Senin, 19 Mei 2014

Putih dalam Cinta




Penulis: Mursal Fahrezi
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: 2013
Jumlah halaman: 148 halaman
ISBN: 978-602-02-2903-4
Setelah empat tahun berlalu, akhirnya Manisha kembali pada suami dan anaknya, Ray dan Naira yang sudah tumbuh besar. Sayang, sang suami sudah terlampau kecewa karena perbuatannya. Ray merasa sakit hati lantaran Manisha dulu meninggalkannya dan menelantarkan anak mereka, Naira, yang saat itu masih berusia dua bulan.

Ray lalu berbaik hati memberikan Manisha kesempatan. Yaitu bisa tinggal di rumah besarnya sekaligus dekat dengan anaknya sendiri yang selalu memanggilnya dengan sebutan “tante” lantaran Ray bersikeras menyembunyikan bahwa Manisha adalah ibu kandungnya.

Jika cinta yang benar-benar putih nan suci itu ada, apakah kehidupan sepasang insan ini bisa kembali seperti empat tahun yang lalu?

***

Cerita dimulai dengan prolog yang kemudian saya ketahui sebagai klimaks dari novel ini. Di prolog ini digambarkan ketakutan Manisha karena akan dijauhkan dari anaknya, Naira. Di prolog ini ada tokoh Risa yang di bab awal tidak pernah disebutkan namanya.

Cerita pun dimulai dengan kemunculan kembali Manisha di hadapan Ray. Kehadiran Manisha yang telah meninggalkan Ray saat Naira, putri mereka, berusia 2 bulan tentu saja tidak membuat Ray senang. Namun, Ray juga tidak ingin memisahkan Manisha dari Naira. Ia tetap memberikan kesempatan kepada Manisha untuk mengambil hati Naira. Namun ia telah bertekad bahwa Manisha tidak akan bisa merebut hatinya lagi.

Ray yang ternyata sudah menjalin hubungan dekat dengan Risa, perempuan pemilik butik yang ia kenal setelah kepergian Manisha, sempat agak kebingungan untuk menjelaskan kedatangan Manisha kepada Risa. Risa yang akhirnya mengetahui keberadaan Manisha di rumah Ray kontan merasa terancam dan akhirnya mempengaruhi Ray dan bahkan mendesak Ray untuk menceraikan Manisha.

Manisha pun merasa tersudutkan. Ia yang masih mencintai Ray, memahami bahwa wajar Ray meninggalkannya setelah apa yang ia lakukan. Namun Manisha tidak bisa membayangkan jika dia harus terpisah lagi dengan Naira, putrinya.

Lantas, bagaimanakah hubungan yang rumit ini berakhir?

***
Membaca endorsment untuk novel ini membuat saya berharap banyak pada ceritanya. Blurb-nya pun sukses membuat saya tertarik dan membawa buku ini ke meja kasir. Saya pun memilih buku ini sebagai teman seperjalanan saat mudik.

Ide cerita dalam buku ini memang menarik. Saya pun jadi tertarik untuk tahu apakah Manisha akan berhasil memperbaiki rumah tangganya bersama sang suami? Apakah Manisha bisa membuat Naira menyayanginya dan Ray mencintainya kembali? 

Menggunakan klimaks sebagai prolog cerita ini membuat saya sempat kebingungan. Siapa Risa? Kok, tau-tau nongol di prolog tapi nggak jelas dia siapa? Dan pengulangan yang persis sama antara prolog dan klimaks cerita cukup mengganggu saya. Selain itu, saya pun sempat berfikir kok alasan Manisha meninggalkan Ray sesimple itu. Trus apa artinya cinta? Trus kenapa dulu dengan mudahnya Manisha menjawab “Iya” saat dilamar oleh Ray?


Selain itu, hubungan yang terbangun antara Ray dan Manisha selanjutnya membuat saya bingung. Kok Ray semudah itu melepaskan Manisha? Trus kok bisa sih Risa dengan mudah mengambil alih kendali atas hubungan Ray dan Manisha. Berarti Ray sebagai cowok, sangat mudah disetir, donk?! Semua keanehan ini membuat saya bingung karena penjelasan dari karakter tokoh-tokohnya yang tercermin di sepanjang cerita harusnya tidak membentuk kondisi itu.

Selain itu penerimaan Ray yang mudah atas kedatangan Manisha juga terasa lemah alasannya. Kalau memang ia sakit hati dan ingin menceraikan Manisha, lebih baik sejak awal dia tidak usah menerima Manisha di rumahnya.

Semua hal ini membuat saya kurang menikmati moment membaca buku ini. Emosi dalam buku ini kurang terbangun dengan baik. Kejadiannya seolah tanpa alasan yang kuat. Dan ini menggangu saya.

Dari segi cover dan dan ide cerita sudah menarik. Hanya saja emosi dari buku ini masih kurang diolah dengan baik oleh penulis. Semuanya jadi terkesan tiba-tiba dan membuat saya sebagai pembaca kebingungan.

Jadi, jika harus menyematkan bintang untuk novel ini, maka saya akan memberinya 2 bintang untuk cover novel dan ide ceritanya. (^_^)
***
Tentang Penulis
Mursal Fahrezi adalah nama pena dari Mursalin. Lahir dan tinggal di Palembang. Menulis adalah hobi yang sudah ditekuninya sejak tahun 2001 – sekarang. Ia menulis tema apa pun selama itu bisa menghibur pembacanya. Lima cerpen terbaiknya telah dimuat di tabloid Monica Palembang.

Karyanya yang terbit adalah Dear Cinta (Ping, Diva Press 2013), Malaikat untuk Kim Na Na (duet bersama Far Choinice, Ping, Diva Press 2013), Ya, Gue Cemburu (Ping! Diva Press, 2013), dan Sandaran Hati (Penerbit Zettu, 2013).
Novel ini adalah novel kelimanya yang terbit. Mursalin bisa ditemui di: Mursal Fahrezi (facebook), atau via email di mursalsalin@ymail.com
***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar