Rabu, 21 Mei 2014

Menyentuh Bayangan



“.... Aku pernah bilang jangan melarangku melupakanmu, tapi lupa membahas bahwa hatimu bebas terbang ke mana saja.” (hal. 120)


Penulis: Itut Wahidin
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: 2014
Jumlah hal.: vii+ 212 halaman
ISBN: 978-602-02-3790-9
Cinta pada bayangan… Benarkah itu yang dirasakan Naluri? Apa ini karena Figar sudah menikah? Pernikahankah yang membuat mereka harus menjalani hubungan cinta platonik ini?

Naluri gerah. Dia tidak bisa terus-menerus mencintai dengan cara seperti ini. Tapi justru di saat dia berusaha menghindar dari semua ini, satu demi satu, kebenaran mulai terungkap….
***

“Kamu takut terobsesi dengan hasratmu untuk mencintaiku” (hal. 4)

Kisah cinta terlarang memang menarik untuk diangkat. Tentang cinta yang tidak bisa dikendalikan akan singgah pada siapa? Kapan dan dimana? Bahkan terkadang di dalam orang yang paling logis sekalipun, cinta kadang tidak bisa diprediksi akan dilabuhkan pada siapa.

Kisah Naluri yang jatuh cinta pada Figar yang sudah memiliki istri. Tentang pilihan mereka untuk saling mencintai diam-diam. Tidak saling menyentuh namun terus saling berkabar. Bagi saya pribadi ini adalah pilihan yang menyulitkan diri sendiri. Dengan terus saling berkabar mereka akan semakin sulit melupakan satu sama lain. Dan itulah yang terjadi di dalam kisah ini.

Cinta diam-diam yang panjang dan dalam. Satu lagi kisah cinta yang suci namun tidak realistis. Pilihan-pilihan Naluri dan Figar yang seolah menikmati proses melukai diri sendiri ini. Kedekatan dan pendakatan yang unik di antara keduanya.

 Pengantar saya mungkin terkesan sinis. Namun cara penulisnya, Itut Wahidin, dalam menyuguhkan kisah ini bagi saya pun realistis. Meski terkesan naif. Karakter Naluri yang tertutup, logis, dan kalem benar-benar menjadi berbeda saat menghadapi masalah cintanya. Kelogisannya tetap saja tidak bisa menolak pesona dan keromantisan Figar. Surat beramplop biru, baju berwarna biru, dan rindu yang mengharu-biru.

Ceritanya mengalir dan enak diikuti. Namun sejujurnya kenikmatan membaca saya berhenti di halaman 183. Jika kisah diakhir di halaman itu, maka itu bisa cukup mengaduk-aduk emosi hingga akhir. Kelanjutannya terasa seperti tambahan yang sekedar ditempelkan dalam cerita. Saya lebih suka jika cerita ditutup saat Suci, istri Figar menghubungi Naluri dan menyampaikan sebuah kenyataan yang tidak diketahui Naluri.

Saya suka kisah ini. Menyugahkan dimensi baru menuturkan perselingkuhan dari orang-orang yang enggan menjadi penyelingkuh atau pelaku perselingkuhan. Tentang cinta yang terus disimpan meski merasa itu tidak mungkin. Tentang cinta yang terus menungga tanpa jelas ujung penantiannya.

Oiya, melalui buku ini saya juga jadi bisa membayangkan pekerjaan seorang freelancer yang bermodalkan skill berbahasa Jepang. Detail kehidupan tokoh Naluri terkait pekerjaannya sangat nyata dan tidak membosankan diikuti. Saya rasa ini ada hubungannya dengan latar belakang penulisnya sendiri. (^_^)

Oiya, untuk sampul, masih kurang menarik. Mengingat novel ini diperuntukkan untuk dewasa, sampul yang menggunakan gambar ilustrasi berwarna-warni ini terasa kurang elegan. Hm..Bagaimana dengan warna polos putih dan siluet perempuan?? *ha..ha..saya sok tahu soal layout dan ilustrasi padahal gak ngerti apa (>_<)*

Secara keseluruhan saya bisa menikmati karya ini. Tapi jadi kurang membekas karena ending yang terasa anti klimaks. Oiya, kutipan yang menggunakan huruf kapital semua yang terselip di beberapa bagian cerita juga cukup mengganggu saya. Kalimat-kalimat ini sebenarnya terasa sebagai kesimpulan tokoh yang berusaha dijelaskan untuk pembaca namun tidak menyatu dengan baik dengan cerita. Ketika dihapus pun saya rasa tidak akan ada masalah.

Hm..Jika harus menyematkan bintang untuk novel ini, maka saya menganugerahinya dengan 3 bintang. Terus berkarya ya, Mbak Itut Wahidin. Saya cukup suka dengan cara berceritanya. (^_^)v


“Keyakinanku tak goyah. Ini bukan perselingkuhan. Aku hanya mencintaimu dalam kebisuan. ...” (hal. 79)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar