Sabtu, 27 Desember 2014

Book Kaleidoscope 2014 – Day 2: Top Five Most Memorable Quotes


Hosted by Fanda Classiclit
Hari ini hari kedua untuk Book Kaleidoscope 2014 yang digagas oleh Mbak Fanda. Kali ini edisi kilas balik quote dari buku-buku yang sudah dibaca dan direview selama 2014. Sebenarnya tidak mudah memilih kalimat-kalimat yang berkesan, karena ketika kalimat itu saya masukkan dalam reviewan saya, itu berarti pada saat membacanya ada sebuah kesan yang membuat saya menyukai kalimat tersebut.


Tapi berhubung saya wajib memilih lima saja, maka saya pun harus membuka-buka kembali ingatan dan juga reviewan yang sudah saya posting di My Little Library ini. Dan inilah hasilnya:
1.)

Aku mencintai siapa pun yang mengikatku dengan pernikahan –Kara dalam Diorama Rasa karya Fadhila Rahma


Saya memilih kalimat ini bukan karena sedang galau jodoh. Bukan. Tapi karena saya menyukai ketegasan yang Kara dalam menyampaikan hal ini. Dan ia menjadikannya prinsip. Ia mengatakan ini saat Adrian merasa cemburu dengan mantan suami Kara. Tapi jawaban Kara yang disampaikan dengan lugas ini jelas mampu menenangkan hati Adrian.


2.)

“.... Kita boleh jadi benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka, jangan rusak kapal kehidupan milik kau, Ambo, hingga dia tiba di dermaga terakhirnya.” – Gurutta dalam Rindu karya Tere Liye
 

Saat harus memilih satu quote dari novel Rindu saya teringat pada kalimat moment saat kalimat ini disampaikan oleh Gurutta kepada Ambo Uleng. Saat Ambo Uleng ditemukan dalam keadaan nyaris meninggalkan akibat keputusasaannya menanggung masalah yang tengah menghimpitnya.

Gurutta menasehatkan hal itu untuk mengingatkan bahwa manusia tidak berhak menyia-nyiakan tubuh yang sudah diberi oleh Allah. Bukan hak manusia untuk melakukan itu. Seberat apapun masalah yang menimpa, manusia tidak boleh merusak (menyakiti) tubuh yang sudah direzekikan Allah. Cara Gurutta menggambarkannya sangat arif.

3.)

“..., pernikahan itu ibarat kematian. Kita tak bisa memprediksi, hanya bisa mempersiapkan” –  Sayap-Sayap Sakinah karya Afifah Afrah & Riawani Elyta
 

Buku ini adalah karya non-fiksi dua perempuan yang membahas pernikaha dari sudut pandang Islam. Penyampaian-penyampaian mereka saat menuturkan berbagai hal terkait pernikahan cukup logis, manis, dan juga mendalam. Sakinah mawaddah warahmah bagi saya kini tidak lagi sekedar do’a ala kadarnya bagi teman yang telah menikah. Melainkan sebuah do’a yang didasarkan pada pemahaman betapa sulitnya tapi juga indah sebuah rumah tangga yang diusahakan untuk menjadi sakinah mawaddah warahmah.

Selain itu, kalimat di atas juga menjadi jawaban yang ampuh bagi mereka yang selalu kepikiran tentang jodoh. Yup, jodoh itu tidak ada yang menduga. Hanya bisa dipersiapkan. Bukankah Allah sudah berjanji bahwa perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Jadi daripada galau lebih baik sibuk menjadi sosok yang lebih baik agar jodoh yang diberi Allah pun sebaik yang diharapkan.

4.)

“Aku jarang merasa sedih yang benar-benar sedih. Namun ternyata, kesedihan itu perlu agar kita bisa lebih peka. Peka pada perasaan sendiri. Peka pada Tuhan.” – MenikahTitik Dua karya Agustina K. Dewi Iskandar



Diksi yang digunakan oleh Agustina K. Dewi Iskandar sebenarnya cukup menarik. Kalimat-kalimatnya dalam membahas pernikahan pun cukup kritis. Dan saat membaca kalimat ini saya menyadari tentang kedalaman pengalaman tokohnya hingga ia mampu bertutur seperti itu.

5.)

“Beberapa hal baik terjadi kemarin dan kita menyebutnya kenangan” – dalam Mantan, seri#CrazyLove karya Dy Lunaly, dkk


Sesuai dengan judulnya, buku ini memang mengangkat cerita fiksi tentang hubungan yang kandas. Dan saat menemukan kalimat ini dalam buku tersebut, saya menangkap adanya upaya untuk membangkitkan pikiran positif bagi pembaca. Bahwa ya hal baik ketika berlalu pasti akan menjadi kenangan. Jadi tidak perlu disesali datang dan berlalunya.


Ah, itu dia 5 kalimat yang paling membekas dari buku-buku yang saya review selama setahun ini. Nah, kalau kamu, apa kalimat yang cukup memorable di tahun 2014?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar