Sabtu, 31 Mei 2014

Taman Pasir



“Gue selalu percaya, ada senyum yang mengembang setelah turunnya air mata. Sebab, akan selalu ada pelangi seusai hujan turun.” (hal. 221)


Penulis: Sintia Astarina
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer Sampul & Ilustrasi: Dyndha Hanjani P
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan:  2014
Jumlah hal.: vi + 266 halaman
ISBN:978-602-251-521-0
Sejauh apapun jarak yang ditempuh, kita akan tetap begini. Selama apapun kita tak bertemu, kita akan terus bersama. Sebab, akan selalu ada rindu yang menyengat dari detik ke detik, menit ke menit, hingga waktu tak lagi dapat diukur.

Pertemuan manis yang tak disengaja, membuat kita berdua jatuh dalam pelukan dua sahabat. Perkara demi perkara yang dilalui, menyiratkan hal-hal yang selalu membuat aku ingin pulang.

Aku pun belajar bagaimana caranya menyimpan kenangan, menjaga luka, dan mencegah kehilangan. Dan kunyatakan padamu, tak ada hari tanpa sesuatu yang berharga. Di Taman Pasir, selalu ada cerita manis untuk diukir. Di Taman Pasir, selalu ada cerita manis untuk pulang ke rumah.

***


“Yang namanya sahabat... mereka nggak kenal fisik ataupun mental. Yang namanya sahabat... mereka nggak akan berpisah hanya karena lost contact atau menghilang secara tiba-tiba. Yang namanya sahabat... mereka akan tetap bersatu selamanya walaupun ada banyak rintangan yang menghadang. ....” (hal. 209)

Taman Pasir adalah karya pertama Sintia Astarina yang saya baca. Dalam profilnya dituliskan bahwa novel Taman Pasir adalah karya keduanya. Karya pertamanya adalah Nanyian Hujan yang diterbitkan pula oleh Grasindo. 

Karya ini memang ditujukan untuk remaja. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis mengetengahkan kisah persahabatan antara Pamela Agea dan Kelvin Amadeo. Persahabatan yang dimulai sejak pertemuan mereka di Taman Pasir saat usia mereka masih belia, 10 tahun.  Sejak saat itu mereka berdua terus bersama hingga SMA. Taman Pasir pun menjadi rumah kedua bagi mereka.

Hingga selepas SMA ternyata Gea harus pindah ke Filipina meninggalkan Kelvin dan Indonesia. Saat itu persahabatan mereka diuji. Ditambah lagi satu demi satu musibah menimpa Kelvin dan keluarganya. Kecelakaan yang menimpa ayah Kelvin hingga kecelakaan yang menimpa Kelvin sendiri.  Menjadi atlet sepeda adalah impian Kelvin. Ayahnya sendiri adalah atlet sepeda. Kelvin sangat ingin menjadi seperti ayahnya. Namun musibah yang datang, lambat laun merenggut mimpi Kelvin ini. Sedangkan hidup Gea? jauh lebih nyaman daripada Kelvin.

Rabu, 28 Mei 2014

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya



“Kesedihan membuat seseorang tak lagi menjadi dirinya sendiri, memikirkan terlalu banyak hal, dan akhirnya menjadi sakit.” (hal. 105)


Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Editor: Donna Widjajanto
Ilustrasi Cover: Eka Apriliawan
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Juni 2013
Jumlah hal.: 240 halaman
ISBN: 978-979-22-9640-2
Ada surat panjang yang terlambat sampai.
Tanpa nama pengirim, dan hampir basah oleh tempias hujan.
*
Sejak kecil kita berdua merasa diri kita adalah alien-alien yang tersesat ke Bumi.
Pria itu sudah melupakan seorang teman masa kecilnya saat sebundel amplop itu sampai di beranda rumah.
Kalau kau perlu tahu, aku hanya punya satu macam mimpi. Aku ingin tinggal di rumah sederhana dengan satu orang yang benar-benar tepat. Bila memang aku harus mencurahkan seluruh perhatianku, kepada satu orang itulah hal itu akan kulakukan.
Ia bahkan sudah melupakan mimpi-mimpi masa kecil mereka.
Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama bertemu, aku telah memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kauketahui bahkan hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk mencari penggantimu.
Dan ia tak tahu teman masa kecilnya itu masih mencintainya.
*
Surat-surat itu menarik pria itu ke masa lalu.
Hingga ia tahu, semuanya sudah terlambat.
***


“Di punggung tiap pejalan pada masa lalu, kupikir mereka selalu menggendong kehidupan –sama seperti kita. Mereka membawa segala hal yang mungkin dapat membuat mereka ingat untuk kembali pulang.” (hal. 177)


Surat ini karena tanpa nama pengirim membuat saya yang menerima surat tidak bisa mengembalikannya. Kemudian karena gilaan saya pada bacaan, maka saya menjadi sangat penasaran dengan surat yang sangat tebal ini. Membaca pengantar yang tertulis di kantor pos, bukannya merasa malu karena sudah membaca apa yang mungkin bukan untuk saya. Namun rasa penasaran berhasil mengalahkan sopan santun saya.

Akhirnya saya pun melanjutkan membaca surat tersebut.

Senin, 26 Mei 2014

Ratuku Bawel




Penulis: Annora Putri
Editor: Meidyna
SettingL Elisabeth Pipit
Desain Cover: dam_dut
Korektor: Susy Oktaviani
Penerbit: Sheila (imprint Penerbit Andi)
Cetakan: I, 2013
Jumlah hal.: x + 262 halaman
ISBN: 978-979-29-3431-1
“Mas mau kan memaafkan aku?”
Aku mengangguk-angguk. “Tentu, tentu saja, Sayang. Kesalahanku juga banyak. Lebih banyak. Terlalu banyak.”
“Mas…” Panggilan Ratu kini bernada sangat manja. “Beneran Mas kangen sama bawel aku?” tanyanya dengan mata menyipit.
Oh, Tuhan, betapa aku mencintainya!
Aku mencintainya, dengan segala kekurangannya!
“Mas belum jawab pertanyaanku.”

***
Menikahi Ratu yang cantik, cerdas, dan sang aktifis kampus adalah dambaan Handoko. Namun, setelah keinginannya terwujud, seiring berlalunya waktu, apa-apa yang semula begitu indah di matanya tentang Ratu berubah. Apalagi setelah satu per satu anak lahir. Baginya kini Ratu adalah istri yang sangat menyebalkan. Bawel.
Istri yang sangat bawel, anak-anak yang terlalu aktif, kemacetan lalu lintas yang kian hari kian parah, pekerjaan yang selalu menumpuk dan menyita waktu, serta atasan yang menuntut selalu perfect, adalah siksaan buat Handoko.
Hari-hari Handoko berubah lebih bergairah mana kala di kantornya kehadiran Silvana, seorang karyawati baru. Perempuan yang dari segi fisik memiliki nilai nyaris sempurna di mata para lelaki di kantornya. Ikuti kelanjutan ceritanya yang seru dalam novel in
i!
***

Judul buku ini berhasil membuat saya tertarik karena saya sendiri sering dijuluki bawel oleh orang-orang terdekat saya. Hobi ngomel dan protes ditambah dengan cerewet yang jadi bawaan sejak kecil membuat gelar bawel ini sering tersemat. Ha..ha.. Makanya begitu lihat judulnya dan baca blurb di belakang buku saya pun tertarik memilikinya. Tapi mengingat saat itu sedang nggak punya dana, akhirnya niat pun tinggal niat. Buku ini langsung gagal saya bawa ke kasir. Tapi saat akhirnya punya uang, buku ini gagal saya temukan dimana pun. Mau pesan online-pun saya lupa judul bukunya hanya ingat kata “Bawel”nya. Hingga akhirnya suatu hari saya mengunjungi stand Penerbit Andi di Book Fair dan tanpa sengaja menemukan buku ini. Akhirnya langsung saya beli (^_^)

Buku ini mengggunakan sudut pandang orang pertama dari kacamata Handoko. Ya, kembali saya disuguhi tulisan dari penulis perempuan dengan mengeksplorasi cerita dari kacamata laki-laki. Handoko adalah seorang laki-laki yang telah memiliki seorang istri dan dua orang anak. Istrinya, bernama Ratu dulunya adalah aktivis di kampus dan punya banyak penggemar karena kecantikan dan kecerdasannya.

Sabtu, 24 Mei 2014

Tell Your Father, I am Moslem


Penulis: Hengki Kumayandi
Penyunting: Mashur El-Mubarok
Penata Letak: Tri Indah Marty
Desainer Sampul: Kiki Maryana
Penerbit: WahyuQolbu
Cetakan: Pertama, Januari 2014
Jumlah hal.: ix + 259 halaman
ISBN: 979-795-812-4
Ketika cinta telah menjatuhkan pilihannya, maka ia akan begitu tulus mencintai, tanpa syarat, tidak peduli berbeda suku, agama, ataupun status sosial. Namun, kenyataan sering berbicara lain. Ketulusan cinta hanya akan menjadi kenyataan getir, manakala takdir Ilahi berkehendak lain.

David
"Aku sangat bahagia ketika kau bersedia menjadi kekasihku, walau tak boleh sedikitpun aku menyentuhmu. Sayang, keyakinan yang kau miliki tak sama dengan keyakinanku, Maryam. Orangtuaku juga orangtuamu tak setuju jika kita bersatu.”

Maryam
“Aku belum pernah merasakan cinta sehebat dan sedahsyat ini. Kaulah cinta pertamaku, dan aku bahagia bisa mencintaimu. Tapi sayang, kebahagiaan ini begitu singkat. Kebahagiaan ini tidak lebih seperti kupu-kupu yang sangat singkat hidupnya menikmati keindahan bunga-bunga di taman.”
____

"Kau tahu, apa yang membuat Nabi Muhammad selalu tenang dalam menghadapi masalah dalam hidupnya? Rahasianya cuma satu, Maryam. Karena beliau selalu menjaga cintanya pada Allah. Beliau tidak pernah melebihkan cintanya pada siapapun selain-Nya. Berhentilah menangis. Jangan sampai cintamu itu membuat Allah berpaling darimu, Maryam."
____

Aku pecinta cerita HC Anderson. Dan buku ini seperti cerita HC Anderson versi Islami, Subhanallah... Indah sekali. Kisah cinta berliku David - Maryam bakal jadi tuntunan bagi pembaca yang -mungkin- sedang mengalami problem serupa.. Dan kekuatan cinta selalu bisa mengalahkan segalanya. Meski mengusung tema perbedaan keyakinan tapi novel ini jauh dari kesan SARA. Salut buat penulisnya. [Adnan Buchori, penulis buku Genk Kompor Series]
***

Tidak menyadari bahwa dua buku terakhir yang saya baca adalah buku-buku Islami. Setelah sebelumnya membaca Diorama Rasa (baca resensinya di sini). Saya langsung membaca buku Tell Your Father, I am Moslem. Buku ini membuat saya tertarik karena pembicaraan di Group Beruq-Beruq di Facebook sempat menyebut-nyebut karya ini.

Saat membaca pengantarnya pun saya mengenali sejumlah nama yang pernah berkomunikasi sebelumnya *most of them are a writer*. Saya pun memulai membacanya dengan penasaran. Dan satu yang tidak saya duga, ternyata novel ini tidak seberat yang saya sangka.

Dengan mengangkat cerita hubungan REMAJA *yup..remaja..saya juga gak menyangka*yang memiliki budaya dan agama yang berbeda. David, anak laki-laki Amerika yang berusia 17 tahun jatuh cinta pada Maryam, perempuan muslim dari Dubai. Maryam datang ke sekolah David sebagai siswi baru karena ayahnya ditugaskan menjadi Duta Besar Uni Emirat Arab. Awalnya muncul kehebohan di sekolah David karena penampilan Maryam yan berjubah dan berjilbab besar. Ia bahkan langsung dicap sebagai teroris.

Jumat, 23 Mei 2014

[Curhat Atria] Edisi Ngobrol-ngobrol dengan Bang Epi


Diedit dari karya adik sepupuku Nadhira Amelia Febrianti



Ha..ha.. Judulnya nggak banget yah??
Biarin deh. Lagi ingin berbagi isi kepala. (^_^)v

Saya berhasil menodong Bang Epi untuk bertemu dengan modus operasi memberikan buku Saya Pilih Mengungsi yang sempat dipesan Bang Epi melalui saya. Sebenarnya tujuan utamanya hanyalah ingin mengobrol tentang buku dengan seseorang setelah sibuk mengkhatamkan beberapa buku. Hasilnya saya malah berbagi “kegalauan” dengan Bang Epi. Tentang bacaan, tentang kualitas buku, tentang minat, tentang blog buku, dan berbagai hal.

Ngobrol selama hampir 3 jam ini sukses membuat saya mentransfer beberapa kegalauan ke Bang Epi. Ha..ha.. maaf ya Bang Epi. Tapi tetap saja membuat saya berfikir tentang apa yang bisa saya kontribusikan untuk masyarakat sekitar. Beberapa kali Bang Epi menyampaikan, “kita tuh bisa menyampaikan nilai-nilai tertentu dari apa yang kita tulis. Nulis review buku pun bisa untuk menyebarkan nilai-nilai baik yang kita mau,” dengan logatnya yang khas.

Bang Epi pun menuturkan tentang usahanya untuk membuat review menjadi kajian yang lebih mendalam. Tidak lagi hanya membahas konteks bukunya saja, tapi sampai ke nilai-nilai yang menarik untuk diangkat. Seperti dengan fokus pada tokohnya saja dan mencoba mengupas dan membuat kajian lebih mendalam dari sudut pandang itu. Jadi, tidak lagi membahas tentang editing yang kurang atau bagus tidaknya buku itu. Tapi mencoba lebih luas melihat konteks buku itu.

Dari diskusi panjang yang ngalor ngidul mulai dari soal virus MERS, vaksin, hacker, biografi KAR Bosscha, nilai-nilai dalam buku, tentang zona nyaman, hingga mindset masyarakat sekarang akhirnya saya tetap saja risau *mulai mengurangi penggunaan kata”galau”*.

Namun diskusi ini juga berhasil membuat saya yakin mengambil sebuah keputusan baru. Saya akan berhenti memberi sematan bintang atau nilai dalam angka terhadap sebuah buku. Karena ini akan mempersempit sudut pandang saya atas sebuah buku. Saya akan mencoba semakin fair (jika sekarang belum cukup adil) dalam berpendapat tentang buku-buku yang saya baca. 

Setelah ini, akan ada perbedaan judul dan konten dalam review-review saya di blog ini. Jika merasa kurang nyaman dengan hal ini, saya mohon permaklumannya. Saya masih mencoba menemukan “kekhasan” dalam review saya, masih terus menjadi lebih baik lagi dalam mereview. Semoga ini bisa menjadi kontribusi yang lebih positif dari saya untuk dunia buku di Indonesia.

Khusus untuk Bang Epi, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk share dengan “anak kecil” ini. Masih perlu banyak belajar nih, Bang. Dan semoga gak kapok dengar curhatan saya (^_^)v. Dan untuk Blogger Buku Indonesia yang lain khususnya grup Angkoters Bandung, yuk ngobrol ramai-ramai biar bisa curhat massal. Ha..ha.. Saya belum pernah ikut kopdar massal Blogger Buku Indonesia nih. (>_<)

P.S: Anggap saja ini salah satu bagian dari peringatan setahun keanggotaan saya di Blogger Buku Indonesia yang akan jatuh pada bulan Juli nanti (^_^)v

Diorama Rasa



"Cinta? Sini kubilang, cinta itu seperti mangkuk yang bisa digunakan untuk apa saja dan diletakkan di mana saja." (hal. 175)



Penulis: Fadhila Rahma
Penyunting: Nurjannah Melynda
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Pemeriksa Aksara: Intan Dyah P & Tiasty
Penata Aksara: Arya Zendi
Foto Sampul: Satrio & Yudi
Penerbit: Bunyan (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: Pertama, Februari 2014
Jumlah hal.: x + 370 halaman
ISBN: 978-602-291-008-4
***

"Aku mencintai siapa pun yang mengikatku dengan pernikahan" (hal. 148)

Setelah sekian lama tidak membaca novel Islami, akhirnya saya tertarik membaca novel Diorama Rasa ini. Awalnya karena sempat iseng membaca bagian awal novel ini di toko buku. Saat itu saya melihat ada buku yang segelnya sudah dilepas entah oleh siapa. Melihat covernya yang ternyata dibuat dua side dengan gambar seorang perempuan berjilbab di satu sisi, dan gambar seorang pria di cover yang lainnya.

Saya pun memulai bacaan dari sisi laki-lakinya. Penuturan awal di buku ini menarik. Saya kemudian kembali mengecek penulisnya, ternyata kedua sisi ini ditulis oleh orang yang sama. Bagi saya, sebuah pencapain jika seorang perempuan berhasil menulis dengan sudut pandang karakter tokoh laki-laki. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, saya berhasil digugah untuk penasaran pada kelanjutan kisahnya. Akhirnya setelah sempat menyesal karena tidak segera membawa buku tersebut ke kasir dan kepikiran oleh buku ini selama beberapa hari, akhirnya saya berhasil memilikinya.

Saya memulai membaca novel ini dari sisi tokoh Adrian, seorang laki-laki yang berusia 30-an dan mapan, yang mulai memiliki keinginan untuk menikah. Ia belum menemukan sosok yang ingin ia peristri. Namun pikiran bahwa hidupnya tidak terasa lengkap karena belum ada seorang istri mulai sering mengganggunya. Ia pun melakukan sebuah hal impulsif yang berujung pada perkenalannya dengan Kara. Sejak pertama melihat Kara entah mengapa ia terdorong untuk memperhatikan perempuan itu. Hingga akhirnya terbuka jalan baginya untuk mengenal Kara. Dari sini perjuangan Adrian untuk mendapatkan Kara sebagai istri bisa kita ikuti.

Kamis, 22 Mei 2014

Beautiful Temptation



“..., adakalanya kita harus berhadapan dengan kepahitan untuk mengetahui apa sebenarnya kebenaran di baliknya.” (hal. 203)


Penulis: Indah Hanaco
Penyunting: Laurensia Nita
Perancang Sampul: Nocturvis
Pemeriksa Aksara: Mia F, Titish A.K & Dewi Surani
Penata Aksara: Endah Aditya
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan: Pertama, September 2013
Jumalah hal.: vi + 274 halaman
ISBN: 978-602-7888-71-5
“Cinta adalah jalinan timbal balik antara dua hati yang menyimpan rasa senada ….”

Hubungan kami kurang baik akhir-akhir ini. Aku masih saja merasa Nathan tidak serius dengan hubungan kami. Buktinya, Nathan “menyembunyikan” aku dari keluarganya. Namun, Nathan justru menuduhku terlalu menuntut, bahkan mengira aku sedang memaksanya segera melamar.

Tristan namanya. Tampan, romantis, baik hati, dan sangat mencintaiku. Kami bisa bicara banyak hal tentang aneka masakan sembari menatap bintang-bintang. Namun, aku tidak tahu dirinya. Serupa langit malam, masa lalu Tristan hanyalah kerlip gemintang.

***
“Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi dengan hati seseorang. Adakalanya pulih dengan cepat setelah melalui banyak hantaman persoalan. Namun, ada juga yang tidak pernah sembuh selamanya.” (hal. 232)
Dengan mengambil sudut pandang orang pertama yakni dari kacamata Renata. Kehidupan percintaan Renata  yang akhirnya terjebak di antara dua pria ini cukup menarik diikuti. Hubungannya dengan Nathan, kekasihnya, yang sudah berjalan selama 2 tahun lebih dihinggapi ragu. Ini karena Nathan belum pernah mempertemukan Renata dengan keluarganya. Selama dua tahun tersebut, Nathan selalu kesulitan saat Renata menyampaikan keinginannya untuk bisa berkenalan dengan orang tua Nathan. Bukan karena Renata ingin Nathan segera menikahinya, tapi karena menurutnya lumrah jika dalam sebuah hubungan yang serius kedua pihak kenal dengan dengan keluarga pasangannya.
Masalah ini kembali mencuat dan membuat hubungan Renata dan Nathan merenggang. Di waktu tersebut, Tristan muncul dan membawa warna baru dalam kehidupan Renata. Hm..saya bingung apa perasaan bahagia yang muncul dalam diri Renata saat bersama Tristan termasuk perselingkuhan? Bahkan jika Renata berusaha untuk menolak Tristan?

Rabu, 21 Mei 2014

Menyentuh Bayangan



“.... Aku pernah bilang jangan melarangku melupakanmu, tapi lupa membahas bahwa hatimu bebas terbang ke mana saja.” (hal. 120)


Penulis: Itut Wahidin
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: 2014
Jumlah hal.: vii+ 212 halaman
ISBN: 978-602-02-3790-9
Cinta pada bayangan… Benarkah itu yang dirasakan Naluri? Apa ini karena Figar sudah menikah? Pernikahankah yang membuat mereka harus menjalani hubungan cinta platonik ini?

Naluri gerah. Dia tidak bisa terus-menerus mencintai dengan cara seperti ini. Tapi justru di saat dia berusaha menghindar dari semua ini, satu demi satu, kebenaran mulai terungkap….
***

“Kamu takut terobsesi dengan hasratmu untuk mencintaiku” (hal. 4)

Kisah cinta terlarang memang menarik untuk diangkat. Tentang cinta yang tidak bisa dikendalikan akan singgah pada siapa? Kapan dan dimana? Bahkan terkadang di dalam orang yang paling logis sekalipun, cinta kadang tidak bisa diprediksi akan dilabuhkan pada siapa.

Kisah Naluri yang jatuh cinta pada Figar yang sudah memiliki istri. Tentang pilihan mereka untuk saling mencintai diam-diam. Tidak saling menyentuh namun terus saling berkabar. Bagi saya pribadi ini adalah pilihan yang menyulitkan diri sendiri. Dengan terus saling berkabar mereka akan semakin sulit melupakan satu sama lain. Dan itulah yang terjadi di dalam kisah ini.

Cinta diam-diam yang panjang dan dalam. Satu lagi kisah cinta yang suci namun tidak realistis. Pilihan-pilihan Naluri dan Figar yang seolah menikmati proses melukai diri sendiri ini. Kedekatan dan pendakatan yang unik di antara keduanya.

Selasa, 20 Mei 2014

Interview Indah Hanaco + Giveaway After Sunset



Hai, Pengunjung My Little Library (^_^)

Bagi pengunjung tetap Little Library ini, mungkin bertanya-tanya mengapa kali ini saya mengadakan Giveaway di pertengahan bulan? Biasanya saya  mengadakan givewaya setiap awal bulan dan di tutup di akhir bulan. Namun kali ini berbeda. Salah satu alasannya adalah karena ada kerjasama dengan salah satu penerbit untuk mengadakan blogtour dan giveaway di blog ini. Karena saya tidak ingin mengadakan dua giveway dalam waktu yang sama *bingung mem-promote event dan manage blogpost* akhirnya saya pun memundurkan Giveaway kali ini. Tapi tetap saja giveway-nya  akan berlangsung 1 bulan.

Untuk pengunjung baru Little Library, selamat datang dan salam kenal. Semoga betah dan ketagihan mengunjungi blog ini. Jangan lupa meninggalkan jejak ya. (^_^)

Ok, tanpa berpanjang-panjang lebih jauh lagi, saya akan perkenalkan seorang penulis yang akan saya wawancarai kali ini. Ya, kenalkan Mbak Indah Hanaco. Siapa yang sudah pernah membaca karyanya? Ada yang belum?? Kalau gitu, saya sampaikan dulu profil singkat Mbak Indah Hanaco ya.



Indah Hanaco tertarik menulis sejak membaca serial Wiro Sableng dan Pendekar Rajawali. Jatuh cinta setengah mati pada karya-karya Sidney Sheldon, Sir Arthur Conan Doyle, Sherrilyn Kenyon, Tessa Dare, Julie James, dan Julie Garwood. Indah juga tergila-gila pada lagu-lagu milik Kla Project, Shinhwa, dan segala hal yang berasal dari tahun 90-an. Berasal dari Pematangsiantar, Indah sekarang tinggal di Bogor. Bersama suami dan dua buah hati, Axzel dan Aimee, hidup terasa begitu menakjubkan. Apalagi bisa bekerja di bidang yang begitu dicintai dan disuguhi pemandangan kebun teh yang indah setiap waktu.

Karya-karya Mbak Indah Hanaco antara lain Black Angle (Stiletto, ----), 14 Kebaikan Paling Menakjubkan dari Nabi Muhammad (Gramedia, 2012),  Cinta Tanpa Jeda (Bukune, 2012), Run to You (Gagas Media, 2013), Beautiful Temptation (Bentang Pustaka, 2013) Cinta 4 Sisi (Grasindo, 2013), The Vanilla Heart (Bentang Pustaka, 2013), Les Masques (Grasindo, 2014), 33 Binatang Paling Heboh! Fabel Sain untuk Anak Cerdas (Gramedia, 2014), After Sunset (Elex Media Komputindo, 2014), dan sejumlah buku lainnya.

Indah Hanaco bisa dihubungi di
Facebook: Indah Hanaco
Twitter: @IndahHanaco

Mbak Indah Hanaco termasuk salah satu penulis Indonesia yang cukup produktif. Mbak Indah juga ramah dan bisa diajak berdiskusi. Buktinya saya diberi kesempatan untuk melakukan wawancara singkat melaui inbox FB dengannya. Dan ini dia hasil wawancaranya.

Senin, 19 Mei 2014

Putih dalam Cinta




Penulis: Mursal Fahrezi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: 2013
Jumlah halaman: 148 halaman
ISBN: 978-602-02-2903-4
Setelah empat tahun berlalu, akhirnya Manisha kembali pada suami dan anaknya, Ray dan Naira yang sudah tumbuh besar. Sayang, sang suami sudah terlampau kecewa karena perbuatannya. Ray merasa sakit hati lantaran Manisha dulu meninggalkannya dan menelantarkan anak mereka, Naira, yang saat itu masih berusia dua bulan.

Ray lalu berbaik hati memberikan Manisha kesempatan. Yaitu bisa tinggal di rumah besarnya sekaligus dekat dengan anaknya sendiri yang selalu memanggilnya dengan sebutan “tante” lantaran Ray bersikeras menyembunyikan bahwa Manisha adalah ibu kandungnya.

Jika cinta yang benar-benar putih nan suci itu ada, apakah kehidupan sepasang insan ini bisa kembali seperti empat tahun yang lalu?

***

Cerita dimulai dengan prolog yang kemudian saya ketahui sebagai klimaks dari novel ini. Di prolog ini digambarkan ketakutan Manisha karena akan dijauhkan dari anaknya, Naira. Di prolog ini ada tokoh Risa yang di bab awal tidak pernah disebutkan namanya.

Cerita pun dimulai dengan kemunculan kembali Manisha di hadapan Ray. Kehadiran Manisha yang telah meninggalkan Ray saat Naira, putri mereka, berusia 2 bulan tentu saja tidak membuat Ray senang. Namun, Ray juga tidak ingin memisahkan Manisha dari Naira. Ia tetap memberikan kesempatan kepada Manisha untuk mengambil hati Naira. Namun ia telah bertekad bahwa Manisha tidak akan bisa merebut hatinya lagi.

Ray yang ternyata sudah menjalin hubungan dekat dengan Risa, perempuan pemilik butik yang ia kenal setelah kepergian Manisha, sempat agak kebingungan untuk menjelaskan kedatangan Manisha kepada Risa. Risa yang akhirnya mengetahui keberadaan Manisha di rumah Ray kontan merasa terancam dan akhirnya mempengaruhi Ray dan bahkan mendesak Ray untuk menceraikan Manisha.

Manisha pun merasa tersudutkan. Ia yang masih mencintai Ray, memahami bahwa wajar Ray meninggalkannya setelah apa yang ia lakukan. Namun Manisha tidak bisa membayangkan jika dia harus terpisah lagi dengan Naira, putrinya.

Lantas, bagaimanakah hubungan yang rumit ini berakhir?

***
Membaca endorsment untuk novel ini membuat saya berharap banyak pada ceritanya. Blurb-nya pun sukses membuat saya tertarik dan membawa buku ini ke meja kasir. Saya pun memilih buku ini sebagai teman seperjalanan saat mudik.

Ide cerita dalam buku ini memang menarik. Saya pun jadi tertarik untuk tahu apakah Manisha akan berhasil memperbaiki rumah tangganya bersama sang suami? Apakah Manisha bisa membuat Naira menyayanginya dan Ray mencintainya kembali? 

Menggunakan klimaks sebagai prolog cerita ini membuat saya sempat kebingungan. Siapa Risa? Kok, tau-tau nongol di prolog tapi nggak jelas dia siapa? Dan pengulangan yang persis sama antara prolog dan klimaks cerita cukup mengganggu saya. Selain itu, saya pun sempat berfikir kok alasan Manisha meninggalkan Ray sesimple itu. Trus apa artinya cinta? Trus kenapa dulu dengan mudahnya Manisha menjawab “Iya” saat dilamar oleh Ray?

Selasa, 13 Mei 2014

The Heritage



“Kadang-kadang kita memang bisa melakukan hal yang tidak masuk akal untuk orang yang kita sayangi. Salah satunya mungkin dengan mengorbankan nyawa.” (hal. 83)


Penulis: Ghyna Amanda
Editor: Fanti Gemala
Desainer sampul & ilustrasi: Dyndha Hanjani Putri
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan: 2014
Jumlah hal.: vi + 202 halaman
ISBN: 978-602-251-490-9

Bosscha Sterrenwacht, Grote Postweg, Beatrix Boulevard, Lembangweg, Bilitonstraat—adalah segelintir nama yang tersirat dalam lembaran lukisan milik seorang gadis bernama Julia.

Karena aksi sok heroiknya, Vero, seorang murid pertukaran pelajar dari London, terpaksa harus membantu Julia memecahkan teka-teki dari lukisan-lukisan yang menggambarkan berbagai bangunan kuno di Kota Bandung. Vero yang awalnya datang ke Bandung untuk mempelajari angklung dan arumba, akhirnya harus terlibat dalam petualangan menyusuri tempat-tempat bersejarah yang ada di dalam lukisan Julia.

Dalam petualangan itu, akhirnya teka-teki lain ikut terbongkar. Alasan mengapa Julia bersikeras ingin memecahkan teka-teki dari lukisan tersebut, dan alasan mengapa Vero harus terlibat dalam petualangan ini. Begitu juga dengan simpulan akhir perasaan keduanya

***

Ini adalah novel kedua karya Ghyna Amanda yang saya baca dan dalam kurun waktu yang berdekatan. Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, dan lagi-lagi dari tokoh utama laki-laki, Ghyna mengangkat Bandung sebagai latar tempat yang paling mendominasi cerita.

Tokoh utama pria Vermarine Evergreen atau Vero, seorang remaja 17 tahun asal London yang mencari petualangan dan pengalaman hidup jauh dari orang tuanya, akhirnya terdampar di Bandung dalam kegiatan pertukaran pelajar selama sebulan. Essainya tentang angklung membawanya ke Bandung untuk belajar lebih juah tentang instrumen musik dari bambu tersebut.

Hari pertamanya di Bandung, ia bertemu dengan Julia. Pertemuan itu berjalan sangat buruk. Hingga akhirnya pertemuan pertama inilah yang membawa Vero pada upaya menjawab teka-teki yang berkaitan dengan Ayah Julia yang sudah meninggal. Dalam pencarian ini Vero dan Julia dibantu oleh Gesang. Ya, nama ini tidak asing  bagi mereka yang sudah membaca review atau bahkan membaca novel Ghyna Amanda yang satu lagi. Gesang adalah tokoh utama novel Fuurin yang ditulis oleh Ghyna Amanda.

Membaca novel ini memberi banyak bahkan sangat berlimpah informasi tentang kota Bandung dan sejumlah bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda di era awal tahun 1900-an. Bagi saya yang cukup tahu tentang sejarah ini, membaca novel ini menjadi membosankan. Bahkan sejujurnya saya menangkap beberapa kesan menggurui dalam novel ini.

Song of Will


“Baginya setiap orang mempunyai harapan, yang berubah menjadi tujuan hidup, dan membuatnya bertahan hidup” (hal. 229)


Penulis: Jason Abdul
Penyunting: J Fisca
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penyelaras akhir: Dyah Utami
Desainer Sampul: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: Moka Media
Cetakan: pertama, 2014
Jumlah hal.: vi+258 halaman
ISBN: 979-795-815-9
"Akan kuberitahu siapa yang kusukai."

William, harus melawan kesedihan setelah kepergian sahabatnya ke Swiss.
Laura, berpikir kecantikannya bisa memberi segala yang tak bisa diberikan keluarganya yang hidup sederhana.
Evan, berjuang melupakan masa lalu yang kelam saat hidup di jalanan.
Nana, belajar mengambil keputusan sulit untuk menyatukan kembali keluarganya yang berantakan.

Empat remaja yang berusaha memahami diri sendiri serta arti mencintai keluarga.
Keempat-empatnya punya topeng yang ingin mereka lepaskan.
Keempat-empatnya punya rahasia yang ingin mereka bagi.

Sebab semua orang punya masa lalu. Dan mimpi

***

“Setiap orang pasti punya kesalahan, kita hanya perlu memberi mereka kesempatan memperbaiki.” (hal. 226)
Novel Song of Will bercerita tentang William yang bersama sahabatnya, Ben, membesarkan grup paduan suara mereka, Lumos. Namun saat Ben dan keluarganya pindah ke Swiss, William keluar dari Lumos. Ini karena ia tidak ingin menjadi sumber perpecahan dalam tubuh Lumos. Setelah itu, hidup Will menjadi datar saja. Tidak ada lagi sahabat yang menemaninya. Tidak ada lagi jadwal latihan dan manggung untuk bernyanyi dan tampil bersama Lumos.

Will sangat suka menyanyi. Namun itu tidak membuatnya bertahan di Lumos karena rasanya Lumos sudah berbeda. Kedatangan Evil, sahabat lamanya saat SMP kembali mengisi hari-hari Will. Ada pula Laura, sahabat Will sejak kecil yang sangat playgirl namun disayangi Will. Kemudian kemunculan Nana, perempuan kikuk yang pemalu dan tertutup yang menjadi sekretarisnya dalam kepanitian pensi sekolah.

Hubungan di antara Will, Laura, Nana, dan Evil berkembang menjadi hubungan cinta yang rumit. Belum lagi setiap tokoh ini punya masalahnya masing-masing. Dan Will menyimpan satu rahasia. Nana yang juga punya rahasianya sendiri. Evil yang ingin lari dari masa lalunya. Dan Laura yang selalu terobsesi ingin menjadi orang kaya.

Cinta Emang Bego




Penulis: Nikma TS
Penyunting: Dyah Utami
Pendesain Sampul: Fahmi Fauzi
Penyelaras akhir: J. Fisca
Penata letak: Tri Indah Marty
Ilustrator: @medzkreatif
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: iv + 176 halaman
ISBN: 979-795-826-4

Kuberi tahu kamu soal Febri, cowok yang gantengnya bisa bikin artis Korea langsung ingin operasi plastik lagi. Aku tergila-gila padanya. Peduli setan soal sohibku yang naksir dia. Aku nggak peduli status gebetanku di sekolah, nggak peduli mamaku mencak-mencak, nggak peduli brownis buatanku hangus demi cinta. Bahkan ketika gebetanku diam-diam punya rahasia, aku juga nggak peduli.

Kamu pikir cintaku bego? Emang!
Kamu baru tahu?

***

Pertama kali menatap sampul buku ini saya langsung merasakan gelagat aneh. Hm...ini tampaknya genre komedi. Salah satu genre yang jarang saya lahap. Sorry, saya memang manusia serius *yang diamini oleh teman-teman saya* sehingga genre komedi jarang saya sentuh. Paling banter dalam bentuk komik.

Saat membaca novel ini saya langsung menangkap ide ceritanya. Hm, seorang anak perempuan yang bernama Lintang yang jatuh cinta pada satpam sekolahnya, Febri. Sosok Febri ini digambarkan sangat ganteng seperti artis-artis Korea. Sedangkan Lintang? Ya cukuplah. Cukup jelek? Ups..bukan..bukan..cukup konyol menurut saya.

Jiwa preman yang ditunjukkan Lintang pada sahabat dan orang-orang yang dekat dengannya mendadak hilang saat berhadapan dengan Febri. Ha..ha.. memang cinta bisa mengubah seseorang termasuk bikin es krim mencair *eh, bukannya wajar kalo es krim mencair? Ya intinya gitulah*.

Senin, 12 Mei 2014

Cinta Terpendam: Kumpulan Kisah 21 Pemendam Cinta



“Ahh, aku tak ingin hujan ini mereda. Lebih nyaman menjadi hujan, lega menumpahkan beban daripada membendungnya hingga berat.” (hal. 113)



Penulis: Nova Pjn, Sharoncitara, dkk
Penyunting: Ihwan Hariyanto dan Nova Pjn
Penata letak: Ihwan Hariyanto
Desainer sampul: Rana Wijaya Soemadi
Penerbit: Mozaik Indie Publisher
Cetakan: Pertama, Februari 2014
Jumlah hal.: ix + 254 halaman
ISBN: 978-602-17723-9-3
Untuk membeli buku ini bisa via online ke http://mozaikindie.com

Kata mereka,banyak hal yang bisa dilakukan ketika kita jatuh cinta dan aku merasakannya. Diam-diam dengan sengaja mengambil gambarnya lalu mengabadikannya di dinding kamarku. Aku yang selalu ceria menyambut pagi dengan senyuman darimu, walau ternyata senyum itu bukan pertanda spesial. Semua telah kulakukan demi melihat wajahmu walau dengan jarak 2 meter.
Sebuah kegilaan yang tidak pernah kurencanakan di masa itu. Hanya satu yang tak bisa kulakukan, mengatakan kata cinta sekalipun kamu tepat di hadapanku.
Pengecut!
Kata itu pantas buat kami, tapi kami punya alasannya :”
Sebuah kisah nyata pada pemendam cinta yang menarik dan mengharukan akan membuatmu sadar bahwa terkadang cinta tak harus diungkapkan...”

***

Buku berisi kumpulan “curhatan” 21 orang tentang cinta yang terpendam. Usia, pekerjaan, asal daerah, dan akhir kisah dari cerita-cerita ini berbeda satu dengan yang lainnya. Cerita dibuka dengan cerita tentang cinta yang dipendam bertahun-tahun. Cinta yang dipindam pada sahabat masa kecil. Cerita ini sudah sering diangkat sebagai ide cerpen, komik, novel, sinetron ataupun film. Namun rasanya tetap menarik membaca pergulatan batin dari Nova Pjn.

Di awal membaca buku ini saya berfikir ini adalah kisah nyata, namun semakin jauh membaca, saya menemukan ketidaksesuaian antara profil penulis dengan cerita yang saya baca. Maka saya menduga bahwa beberapa cerita adalah cerita fiksi. Hm, bagi saya ini mengganggu. Ada beberapa kisah yang saya sukai jika dia memang adalah kisah nyata, namun ketika mendapatkan kesadaran ini, saya jadi meragukan orisinalitas “true story”.

Pengumuman Pemenang Giveway Blog Tour Cheer Boy!!

 
Akhirnya waktu seminggu berlalu dengan cepat. Bagaimana blogpost tentang dunia Cheerleading dan buku Cheer Boy!! di blog ini? Semoga memberi informasi baru dan bermanfaat ya (^_^)

Nah, sebelum pindah ke blog berikutnya dalam rangkaian Blogtour hari ini, saya mau berbagi dulu tentang hasil dari jawaban temen-teman peserta blogtour kali ini. Pertanyaan saya adalah:

“Apa sih yang kamu pikirkan pertama kali tentang Cheerleading atau Cheerleader? Setelah baca blogpost ini apa pendapat kamu tentang Cheerleading?”

Untuk pertanyaan pertama, memang banyak teman-teman yan mengasosiasikan bahwa cheerleader itu adalah sekelompok cewek-cewek centil, cantik, populer atau semacamnya yang jadi tim pendukung tim olahraga. Ini karena film-film terutama di Indonesia menampilkan image seperti itu tentang cheerleader. 

Dan syukurlah, informasi yang berusaha saya telusuri tentang cheerleading di Indonesia bisa memberi informasi baru bagi peserta blogtour bahwa cheerleading adalah sebuah olahraga. Bahkan di Indonesia sudah ada kompetisi tahunan yang diselenggarakan untuk olahraga cheerleading ini.


Sekarang saya akan mengumumkan pemenang giveaway di blogtour kali ini. Dan dia adalah...*jreng..jreng..jreng..jreng..*

Jumat, 09 Mei 2014

Dead Poets Society : Berdasarkan film karya Tom Schulman



“Kebanaran adalah selimut yang membuat kita ketakutan!” (hal. 114)
“... words and idea can change the world” qoute from Dead Poets Society movie


Penulis: N.H Kleinbaum
Penerjemah: Septiana Ferniati
Editor: Kurniasih
Desain dan Ilusrtasi Cover: Antorio Bergasdito
Layout: Satia Nugraha-ha
Jumlah hal.: 226 halaman
ISBN: 979-97652-0-x

Todd Anderson dan teman-temannya di Welton hampir tak bisa percaya betapa berbedanya hidup yang mereka jalani sejak guru bahasa Inggris mereka yang baru, sang flamboyan, John Keating, menantang mereka untuk “membuat hidupmu luar biasa!” Terilhami oleh Keating, mereka menghidupkan kembali Dead Poets Society –sebuah kelompok rahasia yang terbebas dari tekanan dan harapan pihak sekolah dan para orangtua, mereka biarkan gairahnya liar tak terkekang. Ketika Keating membawa mereka pada syair-syair indah karya Byron, Shelly, dan Keats, mereka tidak saja menemukan keindahan bahasa, juga pentingnya membuat setiap saat jadi bermakna.

Tetapi para anggota Dead Poets tak lama menyadari bahwa kebebasan yang baru mereka temukan itu bisa berakibat tragis. Dapatkah mereka dan pribadi yang mengilhaminya melawan tekanan pihak-pihak berwenang yang ditunjuk untuk menghancurkan mimpi-mimpi mereka?

***

“Dan jangan batasi puisi pada kata. Puisi dapat ditemukan dalam musik, selembar foto, dalam suatu cara makanan disiapkan –apa pun dengan hal pewahyuan di dalamnya. Ia bisa ada di dalam hal-hal yang paling sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari tetapi tidak harus, takkan pernah jadi biasa. ...” (hal. 111)


Saya baru saja menonton film Dead Poets Society yang dibintangi oleh Robin Williams ini. Filmnya sukses membuat saya menangis (T_T) terutama di beberapa bagian saat Neil berusaha memperjuangkan passion dia pada dunia akting. Namun orangtua terutama ayahnya sangat menentang hal tersebut.

Film dan buku Dead Poets Society ini sama-sama dibuat tahun 1989 *tahun kelahiran saya*. Isinya sangat menarik. Menggugat tentang sistem pendidikan saat itu. Dimana keseragaman membebani mereka yang memang berbeda. Tentang tuntutan orang tua atas pilihan-pilihan yang menurut mereka terbaik UNTUK anak mereka namun tanpa sadar hanya MENUNTUT yang terbaik dari anak mereka. Tidak jarang hal ini bertentangan dengan minat anak tersebut.