Jumat, 28 Februari 2014

Kelas Memasak Lilian



“... koki sejati, yaitu orang yang dapat membaca orang dan rempah-rempah, dapat mengantisipasi reaksi orang sebelum mereka kali pertama mencicipi hidangan.” (hal.11)



Judul Asli: The School of Essential Ingredients
Penulis: Erica Bauermeister
Penerjemah: Word++ Translation Service
Penyunting: Otaviani
Desain Sampul: Tyo
Ilustrasi isi: Wisnu
Pemeriksa Aksara: Novianita, Morien Gloree
Penata aksara: Bowo
Penerbit: Bentang
Cetakan: 2009
Jumlah hal.: x +234 halaman
ISBN: 978-979-1227-74-2

Setiap makanan memiliki keajaiban. Rempah dan bahan makanan bahkan bisa menuturkan kata-kata. Begitu yang diyakini Lilian kecil. Ia masih ingat keajaiban yang muncul di rumahnya berkat segelas susu bercampur kulit jeruk dan bermacam jenis rempah istimewa. Setelah mereguknya, sang ibu yang telah sekian lama tenggelam dalam kesedihan kembali mengingat hidup yang terlanjut ia abaikan.

Bertahun-tahun kemudian keajaiban itu dirasakan oleh seluruh siswa dalam kelas memasak yang diadakan Lilian setiap Senin mala. Satu per satu dari mereka diubah oleh aroma, cita rasa, dan tekstur makanan yang mereka masak, termasuk kue dengan krim putih yang mencetuskan pikiran sedih mengenai betapa rapuhnya sebuah pernikahan dan saus tomat pedas yang tampaknya menggairahkan sebuah cinta, tetapi justru mengakhiri cinta yang lain.

Perlahan, rahasia memasak Lilian menembus keluar dapur dan menyebarkan harapan bagi hati yang berduka dan terluka. Seperti lezatnya hidangan yang penuh keajaiban, begitu pula kehidupan mereka yang menjadi lebih baik untuk dinikmati.

“sebuah papan aroma, rasa, dan pertemanan dalam dunia kuliner”
-Seattle Post-Intelligencer

***

“... cinta adalah sesuatu yang tidak membutuhkan kartu ucapan agar kalian mengingatnya.” (hal 189-190)

Buku ini adalah sebuah buku yang bercerita tentang keindahan dalam dunia kuliner. Bagaimana racikan dan makanan bisa merepresentasikan kehidupan dan bahkan mempengaruhi kehidupan manusia. Makanan tidak lagi hanya bernilai sebagai pengisi perut dan penambah tenaga semata.

Buku ini menceritakan tentang kehidupan Lilian dan kursus memasaknya serta murid-murid yang ada di kelasnya. Lilian kecil yang “trauma” dengan buku karena melihat ibunya tenggelam dalam rangkaian kata, menemukan bahwa ia bisa merenggut perhatian ibunya melalui sebuah masakan. Mencampur minuman ibunya dengan sebuah resep “ajaib” yang berasal dari rempah dan kulit jeruk yang ia masak dengan penuh cinta dan harap.

Setelah itu, cerita maju ke saat Lilian telah memiliki restoran sendiri dan membuka kursus memasak setiap Senin malam di dapur restorannya. Di sini, cerita berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Masing cerita mengambil sepotong kehidupan murid Lilian dan pengaruh kursus memasak tersebut pada hidup mereka.

Kamis, 27 Februari 2014

Bumi Hangus



“Lihatlah bendera Merah-Putih yang berkibar. Bendera berkibar karena angin. Dan kita semua telah menjadi anginnya di masa perjuangan. Sekarang, kita juga yang harus menjadi anginnya, agar bendera tetap berkibar.” (hal. 345)


Penulis: Sunaryono Basuki KS
Penyunting: M. Fajar Af
Lay out: Antok Priyo R
Pemeriksa Aksara: Umar Tajuddin
Desain sampul: Windutampan
Penerbit: Pinus
Cetakan: I, Januari 2009
Jumlah hal.: 352 halaman
ISBN: 979-99007-5-1

Bumi hangus adalah sebuah novel sejarah tentang perjuangan melawan kolonial. Bumi hangus merupakan strategi perang yang menjadi pilihan terpaksa untuk menghadapi kekuatan kolonial dengan cara meluluhlantakkan gedung-gedung, jalan, rumah-rumah penduduk dan fisilitas lainnya, meski itu milik sendiri. Namun strategi berkorban ini, semata-mata diambil untuk menghancrukan kekuatan penjajah yang telah merebut dan menduduki tanah kelahiran. Hal itu dilakukan tak lain demi kemerdekaan meski berdiri di atas timbunan reruntuhan, harta benda, dan mempertaruhkan ribuan nyawa.
***

Buku ini seperti sebuah omnibook dimana mengambil waktu dan tempat yang masih saling terhubung namun dengan banyak sudut pandang.  Ada tokoh Bandem, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar yang selalu suka bersekolah dan bernyanyi di sekolah. Namun kesenangannya ini terganggu karena ia dan keluarganya harus beberapa kali berpindah sekolah karena jabatan orang tua Bandem. Ayah Bandem adalah Schoolopziner, Pemilik Sekolah Republik. Ia yang memegang berkas-berkas dan informasi tentang guru-guru republik. Sehingga demi keselamatan nyawa-nyawa guru tersebut, Ayah Bandem harus berpindah sambil membawa semua berkas-berkas tersebut. Sebab jika Belanda menemukannya, maka mereka akan memaksa guru-guru tersebut mengajar di sekolah yang dibangun oleh tentara Sekutu; jika menolak, maka pihak Sekutu ini akan bertindak semena-mena dan bahkan membunuh mereka.

Rabu, 26 Februari 2014

Seribu Kerinduan


“... sometimes, we need to stop blaming the past and start creating the future.” (hal. 175)
 
sampul buku dan halaman yang ditandatangani oleh Mbak Herlina P Dewi (edited by Fotorus App)

Penulis: Herlina P Dewi
Editor: Paul Agus Hariyanto
Proof reader: Tikah Kumala
Desain cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Deeje
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: I, November 2013
Jumlah hal.: 242 halaman
ISBN: 978-602-7572-19-5

Sudah, jangan lagi kamu menghakimiku. Jangan lagi kamu memperolokku. Percuma saja. Aku sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi, kecuali rasa kebas ini. Dan sekarang, biarlah kehidupan memilihkan jalan untukku. Menjadi pelacur.”

Renata, seorang fashion editor dengan karier cemerlang di kantornya, harus pasrah pada keadaan. Setelah berpisah dengan Panji, lelaki yang sudah dipacari selama empat tahun karena perjodohan biadab itu, dia pergi ke semua tempat yang pernah mereka singgahi untuk menelusuri jejak-jejak kebersamaan. Hidup menjadi sangat membosankan baginya, karena hari-harinya kini hanya dihabiskan untuk mengenang Panji. Dia pun lantas memilih menjadi pelacur, karena dengan profesi barunya itu, dia kembali merasa dicintai, dihargai, dibutuhkan, dan disanjung.

Namun, ia sadar, menjadi pelacur hanyalah sebuah persinggahan sebelum dia benar-benar melanjutkan hidup sesuai dengan keinginannya. Lantas, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin dijalaninya? Tanpa Panji? Bisakah?

***

Buku ini bercerita tentang Renata yang karena patah hati, akhirnya hidupnya berantakan. Saat patah hati, ia pun kehilangan semangat hidup dan berujung dengan dipecatnya ia dari pekerjaan yang sangat ia cintai yakni sebagai fashion editor. Ia pun merasakan kekosongan dalam hidupnya.

Selama proses patah hati ini, Renata kemudian memilih pekerjaan sebagai pelacur. Seolah ingin memperlihatkan kepada dunia kemarahannya. Tentang ia yang jatuh dan hancur karena apa yang dilakukan dunia padanya. Dunia merenggut cintanya dan pekerjaan yang ia cintai. Dan ia merasa bahwa pertemuannya dengan Dion, membuka pintu untuknya menjadi pelacur. Ia merasa inilah pilihan yang diberikan dunia. Lantas ia pun memutuskan untuk menjadi “pelacur elit”. Menjadi pelacur membuatnya merasa dibutuhkan, diinginkan dan dicintai.

Tapi sampai mana Renata bertahan memendam kemarahan dan sakit hati itu? Berapa lama ia akan menjadi pelacur? Seumur hidupkah? Apakah dengan menjadi pelacur ia akan bisa melupakan Panji?


“.... Kalau kita terus-terusan menyalahkan masa lalu, kita justru akan terus hidup bersamanya, dam semakin sulit melepaskan diri.” (hal. 175)

***
Aku ingin melupakan semua kesunyian malam ini.
Itulah sebabnya aku menulis,
agar aku bisa mengubah senyuman menjadi rindu,
gelap menjadi kenangan,
dan beku menjadi cinta.
(Renata Kumala – fashion editor novelist)

Kutipan di atas adalah pembuka dari novel ini. Kalimat yang manis dan membuat saya mencoba meresapinya. Cerita di dalam novel ini menggunaka sudut pandang orang ketiga. Dengan berpusat pada kehidupan Renata serta sesekali cerita kehidupan Panji. Dengan menggunakan alur maju-mundur, kita disuguhkan kisah masa kini yang terjadi karena alasan di masa lalu.

Cerita dimulai dengan mengambil suasana Renata yang sedang patah hati. Renata yang masih belum bisa melepaskan Panji, akhirnya kembali dibayangi oleh cerita masa lalu saat ia dan Panji menemui orang tua Panji. Setelah itu alur maju-mundur ini terus dipakai oleh penulis untuk menjelaskan kehidupan cinta Panji dan Renata di masa lalu.

Panji yang akhirnya gagal membujuk orang tuanya agar mau menerima Renata ternyata malah dijodohkan dan tidak bisa menolak hal itu. Renata akhirnya ditinggalkan dengan hati yang hancur. Renata bahkan sempat datang ke pernikahan Panji dan Ayu. Sepulang dari sana Renata malah dipecat dari kantor akibat sering mengabaikan pekerjaannya sejak putus dari Panji.

Setelah itu kita disuguhi pergelutan batin Renata yang marah terhadap dunia. Hingga akhirnya bertemu Dion dan sejak itu menjadi pelacur. Ia pun kemudian berteman baik dengan Dion.

Sejujurnya saya harus mengangkat jempol untuk cara Herlina P Dewi menggambarkan patah hati Renata. Sangat real dan membuat saya bisa ikut merasakan kesedihan dan kemarahan-kemarahan Renata. Penulis juga berhasil membangun penokohan yang bagus. Buktinya, saya berhasil dibuat memendam kesal pada sosok Panji yang ternyata anak mama. Tidak mampu mempertahankan Renata, dan malah memilih tunduk pada perjodohan padahal dia adalah LAKI-LAKI DEWASA!! *wuih, huruf kapital semua*

Cerita kehidupan Renata menjadi menarik untuk diikuti selain itu menyajikan pemahaman baru tentang dunia prostitusi. Bahwa yang menjadi pelacur tidak hanya karena kekurangan materi, namun punya kebutuhan tertentu seperti ingin merasa dicintai, serta alasan-alasan lain.

Namun, sayangnya ending ceritanya kurang nendang. Argh..harus ya..harus yaaaaa 
*pengen nimpuk Renata.. ditimpuk balik sama mbak Herlina*

Covernya? Hm..bagus dan menampilkan “kesenduan” tentang kerinduan dan luka hati Renata. Sesuai dengan isi novel. Tapi rasanya kok saya agak ragu cover ini akan menarik mata saat dipajang di toko buku. 

Jika harus menyematkan bintang untuk buku ini, maka saya memberinya 3,5 bintang untuk alur cerita yang menarik, karakter tokoh yang kuat, dan patah hati yang menggigit. (^_^)v

***

Quote
“Buat Renata, writing is healing.Dia bisa menumpahkan semua perasaanya lewat tulisan, dan setelah itu, dia berharap semua beban hidupnya bisa terobati” (hal.219)

“...menulis adalah sebuah aktivitas paling terpencil di dunia” (hal. 235)

***
 Review ini saya ikutkan dalam RC berikut:




Senin, 17 Februari 2014

The Sherlockian



“Ketika kau menyingkirkan hal-hal yang mustahil, apa pun yang tersisa, betapa pun mustahil, pasti merupakan kebenarannya” (hal. 339)


Penulis: Graham Moore

Penerjemah: Airin Kusumawardani
Penyunting: Yulliya Febria
Proofreader: Widyawati Oktavia & Elly Afriani
Penata Letak: Erina Puspitasari
Desainer sampul: Gita Mariana
Penerbit: Bukune
Cetakan: I, November 2013
Jumlah hal.: xii+ 544 halaman
ISBN: 602-220-119-5
Arthur Conan Doyle mengerutkan alisnya dalam-dalam dan hanya memikirkan pembunuhan. "Aku akan membunuhnya." Dia bergumam.


Pada 1901,delapan tahun setelah warga London dikejutkan dengan "pembunuhan" Sherlock Holmes oleh Conan Doyle, penulis legendaris itu tiba-tiba menghidupkan Holmes kembali. Namun, sang Penulis tidak memberi penjelasan apa pun. Setelah kematian Conan Doyle, sebuah buku harian yang menjadi pintu masuk ke pikiran penulis misteri paling hebat di dunia itu menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi.


Namun, benarkah demikian?



Januari 2010.Setelah dilantik menjadi anggota Laskar Baker Street—klub elite peneliti Sherlock—Harold White tak pernah membayangkan akan memburu buku harian Conan Doyle. Kematian Alex Cale, pakar terkemuka yang bertahun-tahun telah mencari buku harian itu, mengubah segalanya. Tiba-tiba saja, Harold harus mengambil alih pemburuan buku paling dicari ratusan peneliti selama satu abad itu.Juga memburu sang pembunuh.

Bersiaplah memecahkan dua misteri paralel dari dua masa dan tempat yang berbeda dalam sebuah kisah yang begitu menegangkan!

****

"Autentik…, cerdik, dan gesit…, sebuah perjalanan dari kekonyolan menuju keagungan."
—Janet Maslin,New York Times

"Menghibur… cerdas… Moore memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai Holmes."
—Los Angeles Times

***

“Ketika ada keinginan untuk sebuah konsistensi, kita harus mencurigai adanya penipuan” (hal. 336)


Novel ini bercerita menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan 2 tokoh utama yang hidup di dua zaman yang berbeda. Mereka terhubung oleh satu hal yakni “buku harian yang hilang”. Harold White yang akhirnya diakui sebagai seorang Laskar Baker Street termuda seperti halnya Sherlockian lain memiliki ketertarikan dan rasa penasaran yang cukup besar pada buku harian Arthur Conan Doyle yang hilang. Conan Doyle memiliki kebiasan untuk menulis buku harian secara rutin. Namun ada satu seri buku hariannya yang hilang yakni pada rentang waktu 11 Oktober hingga 23 Desember 1900. Kisah Harold White bersetting waktu Januari 2010. 

Kamis, 13 Februari 2014

BAB I buku Orang Mandar Orang Laut: Berkenalan dengan Mandar dan Budaya Baharinya



Penulis: Muhammad Ridwan Alimuddin
Penyunting: C. Sri Sutyoko Hermawan
Perancang Sampul: Rully Susanto
Penata letak: Wendie Artswenda
Cetakan: Pertama, April 2005
Tulisan ini adalah sebuah postingan awal dari upaya mengajak teman-teman untuk ikut membaca bersama buku “Orang Mandar Orang Laut”. Awalnya saya mengajukan usulan ini dalam sebuah group di Facebook, namun belum ada peminatnya. Tapi saya *dengan keras kepala* bertahan untuk mengajak orang-orang untuk membahas Bab demi Bab dalam buku ini.
Apa bedanya sih mereview dan membaca per-bab begini? Bagi saya pribadi, membaca seperti ini membuat saya bisa membahas lebih lengkap tentang sebuah buku. Tapi bukan berarti akan membuat saya membocorkan seluruh  isi bukunya kepada orang yang membaca tulisan ini. Hanya lebih teliti, dan jadi lebih banyak belajar daripada membaca seluruh isi buku kemudian menuliskannya dalam 1 -3 halaman tulisan.
Dalam Bab I yang berjudul Kesahajaan Budaya Bahari Mandar penulis mengajak kita mengenal suku-bangsa Mandar. Dari seluruh suku yang ada di Sulawesi Selatan dulunya orang hanya mengenal suku Makassar, dan Bugis. Ketika menyebutkan Mandar, maka akan muncul pertanyaan “Daerah mana itu?” Sejujurnya hal ini saya alami sendiri sebagai perempuan mandar yang sejak kecil ikut merantau mengikuti orang tua, dan kini terdampar berdua bersama adik saya di kota Bandung.
Banyak yang tidak mengenal suku Mandar. Saat saya menyebut saya dari Sulawesi mereka akan langsung menyebut Makassar atau “Orang Bugis ya?” Maka sejujurnya kehadiran buku ini menjadi sebuah kesyukuran bagi saya. Buku ini diawali dengan memperkenalkan kepada pembaca tentang suku-bangsa Mandar.
“Mandar adalah salah satu suku-bangsa di Nusantara yang budayanya berorientasi laut”
Itu adalah penjelasan pertama Ridwan Alimuddin tentang Mandar.  Lebih lanjut ia menyebutkan karakteristik suka Mandar yang berbeda dengan suku Makassar atau Bugis yang  juga berorientasi laut. Ridwan Alimuddin pun menyampaikan bahwa suku Mandar memiliki keulungan bahari yang ditemukan dalam 3 bentuk teknologi perikanan yakni:

Rabu, 12 Februari 2014

Bila Mencintaimu Indah





Penulis: Triani Retno A
Penerbit: Quanta (imprint Elex Media Media Komputindo)
Cetakan: 2013
Jumlah hal.: 201 halaman
ISBN: 978-602-02-1425-2

Keisha Damayanti, seorang reporter di sebuah stasiun televisi swasta B-TV. Cantik, pintar dan penuh semangat. Hidupnya penuh gairah. Tapi, semuanya kemudian berubah. Keisha harus menghadapi kenyataan pahit.

Maura, sahabatnya, tewas dibunuh oleh para perampok. Eggy sahabat terdekatnya yang bekerja sebagai pengacara di LBH Ummat pun hilang tanpa jejak. Suatu ketika, Harry Nasution —reporter berita kriminal di B-TV—mengungkap fakta bahwa jasad tak dikenal yang ditemukan dalam kondisi termutilasi di sebuah hutan adalah Eggy.

Keisha sedih tak terperi. Kepergian Eggy menyadarkannya tentang banyaknya waktu yang telah ia sia-siakan. Tentang kesombongannya untuk mengakui perasaan hatinya pada Eggy. Namun, kesedihan itu tak membuat Keisha berhenti.
Dalam sebuah reportase investigasi mengenai trafficking, Keisha dianiaya oleh sekelompok orang hingga babak belur dan koma. Kejadian itu membuat Keisha trauma. Namun, kejadian itu juga membuka hati Keisha tentang lelaki lain yang mencintainya. Bukan Andy Mueller yang ingin mengajak Keisha pindah ke Jerman.

Siapakah lelaki istimewa yang menggantikan posisi Eggy di hati Keisha? Bagaimana kelanjutan penyelidikan kasus pembunuhan Eggy? Masihkah Keisha bertahan menjadi reporter berita, dengan segala risiko penuh bahaya? Bila Mencintaimu Indah, sebuah novel yang sarat pesan tentang kehidupan.
***
Novel ini mengangkat cerita tentang Keisha Damayanti. Keisha yang selepas SMA melanjutkan studi ke Amerika. Meninggalkan sahabat-sahabatnya; Andre, Imel, Maura, dan Eggy. Sepulang dari Amerika, Keisha memilih berprofesi sebagai reporter.

Ia pun berusaha menyiarkan berita dengan idealisme tentang menyampaikan kepada publik. Di tengah hiruk pikuk pekerjaannya, Keisha menyimpan kesedihan mendalam atas perginya Maura dan menghilangnya Eggy. Ya, Eggy menghilang. Kerinduan Keisha pada Eggy menyisakan sesal. Ia yang pernah mendapatkan pengakuan cinta dari Eggy yang kemudian ia tolak kini harus mengakui betapa ia merindukan Eggy dan ia ingin menyampaikan perasaannya pada Eggy.

Senin, 10 Februari 2014

Batas




Penulis: Agustina K. Dewi Iskandar
Editor: Anin Patrajuangga
Desain Cover: Dyndha Hanjani P
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan: 2014
Jumlah Hal: x + 134 halaman
ISBN: 9786022513148

Bukan salah takdir ketika Alila dan Sho dipertemukan dalam situasi yang membuat mereka tak mungkin bersama, karena masih ada penebusan dosa dan tanggung jawab yang tarik-ulur berdialog dan menjelaskan dirinya masing-masing untuk dimenangkan.

Bukan salah takdir ketika Alila dan Naka dipertemukan di antara pergulatan cinta dan politik yang membangun sekat-sekat dan membenturkan perjalanan Alila dan Naka yang tidak sempurna namun khidmat dengan ketidakbahagiaan.

Bukan salah Alila, ketika ia bisa melihat masa depan dan masa lalu seseorang hanya dengan menyentuh tangan sekilas saja.

Namun apakah sesungguhnya bahagia, jika selalu saja ada pergerakan lain yang lebih memiliki kuasa dalam menciptakan kisah yang sempurna? Hidup mereka semua berubah ketika segala ruang kemungkinan untuk bahagia dipaksa untuk memahami batas absolut. Pada akhirnya, mereka tak bisa mengelak saat takdir juga yang menjawab berbagai tanda tanya besar dalam perjumpaan mereka, mengenai kebersatuan dan keberpisahan cinta...
***
Alila, perempuan yang oleh ayahnya disebut sebagai “Gadis Waskita”, ini karena ia memiliki kemampuan yang melebih kemampuan manusia normal lainnya. Alila bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang hanya dengan menyentuh tangannya. Kemampuan ini ternyata menggerogoti mental dan hidup Alila. Ia menjadi orang yang tertutup. Ini mungkin ada hubungannya dengan berbagai peristiwa yang terjadi sejak ia kecil yang terkait dengan “kelebihan” yang ia miliki.

Naka, laki-laki yang melarikan diri dari kejaran orang-orang yang menginginkan kejeniusannya. Karena idealismenya ia menentang kelompok yang menginginkan kecedasannya. Dan ternyata karena mempertahankan idealisme itu dia harus kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Sejak itu ia memilih untuk menjauh dari hubugan antarmanusia. Ia tidak lagi percaya pada cinta. Hingga akhirnya ia bertemu Alila.

Sho, laki-laki yang memendam rasa bersalah yang mendalam pada Alila. Ia pun melepaskan perempuan yang sangat dicintainya agar bisa terus mendampingi Alila. Namun, sampai kapan kebenaran itu bisa ia sembunyikan dari Alila?

Ditengah hubungan ketiga orang ini, bahaya muncul dan membuat semuanya menjadi penuh dengan luka dan kehilangan. Mereka pada akhirnya harus rela kehilangan identitas mereka sendiri. Lantas apakah ini semua sepadan dengan cinta yang akhirnya bertemu dalam jalinan takdir?

Biru Pada Januari




Penulis: Aditia Yudis
Editor: Yulliya
Proofreader: Windy Ariestanty
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2012
Jumlah hal.: vi + 362 halaman
ISBN: 979-780-583-2
Akan kuberitahu kau satu hal yang paling kuinginkan saat ini....

Waktu berhenti sehingga aku dan kau terbingkai dalam keabadian.

Aku tak ingin semua berlalu, seringkas embun meninggalkan pagi. Simpan saja kata-kata bersalut madumu. Aku tak butuh rayu, aku hanya ingin bersamamu.

Selalu.
***
Hubungan Mayra dan Samudra telah berjalan selama 7 tahun. Mereka bahkan sudah tinggal bersama. Namun pernikahan tampaknya masih belum siap dijalani oleh mereka. Hubungan jarak jauh yang terjalin karena Samudra tinggal di Balikapapan dan Mayra di Jakarta akhirnya menjadi halangan dan terus menjadi bahan perdebatan mereka.

Samudra ingin mereka tinggal di Balikpapan, sedangkan Mayra tidak ingin meninggalkan pekerjaannya dari Jakarta sebagai seorang editor. Kebersamaan mereka yang sudah lama membuat mereka saling terbiasa satu sama lain. Namun ternyata pertengkaran mereka terkait pernikahan yang oleh Mayra ingin ditunda selama 6 bulan serta penolakan Mayra untuk tinggal di Balikpapan mulai menjadi masalah dan memunculkan jarak di antara keduanya.

Jumat, 07 Februari 2014

You Are the Apple of My Eye




Penulis: Giddens Ko
Penerjemah: Stella Angelina dan Fei
Penyunting: NyiBlo
Proofreader: Dini Novita Sari
Cover designer: Dedy Andrianto
Ilustrasi isi: @teguhra
Penerbit: Haru
Cetakan: pertama, Februari 2014
Jumlah hal: 350 halaman
ISBN:  978-602-7742-28-4

Kau sangat kekanak-kanakan – Shen Jiayi
Sedikit pun kau tidak berubah, nenek yang keras kepala – Ke Jingteng

Semua berawal saat Ke Jingteng, seorang siswa pembuat onar, dipindahkan untuk duduk di depan Shen Jiayi, supaya gadis murid teladan itu bisa mengawasinya. Ke Jingteng merasa Shen Jiayi sangat membosankan seperti ibu-ibu, juga menyebalkan. Apalagi, gadis itu selalu suka menusuk punggungnya  saat ia ingin tidur di kelas dengan pulpen hingga baju seragamnya jadi penuh bercak tinta. Namun, perlahan Ke Jingteng menyadari, kalau Shen Jiayi adalah seorang gadis yang sangat spesial untuknya.

Karena masa mudaku, semua adalah tentangmu...

***
Novel semiautobiografi ini dibuka dengan pengantar yang mengisahkan latar belakang Giddens Ko untuk menuliskan masa mudanya dalam sebuah buku. Cerita pun dimulai dari sebuah kondisi di kelas di mana seorang anak-anak laki-laki mendapat hukuman akibat sering menjadi biang keonaran di kelas. Giddens Ko menggunakan nama aslinya dalam buku ini yaitu Ke Jingteng.

Sikap Ke Jingteng yang suka memancing tawa teman-temannya malah berujung “jebakan” hingga akhirnya ia masuk dalam daftar hitam wali kelasnya, Guru Lai, hingga akhirnya ia dihukum untuk duduk di pojok kelas paling belakang di dekat dinding. Namun nampaknya hukuman itu dirasa belum cukup hingga Ke Jingteng pun dipindahkan untuk duduk di depan Shen Jiayi, perempuan yang sangat pandai. Setting waktunya adalah saat Ke Jingteng duduk di bangku kelas 1 SMP.

Selasa, 04 Februari 2014

Pemenang Giveaway Interview Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki




Januari sudah berakhir dan akhirnya Giveaway saya bersama Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki dalam rangka 1st Blogoversary saya pun berakhir juga.. Priode lomba sejak 1 Januari 2014 – 31 Januari 2014 memberi banyak kesempatan untuk teman-teman memberi jawabn-jawaban yang menarik atas pertanyaan: 

“Seandainya kamu punya saudara kembar, hal apa yang paling ingin kamu lakukan dengannya? Kenapa?”

Sejujurnya menjadi tugas yang cukup sulit bagi saya, Mbak Eva dan Mbak Evi untuk memilih pemenang dikarenakan jawaban-jawaban kreatif teman-teman semua.  Dan kini setelah terhambat oleh beberapa hal, akhirnya saya bisa mengumumkan dua orang pemenang yang akan menerima masing-masing 1 paket buku.

Pemenang utama Giveaway kali ini adalah:

Surat untuk Stiletto Book

http://www.stilettobook.com/


Dear Stiletto,
Usiamu semakin bertamabah ya? Semoga semakin matang dan semakin setia menemani hari-hari saya dan perempuan-perempuan Indonesia lain, ya. Semoga dengan bertambahnya usia, yang sayang dan cinta sama kamu semakin banyak. Dan kamu pun bisa membalas semua cinta dan perhatian itu dengan arif dan bijaksana.

Ah, saya jadi ingin bernostalgia tentang perkenalan kita. Saya pertama kali bertemu denganmu pada awal tahun 2013. Sejujurnya saat itu saya malu, karena cukup telat melakukan pembayaran buku-bukumu. Namun setelah saya mengkonfirmasi via sms tentang pembayaran itu kamu segera menanggapinya dan dalam 3 hari paket darimu pun datang. Dari sana saya terkagum-kagum pada pelayanan yang excellent itu. Saya jadi malu sendiri karena terlambat melakukan pembayaran. Akhirnya di awal tahun 2014 ini, saya kembali membeli sejumlah bukumu dan segera menyelesaikan pembayaran meskipun sedang berada di luar kota yang susah untuk mengakses bank, atm, dan bahkan sinyal hp *jiyah saya curhat..maaf..(>_<)*

paket bukumu yang tiba di kostan saya awal Januari 2014

Minggu, 02 Februari 2014

Interview: Triani Retno A (+Giveaway Warna-Warni Februari)




Sampai jumpa Januari. *bye-bye*
Selamat datang Februari. *buka pintu lebar-lebar*
Sudah siap menyongsong dan mengisi Februari dengan penuh warna? Semoga penuh keceriaan dan kebahagiaan ya.

Nah, sesuai janji saya (di twitter) saya akan mengadakan interview dengan penulis dan sekaligus mengadakan giveaway bersama penulis tersebut. Nah, untuk bulan Februari ini saya mau mengajak pembaca berkenalan dengan Mbak Triani Retno A, biasa disapa Mbak Eno, penulis buku “Braga Siang Itu”.

Sudah ada yang mengenal Mbak Eno? Pernah baca karya Mbak Eno selain “Braga Siang Itu”? Kalau begitu saya bocorkan sedikit banyak info tentang Mbak Eno.

Triani Retno A, lahir di Bandung, 24 Desember. Alumnus SMAN 3 Bandung dan JIP Fikom Universitas Padjadjaran, Bandung.
Sekitar 200 cerpennya telah dimuat di berbagai majalah dan surat kabar (Kawanku, Anita Cemerlang, Muslimah, Say, Sekar, Kartika, Story, Aneka Yess, Tribun Jabar, dll). Selain itu juga telah mempublikasikan 24 novel, kumcer, dan buku nonfiksi solo (antara lain Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya, Kayla Twitter Kemping, Siapa Mau Jadi Pacarku, The Reunion, Foolove, Smile Aku Naksir Kamu, Kilau Satu Bintang, 25 Curhat Calon Penulis Beken, dan Ordinary Mom ), 2 kumcer antologi, 2 buku nonfiksi duet, dan 18 buku antologi nonfiksi (antara lain Dalam Kasih Ibu, Business Mom, Jumpalitan Menjadi Ibu, Titik Balik, dan A Cup of Tea for Writer).

GENK KOMPOR 2!




Penulis: Genk Kompor
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: 2013
Jumlah hal.; xviii + 171 halaman
ISBN: 978-602-02-2704-7
Ketika para peleduk bertemu, apa yang akan terjadi? Korslet? Kebakaran?? Kerusuhan???

Halo! Abe, Deni, Eno, Erin, Nando, dan Sandi kembali beraksi dengan segunung ide aneh yang bisa-bisanya menyempil di benak pelajar bertampang lugu macam mereka. Berbagai keonaran pun kembali menguntit keenam bocah itu seperti anak ayam ke mana pun mereka pergi!
Jangan lewatkan aksi kompor-mengompori Genk Kompor yang tidak hanya memancing tawa, tapi juga haru!
WARNING: Membaca buku ini bisa menyebabkan kamu: Dhuaaar! Meleduk!!!
***
Serial laris dari Majalah Story yang masih berlangsung hingga saat ini, kini hadir dalam bentuk buku dan dipersembahan oleh Elex Media Komputindo untuk para Story Lovers dan Laskar Meleduk alias pencinta Genk Kompor.
Editor's Note
***
Baca kisah Genk Kompor kayak makan rujak sambil ikut lomba Agustusan: seger, kocak, dodol, heboh, seru, campur aduk jadi satu. Bawa obor nyari suluh, Genk Kompor emang bikin rusuh!
—Iwok Abqary, penulis novel komedi “Cewek-Cewek Tulalit” dan “Traveling Gokil”

Wow, membaca novel ini bikin senyum-senyum dan jadi inget masa-masa sekolah kemarin. Masa SMA memang paling indah dan ngangenin, ya. Buat para sahabat di mana pun juga, baca deh novel ini. Sukses terus ya, Genk Kompor.
—Nikita Willy, artis penyanyi dan pemain sinetron
***

Buku ini adalah buku kedua Genk Kompor. Untuk yang belum tahu, Genk Kompor ini adalah serial yang terbit di Majalah Story. Genk Kompor adalah serial kroyokan yang dikerjakan bersama oleh 6 orang yang berteman di jejaring sosial. Kalau di dunia nyata sih, mereka tinggalnya jauhan tapi dekat di hati. *LDR donk?! Hm..abaikan bagian ini*

Oiya, kan tadi saya sebutkan bahwa ada 6 penulis yang kroyokan mengerjakan serial ini. Setiap penulis mewakili masing-masing anggota Genk Kompor. Keenam anggota Genk Kompor adalah Abe, Deni, Eno, Erin, Nando,dan Sandi. Mau tahu cerita mereka di buku pertama? Sila cek review saya di Genk Kompor.