Rabu, 28 Mei 2014

Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya



“Kesedihan membuat seseorang tak lagi menjadi dirinya sendiri, memikirkan terlalu banyak hal, dan akhirnya menjadi sakit.” (hal. 105)


Penulis: Dewi Kharisma Michellia
Editor: Donna Widjajanto
Ilustrasi Cover: Eka Apriliawan
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Juni 2013
Jumlah hal.: 240 halaman
ISBN: 978-979-22-9640-2
Ada surat panjang yang terlambat sampai.
Tanpa nama pengirim, dan hampir basah oleh tempias hujan.
*
Sejak kecil kita berdua merasa diri kita adalah alien-alien yang tersesat ke Bumi.
Pria itu sudah melupakan seorang teman masa kecilnya saat sebundel amplop itu sampai di beranda rumah.
Kalau kau perlu tahu, aku hanya punya satu macam mimpi. Aku ingin tinggal di rumah sederhana dengan satu orang yang benar-benar tepat. Bila memang aku harus mencurahkan seluruh perhatianku, kepada satu orang itulah hal itu akan kulakukan.
Ia bahkan sudah melupakan mimpi-mimpi masa kecil mereka.
Berpuluh-puluh tahun lamanya, bahkan sejak kali pertama bertemu, aku telah memilihmu dalam setiap doaku. Sesuatu yang tak pernah kauketahui bahkan hingga hari ini. Dan bila kau suruh aku pergi begitu saja, di usiaku yang lebih dari empat puluh ini, aku mungkin telah terlambat untuk mencari penggantimu.
Dan ia tak tahu teman masa kecilnya itu masih mencintainya.
*
Surat-surat itu menarik pria itu ke masa lalu.
Hingga ia tahu, semuanya sudah terlambat.
***


“Di punggung tiap pejalan pada masa lalu, kupikir mereka selalu menggendong kehidupan –sama seperti kita. Mereka membawa segala hal yang mungkin dapat membuat mereka ingat untuk kembali pulang.” (hal. 177)


Surat ini karena tanpa nama pengirim membuat saya yang menerima surat tidak bisa mengembalikannya. Kemudian karena gilaan saya pada bacaan, maka saya menjadi sangat penasaran dengan surat yang sangat tebal ini. Membaca pengantar yang tertulis di kantor pos, bukannya merasa malu karena sudah membaca apa yang mungkin bukan untuk saya. Namun rasa penasaran berhasil mengalahkan sopan santun saya.

Akhirnya saya pun melanjutkan membaca surat tersebut.


Membaca lembar transkrip yang dibuat dari kepingan CD yang disertakan dalam surat tersebut, saya merasa bingung. Tidak begitu paham apa yang disampaikan melalui semua deskripsi yang menurut saya berantakan. Saya kemudian membaca cepat transkrip itu dan mulai membaca surat pertama yang bertanggal 23 Juli 2008. Dari surat itu saya semakin yakin bahwa surat itu salah alamat. Itu bukan untuk saya. Surat ini dialamatkan kepada seorang pria yang sangat dicintai oleh penulis surat. Surat ini diawali dengan penuturan sejumlah kenangan dan diikuti kemarahan terpendam penulis surat atas undangan pernikahan yang dikirimkan oleh pria yang seharunya menerima surat ini.

Ia marah karena akhirnya menyadari bahwa penantiannya atas pria tersebut berakhir tidak seperti yang ia harapkan. Pria itu jatuh cinta pada perempuan lain dan akan mempersunting perempuan lain yang lebih hebat darinya. Calon istri pria itu adalah seorang penulis. Penulis surat ini akhirnya mendatangi toko buku langganannya untuk mencari-cari karya calon istri pria yang untuknya ia menulis surat ini. Pencariannya malah berujung perkenalannya dengan sang pemilik toko.

Saat terus melanjutkan membaca surat-surat ini, jauh di dalam hati saya berharap bahwa penulis ini bisa jatuh cinta pada pemilik toko tersebut. Berhenti mengharapkan pria yang ingin ia surati ini, yang sekarang entah ada di mana. Saya melonjak kegirangan saat mengetahui penulis surat ini kemudian memiliki kekasih, meski saya juga terheran-heran karena ia masih terus saja menulis surat.


“Tidakkah pertemuan dan perpisahan kita di dunia ini telah sebelumnya direncanakan?” (hal. 190)



Dari surat-surat ini saya menyadari ia menulisnya tidak terartur. Namun membaca surat ini saya jadi tahu banyak kehidupan penulis surat. Meski sekali lagi, saya malu karena membaca surat yang sesungguhnya tidak dialamatkan pada saya. Tapi sudahlah, saya sudah membaca sejauh itu, untuk apa berhenti? Lanjutkan saja. “Tanggung!” pikir saya.

Namun di akhir saya jadi semakin merasa bersalah. Saya telah benar-benar mengintip diary seorang perempuan yang entah  bagaimana terus setia pada pria yang bahkan tidak tahu tentang perasaannya. Pria yang untuknya ia menulis surat ini. Dan akhir cerita membuat saya menahan haru. Kenapa harus setragis itu? Kenapa seolah hidup tidak adil? Haruskah satu kehidupan menanggung kepedihan seperti itu sepanjang hidupnya?
Selain itu, cerita yang dibagi oleh penulis surat ini tentang ia dan ayahnya pun membuat rindu saya pada Papa membuncah. Kedekatan saya dengan papa membuat saya bisa mengerti kesedihan yang ia rasakan karena kepergian sang ayah. Papa saya masih hidup dan saya masih bisa menyampaikan kepada beliau betapa saya mencintainya *dan memang saya lakukan*.

Hm..membaca surat ini pun saya menjadi berpikir banyak tentang kehidupan, tentang memaknai kehidupan. Tentang menjalani hari dan tentang menjalani hidup sendirian.

Sejujurnya monolog dalam surat ini biasanya berhasil membuat saya bosan dan mengantuk saat membacanya. Saya tidak pernah begitu cocok membaca narasi panjang. Namun entah mengapa membaca surat panjang ini saya malah berhasil mengikuti dan menikmatinya. Mungkin karena adrenalin saya ikut berperan? Karena perasaan bersalah bahwa saya telah membaca surat yang sebenarnya bukan untuk saya?

Entah kepada siapa saya harus meneruskan surat ini. Lebih baik saya kirimkan saja kembali ke alamat yang tertera di kartu pos. Sambil menulis surat permintaan maaf karena sudah lancang membaca seluruh surat ini.

Sssstt..ini dosa yang melenakan. Saya sudah berbuat tidak sopan karena melanggar privasi, tapi saya bersyukur karena membaca surat panjang nan bermakna ini.

P.S: surat ini mungkin akan saya sertakan dalam pengakuan dosa saya saat mengirim kembali surat ini ke alamat di kartu pos tersebut.

***

Kali ini saya kembali menikmati sebuah cerita yang dituturkan dalam bentuk narasi. Ini adalah sebuah monolog. Percakapan satu arah yang datang dari penulis. Lebih tepatnya penulis surat kepada cinta pertama sekaligus cinta yang sepanjang hayat terus ia tunggu. Membaca surat ini membuat pembaca merasa sebagai pihak yang dicintai oleh sang penulis surat. Itulah kenapa review ini saya buat seperti menulis sebuah surat (^_^)


“Bukankah selalu ada bagian di dalam diri setiap orang yang menginginkan kematian, tetapi pada waktu yang sama juga tak menghendakinya?” (hal. 179)

***


6 komentar:

  1. saya baca buku ini pertama kali, bosan lalu berhenti. Tapi kemudian mengulangi lagi membacanya. di awal-awal memang membosankan yah, tapi diakhir lumayan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha..iya sebenarnya cukup ngos-ngosan juga baca karya narasi seperti ini. Tapi ini termasuk narasi yang berhasil membuat saya bertahan membaca setiap kalimatnya. Biasanya untuk karya narasi seperti ini saya sudah akan menskip beberapa halaman (>_<)

      Hapus
  2. full narasi ya? harus sabar banget tuh ya bacanya :D tapi jadi penasaran sama endingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup. Narasi. Dialognya sangat minim >_<
      Tapi cukup menarik sih bagi saya. Biasanya saya tidak begitu suka dengan novel yg full narasi begini

      Hapus
  3. saya menandaskan novel ini dengan perasaan sendu :D. Bagi penikmat sastra, buku ini menarik

    BalasHapus
  4. mba..mw jual bukux ke saya gak?kmren smpet nyari tpi gk dpet..blz ke email sya ya,purpleuva@yahoo.co.id

    BalasHapus