Rabu, 07 Mei 2014

Fuurin



“Kupikir , itu gunanya teman, kan? Untuk saling merepotkan” (hal. 194)

 Penulis: Ghyna Amanda
Penyunting: Anida Nurrahmi
Perancang sampul: Aulia Annisa
Penata letak: Aldy Akbar & Teguh Tri Erdyan
Penerbit: Ice Cube
Cetakan: pertama, April 2014
Jumlah hal.: vi + 222 halaman
ISBN: 978-979-91-0708-4
“Rin, namaku Rin. Kamu?”
“Rin? Rin doang?” Singkat amat namanya, pikirku spontan.
“Iya, Rin doang, ‘rin rin rin’…”
Gadis yang mengaku bernama Rin ini melantunkan namanya dengan nada seperti ia sedang membunyikan sebuah lonceng kecil. “Artinya lonceng. Lonceng kan bunyinya ‘rin rin rin’….”

Kata siapa SMA itu masa paling indah? Buat Gesang, sejak hari pertama kelas sepuluh hidupnya justru jadi penuh masalah. Tidak punya teman sebangku, terpaksa duduk di depan meja guru, belum lagi tuntutan
orangtua tak sejalan dengan yang dia mau. Makanya di jam istirahat Gesang lebih memilih menyendiri sambil memainkan piano di aula atas. Di sana, dia bertemu Rin dari kelas dua belas. Tapi siapa, sih, yang mau
berteman sama Rin, si anak koruptor yang suka bolos, selingkuh dari pacarnya, dan mengambil uang klub buat foya-foya? Lantas kenapa Gesang rela masuk dalam perangkap yang bahkan tak pernah Rin siapkan untuknya?

***
Novel ini bercerita dengan menggunakan sudut pandang orang pertama dari tokoh bernama Gesang. Ini menarik karena penulisnya adalah perempuan, dan sejauh ini tidak mudah bagi penulis perempuan untuk menulis dari sudut pandang karakter laki-laki dan begitupun sebaliknya.

Tokoh utama bernama Gesang Ismaya ini digambarkan sebagai tokoh yang cuek dan tidak peduli pada hal-hal sekitarnya. Ia pun digambarkan sebagai laki-laki yang pendiam . Nama besar keluarga Ismaya sebagai pemilik Rumah Sakit Ismaya dirasa Gesang sebagai gangguan. Ini membuat orang memperhatikannya, sedangkan ia tidak pernah suka menjadi pusat perhatian. Sifat pendiam dan tidak peduliannya membuatnya sulit berbaur dengan orang lain. Ini membuatnya tidak memilki teman dan merasa tidak nyaman tinggal di kelasnya.

Akhirnya Gesang pun memilih menghabiskan waktunya di aula sekolah dan piano yang ada di tempat tersebut. Bagi Gesang, kehadiran piano tersebut bagikan oase bagi hidupnya. Kecintaannya pada musik ditentang oleh orangtuanya yang ingin ia menjadi seoarang dokter dan meneruskan rumah sakit keluarga.  Padahal Gesang ingin belajar musik secara serius.

Kesenangan Gesang bersama Pino, piano di aula sekolah, terganggu oleh kehadiran Rin secara mendadak. Suatu hari saat Gesang selesai memainkan Pino, Rin muncul dan bertepuk tangan. Sikap ceria dan suka seenaknya membuat Gesang merasa terganggu dengan Rin. Namun semakin mengenal Rin ia malah tidak bisa mengabaikan Rin.


Namun teman-temannya tidak menyukai kedekatan mereka. Ditambah semua cerita miring yang ia dengar tentang Rin. Namun Gesang mengetahui sebuah rahasia Rin yang membuatnya tidak bisa meninggalkan Rin. Hingga tanpa sadar muncul perasaan sayang Gesang kepada Rin. Sayangnya, Rin masih mencintai Reno, mantan pacarnya.
***

Cerita di dalam novel ini mengalir dengan manisnya. Cocok dengan para remaja. Cara Gesang menjaga Rin sangat manis. Proses berubahnya perasaan Gesang kepada Rin dari kesal menjadi sayang pun terasa smooth dan berhasil dibangun dengan baik.

Dari segi ide cerita pun sudah menarik walaupun sangat umum. Endingnya juga sangat wise. Pergolakan antara impian Gesang dan keinginan orang tuanya pun ditutup dengan manis. Sayangnya, cover buku ini kurang menarik. Tulisan “Fuurin” di sampul sulit ditangkap.

Jadi, berdasarkan itu semua saya menyematkan 3 bintang untuk novel ini.


“ Kamu tahu, Gesang, kadang-kadang kita butuh orang lain. Walau mungkin nggak akan bikin masalah kita selesai.” (hal. 64)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar