Rabu, 04 Juni 2014

Sakit ½ Jiwa




Penulis: Endang Rukmana
Penyunting: Windy Ariestanty
Desain Sampul & Tata Letak: Jeffri Fernando
Cetakan: Kedelapan, 2009
Jumlah hal.: xx + 254 halaman
ISBN: 979-780-031-8
“Elo tuh sakit, ye!”
“Sakit apaan, Mon?”
“SAKIT JIWA, tau!”
“Kayaknya sih iya, tapi cuma setengah, sih!”
“Wah, bener-bener sakit nih orang! Nggak ngerti gue, Bob!”
“Iya, Mon. Gue sakit jiwa, tapi cuma setengah!”
“Sakit ½ jiwa, gitu? Mana ada, woy!”

Bermula dari rasa penasarannya pada pesan gaib dari si Kakek Bijak, Bobi memutuskan melakukan perjalanan ke Tanah Baduy untuk menemukan kubur ari-arinya. Perjalanan ini adalah sebuah proses pencarian jati diri. Ari-ari Bobi yang dikuburkan di Baduy, bagi Bobi adalah bagian darinya yang tercecer; setengah jiwanya yang belum ia temukan.

***

Sebenarnya review ini ingin saya ikut dalam Baca Bareng BBI edisi Mei, tapi karena alasan (sok) sibuk akhirnya bukunya selesai dibaca tapi review-nya tidak berhasil ditulis. *iya curcol deh*
Baca buku ini cukup makan waktu bagi saya. Ini karena genre komedi tidak pernah menjadi genre favorit saya. Jadi sejak awal saya membaca buku ini dengan wajah lempeng tanpa senyum (>_<). Bukan..bukannya saya tidak punya selera humor, tapi mungkin syaraf humor saya sudah putus. He..he..*Apa bedanya, Tria?*


Novel Sakit ½ Jiwa ini direkomendasikan oleh Novel, seorang kawan saya yang jadi partner setia memburu buku2 di berbagai book fair di Bandung (^_^). Kata dia buku ini pasti akan bikin saya ngakak. Tapi ya itu, sejak dulu genre komedi tidak begitu menarik bagi saya. Sejak membaca kata pertama dalam cerita ini, saya sudah skeptis akan bisa menikmatinya. Dan ternyaaaattaaaaa.. hm..benar saja, saya tidak berhasil dibuat tertawa.

Bagi saya pribadi humornya terkesan garing. Bahkan lebay. Entah karena rentang naskah ini yang terbit tahun 2006 dengan masa kini 2014 yang membuat kehumorannya jadi terasa basi. *kemungkinan sih karena itu*. Selain itu tokoh Bobi, yang berusaha datang ke tanah suku Baduy demi ari-arinya yang ternyata ditanam di sana, terasa terlalu ingin sok lucu dan keren >_<. Si kakek yang jadi pemberi petunjuk pada Bobi pun terkesan alay. Monda, pacar Bobi pun gak jelas perasaannya karena sikapnya yang galak tapi suka ke Bobi.

Tapi ada yang juga bagian yang menarik dari novel ini. Yakni cerita petualangan Bobi mengunjungi kota Banten, Rangkasbitung, dan tanah tempat masyrakat Baduy tinggal. Deskripsi tentang kota-kota itu cukup menambah pengetahuan saya. Kondisi kota dan sosial budaya dan masyarakat yang dideskprisikan di dalam cerita pun menarik. Tapi begitu masuk kembali ke cerita kegokilan si Bobi saya kembali gagal suka (>_<).
Hm..itu aja deh pendapat saya tentang buku ini. Sekali lagi ini sebaiknya tidak jadi rujukan utama. He..he.. karena untuk genre humor saya ini kurang mumpuni (>_<)

1 komentar:

  1. Owhh... kayaknya lucu ini buku. Genre komedi yang paling saya suka. Dan cerita semacam traveling ke suku Baduy... pasti seru tuh. aku malah pengen ke suku pedalamam Papua sana...

    BalasHapus