Rabu, 18 Juni 2014

Secangkir Teh



“Semua orang itu pada dasarnya baik. Kadang, keadanlah yang membuat mereka terlihat jahat di mata orang lain. Tapi kita bisa tahu bahwa mereka baik jika kita sudah dekat dengan mereka. Lihat teh ini, siapa sangka air keruh ini bisa membawa kebaikan untuk tubuh kita? Kalau kita tidak tahu dan kenal bahwa ini adalah teh, kita tidak akan pernah tahu bahwa ini baik,” (hal. 56)


Penulis: Nicky Rosadi, Dian Agustina, & Rohmadi
Editor: Afrianty P. Padede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: 2014
Jumlah hal.: viii + 236 halaman
ISBN: 978-602-02-4144-9

***
Bagi pengunjung tetap My Little Library ini, mungkin menyadari bahwa di beberapa postingan saya menyampaikan ketertarikan saya pada buku-buku yang mengandung unsur kafe, kopi, teh, dan cokelat. Maka wajar jika saya menyimpan rasa penasaran pada buku ini karena judul dan covernya. Di sampul buku ini terdapat label Elex’s Novelette

Dalam buku ini ada 3 cerita yang masing-masing akan coba saya buat  reviewnya.


Kiara
Cerita pertama ini ditulis oleh Nicky Rosadi. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, kita diajak menyelami kehidupan Regi yang harus kehilangan kekasihnya yang meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dalam prosesnya ia mengalami kesulitan untuk melupakan Fara, kekasihnya yang meninggal tersebut. Hingga suatu hari ia bertemu Kiara. Kiara adalah adik kelasnya yang terkenal sebagai biang onar dan kriminal. Namun saat mendapat kesempatan mengenal Kiara lebih dekat, Regi malah melihat kebaikan dan kerapuhan gadis itu.

Hm.. yang kurang dari cerita ini adalah emosinya. Konflik cerita sudah menarik. Awal cerita pun sudah terbangun dengan baik. Namun semakin ke belakang, emosi pembaca kurang dimainkan dalam cerita. Selain itu, perasaan Regi yang berubah dengna cepat tidak didukung oleh eksplorasi kejadian yang bisa menguatkan emosi Regi pada Kiara. Selain itu, tokoh Regi bagi saya sangat lembek sebagai laki-laki, tapi di waktu yang sama kok bisa cepat main tangan dengan menampar Tera ya? Tokoh Regi ini jadi terasa kurang konsisten dalam pengkarakterannya.

Oiya, karya ini juga terlalu terkesan ingin berfilosofi, jadi lebih mirip upaya menceramahi. Soalnya penjabaran tentang filosofi teh di halaman 31-33 terlalu panjang dan malah jadi membosankan. . (>_<) *maaf karena saya kebanyakan protes*

Anugerah Secangkir Teh
Karya kali ini ditulis oleh Dian Agustina. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis mencoba menceritakan kehidupan tokoh Intan. Tokoh Intan yang suka minum teh tapi sering menyisakan ¾ tehnya. Tentang tokoh Intan yang marah pada Reza. Tentang tokoh Intan hubungannya dengan sahabat-sahabatnya.
Tema yang diangkat sangat sesuai dengan dunia remaja. Sayangnya, cara berceritanya masih banyak menyebutkan bukan menjabarkan dan menggambarkan. Hubungan keluarganya hanya disebut harmonis. Hubungan denga temannya disebut tulus, akrab, menyenangkan, dan lain-lain. Tapi interaksi yang dijabarkan kurang mempengaruhi emosi pembaca.

Selain itu ada inkonsistensi dalam sudut pandang. Penulis menggunakan sudut pandang orang ketiga. Namun ada sebuah narasi yang  menggunakan kata “aku” seolah penulis menggunakan sudut pandang orang pertama.

Sebuah Kata di Atas Cinta
Tulisan ini adalah karya Rohmadi. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, Rohmadi menyajikan lakon kehidupan seorang murid SMA bernama, “Soleh”. Tentang kegiatan keorganisasian yang ia ikuti. Diceritakan tentang pengalaman pertama Soleh menjadi panitia acara sekolah. Ego Soleh membuatnya menghadapi banyak kendala dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai panitia.

Hm..cerita bagi saya terkesan datar. Ini seperti membaca curhatan anak SMA yang bingung mengerjakan tugasnya dalam kesempatan pertamanya menjadi panitia kegiatan. Ada pelajaran hidup yang menarik untuk dipelajari oleh remaja dalam buku ini, tapi cara berceritanya masih kurang menggugah emosi pembaca. Oiya, membaca ceritanya dan membaca kembali judulnya terasa kurang sesuia. Cinta yang dijabarkan di sini pun kurang jelas apakah kepada alam, Tuhan, Mumu, atau teman?

Secara keseluruhan ada yang ingin saya kritisi tentang buku ini. Yaitu terlalu banyak Typo. Ini mengganggu kenikmatan membaca. Saya sampai tergoda membaca cepat buku ini agar bisa segera selesai (>_<). Oiya, bahasa yang dipakai juga kadang terlalu indah dan bikin saya merasa cukup lelah membacanya.
Semoga kedepannya karya-karya penulis bisa lebih baik lagi. Semangat ya (^_^)9

“Percaya, kalau... Dalam sayang, menyerah itu pantang. Dalam cinta, masalah itu biasa. Dan rasa sayang sama cinta yang ada di dalam dua hati, bahagia itu pasi...” (hal. 81)

3 komentar:

  1. kalo baca novel yg kalimatnya terlalu bersayap tuh kadang malah bikin ngantuk plus capek mikir ya mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, apalagi kalau munculnya di moment yang gak tepat (>_<)

      Hapus
  2. terima kasih atas review nya:)

    BalasHapus