Jumat, 29 Agustus 2014

Analekta Beruq-Beruq


Penulis: Abigail Lomo, Arniyati Amin, Atik Wibowo, dkk
Editor: Unisa Sagena
Layout & Pewajah Sampul: Abu Ashim Mujtaba Mafaza
Penerbit: Kappung Beruq-Beruq (KBB) Press
Cetakan: I, Maret 2013
ISBN: 978-602-7826-05-2
“Apa yang dilakukan (perempuan Mandar) dalam buku ini sangat baik. Menulis buku itu hal yang positif. Yang perlu diingat adalah agar tidak menjelekkan pihak lain...”
Amma Cammana Parrawana Towaine
Pemain rebana tradisional, penerima penghargaan Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden RI sebagai maestro seni tradisional Indonesia

“Eksistensi dan potensi Perempuan (dengan P besar) adalah kenyataan sejak hadirnya Manusia dan Kebudayaan di bumi. Di mana pun, dan di masa mana saja. Di sini terbukti lagi. Saya menyampaikan penghormatan kepada para penulis atas karya ini. Saya mengharapkan, malah merindukan mosaik tulisan-tulisan selanjutnya dari hati dan pikiran Perempuan Mandar di abad ke-21”
Suradi Yasil
Budayawan, penulis buku “Republik Korupsi” dan “Puisi Mandar Kalindaqdaq”

“Saya menangkap semangat yang dahsyat dari upaya penerbitan buku ini, setidaknya karya ini menjadi catatan emas bagi perkembangan literasi di Tanah Mandar. Sukses kepada semua penulisnya!”
Darwin Badaruddin
Sastrawan, birokrat, penulis antologi puisi “Potret Hitam Putih”
“Buku ini membalikkan persepsi selama ini bahwa dunia intelektual manusia Mandar hanya dilakoni kaum lelaki. Selain persepsi yang keliru, sebab dibalik prestasi seorang lelaki ada wanita hebat, peran serta wanita dalam peradaban Mandar kadang tak tampak di permukaan. Menariknya, sekali peran tersebut terkuak, mereka masuk di jajaran pahlawan atau maestro. Dalam sejarah Mandar hanya ada dua orang Mandar yang mendapat predikat tersebut, yakni Andi Depu dan Cammana. Keduanya bukan lelaki, tapi wanita. Sepertinya penulis-penulis buku ini akan menjadi bagian dari tradisi tersebut.”
Muhammad Ridwan Alimuddin
Peneliti, penulis buku ‘Orang Mandar Orang Laut’, ‘Sandeq, Perahu Tercepat Nusatara’, dan ‘Mandar Nol Kilometer’

“Membaca tulisan-tulisan di dalam buku ini seperti melihat kapal putih yang ingin segera membawaku pulang. Menengok kampung halaman, berbincang dengan luluareq (saudara), bermain di pantai sambil mengejar perahu Sandeq kecil, mengejar Sayyang Pattuqduq sambil berjoget di antara Paqdego dan Parrawana. Duh, Majene, Mamuju, Polewali, Mamasa, Pasangkayu, Ulu Salu, Wonomulyo, Malunda, Pamboang, dan beribu kampung halamanku yang lain: “Tanah Mandar, aku rindu kau...!!”
Bustan Basir Maras
Pendamping Komunitas GoeBOeK Indonesia, penulis buku ‘Damarcinna’, ‘Negeri Anak Mandar’, dan ‘Ziarah Tanah Mandar’

***
Buku ini “Analekta Beruq-Beruq” ini berisi buah pikiran sejumlah perempuan Mandar. ‘Mandar’ dalam buku ini dimaknai sebagai “...wilayah geografis yang meliputi PUS (Pitu Ulunna Salu) dan PBB (Pitu Baqbana Binanga) yang kini secara geografis meliputi Propinsi Sulawesi Barat yang didiami berbagai ras dan suku bangsa.” (hal. 247) Pemaknaan ini membuat luas ruang lingkup bahasan serta latar belakang penulis-penulisnya. Ini terbukti dengan melihat bahwa sejumlah penulis di buku ini ada yang tidak lahir di litaq (tanah) Mandar, namun punya perhatian dan kecintaan pada tanah tersebut.

Kata Beruq-Beruq adalah bahasa Mandar untuk bunga melati. Judul Beruq-Beruq ini sengaja dipilih karena dianggap bisa merepresentasikan perempuan-perempuan Mandar. Bunga Melati sangat harum jika bersama-sama dan semakin layu. Ini harapan bahwa perempuan-perempuan Mandar setelah "matang" atau dewasa bisa terus indah dan ketika "malassu" atau layu semakin semerbak wanginya. Selain itu, beruq-beruq banyak digunakan di kegiatan adat Mandar dan bahkan jadi pelengkap pakaian adat perempuan Mandar yang disebut "beruq-beruq simbolong".

 beruq-beruq simbolong, hiasan rambut di dekat telinga

 Sejujurnya, bahasan budaya dan kekhasan Mandar dalam buku ini tidak begitu banyak. Namun bukan berarti tidak ada. Beberapa tulisan yang sangat kental bahasan tentang budaya Mandarnya adalah:

Minggu, 24 Agustus 2014

Sayap-Sayap Sakinah



“..., pernikahan itu ibarat kematian. Kita tak bisa memprediksi, hanya bisa mempersiapkan” (hal.36)



Penulis: Afifah Afrah & Riawani Elyta
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva Press
Cetakan: Pertama, Ramadhan 1435 H./ Juli 2014
Jumlah hal.: 248 halaman
ISBN: 978-602-1614-22-8

***

“Pernikahan bukan hanya sekedar penyatuan dua jiwa. Tapi juga penyatuan dua keluarga, dua tradisi, dua dunia.” (hal. 217)

Saat menyadari bahwa buku ini bukanlah novel saya sempat berfikir, “Apakah saya bisa menikmatinya?” Apalagi sejujurnya saya kadang merasa digurui oleh buku-buku Islami populer. Bahasan tentang pernikahan pun jarang menjadi pilihan saya. Mungkin karena saya menolak untuk galau. Baca buku tentang pernikahan terkadang  membuat harapan untuk segera menikah jadi membuncah. Padahal kenyataannya, calon pun masih rahasia ilahi.

Ternyata dugaan saya meleset. Buku ini bahasanya mengalir bahkan terasa indah. Ada sisi humor yang diselipkan. Ada juga penjelasan logis untuk berbagai argumen. Realistis.

Buku Sayap-Sayap Sakinah membahas pernikahan dengan sasaran pembaca yang cukup luas. Mulai dari mereka yang masih lajang dan belum punya calon, mereka yang sedang mempersiapkan hari besarnya, hingga mereka yang sudah menikah. 

Sabtu, 23 Agustus 2014

A Cup of Tarapuccino



“...masa lalu cukuplah menjadi sejarah, yang hanya perlu dimasuki saat-saat dirimu membutuhkan kehadirannya untuk berkontemplasi.” (hal. 266)


Penulis: Riawani Elyta & Rika Y Sari
Penyunting bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva
Cetakan: Pertama, Jumadil Tsaniyah 1434 H./ April 2013
Jumlah hal.: 304 halaman
ISBN: 978-602-8277-88-4

Ada seseorang dari masa lalu. Sesosok maya, yang tak pernah sekalipun ia lihat atau temui paras wujudnya, namun hampir saja menjadi bagian terpenting dari hari-harinya. Sosok-sosok yang menggetarkan hatinya. Sosok yang hampir saja mengisi cangkir hatinya dengan cinta, rindu, juga harapan.
“Saat pertama kali melihatnya, kau akan merasa seolah melihat sebuah peach, dengan warna kulitnya yang cantik, membuat orang pasti tak tahan untuk mengupasnya, dan isi di dalamnya juga tak kalah mempesona. Tapi di saat kau memakannya, pertama-tama kau akan terkejut akan rasa asamnya yang sangat, tapi saat kau terus mengunyahnya, kau akan merasakan cinta dan sensasi yang luar biasa, sensasi rasa yang elegan, yang membuat kau tak akan bisa melupakannya.”

***

Saya kembali membaca sebuah buku yang diterbitkan oleh Penerbit Indiva. Buku sebelumnya, Jasmine,  yang juga ditulis oleh Riawani Elyta membawa cerita yang cukup kompleks. Banyak hal yang dipadukan menjadi sebuah cerita dengan diksi yang apik. Maka kali ini novel ini pun sama kompleksnya.

A Cup of Tarapuccino ini sedikit berbeda dengan Jasmine. Karena nilai islami dalam Jasmine tidak begitu kental mewarnai kehidupan tokoh-tokohnya. Mungkin ini ada hubungannya dengan tema cerita yang diangkat. Namun dalam novel ini, kehidupan islami yang ingin dituangkan oleh penulis sangat terasa. 

Melalui sosok tokoh utama perempuannya, Tara, ditampilkan sebuah kehidupan yang sangat kental diwarnai oleh nilai-nilai Islam. Tara digambarkan sebagai perempuan yang kompeten, mandiri, cekatan, kreatif dan inovatif. Dari segi penampilan Tara ditampilkan selalu nampak anggun dan cerdas dalam balutan jilbab. Tara juga digambarkan sebagai sosok yang sangat menjaga pandangan. Ia pun menjaga diri dan kehormatannya dalam pergaulannya dengan lawan jenis. Meskipun agak aneh juga mengingat ia tidak melakukan hal yang sama pada Raffi, sepupu yang juga partnernya dalam menjalankan usaha Bread Time. Padahal dalam Islam, sepupu pun tidak termasuk dalam mahram.

Ada dua tokoh pria dalam kehidupan Tara. Ia adalah Raffi dan Hazel. Raffi adalah sepupu yang sudah dikenal Tara sejak kecil. Mereka sama-sama mendirikan dan membesarkan Bread Time, sebuah bakery. Mereka mengelola usaha itu dengan menjadikan syariat Islam sebagai pegangannya. Saat adzan mereka akan menutup toko sebentar. Bahkan mereka juga sering kali mengajak seluruh karyawan untuk shalat berjamaah di masjid. Setiap karyawan perempuan diwajibkan menggunakan jilbab. Selain itu dengan ide-ide Tara, Bread Time tidak sepi dari inovasi-inovasi segar. Membantu usaha mereka bersaing dengan usaha makanan lainnya.

Kamis, 07 Agustus 2014

TWIRIES: The Freaky Twins Diaries




Penulis: Eva Sri Rahayu & Evi Sri Rezeki
Editor: Ainini
Komik & ilustrator: Zamal Matian
Inker: Anton Gustian
Desain Cover: Ann_ Retiree
Layouter: Fitri Raharjo
Pracetak: Endang
Penerbit: de Teens
Cetakan: Pertama, Mei 2014
Jumlah hal.: 303 halaman
ISBN: 978-602-255-577-3
“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang kesatu.
“Nah, kalau mata Evi itu belo-belo sipit. Kalau saya sipit-sipit belo,” jawab Eva dengan bersemangat.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang keseratus tujuh.
“Evi belo, saya sipit,” jawab Evi dengan tangan mengetuk-ngetuk tak sabar.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang ketiga ribu tiga puluh dua.
“Belo, sipit,” kata kami dengan muka datar dan memberi jawaban yang tidak menjelaskan sama sekali.

“Apa sih bedanya kalian?” tanya orang kesatu juta delapan ratus ribu empat puluh sembilan.
Menyipitkan mata. “....”

Hal-hal yang membuatmu penasaran sama si kembar, seperti, “Mereka pernah bertukar sekolah?”
“Pernah bertukar pacar?”
“Atau punya telepati?”

Temukan jawabannya di buku ini.

Tonton juga TwiRies Book Trailer ini:

***
Bagaimana rasanya punya saudara kembar ya? Kayaknya seru deh. Bisa kemana-mana berdua. Bisa tukaran baju. Bisa curhat tiap hari. Bisa ngerjain orang dan tukaran tempat kalau lagi bosan sama kehidupan sendiri *halah*. Masih banyak bisa-bisa lainnya.
Buku Twiries: The Freaky Twins Diaries adalah buku yang akan menjabarkan berbagai “kebisaan” jadi anak kembar. Buku ini ditulis dengan gaya yang cukup unik. Eva dan Evi tidak menulis sebagai dua pribadi tunggal yang berkolaborasi. Mereka menulisnya sebagai satu tim dengan POV orang pertama jamak yakni, “kami”.
Serunya, buku ini ditulis dengan cara bercerita yang menggelitik. Sisi humornya cukup ditonjolkan sehingga tidak membuat bosan. Contohnya  cerita tentang pertanyaan yang sering diajukan orang-orang karena penasaran dengan mereka.  Sebenarnya dengan menyebutnya sebagai “Silly Question” sebenarnya menunjukkan seberapa Mbak Eva dan Mbak Evi kesal menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu. Namun cara keduanya menuang satu persatu pertanyaan itu dalam buku ini malah jadi sebuah guyonan tersendiri. Ditambah lagi ada komik sebagai ilustrasi cerita.