Sabtu, 24 Mei 2014

Tell Your Father, I am Moslem


Penulis: Hengki Kumayandi
Penyunting: Mashur El-Mubarok
Penata Letak: Tri Indah Marty
Desainer Sampul: Kiki Maryana
Penerbit: WahyuQolbu
Cetakan: Pertama, Januari 2014
Jumlah hal.: ix + 259 halaman
ISBN: 979-795-812-4
Ketika cinta telah menjatuhkan pilihannya, maka ia akan begitu tulus mencintai, tanpa syarat, tidak peduli berbeda suku, agama, ataupun status sosial. Namun, kenyataan sering berbicara lain. Ketulusan cinta hanya akan menjadi kenyataan getir, manakala takdir Ilahi berkehendak lain.

David
"Aku sangat bahagia ketika kau bersedia menjadi kekasihku, walau tak boleh sedikitpun aku menyentuhmu. Sayang, keyakinan yang kau miliki tak sama dengan keyakinanku, Maryam. Orangtuaku juga orangtuamu tak setuju jika kita bersatu.”

Maryam
“Aku belum pernah merasakan cinta sehebat dan sedahsyat ini. Kaulah cinta pertamaku, dan aku bahagia bisa mencintaimu. Tapi sayang, kebahagiaan ini begitu singkat. Kebahagiaan ini tidak lebih seperti kupu-kupu yang sangat singkat hidupnya menikmati keindahan bunga-bunga di taman.”
____

"Kau tahu, apa yang membuat Nabi Muhammad selalu tenang dalam menghadapi masalah dalam hidupnya? Rahasianya cuma satu, Maryam. Karena beliau selalu menjaga cintanya pada Allah. Beliau tidak pernah melebihkan cintanya pada siapapun selain-Nya. Berhentilah menangis. Jangan sampai cintamu itu membuat Allah berpaling darimu, Maryam."
____

Aku pecinta cerita HC Anderson. Dan buku ini seperti cerita HC Anderson versi Islami, Subhanallah... Indah sekali. Kisah cinta berliku David - Maryam bakal jadi tuntunan bagi pembaca yang -mungkin- sedang mengalami problem serupa.. Dan kekuatan cinta selalu bisa mengalahkan segalanya. Meski mengusung tema perbedaan keyakinan tapi novel ini jauh dari kesan SARA. Salut buat penulisnya. [Adnan Buchori, penulis buku Genk Kompor Series]
***

Tidak menyadari bahwa dua buku terakhir yang saya baca adalah buku-buku Islami. Setelah sebelumnya membaca Diorama Rasa (baca resensinya di sini). Saya langsung membaca buku Tell Your Father, I am Moslem. Buku ini membuat saya tertarik karena pembicaraan di Group Beruq-Beruq di Facebook sempat menyebut-nyebut karya ini.

Saat membaca pengantarnya pun saya mengenali sejumlah nama yang pernah berkomunikasi sebelumnya *most of them are a writer*. Saya pun memulai membacanya dengan penasaran. Dan satu yang tidak saya duga, ternyata novel ini tidak seberat yang saya sangka.

Dengan mengangkat cerita hubungan REMAJA *yup..remaja..saya juga gak menyangka*yang memiliki budaya dan agama yang berbeda. David, anak laki-laki Amerika yang berusia 17 tahun jatuh cinta pada Maryam, perempuan muslim dari Dubai. Maryam datang ke sekolah David sebagai siswi baru karena ayahnya ditugaskan menjadi Duta Besar Uni Emirat Arab. Awalnya muncul kehebohan di sekolah David karena penampilan Maryam yan berjubah dan berjilbab besar. Ia bahkan langsung dicap sebagai teroris.


David jatuh cinta pada Maryam sejak pada pandangan pertama. Maryam pun jatuh hati pada David karena kebaikan David padanya dan karena David laki-laki pertama yang ia kenal secara dekat. Orang tua Maryam sangat protektif dan terlalu mengatur hidup Maryam. Mereka tidak menyetujui kedekatan Maryam dengan David.

David dan Maryam saling mencintai dan sudah menyampaikan kepada satu sama lain. Namun Maryam mensyaratkan pada David untuk tidak menyentuhnya sama sekali. Syarat ini disanggupi David selama ia tahu Maryam mencintainya. Menariknya ada satu moment di dalam novel ini dimana Maryam melemah dan meminta David untuk memeluknya namun ditolak oleh David. David berkata,

“Aku tidak mau. Aku tidak mau melakukannya karena butuh empat puluh tahun bagi Tuhanmu untuk mengampunimu. Bukankah kau sendiri yang bilang seperti itu padaku, Maryam?” (hal. 112)

Hm..membaca buku ini, meski mengankat tentang hubungan kasih remaja yang berbeda keyakinan, saya tidak menemukan isu dimana penulis meletakkan Islam sebagai agama yang lebih baik daripada agama Kristen yang dianut David. Bahkan saya langsung suka pada novel ini karena di awal, ayah angkat David yang seorang pastor memberikan pembelaan pada kerudung. Saat itu David yang sedang sakit dijenguk oleh temannya dan mendapat cerita tentang siswi baru yang menggunakan jubah dan kerudung yang mereka tuduh sebagai teroris. Pastor tersebut langsung membela Maryam yang menyatakan bahwa perintah berkerudung pun ada di dalam Bibel. Hal ini pun menjadi pengetahuan baru bagi saya (>_<). *ah, ini selalu menjadi hal yang paling menyenangkan dari membaca. Mendapatkan informasi dan pengetahuan baru melalui sebuah cerita*

Kisah dalam novel ini berpusat dari perasaan cinta yang berkembang di antara Maryam dan David serta sikap orang disekitar mereka terhadap hal itu. Yang paling banyak diceritakan adalah sikap dari keluarga Maryam. Bahkan saat mengetahui kedekatan Maryam dengan David, ayah Maryam sangat marah, hingga kemudian menjodohkan Maryam dengan Khaled, anak dari sahabatnya.

Setelah itu perjuangan keduanya dalam menghadapi perasaan cinta yang dalam di usia mereka yang masih muda menarik diikuti. Bagaimana akhirnya mereka menghadapi keluarga masing-masing dan tetap saling menghormati keyakinan masing-masing.

Buku ini ringan namun nilai di dalamnya cukup berat bagi saya. Tidak mudah menghadirkan kisah cinta beda agama dengan bijak tanpa meninggikan salah satu agama. Buku ini juga mengajarkan tentang toleransi sesama manusia. Tentang agama yang seharusnya bukan menjadi alasan untuk berperang. Dari buku ini juga sebuah cerita tentang kondisi sebuah keluarga diangkat. Tentang keluarga Maryam yang dibangun di atas aturan Islam namun tetap saja orang tua sebagai manusia pun bisa salah. Bahwa kadang demi menegakkan ajaran agama orang tua malah bersikap egois dan malah mengekang.

Ini ada satu kalimat gugatan menarik yang teriakkan David di halaman 82. Ini menjadi bahan perenungan yang menarik saat saya mencoba memaknainya. (^_^)
“Tuhan, di mana keadilan-Mu? Kenapa si Amerika ini harus jatuh cinta pada gadis berkerudung itu? Sebegitu berbedanyakah kami? Lalu kenapa Kau menciptakan Amerika dan Arab, Islam dan Katolik? Apakah agar kami bermusuhan? Tidak bisakah ini dibuat sederhana? Tidak bisakah Kau menyatukan kami dengan cinta? Tidak bisakah?”
***

Dalam buku ini ada dua kekurangan yang ingin saya kritisi. Satu penggunaan kata “pastur” yang ketika saya baca di applikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia seharusnya pakai kata “pastor”. Selain itu saya sempat dibuat bingung. Di awal, kota yang disebutkan adalah Washington DC. Tapi belakangan malah pakai setting kota New York. Nah ini termasuk inkonsistensi. Entah saya yang kurang paham atau ini memang luput dari editor bukunya.

Tapi secara keseluruhan saya suka dengan novel ini. Mengangkat cerita tentang perbedaan dengan lebih bijak tapi nggak menggurui. Ditunggu karya berikutnya ya kang Hengki Kumayadi.

2 komentar:

  1. =Buku ini ringan namun nilai di dalamnya cukup berat bagi saya. Tidak mudah menghadirkan kisah cinta beda agama dengan bijak tanpa meninggikan salah satu agama. Buku ini juga mengajarkan tentang toleransi sesama manusia. Tentang agama yang seharusnya bukan menjadi alasan untuk berperang. =====
    suka ini, sepertinya menarik ya

    BalasHapus
  2. He..he..tokohnya masih pada remaja gitu, Bunda Nannia.
    Tapi ya memang muatan ceritanya menarik (^_^)v

    BalasHapus