16)
Penulis Alexia Chen
Penyunting: Shalahuddin Gh
Pemindari Aksara: Muhammad Bagus SM
Penata Letak: Sihar M Panggabean
Pembuat Sampul: Iksaka Banu
Penerbit: Javanica
Cetakan: I, November 2014
Jumlah hal.: 551 halaman
ISBN: 978-602-70105-4-3

“Kenyataan bahwa aku bukan lagi menjadi bagian dari dunia ini nyaris menghancurkanku. Jiwaku perlahan rusak oleh dendam dan amarah, hingga gadis itu muncul dan menemukanku.”

“Apa yang akan kau lakukan jika kau ternyata melihat sesuatu yang sebenarnya tidak nyata? Seperti misalnya, sesosok hantu berparas tampan? Bagaimana reaksimu seandainya kau terlambat menyadari bahwa kau telah jatuh terlalu dalam untuk bisa menemukan jalan kembali? Manakah yang lebih bijaksana, mengarungi neraka demi sebuah akhir bahagia ataukah menyerah dengan melepaskan? Apa yang akan kau lakukan jika kau jadi aku?”

***

“ Kau harus berpikir menggunakan akal sehatmu, bukan hatimu.” (hal. 422)

Aleeta Jones, perempuan berdarah Amerika – Indonesia yang cenderung menutup diri karena merasa dirinya berbeda. Sejak kecil Aleeta diperlakukan berbeda karena secara fisik mendapatkan warisan gen dari ayahnya yang berdarah Amerika. Ia sering kali mendapat sebutan “bule” dan disapa dengan bahasa Inggris. Ini membuat gadis bermata biru itu merasa tidak nyaman. Ia padahal lahir dan besar di Indonesia namun ia merasa bahwa ia bukanlah bagian dari lingkunga tempatnya berada. 

Hari-harinya sangat biasa. Menjadi penjaga rumah yang hanya ditinggali berdua dengan adiknya, Chlea Jones, karena kedua orang tuanya terlalu sibuk mengurusi bisnis mereka di Amerika. Mengikuti kuliah bersama satu-satunya sahabat yang ia miliki, Senna. Menyimpan kekaguman pada Ben, sepupu Senna yang juga seorang bintang basket. Setiap hari ia hanya menjalani rutinitas yang sama dan mencoba untuk tidak tampil mencolok. Hingga suatu hari semua hal itu berubah.


Ia dikuntit oleh seorang (atau sebuah?) roh. Roh lelaki tampan bernama Nakano Yuto. Sejak itu, hidup Aleeta jungkir balik. Menurut pengakuan Yuto, ia datang karena dipanggil oleh Aleeta. Hanya Aleeta yang bisa melihat, mendengar (dan belakangan bisa menyentuh) Yuto. Yuto adalah roh yang masih punya beberapa hal yang belum tuntas untuk ia kerjakan di bumi.

Yuto meninggal karena dibunuh. Ini membuatnya ingin menemukan orang-orang yang telah membunuhnya. Selain itu ia masih ingin mencari adiknya, Hiro, yang pergi dari rumah. Itulah sebabnya ia pun memaksa (dan memenipulasi) Aleeta untuk mau membantunya.

Sejak itu petualangan pun datang ke dalam hidup Aleeta. Gadis itu harus pergi ke Bandung dan menemui keluarga Yuto yang sebelumnya tidak ia kenal. Mengaku menjadi kekasih Yuto. Kemudian mengambil foto dan sejumlah dokumen yang diminta oleh Yuto.

Namun ternyata dokumen yang ia bawa membuat kesalamatan Aleeta terancam. Orang-orang yang membunuh Yuto kini mengejarnya. Mereka berhasil membobol tempat Aleeta menginap di Bandung dan bahkan mengobrak-abrik rumah Aleeta di Jakarta demi mencari dokumen itu.

Di saat yang sama, Aleeta harus menemukan jejak Hiro yang ternyata adalah saudara kembar Yuto. Ia dan Yuto mengejarnya hingga ke Semarang. Namun kembali kehilangan jejak. 

Selama itu, Yuto selalu ada di sisi Aleeta. Memerintah, menjadi kawan bertengkar dan menjadi pelindung bagi gadis itu. Dan perlahan tapi pasti kedekatan mereka melahirkan cinta dalam diri keduanya. Namun tidak ada masa depan untuk apapun yang terbangun di antara mereka. Lantas apa yang harus Aleeta lakukan?
“Saat kau mencintai seseorang, kau tidak bisa hanya merasa suka padanya. Kau memerlukan sesuatu yang lebih dalam, yang lebih kuat. Jika kau benar-benar mencintai seseorang, kau akan merasa seluruh duni ini hanyalah milik kalian berdua. Kau tidak akan mencintainya karena kecantikan yang dimilikinya, bukan pula karena matanya yang indah ataupun cara jalannya yang unik. ... kau akan selalu merindukannya jika dia jauh darimu. Matamu tidak bisa lepas darinya.” ( Hal. 385 -386)
***

Awalnya saat belum membuka selembar pun, saya berpikir buku ini adalah buku terjemahan. Ini karena sampulnya yang terkesan simple seperti halnya buku-buku terjemahan; nama penulis yang tidak “berwarna” Indonesia; serta penerbit yang masih asing bagi saya. Namun ternyata saya salah, saudara-saudara *getok kepala sendiri*. Syukurlah praduga yang jelas salah ini segera diluruskan di 5 halaman pertama (^_^)v

Saat membaca bab pertama saya segera menemukan bahwa tokohnya memang berciri fisik khas kaukasoid namun dengan setting tempat kota Jakarta. Sayangnya, tempat-tempat yang dideskripsikan ada di Jakarta tidak familiar dan terkesan semu. Begitupun dengan deskripsi kota Bandung. Tempat yang disebutkan benar-benar sulit dibayangkan. Tanpa nama jalan tanpa keterangan berarti. Satu-satunya setting tempat yang nyata adalah Chiampelas Walk. Entah karena apa. Tapi rasanya aneh menemukan sebuah setting nyata setelah saya pasrah dan memaklumi bahwa setting tempat yang menjadi rumah Yuto di Bandung benar-benar semu. Saya yang berdomisili di Bandung sebenarnya sempat greget dengan berpikir kenapa tidak menyebut-nyebut saja flyover Pasopati yang sering dilintasi oleh mereka yang datang dari Jakarta dan keluar dari tol Pasteur. Kenapa deskripsi semacam itu tidak disebutkan saja sebelum tiba-tiba menyebutkan secara gamblang sebuah tempat yang cukup dikenal di Bandung? Kan jadinya nanggung.

Tapi untuk deskripsi tempat dan benda, penulis sangat jeli dan manis menggambarkannya. Rumah Yuto yan bak istana berhasil digambarkan dengan sangat baik oleh penulis. Menunjukkan bahwa keluarga Yuto memang golongan kelas atas yang bahkan melebihi kekayaan orang tua Aleeta yang punya perusahaan di Amerika.

Setelah itu saya pun tenggelam saat membaca petualangan Aleeta di Bandung. Bagaimana ia harus berakting menjadi orang terdekat Yuto. Bagaimana ia mulai memahami sedikit demi sedikit tentang pria itu. Yang membuat saya tercengang adalah pengalaman Aleeta selama dua hari satu malam ternyata diceritakan dalam 10 bab, tepatnya 180 halaman. Wow!!

Kemudian di bab 13 dan 14 saya dibuat kesal dengan Aleeta yang agak telat berpikir. Bagaimana bisa ia tidak menyadari bahwa dialah yang menjadi target gerombolan jahat itu? Terutama saat tahu bahwa merekalah yang membunuh Yuto. Padahal gerembolan tersebut muncul di hotel tempat ia menginap. Jelas bukan kebetulan kan? Selain itu, ia masih sempat-sempatnya membahas tentang kenapa hanya suaranya yang bisa didengar oleh Yuto padahal saat itu ia telah mengetahui bahwa dirinyalah yang menjadi target pembunuhan yang direncanakan oleh para pembunuh Yuto.

Tapi di luar itu semua, penulis berhasil menjaga tempo cerita dengan baik. Porsi antara romance dan ketegangan seimbang. Pengejaran Aleeta untuk membuka siapa pembunuh Yuto dan orang yang berperan di baliknya pun cukup menegangkan. Pembaca tidak sempat merasa bosan karena di beberapa bagian dinaikkan intensitas ketegangannya kemudian di bagian lain diberi suguhan cerita percintaan yang menyakitkan. 

Sayangnya emosi di dalam cerita belum cukup terasa. Ini cukup disayangkan karena penulis sudah menggunakan sudut pandang orang pertama dari kedua sisi, Aleeta dan Yuto. Hal ini karena kebingungan keduanya atas perasaan dan hubungan mereka lebih banyak digambarkan muncul dalam perbedebatan kepala mereka bukan perasaan mereka. Eksplorasi tentang apa yang berkecamuk di benak mereka masih nanggung. Masih kurang sedih (^_^) *yup, saya pecinta romance yang sedih-sedih*

Selain itu, akhir cerita terasa anti klimaks karena datangnya telpon dari ibu Aleeta yang menjelaskan beberapa hal yang menurut saya memang sebaiknya dibiarkan saja pembaca yang menebaknya. Selain itu, pengungkapan pembunuh Yuto rasanya terlalu cepat. Masih ada 5 bab sebelum akhirnya cerita berakhir. Saya sempat bertanya-tanya untuk apa lagi 147 halaman yang tersisa? Ternyata lebih banyak membahas hubungan Yuto dan Aleeta. Tentang pilihan yang tersedia bagi hubungan mereka.

Secara keseluruhan, cerita di dalam novel ini enak dinikmati. Bagi yang tidak suka baca horor (seperti saya) tidak usah takut. Tidak ada kehororan yang membuat bulu kuduk merinding. Yang ada adalah kisah cinta dan misteri.
***
posted at http://instagram.com/atriasartika/
#Puisi inspired by #book A Girl Who Loves A Ghost karya Alexia Chen terbitan Javanica

Apakah jarak terjauh dalam sebuah jalinan kasih?
Bukan hitungan kilometer
Bukan pula luas dan dalamnya samudera
Melainkan saat tak kan lagi kau temukan tawanya dalam harimu
Sebab tak ada teknologi apapun yang membantumu menemukan hadirnya
Itulah saat doa menjadi satu-satunya cara bagimu tuk menyapanya

8 komentar:

  1. Aku suka genre iniiii
    Reviewnya berhasil membuatku penasaran.
    Sampe langsung searching penulisnya kmrn.
    Maaf baru menjejak soalnya inet lemot.

    Oh ya aku juga suka gemes kalo settingnya tempat yang kita kenl tapi nggak satu pun yang dituliskan.. Huhu

    Like usually... Keren mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. baru tahu ini genre kesukaan mbak Yunita (^_^)

      Hapus
  2. blognya keren. Kapan punya blog macam gini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he..jadi malu..Kapan aja bisa punya yang lebih keren kok Mbak (^_^)v
      tinggal bikin aja :D

      Hapus
  3. Jujur saya gak terlalu suka horor Mba Atria :D

    Oh yaa Aleeta itu punya indra keenam kah Mba jadi cuma dia yg bisa lihat Nakano Yuto? Dan awal pertemuannya apa memang dipaksakan seperti itu? *sedikit penasaran*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini bukan horor yang bikin merindin atau nakut2in kok, Mbak. Ini hanya ada unsur misteri, lacak melacak pembunuh gitu dan dominan romance kok.

      Iya, Aleetanya punya indra keenam gitu. Tapi baru sekali itu lihar roh biasanya mah cuma ngerasa doang.

      Hapus
  4. jadi ini penulis lokal tho. walah baru tau. kirain buku terjemahan. keren ya. soalnya kesannya novel luar gitu lho. salut.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya juga terkecoh, Mbak. Awalnya saya pikir terjemahan.
      Ha..ha.. ini nih efek jarang ngecek goodreads sebelum beli buku baru. Ha..ha..

      Hapus