Sabtu, 07 Juni 2014

After Sunset



“Namaku Leah Kannitha, usiaku baru menjelang dua puluh satu tahun. Siapa bilang usia muda hanya berhadapan dengan kesenangan dan hal-hal sederhana saja? Ah, itu rasanya terlalu membosankan. Karenanya, aku memilih menempuh jalan yang tidak biasa.” (hal. 275)


Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: 2014
Jumlah hal.: vii + 275 halaman
ISBN: 978-602-02-3791-6
Awalnya...
Leah Kannitha : Dia adalah si megalomania sinting yang otaknya kena virus mematikan. Makanya dia perlu membenturkan kepala supaya bisa berpikir jernih.
Liam Hammond : Dia gadis ceroboh yang suka ikut campur urusan orang. Dia kira aku gampang terpesona dengan wajah polos dan mata besarnya?
Akhirnya...
Leah Kannitha : Aku takut ada pembuluh darahku yang pecah karena dia memegang tanganku sambil mengucapkan kata-kata cinta.
Liam Hammond : Ah, kondisiku sama sekali tidak menggembirakan. Aku sedang berusaha keras untuk berhenti menyukainya, karena aku lebih suka mencintainya.

Keduanya punya rahasia. Keduanya punya masa lalu yang menyakitkan. Tapi cinta membuat mereka harus mampu melampaui semua rasa sakit dan kegetiran yang mengadang tanpa perasaan. Apakah mereka mampu menanggalkan masa lalu? Mungkinkah masa depan untuk mereka memang ada ? Biarkan cinta melewati ujiannya dan memberikan jawaban.

***

Baru saja saya menyelesaikan membaca After Sunset karya Indah Hanaco. Ini bukan karya pertama Indah Hanaco yang saya baca, tapi karya terbarunya yang saya baca. Bahkan sekarang sedang ada Giveaway berhadiah novel After Sunset di blog ini. (klik di sini)

Novel ini bercerita mengangkat hubungan Leah dan Liam. Leah adalah perempuan Indonesia berusia 19 tahun. Saat ia berusia 12 tahun Leah kehilangan ibu dan kakaknya. Karena itu akhirnya ia pun hanya tinggal berdua dengan papanya. Kejadian itu membekas cukup dalam bagi Leah. Ia tumbuh menjadi sedikit berbeda dengan kawan-kawan seusianya. Ia sering berpenampilan lebih tua daripada umurnya dan masih sering sedih atas kepergian ibu dan kakaknya.

Suatu hari ayah Leah menghadiahinya tiker liburan ke Bali bersama sahabat dan sepupunya. Sebenarnya Leah tidak begitu menginginkan liburan ini. Namun karena sang ayah memaksa, ia pun pergi ke Bali. Awalnya liburan tersebut berjalan sangat buruk. Ini karena ulah sepupunya, Zsa Zsa, yang memaksa Leah mengubah penampilannya. Kemudian pertemuannya dengan Liam.

Liam adalah pria yang berasal dari Inggris yang tengah menghabiskan waktu di Bali. Ia adalah seorang mantan pembalap. Baginya liburan tersebut adalah sebuah cara dia menutup cerita kelam hidupnya. Sebelumnya sejumlah masalah datang beruntun dan membuatnya hancur. Ia berencana bahwa sepulangnya dia dari Bali maka ia akan berusaha menata kembali hidupnya. Dan ia tidak menduga pertemuannya dengan Leah.

Setelah itu kita akan disuguhi dinamika kehubungan mereka berdua. Pertemuan yang menyebalkan tidak selalu berakhir buruk (^0^)v Perkembangan hubungan keduanya disuguhkan dengan smooth. Emosi yang terbangun diantara keduanya tidak dibuat muncul mendadak begitu saja. Ini membuat saya menikmati ceritanya hingga lembar terakhir.

Oiya, sekitar 1/4 kisah terakhir saya sempat dibuat kaget dengan munculnya twist baru. Dan penjelasan tentang hal ini di akhir cerita membuat saya benar-benar tidak menyangka. Sempat agak sedih gitu saat membaca penjelasan kejadian tersebut. (sengaja gak mau cerita lengkap biar gak disebut spoiler >_<).

***

Membaca novel ini saya mendapat pengetahuan baru tentang penyakit cluster headche. Penyakit ini sangat asing bagi saya pribadi. Namun membaca novel ini bisa memberi pengetahuan awal tentang penyakit ini.  Ini kutipan dari Wikipedia tentang penyakit ini:


Sakit kepala cluster adalah sindrom sakit kepala yang jauh lebih sering menyerang pria dibandingkan pada wanita. Sakit kepala cluster khas dan dimulai pada usia lebih lanjut dibandingkan pasien migrain, dengan usia rata-rata saat awal terkena yakni 25 tahun. Jarang ada riwayat keluarga sakit kepala tersebut karena penyakit ini tidak menurun. Sindrom ini muncul sebagai kelompok singkat, sangat parah, satu sisi, tidak berdenyut, konstan dengan durasi mulai dari beberapa menit hingga kurang dari 2 jam. Tidak seperti sakit kepala migrain, sakit kepala cluster selalu satu sisi,dan biasanya kambuh pada sisi yang sama dalam setiap pasien tertentu. Sakit kepala cluster sering terjadi pada malam hari, membangunkan pasien dari tidur, dan berulang setiap hari pada waktu tertentu yang sama untuk jangka waktu mingguan hingga bulanan. Setelah itu akan ada jeda dimana pasien mungkin bebas dari sakit kepala cluster selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Karakteristik sakit kepala cluster diawali dengan sensasi terbakar sepanjang aspek lateral hidung atau sebagai tekanan di belakang mata.

Ini membuat saya cukup suka dengan novel ini. Pertama karena Mbak Indah Hanaco menggunakan jenis penyakit yang tidak umum dijadikan bagian cerita. Awalnya saya merasa penyakit ini hanya sebuah tempelan untuk menguatkan karakter Liam dan menjadi jalan pembuka bagi pertemuan Leah. Namun ternyata saya salah.

Kedua, saya suka karena Mbak Indah Hanaco mengangkat profesi yang belum banyak digunakan sebagai pekerjaan tokoh utamanya. Bahkan bagi saya pribadi, ini pertama kalinya saya membaca novel yang tokoh utamanya adalah seorang pembalap. Meskipun sebenarnya belum terlalu terasa banget karena tidak pernah mengambil setting cerita di sirkuit balap. Tapi dengan adanya beberapa istilah terkait otomotif dan balap mobil, maka profesi Liam tidak terlalu terasa sebagai pelengkap saja. (^_^)

Hm, segitu saja ah komentar saya. Maaf di review kali ini tidak ada kutipan apapun selain yang saya letakkan di awal. Ini karena saya lebih banyak membaca buku ini di jalan jadi tidak sempat menandai halamannya. (>_<)

2 komentar:

  1. Suka sama karakter Leah & Liam. Penyakit yang di derita Liam sepertinya membuat novel ini menarik, dan masa lalu Leah bikin penasaran. Dan semakin penasaran lagi gimana hubungan Leah & Liam kedepannya, apa berakhir indah seperti sunset?

    BalasHapus
  2. Blurb awal bilang kalau ternyata Liam ini si megalomania, adakah unsur kelucuan disini? Hehe... Setelah sebelumnya baca bahwa faktanya Mbak Indah menulis ini berdasarkan tweet di FaktaWOW *yang artinya setelah baca faktanya, kita langsung ngerasa WOW*, aku jadi heran, keren banget sih Mbak dari tweet yang sering aku abaikan gitu, bisa jadi inspirasi di ceritanya. What a great!

    Ditambah kisah Leah ini ternyata masih 19 tahunan, beda sama novel-novel sebelumnya yang ngambil tokoh dengan usia di atas 20. Hmm..., dari review nya sih, bukunya memang benar-benar beda walau (lagi-lagi) ceritanya sudah ada :D

    BalasHapus