Jumat, 09 Januari 2015

Remember Paris: 11.369 km Untuk Satu Cinta



“Partir c’est toujours tourner une page sans être sûr de pouvoir y retourner”
 –anonyme-
(artinya: Pergi sama halnya dengan membalikkan sebuah halaman buku, tanpa yakin apakah kita akan mampu untuk kembali lagi)
 (Hal. 255)

Penulis: Icha Ayu
Editor: Herlina P. Dewi
Proof Reader: Weka Swasti
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Sindy
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: I, Agustus 2014
Jumlah hal.: 262 halaman
ISBN: 978-602-7572-31-7
Perpisahan Kirana dari Manu membuatnya kembali teringat akan hari-hari yang mereka lalui ketika masih mengikuti short course program di Jenewa-Swiss. Semuanya sempurna: kehidupannya bersama host family, keseruan bersama para sahabatnya, dan tentu saja, kebersamaannya dengan  Manu, lelaki Prancis yang menjadi kekasihnya.

Empat tahun, bukan waktu yang singkat untuk bisa melupakan seseorang. Takdir pun seolah masih berpihak pada hubungan mereka. Saat Kirana ditugaskan ke Paris untuk meliput berita, kenangannya bersama Manu kembali muncul. Kirana tak tahu apa yang harus dilakukan, yang dia tahu, Paris tidak lagi sama seperti ketika dia meninggalkan kota itu.

“Don’t ever leave me alone again and I promise that I’ll never let you go!” janji Manu ketika akhirnya menemui Kirana di Trocadero, di malam terkahir kunjungan Kirana di Paris. Apa yang terjadi setelahnya? Mungkinkah satu cinta yang mereka miliki dapat menghapus 11.369 perbedaan yang ada?

***

“This is why I always hate airport, because here is the place where hello meets goodbye.” (Hal. 2)

Cerita dibuka dengan perasaan patah hati yang dialami Kirana. Hubungannya dengan Manu, pria Perancis yang sudah setahun lebih menjadi kekasihnya harus berakhir karena tidak ada restu dari ayahnya. Setelah itu, Kirana mencoba menenggelamkan diri dalam rutinitasnya sebagai mahasiswa tugas akhir. Menyelesaikan skripsi dan hang-out bersama sahabat-sahabatnya Inu dan Isti.


Sesekali, kisah diceritakan flashback ke masa saat Kirana tinggal di Swiss. Tentang pengalamannya homestay di kediaman keluarga Dupuis serta hubungannya dengan Manu. Serta pengalamannya hidup di negeri asing dan berkenalan dengan teman-teman baru.

Kirana kemudian menjalin hubungan dengan Ario, tetangga Inu yang ia kenal saat main ke rumah Inu. Hubungan itu pun berjalan baik-baik saja hingga Kirana lulus. Saat itu Ario merasa kesal karena Kirana tidak membicarakan rencana-rencana masa depannya dengan Ario. Kirana tidak memberi tahu Ario bahwa ia akan meninggalkan Bandung dan kembali ke Jakarta, tinggal bersama orang tuanya. 

Namun meski Kirana sudah memiliki Ario di sisinya, tetap saja ia tidak bisa melupakan Manu. Ia masih terus mencintai laki-laki itu. Masih terus penasaran dengan kabarnya. Hingga suatu hari hubungan Kirana dan Ario memburuk. Mereka pun bertengkar dan Ario berkata bahwa ia yakin Kirana masih belum bisa melupakan Manu. Kirana masih mencintai Manu, dan gadis itu tidak kuasa membantahnya. Setelah itu, Kirana pun memutuskan untuk tidak menjalin hubungan dengan pria manapun lagi.

Hingga suatu hari Kirana ditugasi untuk meliput sebuah acara di Perancis. Saat itulah ia mengerahkan semua keberaniannya untuk kembali bertemu dan menjalin kasih dengan Manu. Apakah kali ini mereka berdua akan sanggup mempertahankan hubungan mereka yang ditentang oleh banyak orang? Sanggupkan Kirana menebalkan kuping dari gunjingan dan prasangka orang tentang hubungannya dengan Manu? Kali ini, sanggupkan Kirana membuat pilihan yang mampu menghapus jarak 11.369 km yang selama ini memisahkannya dari Manu?


“Keluarga kamu cuma pengin yang terbaik untuk putrinya, tapi mereka nggak ngerti bahwa yang baik bagi mereka belum tentu membuatmu bahagia. Mereka cuma belum mengerti.” (Hal. 118)

***

“Emang kunci utama dari long distance itu cuma dua, saling percaya dan jaga komunikasi.” ( Hal. 174)


Remember Paris adalah sekuel dari novel karya Icha Ayu yang berjudul Winter to Summer: 11.369 km untuk satu cinta. Buku Winter to Summer: 11.369 km untuk satu cinta ini sendiri dicetak ulang dengan judul baru, Distance.

Buku ini saling terkait satu sama lain. Namun tidak masalah membaca Remember Paris meskipun belum membaca Distance. Ini karena keduanya dibuat saling melengkapi namun dengan fokus yang berbeda. Di Distance pembaca disuguhi lebih lengkap pengalaman Kirana di Swiss dan hubungannya sebelum putus dengan Manu. Tentang long distance relationship (LDR) yang dijalaninya dengan Manu hingga akhirnya mereka berpisah karena ditentang oleh orang tua Kirana. 

Sedakan di buku Remember Paris, kita akan disuguhi kehidupan Kirana setelah berpisah dari Manu. Perjuangannya menunjukkan kepada sang ayah bahwa keputusannya benar. Bahwa ia sudah dewasa dan berhak memiliki pendapat dan prinsipnya sendiri.

Selain itu, pergulatan batin Kirana pun sangat dieksplor di dalam buku ini. Sayangnya, emosinya masih kurang terasa. Serba nanggung. Saat dikisahkan kesedihan Kirana, mendadak kemarahan atau keyakinan muncul terlalu kuat. Jadi kurang drama deh rasanya. He..he..

Selain itu, sekali dua kali saya menemukan inkonsistensi POV. Contohnya di akhir paragraf kedua halaman 54 ada kalimat bertuliskan “tiga mahasiswa Asia kenalannya”, katanya di sini memasukkan Kirana di dalamnya. Ini jelas untuk penggunaan sudut pandang orang ketiga. Padahal seluruh cerita menggunakan sudut pandang orang pertama, sudut pandang Kirana.

Sebenarnya ada satu hal lain yang juga mengganggu pikiran saya. Tentang idealisme Kirana yang tidak ingin Manu masuk Islam hanya karena ingin menikahinya. Ia berkata ia tidak ingin membohongi Tuhan. Memaksa Manu mempercayai apa yang tidak ingin ia percayai. Ia ingin membuktikan sendiri kebaikan agama yang ia anut, dalam hal ini Islam. Tapi sayangnya Kirana masih minum wine dan minuman beralkohol lainnya. Bukankah dalam Islam minuman beralkohol itu haram? (>_<)

Tapi, saya suka dengan sebuah nilai yang coba dibagikan oleh Icha Ayu tentang pengaruh media terhadap pola pikir anak. Di halaman 58-59 diceritakan Kirana menemani Maëlys menonton Sleeping Beuaty. Saat itu Kirana membagi pikirannya tentang tontonan semacam ini membangun fantasi anak-anak perempuan tentang pangeran yang akan menjemputnya. Jelas ini terlalu cepat untuk usia mereka. 

Hal menarik lain yang bisa ditemukan dalam novel ini adalah saat mengisahkan tentang Le Mur Des Je T’aime, Dinding Cinta. Mereka membicarakan tentang cinta dan perbedaan yang menghalanginya. Secara keseluruhan, kisah cinta Kirana dan Manu memang banyak menampilkan tentang perbedaan tersebut. Bahwa apakah dua orang dengan budaya dan latar belakang yang sangat berbeda bisa bersatu dalam cinta.

“Menurut pembuatnya, di dunia yang penuh dengan kekerasan dan didominasi oleh individualisme, biasanya dinding itu selalu diartikan sebagai pembatas yang bertujuan untuk memisahkan orang-orang dengan alasan melindungi mereka dari satu sama lain. Namun, dinding ini dibuat sebagai penghubung bukan pemisah, seperti sebuah kaca yang merefleksikan cinta dan kedamaian. .... Seperti perbedaan kita berdua, mungkin banyak orang yang berpikir bahwa perbedaan adalah dinding pemisah. Dan perpisahan adalah hal terbaik untuk melindungi kita berdua. Tapi, apa kamu dan aku bahagia dengan perpisahan ini?” (hal. 164).

Selain itu saya jatuh cinta dengan e-mail yang ditulis oleh Marie Legrand, ibu Manu, untuk Manu dan Kirana di halaman 198-201 saat mengingatkan keduanya bahwa keputusan untuk menikah dengan banyak perbedaan bukanlah hal mudah. Dengan sangat bijaksana, ibu Manu mengingatkan mereka untuk kembali mematangkan keputusan mereka. Begitu pun surat dari ayah Kirana untuk Manu yang menunjukkan betapa ia sangat mengenal putrinya. Hal itulah yang membuatnya takut jika Kirana menikah dengan Manu. Ayah Kirana bahkan menutup e-mail-nya dengan kalimat ini.

“Satu hal yang terpenting dalam pernikahan, kalian tidak hanya berkomitmen dengan satu individu tetapi dengan seluruh keluarganya.” (Hal. 222)

Ah, dititik ini saya menyadari bahwa seberapa pun berbedanya budaya Manu dan Kirana, namun orang tua mereka tetaplah orang tua. Mereka punya kekhawatiran sehingga mempengaruhi sikap mereka. Saya pun semakin paham bahwa perbedaan budaya hanya mempengaruhi cara bersikap seseorang, namun naluri melindungi selalu ada dalam diri setiap orang tua. Itulah kenapa sikap kedua orang tua Kirana dan Manu berbeda. Namun alasan mereka mengambil sikap itu tetaplah sama. Itu karena mereka terlalu peduli pada anak-anaknya.

 “After all, marriage is about compromise. Seperti apa yang pernah aku baca di salah satu buku karya penulis romantis Nicholas Sparks, “Marriage is about compromise, it’s about doing something for the other person, even when you don’t want to.” ( Hal. 196)

 ***

Jika beberapa waktu terakhir ini saya selalu menulis sebuah puisi yang terinspirasi dari buku yang saya baca, maka kali ini saya ingin menulis surat untuk Manu. Membalas email-emailnya yang tidak dihiraukan oleh Kirana. Surat ini saya sertakan dalam Writing Contest: Surat untu Manu.
To: Emmanuel LEGRAND
From: Kirana RAHAYU

Hi Manu!

Senang mendengar semua kabarmu. Selamat ya atas pekerjaan barumu. :)

Rasanya tidak mudah untuk tetap berkomunikasi denganmu setelah semua yang kita alami dan kondisi yang kita hadapi. Aku tidak menghindarimu. Aku hanya butuh waktu untuk menerima semua ini. Tidak mudah mengubah perasaan yang sudah ku miliki untukmu selama ini. Tidak mudah mengabaikan kenangan tentang kita yang datang menghampiri saat pikiranku kosong dan saat sendirian. Semua itu terlalu menyakitkan.

Untuk itu, aku mohon. Jika memang kamu ingin berbuat baik padaku, tolong jangan mengabariku dulu. Menjauhlah sebentar dari hidupku. Izinkan aku menata hidup dan hatiku dulu. Rasanya terlalu menyakitkan tetap membersamaimu dalam pesan dan telepon tapi tahu kita tidak mungkin bersatu. Aku tidak sanggup lagi memangkas 11.369 km yang membentang di antara kita. 

Please, beri aku waktu dan ruang untuk membuat diriku menerima keadaan kita sekarang. Dan saat aku sudah merasa baik-baik saja, akulah yang akan mengabarimu. Aku janji.

***

“ A person who is lonely inside will always be lonely, even with a company. When you’re happy with yourself,you might want a company, but not to fill your void.” (Hal. 135)







2 komentar:

  1. Kisah cinta Manu dan Kirana ini memang berliku. Saya suka sekali dengan buku Icha Ayu ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, terlalu banyak perbedaan. Gak hanya jarak yang jadi tantangan tapi keyakinan dan budaya (^_^)

      Hapus