Jumat, 31 Oktober 2014

Spora


“Monster. Kutukan. Itulah yang menanti orang-orang yang penasaran, yang mengharapkan emas, yang mengharapkan jawaban, yang begitu egois sampai tidak mendengarkan kata-kata orang yang memperingati mereka. Ya, monster.” (Hal. 195)

Penulis: Alkadri
Penyunting: Dyah Utami
Penyelaras Akhir: J. Fisca
Perancang Sampul: Fahmi Fauzi
Ilustrasi Sampul: Fahmi Fauzi
Ilustrasi Naskah: Diani Apsari
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penerbit: Moka Media
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah  hal.: vi + 238 halaman
ISBN: 979-795-910-4
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang kurcaci.
Ia tinggal di sebuah gua di dalam gunung.
Gunung yang menjulang tinggi melampaui langit.
Tubuhnya kecil, rupanya buruk, dan perangai pun kasar.
Namun, sang kurcaci memiliki sesuatu.
Sesuatu yang  diinginkan oleh segenap manusia di kaki gunung.

Di suatu pagi, Alif menemukan sesosok mayat yang tergeletak di lapangan sekolahnya. Kepalanya pecah berkeping-keping. Sejak saat itulah, mimpi buruk alif dimulai. Satu persatu orang di sekitar Alif jatuh menjadi korban, mati dalam kondisi mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya. Polisi mulai melakukan penyelidikan dan mencurigai keterlibatan Alif. Bersamaan dengan itu, masa lalu Alif yang kelam datang untuk menghantuinya kembali.

Monster itu telah bangkit,
Dan ia takkan berhenti membunuh hingga manusia terakhir mati.
***

Rasanya hidup takkan mudah jika dalam sebuah fase kehidupan, kita menjadi orang pertama yang menemukan jenazah yang kondisinya sangat mengenaskan. Apatah lagi jika harus dialami berturut-turut dalam kurun waktu yang berdekatan. Inilah yang dialami oleh Alif.

Kejadian pertama yang setelah itu menggunjang kehidupan Alif cukup keras adalah saat ia menemukan satpam sekolahnya, Pak Jarwo, sudah tidak bernyawa dengan kondisi mengerikan. Tanpa kepala. Awalnya Alif diyakini akan tergunjang menghadapi hal ini. Namun ternyata ada sesuatu yang terjadi di masa lalu yang membuat Alif mampu menghadapinya dengan tenang.

Namun kejadian kedua yakni ditemukannya 2 sosok meninggal dengan kondisi nyaris serupa dengan kondisi jenazah Pak Jarwo membuat suasana makin mencekam. Korbannya random. Sayangnya, lagi-lagi Alif menjadi orang pertama yang menemukan jenazah tersebut. Namun saat itu, ada sosok lain yang mulai dicurigai sebagai tersangka. Namun orang tersebut menghilang secara mendadak. Ini semakin menguatkan dugaan.

Namun sebuah insiden terjadi. Orang yang dicurigai tersebut meninggal. Dan kekacauan lebih jauh terjadi karena Alif menjadi orang terakhir yang melihat orang tersebut sebelum ia meninggal. Dan yang dilihat oleh Alif saat itu adalah monster (>_<).
***

Ide yang digagas oleh Alkadri tentang sebuah novel horor yang menjadikan dongeng Kurcaci yang punya nuansa “dark” cukup menarik. Menjadikan potongan dongeng-dongeng tersebut sebagai opening setiap bab memberi nuansa yang berbeda. Ini karena (bagi saya pribadi) dongeng tentang kurcaci tersebut tergolong baru. Apa ini dongeng asli atau karangan Alkadri juga?? *nunggu jawaban penulisnya sambil berharap review saya dibaca (^_^)v* Potongan dongeng ini juga membuat pembaca penasaran tentang hubungan dongeng itu dengan kisah kali ini. Dan belakangan bakalan ngomong “Oalah, itu toh hubungannya? Jadi dongengnya beneran nih? Atau karangan Alkadri doang? (>_<)”
 Selain itu, dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis mampu menyimpan informasi dengan baik sehingga membuat pembaca penasaran. Penulis menuturkan dengan detail hal-hal yang dialami oleh Alif namun juga mempertahankan cerita masa lalu hingga akhirnya diketahui belakang saat Alif terlibat percakapan dengan Rina, sahabatnya.

Selain itu, hingga saat Alif melihat sosok “monster” itu saya tidak punya bayangan tentang penyebab kematian seluruh korban tersebut. Ini membuat saya terus melanjutkan membaca. Dan saat mengetahuinya, rasanya hm..jauh dari yang mampu saya duga. *tampaknya imajinasi saya kurang (-_-“) *

Namun ada yang terasa agak kurang di closing cerita. Ada orang terdekat Alif yang meninggal. Namun sayangnya eksplorasi emosi di moment ini terasa kurang. Apalagi secara emosi, pada part ini seolah terfokus pada suasana tegang dan minim rasa bersalah dari pihak Alif. Padahal kalau iya, kan berarti melemah. :D *nah..nah..kenapa kali ini imajinasi kamu ngelantur kemana-mana, Tria*

Hm..harus saya akui bahwa saya jarang membaca buku horor. Dan sedari awal saya malah salah memprediksi. Tapi tetap aja ngebayangin darah-darah dan kondisi jenazah korban-korban itu juga bikiiiiiin eeerrrr.. keukeuh nggak mau jadiin horor sebagai genre favorit (-_-“)

Tapi tulisan Alkadri ini cukup menarik dan intinya mampu menyimpan kunci penting cerita hingga akhir. Terutama saat menyadari bahwa hubungan prolog dengan seluruh cerita baru benar-benar terjawab di bab-bab terakhir buku ini. Good job (^_^)9

*Hm..mau bilang ditunggu karya selanjutnya..tapi..ya diriku bukan pembaca buku horor (-_-“)* 

puisi yang terinspirasi oleh novel Spora

Tidak ada komentar:

Posting Komentar