Jumat, 28 November 2014

Interview Arrifa'ah dan Giveaway Merajut Benang Cahaya



Assalamualaykum..

Hai. Selamat datang kembali para pengunjung My Little Library. Bagaimana akhir November-mu? Sering hujan? Sama donk. Tapi jangan sampai membuat hati kita kelabu ya ;)

Nah, kali ini saya mau memperkenalkan seorang penulis yang juga seorang teman baik sejak SMA. Kami sekolah di SMA yang sama dan sempat mengikuti ekskul yang sama. Selain itu sempat sama-sama aktif di rohis SMA. He..he.. Makanya senang sekali karena dapat kesempatan wawancara. Meski secara virtual sih, karena saya di Bandung dan Arrifa’ah di Makassar. 

Ah, sudahlah, malah jadi bernostalgia. *uhuk..uhuk..bahasa saya malah mirip nenek-nenek gini (-_-“)* sebelum semakin melebar *harusnya badan saya yang melebar* saya akan mengenalkan sosok Arrifa’ah dulu secara umum.

Arrifa’ah lahir di Ujung Pandang, 21 Juli 1989. Putri kedua dari pasangan H. Salehuddin Yasin dan Hj. Fatamorgana. Menyelesaikan studi pendidikan profesi Apoteker di Universitas Hasanuddin Makassar dan terus melanjutkan kesenangan menulisnya. Bagi Arrifa’ah, menulis adalah tugas kehidupan. Pecinta warna biru ini telah ikut serta dalam berbagai antologi bersama penulis lainnya, serta terus berjuang bersama para kru majalah Islam lokal di Makassar, Majalah Al Firdaus, sebagai Pimpinan Redaksi. Silaturahim dengannya dapat melalui:
Facebook: Diena Rifa’ah, atau
Twitter @jedasejenak11

Saya rasa perkenalan di atas sudah cukup jadi pengantar awal. Nah kali ini saya akan ngobrol dengan Arrifa’ah tentang buku barunya yang diterbitkan oleh Penerbit Qibla yang judulnya Merajut Benang Cahaya, sekaligus mencoba mengenal lebih banyak sosok saudari saya satu ini. *zaman SMA belum sempat ngobrol tentang dunia literasi kecuali berbagi mimpi jadi penulis* (^_^)

Hai, Arrifa’ah. Terima kasih ya untuk kesempatan interview virtual ini. Saya mau donk nanya-nanya. Boleh ya?! Sejak kapan Arrifa’ah berkenalan dengan buku?
Mungkin sejak lahir, ya... Hehehe... Karena kedua orang tua berprofesi sebagai pendidik, jadi di rumah memang buku selalu bertebaran di mana-mana. Juga ada ruangan khusus sebagai ruang baca, yang kemudian bertransformasi jadi kamar pribadi saya karena saat itu rumah kami sudah tidak punya ruangan kosong untuk kamar tidur yang baru. Jadilah saya sejak kecil tidur dengan dua rak besar buku di ruangan tersebut. Punya buku sendiri sejak sudah mulai pintar membaca, umur enam tahun. Sejak itu, hingga SMA, Bapak saya punya kebiasaan membawa kami ke toko buku tiap habis gajian untuk beli buku pilihan masing-masing. Sepulang dari situ, biasanya rumah akan jadi sunyi senyap karena semuanya sibuk dengan buku barunya sendiri. 

Ceritakan donk tentang proses awal hingga akhirnya Arrifa’ah terjun ke dunia literasi?
Secara tidak resmi, aktivitas menulis saya sudah dimulai sejak saya senang membaca. Jadi dulu, setiap baca buku cerita anak-anak, saya selalu berpikir, “Sepertinya saya juga bisa bikin beginian...”. Hehehe... Jadi waktu SD saya suka menabung buat beli kertas HVS yang saya bentuk jadi seperti buku, lalu menulis cerita di sana. Buku yang ditulis dengan pensil dan tulisan tangan itu kemudian saya sewakan pada teman-teman sekelas. Hasil sewa bukunya saya putar lagi buat beli kertas, begitu seterusnya. Masuk masa SMP, saya hobi menulis di binder sendiri. Waktu itu saya tidak cukup gaul untuk jadi pengurus mading *kasian banget..hehe..* Jadinya koleksi tulisan saya kumpulkan di binder pribadi dan hanya dibaca sama teman-teman dekat saja. Masa SMP juga pertama kali saya mencoba menulis puisi yang semuanya hanya mendekam di binder. Memasuki SMA, saya gabung di salah satu ekskul jurnalistik (bareng Atria juga, khan...? *nostalgia*), di masa itulah tulisan saya sudah mulai dibaca oleh lebih banyak orang. Di rohis juga begitu, waktu diminta memilih akan masuk departemen apa, saya dengan santai hanya menunjuk buletin terbitan rohis dan mengatakan, “Saya mau masuk di departemen yang kerjanya bikin buletin ini...”. Di jaman itu juga saya mulai ikut lomba-lomba dan mengirimkan tulisan ke media lokal di luar sekolah. Alhamdulillah sempat menang beberapa kali dan dimuat di media juga. Waktu itu juga mulai menulis blog. Masuk masa kuliah bergabung dengan Majalah Al Firdaus sampai sekarang, dan di masa tersebut juga mulai ancang-ancang untuk bisa menerbitkan buku. 

Apa sih yang menginspirasi penulisan buku Merajut Benang Cahaya?
Banyak sekali. Buku Merajut Benang Cahaya asalnya adalah tulisan personal yang lebih saya tujukan kepada diri sendiri. Awalnya hanya dimuat di blog saja. Pada saat saya melihat kejadian di sekitar saya, saya mencoba memikirkan hal lain di balik kejadian tersebut. Inilah yang saya sebut dengan hikmah, yang kemudian saya konotasikan dengan cahaya. Ada begitu banyak tokoh dan kejadian yang menginspirasi setiap tulisan dalam buku ini. Dan ternyata aktivitas menulis blog itu tanpa terasa bisa mengumpulkan sejumlah tulisan yang bisa disatukan menjadi sebuah buku. Selanjutnya saya berpikir, bahwa tidak ada salahnya jika perenungan pribadi ini bisa dinikmati juga oleh orang lain. Akhirnya, buku ini pun bisa lahir. Alhamdulillah bini’mati tathimmushshalihat...  

Bisa gak berbagi cerita tentang proses ditulisanya buku Merajut Benang Cahaya ini hingga akhirnya berhasil diterbitkan? Suka dukanya apa?
Wah... ceritanya bakal panjang nih.. Hehe... Jadi awalnya, ini adalah tulisan dari dua blog saya. Blog khusus puisi dan blog yang memang isinya tulisan renungan. Dari blog, banyak yang membaca dan menyarankan agar dibukukan. Akhirnya, di tahun 2012, cikal bakal buku ini terbit secara independent dengan judul Jeda Sejenak. Setelah beredar ke mana-mana, saya mendapatkan usul lain dari beberapa orang teman, agar ditsribusi Jeda Sejenak bisa lebih luas, saya disarankan untuk mengajukan naskah ini pada penerbit mayor yang lebih besar. Akhirnya saya merombak naskah Jeda Sejenak, yang tadinya berisi 50:50 antara esai dan puisi, akhirnya dengan berat hati saya mengeluarkan sejumlah puisi, hingga hanya tersisa di awal dan akhir tiap bab. Beberapa tulisan baru juga saya tambahkan ke dalamnya. Editing saya lakukan di sana-sini. Kemudian saya tawarkan kepada penerbit. Sebelum akhirnya diterima oleh penerbit Qibla, manuskrip Merajut Benang Cahaya sudah melanglangbuana ke beberapa penerbit lainnya dan ditolak. Hehehe... Sempat down juga tiap menerima penolakan. Tapi, down-nya hanya sejenak dong... Setelah itu saya revisi lagi...revisi lagi... Demikian seterusnya hingga alhamdulillah di-ACC oleh penerbit di bawah naungan Kompas-Gramedia grup ini.
Suka-nya, tentu saja saat buku ini dibaca oleh banyak orang dan bisa memberikan manfaat. Saya bukan orang yang supel dan enak diajak ngobrol untuk pertama kali.*yang ini saya setuju..ha..ha..malah co’do (Bugis/Makassar: menyela pembicaraan orang)*  Makanya, lewat buku saya mencoba ‘membayar’ kekurangan saya itu dengan mengajak pembaca berbincang lewat tulisan. Meski mungkin beberapa orang yang membaca buku ini tidak akan pernah saya temui secara langsung, saya bahagia bisa mengajak mereka mengobrol lewat buku itu.
Duka-nya? Hmm...mungkin jika ada yang meminta gratisan, padahal khan stok buku gratis dari penerbit hanya seuprit!  Hahaha... ini sih curhat... *tapi bukan saya kan?? (^_^)*Pada dasarnya sih, saya bermimpi suatu hari nanti bisa menulis buku yang bisa disebarkan secara gratis kepada orang-orang. Makanya sampai sekarang saya menulis blog. Saya sedih jika ada orang yang terhalang untuk membaca buku ini hanya karena tidak punya uang atau tidak berkenan mengeluarkan uangnya untuk membelinya. Jika saja tinta, kertas, dan pegawai di penerbitan dan percetakannya itu bisa digaji dengan daun... tentu saya akan dengan senang hati membagi-bagi gratis buku saya sendiri... *mulai mengkhayal* Hihihi...

-Apa harapan Arrifa’ah atas terbitnya buku ini?
Merajut Benang Cahaya adalah kelahiran kedua dari naskah buku pertama saya. Maka, jika ingin menarget ‘sekadar terbit’ saja, sebenarnya hal itu sudah tercapai dua tahun lalu. Namun, mengapa saya harus capek-capek mengusahakan agar ia terbit lagi? Tujuan dan harapan saya adalah agar lebih banyak yang bisa membaca dan syukur-syukur jika ada manfaatnya. Kata Tasaro, puncak dari sebuah karya adalah keterbacaan. Saat tulisan kita dibaca, bahkan meski tanpa apresiasi, atau minim royalti, bagi saya pribadi itu sudah lebih dari cukup. Saya selalu yakin bahwa akan berbeda antara orang yang membaca dan yang tidak. Merajut Benang Cahaya saya harap bisa memberikan bekas (meski mungkin hanya sangat sedikit) di hati orang-orang yang membacanya, dan membuat kita punya harapan baru, bahwa kita selalu punya cara untuk bisa hidup sebagai manusia yang lebih baik. Insya Allah.
Setiap yang saya tulis adalah proyek dunia-akhirat saya, termasuk buku ini. Saya berharap kemanfaatannya bukan hanya terbatas pada kesenangan dunia, namun juga bisa saya rasakan dan pertanggung jawabkan di hadapan Allah kelak. Saya menitipkan separuh hati saya pada buku ini *serius, ini bukan lebay!*, maka saya berharap buku ini pun bisa menyentuh hati pembacanya. 

Kalau bisa menggambarkan Merajut Benang Cahaya dalam 3 kata, Arrifa’ah akan memilih kata apa?
Syukur, Cinta, Perenungan 

Pertanyaan pamungkas saya nih. Kan saya ini adalah blogger buku yang ke(kurang)rjaannya adalah mereview buku. Bagi Arrifa’ah sebagai seorang penulis, reviewer itu apa? Sahabat? Musuh? Juri yang bikin sebal, atau apa? (^_^)v
Karena saya juga seorang reviewer *hehehe...* saya bisa merasakan perasaan kamu, Atria... Hihihi... Well, sebagai penulis, saya menganggap reviewer itu sebagai seorang guru. Secara umum, saya menganggap semua pembaca sebagai guru. Terutama orang-orang yang kemudian memberikan waktunya untuk mengulas buku kita dan memberikan masukan di dalamnya. Dan itulah tugas seorang reviewer. Dari review itu kita bisa belajar banyak hal, menemukan celah kesalahan yang terluput, dan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi di kesempatan yang lain. Reviewer itu seperti kaca yang bisa membantu kita melihat refleksi dari tulisan kita dengan lebih jelas. Ia juga seperti seorang kawan baik yang bisa menolong kita untuk menemukan hal-hal lain yang mungkin tidak bisa kita lihat saat berkaca sendiri. So, terima kasih reviewer... (^_^)/
Dan karena ini pertanyaan terakhir, lewat blog ini saya ingin mengucapkan terima kasih, jazakumullahu khairan, kepada teman-teman yang sudah berkenan membaca Merajut Benang Cahaya, apalagi yang berkenan menuliskan review atau resensinya. Betapa saya sangat bersyukur atas itu semua. Mohon doanya agar saya dan kita semua bisa istiqamah di atas kebenaran dan di atas perjuangan dakwah lewat pena. Mari merajut kebaikan bersama! 

Amin. InsyaAllah. Semoga ngobrol kita kali ini juga memberi manfaat dan  kebaikan. Sukses terus ya. Saya tunggu karya berikutnya. Atau kapan-kapan bikin proyek duet bareng saya aja ya?! *ha..ha..emang kamu siapa Atria (-_-“)* He..he..abaikan saja closing yang ini.


Nah, itu tadi ngobrol-ngobrol saya dengan Arrifa’ah yang sejujurnya lebih saya kenal dengan nama Diena. Rasanya cukup terharu juga, kami kawan lama bisa berhadap-hadapan (meski hanya di dunia maya) dan ngobrol tentang proses kreatif karya salah seorang dari kami. *usap air mata*

Seperti kata Diena, eh Arrifa’ah, bahwa karya ini adalah sebuah bentuk syukur, cinta dan perenungan, maka sebagai bentuk syukur, ada kado penuh cinta bagi 2 (dua) orang pengunjung My Little Library yang beruntung. Kadonya adalah 1 (satu) eksemplar buku Merajut Benang Cahaya untuk masing-masing pemenang.

Mau menjadi orang yang beruntung tersebut? Caranya mudah kok. Ikuti saja langkah-langkah berikut:
1. Follow akun twitter @jedasejenak11 dan @AtriaSartika
2. Baca review Merajut Benang Cahaya dan beri komentar di sana.
3. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar

“Pernah gak mengalami moment perenungan dari hal-hal yang sebenarnya cukup sepele? Seperti pengalaman Arrifa’ah yang “nguping” pembicaraan supir angkot dan kemudian merasa harus banyak bersyukur. Kalau pernah? Share di sini ya?! (^_^)”

Jangan lupa sertakan data diri kamu berupa nama, akun twitter, dan email kamu.
4. Sebarkan info GA ini di twitter menggunakan hastag #GiveawayMBC dan mention @AtriaSartika @jedasejenak11 @Penerbit_BIP
5. Giveaway ini akan berlangsung sejak tanggal 28 November – 7 Desember 2014
6. Pemenang akan dipilih berdasarkan jawaban yang paling menarik. (kami akan berusaha objektif)
7. Pengumuman pemenang akan dilakukan selambat-lambatnya 3 hari setelah Giveaway di tutup (10 Desember 2014.
8. Jika ada yang ingin ditanyakan tentang giveaway ini silakan menghubungi saya via twitter @atriasartika

Mudahkan? Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk memenangkan buku karya Arrifa’ah ini ya (^_^)v



5 komentar:

  1. Nama: Melani Ika Savitri
    Twitter: @aii_vitri
    Email: lani.vitri@gmail.com

    Pernah dengar obrolan ibu-ibu tetangga, yang gemar memamerkan harta dan kekayaan materi anggota keluarganya. Dia sendiri sekilas tampak hidup berkelimpahan harta dan sering tanpa ragu mengumbar hal tersebut. Hingga suatu hari, seorang tetangga depan rumahnya tak bisa hadir di pengajian rutin yang kebetuan juga bertepatan dengan pembagian tabungan. Pengurus pun berinisiatif menitipkan uang milik tetangga padanya. Berarti ini amanah, bukan? Sayang, uang tersebut tak langsung diberikan dengan alasan sepele yang terkesan dibuat-buat. Keesokan harinya barulah uang tersebut diberikan. Sebenarnya si tetangga tahu bahwa si ibu ini sering meminjam uang untuk berbagai keperluan. Dia pernah memergokinya mendekati pengurus diam-diam. Jadi, uang tabungannya tadi dipinjam untuk melunasi utang lain. Dari sini, saya kemudian menyadari, orang yang benar-benar kaya itu bukanlah yang bergelimang harta di pelupuk mata, tapi dia yang tidak terjerat utang, sekecil apa pun itu. Merasa cukup dengan apa yang dipunyai dan tidak tergiur aneka barang mewah yang didapat dengan utang/kredit, apalagi demi memuaskan nafsu bersaing dengan tetangga/teman/keluarga.

    Selain itu, masih banyak orang di dekat hidup kita yang bahkan untuk makan tiga kali saja kesulitan. Apatah untuk mengoleksi hal yang bukan primer. Contohnya seorang ibu penjual sayur keliling. Dia selalu terang-terangan meminta kelebihan nasi dan lauk dari pelanggannya yang baik. Di jelang lebaran, dia pun dengan senang hati menerima jatah zakat fitrah.

    BalasHapus
  2. Aku pernah.

    Aku punya teman kuliah yang rajin bikin catatan atau rangkuman saat kuliah berlangsung. Padahal, kami sudah pake powerpoint, file tinggal download dan langsung dibaca lewat laptop. Waktu itu aku pernah mendengar teman di sebelahnya nanya buat apa nulis lagi materi yang udah dia punya di laptop. Dia senyum, "Biar pulpennya ada kerjaan," katanya.. :D
    Saatnya UAS, kami satu kelas kelimpungan karena soal salah satu matkul susahnya tingkat Olympus! Mampus! Pantas saja dosennya memberi keringanan dengan membolehkan kami membuka buku catatan (Open Book). Nah loh, it didn't change anything, toh buku catatan kami masih bersih. Tapi tidak dengan temanku yang satu itu. Buku catatannya konon lumayan lengkap dan rapi. D tengah kegalauan, kepanikan, dan keputusasaan, aku malah merenung. Ga disangka, hal yang diremehkan dan dianggap sepele bisa sangat bermanfaat. Bener kata Ibu, membaca dan menulis itu ga ada ruginya. Bener kata Pak Ustadz, tidak ada usaha yang sia-sia. "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya." (Q.S. Al-Zalzalah: 7)


    Ibuku itu lumayan cerewet kalau masalah barang-barang anaknya. Kalau anaknya mau berangkat sekolah, pasti nyuruh ngecek lagi ini sudah dibawa belum, itu sudah dibawa belum. Waktu kelas 10, musim hujan, seperti biasa aku pamitan sama Ibu mau berangkat sekolah. Ibu nanyain jas hujanku sudah dibawa atau belum. 'Kemarin Ibu juga nanyain itu, sepertinya sudah, aku bilang saja sudah.'
    Bel pulang sekolah bersiul dengan dilatarbelakangi raungan hujan deras. Aku siap-siap untuk pulang dan BAM! Ga ada jas hujan di dalam tas. Akhirnya aku nungguin hujan reda, barengan sama teman. Lalu aku nanya apakah dia ga bawa payung/jas hujan juga. Jawaban dia, "Iya, tadi aku yang terakhir keluar dari rumah, ga ada yang ngingetin aku untuk bawa payung/jas hujan."
    Aku pun terdiam memandang hujan. Menyesal? Merasa bersalah? Malu? Iya. Bukankah seharusnya aku bersyukur? Bersyukur aku mempunyai ibu yang penyayang. Bersyukur mempunyai ibu yang selalu perhatian. Bersyukur masih bisa mencium tangannya setiap hendak pergi ke sekolah.


    Aku itu orangnya gampang cemas. Misal ada ujian seminggu lagi, aku udah cemas duluan. Direncanain untuk diberi tanggung jawab yang aku pikir ga bisa, aku pasti jadi susah tidur. Dikasih tau kalau besok aku harus ngelakuin hal yang ga aku suka, malah ga bisa tidur.
    Beberapa hari yang lalu aku lagi asyik facebook-an. Sampai sekarang hobiku memang aktif di sosmed, baca-baca status teman-teman, diskusi di grup, dll. Terus ada status teman lewat di Berandaku, isinya "You may worry your future, but remember you also need a happiness at present." Hanya karena baca status di facebook, aku jadi manggut-manggut sendiri. Aku sadar, terlalu mengkhawatirkan masa depan itu ga baik. Toh, aku belum tau itu akan terjadi atau ga. Untuk apa terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti? Aku lalu diam sejenak dan memandang sekitarku. 'Saat ini aku baik-baik saja, tidak ada yang sedang menyakitiku. Saat ini aku mempunyai apa yang aku butuhkan.' Alhamdulillah, aku harus banyak-banyak bersyukur dan ga mengeluh. Ternyata tanpa cemas, resah, dan gelisah, hatiku jadi tentram.

    Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

    Nama : Dwi Setianto
    Twitter : @Dwi_Setianto
    E-mail : setians.radcliffe21@gmail.com
    Sudah follow @AtriaSartika @jedasejenak11 @Penerbit_BIP
    Sudah share : https://twitter.com/Dwi_Setianto/status/538861630990192640
    Terima kasih :)

    BalasHapus
  3. Assalamualaikum, salam kenal dari Tasikmalaya ^_^

    Nama : Fenny Sugih Hastini
    Twitter : @fennyfefew
    Email : funny.fenny@rocketmail.com

    Pernah, saat itu keluarga besar sedang berkumpul di rumah. Pada siang hari kebetulan gerobag bakso lewat dan kita semua makan bakso. Entah kenapa banyak sekali tetangga yang lalu lalang melewati rumah kami. Ternyata ada pencuri yang sedang kepergok naik pagar rumah kosong di dekat rumah. Masyarakat semakin lama semakin banyak berkumpul di rumah kosong yang penghuninya pergi ke luar kota. Sampai akhirnya pencuri itu dijemput bapak-bapak dan akhirnya di keroyok masa. Untung saja polisi segera datang dan mengamankannya. Apa yang kita fikirkan?

    Mungkin selintas kita puas karena pencuri itu berhasil di tangkap, dikeroyok dan di hajar masa. Ternyata pencuri tersebut sudah tak memiliki orangtua, berasal dari pulau lain yang merantau tak jauh dari daerah kami. Anaknya yang bayi sedang sakit dan perlu pengobatan serius.

    Sejatinya kita harus bersyukur, kita terlahir dari orang tua berkecukupan pun, telah dilahirkan dengan sempurna tanpa kelainan apapun, mendapat rezeki tanpa harus mencuri. Perbuatan mencuri itu memang tak patut di contoh, tapi perlu kita renungkan. Bahwa rezeki yang kita terima adalah titipan dari Alloh swt. Banyak orang yang tak menyadarinya. Bahkan bapak itu harus mencuri demi mengobati anaknya, mengidupi anak istrinya. Mari bersyukur ^_^ say Alhamdulillah!

    BalasHapus
  4. salam kenaaaall...
    saya argalitha, pemilik akun twitter @argalitha

    paling nyess waktu lihat anak-anak kecil di perempatan jalan. mereka mengamen sekaligus mengemis, kadang juga lap2 kaca mobil untuk meminta belas kasih orang lain. memang sih kegiatan memberi uang pada peminta2 di perempatan jalan sekarang sudah dilarang pemerintah. tapi gimana yaaa...kasihaaaaan gitu. waktu naik bus ekonomi juga gitu, sering naik anak kecil yang kemudian mengamen. dikasih recehan, mereka happy banget! bagi saya, uang receh gak ada gunanya, tapi bagi mereka sungguh bisa menyambung hidup.

    tiap habis belanja, saya biasanya dapat kembalian 100 hingga 500 rupiah. seringkali terus saya buang2, maksudnya naruh sembarangan sampai lupa ada di mana, nyebar gitu. akhirnya waktu bersih2 rumah, eh nemu uang receh. kadang terus saya sapu dan buang ke tempat sampah.

    tapiii...sejak kejadian kemarin, saya jadi nyadar kalau saya itu sombong banget, kufur nikmat! jadi...ada adik kecil yang minta2 uang sama saya waktu saya lagi nunggu angkot sepulang kerja. dia bilang, belum makan. dari bajunya, dekiiil banget. saya kasih uang seribu, dia nolak. maunya uang receh aja, soalnya takut yang ngasih gak ikhlas soalnya biasanya para pemberi itu ngomel2 waktu dia pergi. yaudah saya rogoh2 bagian dalam tas, nemu 500 rupiah. dia menerima dengan senyum manis, berkali2 bilang "makasih", berlalu dari saya lalu beli chiki 500an di warung dekat saya nunggu angkot.

    setelah dapat chiki, dia makan di dekat saya. kalau bagi saya, makanan ringan itu gak akan bisa ganjal lapar saya. tapi dia bilang sudah lumayan kenyang. sebenarnya dia udah dapat banyak uang dari minta2, tapi uangnya buat orang tuanya, buat bantu bayar sekolah. ah saya merasa tertampar, selama ini buang2 uang receh. padahal kalau uang receh dikumpul2in pasti jadi banyak. uang 1000 kalau hilang 100 juga jadinya gak 1000, cuma 900 kan? Ya Allah... benar2 deh saya kufur... hiks... makasih adik kecil :') kamu udah ingetin jadi untuk lebih banyak bersyukur atas rezeki yang dipunya, sekecil apapun itu. karena Allah akan menambah nikmat umatNYA yang mau bersyukur.

    BalasHapus
  5. Nama : Rany Dwi Tanti
    Twitter : @Rany_Dwi004
    Email : ranydwi11@yahoo.co.id
    Link Share : https://twitter.com/Rany_Dwi004/status/540729630441738244

    Pernah.
    Kejadiannya udah cukup lama, tapi masih keinget sampai sekarang. Kejadiannya waktu saya disuruh saudara kesana-kemari buat beli ini itu dan disuruh pakek motor. Dan setiap saya mau berangkat pergi, nenek saya bilang ‘hati-hati’. Dan beliau SELALU bilang begitu setiap saya mau meninggalkan halaman rumah. Saya sampai berpikir dan menggerutu ‘hati-hati aja mulu dari tadi’ maksud saya bilang gitu, kok nenek saya nggak bosan-bosan bilang kata ‘hati-hati’. Saya aja bosan dengernya. Saya memang tidak berpikir apa-apa waktu itu. Tapi sampai ke tempat tujuan, belum juga saya turun dari motor, eh…saya jatuh duluan dari motor.

    Nah, setelah kejadian itu, saya mulai merenung dan berpikir. Apa kejadian saya jatuh dari motor itu gara-gara saya meremehkan kata ‘hati-hati’ yang diucapkan nenek saya ? Dan setelah dipikir-pikir, waktu itu saya memang meremehkan kata ‘hati-hati’. Berkat kejadian itu, sekarang saya udah nggak mau lagi meremehkan kata ‘hati-hati’ (^_^“) *Jadi tahu kalau setiap kata itu punya kekuatan tersendiri kalau kita meremehkannya :D

    BalasHapus