Senin, 26 Mei 2014

Ratuku Bawel




Penulis: Annora Putri
Editor: Meidyna
SettingL Elisabeth Pipit
Desain Cover: dam_dut
Korektor: Susy Oktaviani
Penerbit: Sheila (imprint Penerbit Andi)
Cetakan: I, 2013
Jumlah hal.: x + 262 halaman
ISBN: 978-979-29-3431-1
“Mas mau kan memaafkan aku?”
Aku mengangguk-angguk. “Tentu, tentu saja, Sayang. Kesalahanku juga banyak. Lebih banyak. Terlalu banyak.”
“Mas…” Panggilan Ratu kini bernada sangat manja. “Beneran Mas kangen sama bawel aku?” tanyanya dengan mata menyipit.
Oh, Tuhan, betapa aku mencintainya!
Aku mencintainya, dengan segala kekurangannya!
“Mas belum jawab pertanyaanku.”

***
Menikahi Ratu yang cantik, cerdas, dan sang aktifis kampus adalah dambaan Handoko. Namun, setelah keinginannya terwujud, seiring berlalunya waktu, apa-apa yang semula begitu indah di matanya tentang Ratu berubah. Apalagi setelah satu per satu anak lahir. Baginya kini Ratu adalah istri yang sangat menyebalkan. Bawel.
Istri yang sangat bawel, anak-anak yang terlalu aktif, kemacetan lalu lintas yang kian hari kian parah, pekerjaan yang selalu menumpuk dan menyita waktu, serta atasan yang menuntut selalu perfect, adalah siksaan buat Handoko.
Hari-hari Handoko berubah lebih bergairah mana kala di kantornya kehadiran Silvana, seorang karyawati baru. Perempuan yang dari segi fisik memiliki nilai nyaris sempurna di mata para lelaki di kantornya. Ikuti kelanjutan ceritanya yang seru dalam novel in
i!
***

Judul buku ini berhasil membuat saya tertarik karena saya sendiri sering dijuluki bawel oleh orang-orang terdekat saya. Hobi ngomel dan protes ditambah dengan cerewet yang jadi bawaan sejak kecil membuat gelar bawel ini sering tersemat. Ha..ha.. Makanya begitu lihat judulnya dan baca blurb di belakang buku saya pun tertarik memilikinya. Tapi mengingat saat itu sedang nggak punya dana, akhirnya niat pun tinggal niat. Buku ini langsung gagal saya bawa ke kasir. Tapi saat akhirnya punya uang, buku ini gagal saya temukan dimana pun. Mau pesan online-pun saya lupa judul bukunya hanya ingat kata “Bawel”nya. Hingga akhirnya suatu hari saya mengunjungi stand Penerbit Andi di Book Fair dan tanpa sengaja menemukan buku ini. Akhirnya langsung saya beli (^_^)

Buku ini mengggunakan sudut pandang orang pertama dari kacamata Handoko. Ya, kembali saya disuguhi tulisan dari penulis perempuan dengan mengeksplorasi cerita dari kacamata laki-laki. Handoko adalah seorang laki-laki yang telah memiliki seorang istri dan dua orang anak. Istrinya, bernama Ratu dulunya adalah aktivis di kampus dan punya banyak penggemar karena kecantikan dan kecerdasannya.


Namun kini, setelah membina rumah tangga hubungan Handoko dan Ratu tidak seindah yang diharapkan. Handoko merasa bahwa Ratu terlalu memanjakan anak-anak mereka. Bahkan Handoko merasa bahwa Ratu jauh lebih peduli kepada Vina dan Vino, buah hati mereka. Kemudian muncul Silvana, karyawati baru yang memberi perhatian lebih pada Handoko. Hingga akhirnya perasaan Handoko mulai berpaling. Ia merasa Ratu yang sudah mulia tidak memperhatikan penampilan dan terlalu bawel malah membuat hidupnya semakin suram. Sedangkan Silvana yang perhatian dan lemah lembut ia rasa sebagai penyegar dalam kehidupannya.

Novel ini sebenarnya menjadi teguran halus bagi mereka yang sudah membina rumah tangga. Keluhan Handoko mungkin adalah keluhan sejumlah pria di luar sana. Tentang istri yang ketika di rumah tidak lagi berdandan untuk menarik perhatian suaminya dan lebih fokus mengurus anak. Menjadi lebih bawel dan terkesan banyak tuntutan.

Namun sikap Handoko pun tidak bisa dibilang benar. Sikapnya yang cemburuan dan seenaknya seolah tidak mau menjaga relasi baik istrinya. Serta sikap Handoko yang dengan mudahnya berpaling hanya karena merasa bahwa Ratu tidak lagi perhatian tanpa mencoba melakukan introspeksi diri pun bisa dipersalahkan. Terutama sikap dia saat tahu bahwa Ratu hamil. >_<

Cerita ini sebenarnya bisa lebih menarik diikuti jika disesuaikan dengan segmentasi pembaca dewasa. Sejujurnya menurut saya, gaya bahasa yang ingin dibuat lucu malah terkesan garing dan lebay *maaf*. Jika diubah menjadi lebih formal dan lebih serius akan terasa lebih menarik. Buku ini tentu diperuntukkan untuk pembaca dewasa, mereka yang sudah siap (ingin) menikah dan yang sudah menikah. Maka gaya bahasa semi casual namun tidak terlalu lebay akan lebih sesuai.

Selain itu, saya cukup heran saat di dalam percakapan ada tanda dalam kurung, “()”, yang memang dimaksudkan untuk menjelaskan. Kenapa penjelasannya tidak dibuat dalam kalimat pelengkap setelah percakapan saja? Contoh kalimat “aneh” ini adalah
“Kata Tita (temannya di sekolah), di Water Boom banyak permainan baru yang asyik-asyik dan seru loh, Pa...”
tulisan "(temannya di sekolah)" di kalimat di atas terkesan aneh. Kenapa tidak membuat kalimatnya menjad “Kata Tita, itu lho teman sebangku Vina, Pa. Katanya di Water Boom banyak permainan baru yang asyik-asyik dan seru lho, Pa...”

Kasus dalam kurung seperti di atas terjadi beberapa kali di dalam buku ini. Entah ini dianggap wajar oleh editor atau memang saya yang baru mengenal cara penulisan seperti ini. Tapi saya rasa penulisan seperti itu terkesan cukup aneh dalam penulisan percakapan langsung.

So, kesimpulan saya, dari segi cerita sih sebenarnya menarik dan dekat dengan realitas kehidupan rumah tangga sesungguhnya. Namun perlu “dirapikan” lagi cara berceritanya. Konflik-konfliknya pun sudah menarik dengan menggambarkan kecemburuan sekaligus penyelewengan dalam satu rumah tangga. Tapi penokohan sebaiknya semakin dikuatkan dan dibuat konsisten. Ratu ini entah tenang, entah bawel. Entah sabar, entah rewel.

 Semoga karya Annora Putri kedepannya bisa lebih baik lagi ya (^_^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar