Jumat, 16 Januari 2015

Friends Don’t Kiss



“Breastfeeding is a gift that lasts a lifetima.”  - Author Unknown (Hal. 6)


Penulis: Syafrina Siregar
Cover: Orkha Creative
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: 208 halaman
ISBN: 978-602-03-1078-7

Bagi Mia Ramsy, menyusui adalah salah satu ekspresi cinta terbesar seorang ibu bagi anaknya. Tapi bagi Ryan Subagyo, setiap mendengar kata “menyusui”, yang muncul di benaknya hanyalah bayangan payudara wanita.

Namun, kegigihan Mia memperjuangkan hak setiap bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif lewat Indonesian Breastfeeding Mothers—organisasi nirlaba tempat gadis itu mengabdi—justru semakin membuat Ryan jatuh cinta padanya.

Ryan semakin yakin Mia berbeda dari gadis-gadis yang selama ini ia temui. Kekayaan, kesuksesan, dan ketampanannya memang membuat Ryan dikejar banyak gadis, tetapi belum ada yang mampu menggetarkan hatinya. Hanya Mia yang mampu membuat Ryan untuk pertama kalinya memikirkan pernikahan.

Namun, apakah lamaran Ryan akan diterima jika gadis itu mengetahui siapa Ryan Subagyo sebenarnya?

***

Friends Don't Kiss adalah novel Metropop Gramedia yang agak berbeda dengan novel Metropop lainnnya. Ini karena kali ini, cerita tetap dikemas dengan gaya ala Metropop namun dengan muatan cerita yang sangat informatif. Di novel ini,Syafrina Siregar mencoba memberikan informasi tentang ASI. Yup, ASI?! Gimana caranya? Sedangkan biasanya novel-novel Metropop bercerita tentang kehidupan metropolitan dengan tokoh (biasanya perempuan) yang single & mandiri, gaya hidup urban dan (lagi-lagi biasanya) didera masalah percintaan.

Lantas bagaimana menghubungkan dengan ASI? Di sinilah menariknya. Tokoh utama, Mia, memang digambarkan sebagai perempuan single yang sangat concern  tentang ASI. Oiya, dengan satu kebiasaan unik yakni suka menabrak mobil orang di tempat parkir.

Cerita dibuka dengan gambaran kegiatan Mia sebagai seorang konselor laktasi. Setelah itu setting berubah. Mia harus bergegas menemani adiknya, Lia, yang akan segera melahirkan. Sayangnya, karena tidak sengaja menabrak sebuah mobil di tempat parkir, Mia tidak bisa mendampingi Lia pasca melahirkan untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Ini membuat Lia marah kepada Mia.

Konflik ini kemudian menjadi bagian penting dalam menceritakan suka duka dan dinamika kehidupan Mia sebagai seorang konselor laktasi yang juga aktivis yang memperjuangkan pemberian ASI eksklusif. Selain itu kecelakaan yang terjadi di parkiran saat itu ternyata juga menjadi bagian dari kisah penting dalam hidup Mia. Mobil yang ditabrak oleh Mia adalah milik Ryan yang belakangan diketahui sebagai Direktur PT Prima Gold, salah satu merek susu formula terkemuka.

Hubungan percintaan Mia dan Ryan pun terancam oleh idealisme Mia. Mia menganggap susu formula sebagai musuh ASI. Ini  membuatnya merasa bahwa SEHARUSNYA ia menempatkan Ryan sebagai musuh. Tapi sanggupkah Mia? Sebab ia telah jatuh hati pada pria itu jauh sebelum ia tahu pekerjaan Ryan.

***

Setelah lama tidak membaca buku Metropop saya tidak menyangka bahwa ide-ide yang disampaikan melalui sebuah novel dengan genre ini bisa sangat luas. Apa hubungannya kehidupan urban dengan ASI? Apa novel ini benar-benar bisa membawa “warna” yang selama ini selalu melekat dengan brand Metropop yang dihadirkan Gramedia?

Namun ternyata saya jadi sadar bahwa kesadaran tentang pentingnya ASI kian meluas di tanah air. Di sejumlah kota besar di Indonesia muncul asosiasi-asosiasi yang bertujuan untuk menjadi sebuah bentuk dukungan bagi ibu-ibu yang tengah menyusui bayi mereka. Dalam novel ini, asosiasi tersebut diwakilkan oleh IBM (Indonesian Breastfeeding Mothers) tempat Mia berkecimpung.

Mendapati bahwa buku ini sarat dengan informasi tentang ASI namun tetap bisa menikmati cerita yang ditawarkan dalam novel ini. Cerita tentang perasaan Mia yang menjadi konselor laktasi namun masih berstatus single serta cerita tentang hubungan percintaannya dengan Ryan tetap menarik diikuti. Penggambaran emosi dan perasaan Mia dibuat sangat baik. Ketertarikan Mia pada Ryan pun diceritakan dengan smooth, perlahan tapi pasti.

Sayangnya, dalam menampilkan informasi tentang ASI dan hal-hal terkait lainnya, masih kurang manis. Kesan mengguruinya masih terasa dan lebih mirip tempelan. Pembaca bisa jadi tergoda untuk meng-skip bacaanya. Syukurlah ini berhasil disiasati dengan menampilkan bahwa Mia sebagai konselor sempat khilaf dengan bersikap menggurui bukannya mendampingi kliennya. Padahal ia sendiri belum pernah merasakan secara langsung beratnya menjadi seorang ibu.

Namun secara keseluruhan karya ini tetap menyenangkan untuk diikuti tanpa kehilangan jati dirinya sebagai sebuah novel dengan genre Metropop.
***
 Puisi yang terinspirasi oleh cerita di Friends Don't Kiss
(posted at my Instagram)

Jika hati & logika tengah berseteru,
adakah jalan tengah untuk menyatu?
Mungkin itu waktunya bagimu untuk membuktikan cintamu
Ataukah waktunya bagiku untuk membunuh logika & memenangkan hatiku?
Bekasi, 16-01-2015




1 komentar:

  1. Novel metropop yang dikemas informatif? Novel itu memang seharusnya ada sisi informatifnya, biar pembaca gak hanya dapat hiburan tapi juga informasi. Masukkin duu wishlistku buku ini ^^

    BalasHapus