Selasa, 13 Mei 2014

The Heritage



“Kadang-kadang kita memang bisa melakukan hal yang tidak masuk akal untuk orang yang kita sayangi. Salah satunya mungkin dengan mengorbankan nyawa.” (hal. 83)


Penulis: Ghyna Amanda
Editor: Fanti Gemala
Desainer sampul & ilustrasi: Dyndha Hanjani Putri
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan: 2014
Jumlah hal.: vi + 202 halaman
ISBN: 978-602-251-490-9

Bosscha Sterrenwacht, Grote Postweg, Beatrix Boulevard, Lembangweg, Bilitonstraat—adalah segelintir nama yang tersirat dalam lembaran lukisan milik seorang gadis bernama Julia.

Karena aksi sok heroiknya, Vero, seorang murid pertukaran pelajar dari London, terpaksa harus membantu Julia memecahkan teka-teki dari lukisan-lukisan yang menggambarkan berbagai bangunan kuno di Kota Bandung. Vero yang awalnya datang ke Bandung untuk mempelajari angklung dan arumba, akhirnya harus terlibat dalam petualangan menyusuri tempat-tempat bersejarah yang ada di dalam lukisan Julia.

Dalam petualangan itu, akhirnya teka-teki lain ikut terbongkar. Alasan mengapa Julia bersikeras ingin memecahkan teka-teki dari lukisan tersebut, dan alasan mengapa Vero harus terlibat dalam petualangan ini. Begitu juga dengan simpulan akhir perasaan keduanya

***

Ini adalah novel kedua karya Ghyna Amanda yang saya baca dan dalam kurun waktu yang berdekatan. Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, dan lagi-lagi dari tokoh utama laki-laki, Ghyna mengangkat Bandung sebagai latar tempat yang paling mendominasi cerita.

Tokoh utama pria Vermarine Evergreen atau Vero, seorang remaja 17 tahun asal London yang mencari petualangan dan pengalaman hidup jauh dari orang tuanya, akhirnya terdampar di Bandung dalam kegiatan pertukaran pelajar selama sebulan. Essainya tentang angklung membawanya ke Bandung untuk belajar lebih juah tentang instrumen musik dari bambu tersebut.

Hari pertamanya di Bandung, ia bertemu dengan Julia. Pertemuan itu berjalan sangat buruk. Hingga akhirnya pertemuan pertama inilah yang membawa Vero pada upaya menjawab teka-teki yang berkaitan dengan Ayah Julia yang sudah meninggal. Dalam pencarian ini Vero dan Julia dibantu oleh Gesang. Ya, nama ini tidak asing  bagi mereka yang sudah membaca review atau bahkan membaca novel Ghyna Amanda yang satu lagi. Gesang adalah tokoh utama novel Fuurin yang ditulis oleh Ghyna Amanda.

Membaca novel ini memberi banyak bahkan sangat berlimpah informasi tentang kota Bandung dan sejumlah bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda di era awal tahun 1900-an. Bagi saya yang cukup tahu tentang sejarah ini, membaca novel ini menjadi membosankan. Bahkan sejujurnya saya menangkap beberapa kesan menggurui dalam novel ini.


Selain itu, sejujurnya saya merasa penulis terlalu memaksa untuk menggunakan sudut pandang Vero yang orang asing. Ini membuat cerita ini jadi tidak konsisten dari segi percakapan. Kenapa? Karena Vero diceritakan tidak bisa berbahasa Indonesia. Lantas bagaimana mungkin di bisa menangkap pembicaraan begitu saja bahkan tanpa ada proses penerjemahan. Lagipula, jika ia dari sudut pandang Vero, percakapan antara Julia dan Gesang yang saya duga berbahasa Indonesia untuk lebih memudahkan informasi (mengingat di awal-awal cerita Julia terlihat enggan melibatkan Vero). Akan jauh lebih baik jika penulis mengambil sudut pandang Julia. 

Saat membaca novel ini ada beberapa bagian yang saya skip (baca sepintas lalu. Lebih ke scanning agar tidak melewatkan cerita yang penting) karena membuat saya cukup bosan. Terlalu banyak informasi. Dan jika mau, bisa memasukkan peta Bandung masa kini untuk memperjelas tempat-tempat ini, jika memang mau mengangkat informasi ini secara serius.

Sejujurnya untuk genre remaja, cara berceritnya terlalu serius. Apalagi isi cerita terkait sejarah dan budaya juga cukup serius bagi bacaan anak muda. Sebaiknya bahasanya dibuat lebih gaul dan asyik lagi. (^_^)v

Untuk cover dan layout dalam buku sudah bagus. Covernya remaja banget dengan warna-warna ceria.

Berdasarkan keseluruhan novel ini, saya memberinya dua bintang. (^_^). Terus berkarya ya Ghyna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar