Sabtu, 31 Mei 2014

Taman Pasir



“Gue selalu percaya, ada senyum yang mengembang setelah turunnya air mata. Sebab, akan selalu ada pelangi seusai hujan turun.” (hal. 221)


Penulis: Sintia Astarina
Editor: Anin Patrajuangga
Desainer Sampul & Ilustrasi: Dyndha Hanjani P
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan:  2014
Jumlah hal.: vi + 266 halaman
ISBN:978-602-251-521-0
Sejauh apapun jarak yang ditempuh, kita akan tetap begini. Selama apapun kita tak bertemu, kita akan terus bersama. Sebab, akan selalu ada rindu yang menyengat dari detik ke detik, menit ke menit, hingga waktu tak lagi dapat diukur.

Pertemuan manis yang tak disengaja, membuat kita berdua jatuh dalam pelukan dua sahabat. Perkara demi perkara yang dilalui, menyiratkan hal-hal yang selalu membuat aku ingin pulang.

Aku pun belajar bagaimana caranya menyimpan kenangan, menjaga luka, dan mencegah kehilangan. Dan kunyatakan padamu, tak ada hari tanpa sesuatu yang berharga. Di Taman Pasir, selalu ada cerita manis untuk diukir. Di Taman Pasir, selalu ada cerita manis untuk pulang ke rumah.

***


“Yang namanya sahabat... mereka nggak kenal fisik ataupun mental. Yang namanya sahabat... mereka nggak akan berpisah hanya karena lost contact atau menghilang secara tiba-tiba. Yang namanya sahabat... mereka akan tetap bersatu selamanya walaupun ada banyak rintangan yang menghadang. ....” (hal. 209)

Taman Pasir adalah karya pertama Sintia Astarina yang saya baca. Dalam profilnya dituliskan bahwa novel Taman Pasir adalah karya keduanya. Karya pertamanya adalah Nanyian Hujan yang diterbitkan pula oleh Grasindo. 

Karya ini memang ditujukan untuk remaja. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis mengetengahkan kisah persahabatan antara Pamela Agea dan Kelvin Amadeo. Persahabatan yang dimulai sejak pertemuan mereka di Taman Pasir saat usia mereka masih belia, 10 tahun.  Sejak saat itu mereka berdua terus bersama hingga SMA. Taman Pasir pun menjadi rumah kedua bagi mereka.

Hingga selepas SMA ternyata Gea harus pindah ke Filipina meninggalkan Kelvin dan Indonesia. Saat itu persahabatan mereka diuji. Ditambah lagi satu demi satu musibah menimpa Kelvin dan keluarganya. Kecelakaan yang menimpa ayah Kelvin hingga kecelakaan yang menimpa Kelvin sendiri.  Menjadi atlet sepeda adalah impian Kelvin. Ayahnya sendiri adalah atlet sepeda. Kelvin sangat ingin menjadi seperti ayahnya. Namun musibah yang datang, lambat laun merenggut mimpi Kelvin ini. Sedangkan hidup Gea? jauh lebih nyaman daripada Kelvin.


***


“Nggak ada gunanya ngomongin masa depan sedemikian rupa kalo nggak ada aksinya.” (hal. 48)


Sejujurnya membaca novel ini terasa cukup membosankan. Kehidupan sehari-hari Kelvin dan Gea dituangkan teralu detail. Ini membuat alur cerita jadi sangat lamban. Saya bahkan terkadang membaca cepat saja bagian tertentu. Ini membuat saya membaca buku ini terasa cukup berat. Perlu waktu 3 hari bagi saya untuk menamatkan buku ini karena akhirnya disela oleh buku-buku lain. >_<

Plot cerita sebenarnya sudah menarik. Musibah yang diceritakan datang bertubi-tubi dalam kehidupan Kelvin pun idenya sudah bagus. Namun kurang mengeksplorasi ke emosi Kelvinnya. Ada bagian yang seharusnya bisa menguras emosi pembaca, tapi malah terasa garing-garing saja. Entah karena menggunakan sudut pandang orang ketiga, makanya kesannya berjarak sehingga emosi ini tidak begitu terasah.

Menurut saya pribadi buku ini sebenarnya bbacaan yang bagus untuk remaja. Ini karena di dalamnya ada nilai-nilia persahabatan dan tentang impian. Ada scene yang mengetengahkan kebingungan Gea dan Kelvin tentang pilihan hidup mereka selepas SMA. Ini jelas sangat dekat dengan kehidupan remaja. Moment dimana pilihan-pilihan tentang masa depan dan pencarian jati diri masih terasa membingungkan. Sayangnya karena terlalu padat oleh adegan-adegan sehari-hari yang secara esensial tidak begitu mempengaruhi inti cerita, akhirnya buku ini terlalu tebal, padat, dan membosankan.

Good luck untuk Sintia Astarina. Semoga karya berikutnya bisa lebih baik ya (^_^)v


“..., ‘kalau segala sesuatunya bisa dikerjakan detik ini juga, kenapa harus menunggu hari esok?’” (Hal. 95)

***



2 komentar:

  1. terima kasih untuk review-nya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama.
      Tetap produktif membuat karya yang lebih baik lagi ya (^_^)

      Hapus