Rabu, 18 Juni 2014

(Bukan) Salah Waktu



“Bram, manusia bersedih lebih karena merasa bahwa ia sendirian menghadapi kehidupan. Saat ia sanggup membagi kisahnya kepada orang lain, sesungguhnya ia telah menyelesaikan sebagian dari masalah yang sedang dihadapinya itu ...” (hal. 181)


Penulis: Nastiti Denny
Penyunting: Fitria Sis Nariswari
Perancang Sampul: Citra Yoona
Ilustrasi Sampul: Shutterstock & Dreamstime
Pemeriksa Aksara: Intari Dyah P. & Septi Ws
Penata Aksara: Endah Aditya
Penerbit: Bentang
Cetakan: 2013
Jumlah hal.: viii + 248 halaman
ISBN: 978-602-7888-94-4
Tahukah Kau, Sayang ….

Aku mencintaimu lebih dari apapun. Aku rela kehilangan segalanya kecuali kamu. Aku sanggup melepas duniaku demi dunia kita bersama.

Namun, ketika waktu bergulir tanpa bisa dibendung, ketika kenyataan memaksa untuk dipahami, ketika kesalahan memohon untuk dimaafkan, kurasa aku tak sanggup Sayang ….

Entahlah, siapa yang harus memahami dan mengalah. Tapi mungkin, aku butuh seribu cara untuk mengobati luka hati ini.

***

“Kehidupan berumah tangga bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Terkadang cinta saja tidak cukup,” itu adalah sepenggal kalimat yang terkadang terucap saat para lajang bertemu dengan mereka yang sudah menikah. Ada juga yang dengan tegas menyampaikan, “Kehidupan pernikahan itu tak seindah masa pacaran,” sambil memasang wajah menolak didebat. Hal ini juga yang coba digambarkan dalam novel (Bukan) Salah Waktu ini.

Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis berusaha mengetengahkan sebuah masalah di antara pasangan muda, Sekar dan Prabu. Diceritakan, Sekar menyimpan rahasia tentang keluarganya. Ia menyembunyikan fakta bahwa orang tuanya sudah bercerai. Ini dilakukannya karena ia melihat bahwa keluarga suaminya (sejak awal mereka berpacaran) memiliki pandangan negatif tentang anak-anak yang berasal dari keluarga yang broken. Namun sebaik-baiknya sebuah rahasia disimpan, suatu hari akan terbuka juga.


Saat masa lalu sang istri terbuka tanpa sengaja, sebuah rahasia kelam juga muncul dari sisi sang suami. Prabu memiliki masa lalu dengan seorang perempuan cantik bernama Larasati. Hal ini ia ketahui dari Bram, laki-laki yang baru dikenalnya dan ternyata adalah adik Larasati. Ia diberitahu Prabu dan Larasati memiliki seorang anak. Sekar pun memutuskan untuk menjauh dari Prabu. Ia meminta agar Prabu memberinya ruang untuk berfikir sendirian.

Konflik yang diangkat sebenarnya menarik. Sayangnya karakter Prabu menurut saya terasa kurang ekspresif. Sikapnya terkesan pasif malah menunjukkan bahwa ia tidak ingin memperjuangkan keutuhan rumah tangganya. 

Selain itu, ada masalah yang belum dibahas dengan tuntas dalam novel ini. Yakni mengenai reaksi keluarga Prabu atas rahasia Sekar. Seolah masalah Sekar yang menutupi perceraian orang tuanya selesai begitu saja hanya karena Sekar mendapati Prabu memiliki rahasia yang lebih besar. Masalah ini dibiarkan selesai tanpa penjelasan berarti di akhir buku.

Satu hal lagi yang kurang tereksplor dengan baik. Yakni hubungan yang terjalin antara Sekar dan Wira. Kenapa semudah itu Sekar menerima Wira? Kenapa Wira bisa langsung dekat dengan Sekar? Padahal Wira digambarkan sebagai anak yang susah dekat dengan orang asing. 

Di luar beberapa hal yang saya pertanyakan di atas, saya menganggap novel ini cukup menarik. Masalah yang diketengahkan pun memang masalah yang tidak mustahil ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan penulis menyuguhkannya dengan baik.

Saya tunggu karya lainnya ya, Mbak :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar