Selasa, 13 Mei 2014

Song of Will


“Baginya setiap orang mempunyai harapan, yang berubah menjadi tujuan hidup, dan membuatnya bertahan hidup” (hal. 229)


Penulis: Jason Abdul
Penyunting: J Fisca
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penyelaras akhir: Dyah Utami
Desainer Sampul: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: Moka Media
Cetakan: pertama, 2014
Jumlah hal.: vi+258 halaman
ISBN: 979-795-815-9
"Akan kuberitahu siapa yang kusukai."

William, harus melawan kesedihan setelah kepergian sahabatnya ke Swiss.
Laura, berpikir kecantikannya bisa memberi segala yang tak bisa diberikan keluarganya yang hidup sederhana.
Evan, berjuang melupakan masa lalu yang kelam saat hidup di jalanan.
Nana, belajar mengambil keputusan sulit untuk menyatukan kembali keluarganya yang berantakan.

Empat remaja yang berusaha memahami diri sendiri serta arti mencintai keluarga.
Keempat-empatnya punya topeng yang ingin mereka lepaskan.
Keempat-empatnya punya rahasia yang ingin mereka bagi.

Sebab semua orang punya masa lalu. Dan mimpi

***

“Setiap orang pasti punya kesalahan, kita hanya perlu memberi mereka kesempatan memperbaiki.” (hal. 226)
Novel Song of Will bercerita tentang William yang bersama sahabatnya, Ben, membesarkan grup paduan suara mereka, Lumos. Namun saat Ben dan keluarganya pindah ke Swiss, William keluar dari Lumos. Ini karena ia tidak ingin menjadi sumber perpecahan dalam tubuh Lumos. Setelah itu, hidup Will menjadi datar saja. Tidak ada lagi sahabat yang menemaninya. Tidak ada lagi jadwal latihan dan manggung untuk bernyanyi dan tampil bersama Lumos.

Will sangat suka menyanyi. Namun itu tidak membuatnya bertahan di Lumos karena rasanya Lumos sudah berbeda. Kedatangan Evil, sahabat lamanya saat SMP kembali mengisi hari-hari Will. Ada pula Laura, sahabat Will sejak kecil yang sangat playgirl namun disayangi Will. Kemudian kemunculan Nana, perempuan kikuk yang pemalu dan tertutup yang menjadi sekretarisnya dalam kepanitian pensi sekolah.

Hubungan di antara Will, Laura, Nana, dan Evil berkembang menjadi hubungan cinta yang rumit. Belum lagi setiap tokoh ini punya masalahnya masing-masing. Dan Will menyimpan satu rahasia. Nana yang juga punya rahasianya sendiri. Evil yang ingin lari dari masa lalunya. Dan Laura yang selalu terobsesi ingin menjadi orang kaya.

Penulis berhasil meramu cerita di dalam buku ini menjadi menarik untuk diikuti. Konfliknya khas dunia anak muda. Tentang krisis identitas, impian, masalah keluarga, percintaan dan persahabatan.  Semua masalah ini porsinya sangat pas dan membuat pembaca bisa mengikutinya dengan mudah.

Secara keseluruhan cara bercerita, konflik, dan penokohona di dalam novel ini sudah bagus. Hanya saja bahasanya menurut saya terlalu formal dan serius untuk ukuran cerita remaja. (^_^)v

Saya suka desain sampulnya, meskipun saran saya aksen sampul depan yang bisa memanjang dibuat saja menjadi dua sampul agar saat disampul tetap manis. Oiya, bentuk pembatas bukunya sih biasa saja tapi desainnya saya suka, ini seperti merobek lapisan pertama pembungkus sebuah benda (>_<)

pembatas buku Song of Will
Oiya, untuk setiap awal paragraf pertamanya dibuat berbeda. Hal ini rasanya tidak perlu, karena ini bagian langsung dari cerita. Kecuali ia adalah kutipan kalimat tertentu yang dianggap kunci kisah di bab tersebut, baru dibuat seperti itu.

Hm..saya menganugerahi 3 bintang untuk cerita ini. Bukunya berhasil saya tamatkan dalam semalam dan rasanya bacaan ini enak untuk dinikmati (^_^)

“Memang jujur lebih pahit, tetapi manisnya gula bisa membunuh semut” (hal. 120)
***
Quote
“Selalu saja ada alasan, selalu ada kekurangan dari cowok. Kamu nggak akan menemui seseorang yang sempurna, Ra.” (hal.16)
“Nggak ada orang yang sial, Na.”...”Yang ada hanya orang yang menderita karena perbuatannya sendiri” (hal. 72)
“Perempuan berbeda dengan  lelaki. ... .Mereka bisa lemah sekaligus kuat. Mereka bisa cengeng sekaligus tabah. Mereka bisa terlalu pelan sekaligus bisa mengerjakan berbagai hal dalam satu waktu. Mereka istimewa” (hal. 120)
 “Kamu nggak perlu menyenangkan hati semua orang. Senangkan hati orang yang kamu sayangi –temasuk dirimu sendiri” (hal. 164)
“Sukamu adalah dukamu yang dilepas topengnya.” Quote by Kahlil Gibran (hal. 205)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar