Jumat, 23 Mei 2014

Diorama Rasa



"Cinta? Sini kubilang, cinta itu seperti mangkuk yang bisa digunakan untuk apa saja dan diletakkan di mana saja." (hal. 175)



Penulis: Fadhila Rahma
Penyunting: Nurjannah Melynda
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Pemeriksa Aksara: Intan Dyah P & Tiasty
Penata Aksara: Arya Zendi
Foto Sampul: Satrio & Yudi
Penerbit: Bunyan (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: Pertama, Februari 2014
Jumlah hal.: x + 370 halaman
ISBN: 978-602-291-008-4
***

"Aku mencintai siapa pun yang mengikatku dengan pernikahan" (hal. 148)

Setelah sekian lama tidak membaca novel Islami, akhirnya saya tertarik membaca novel Diorama Rasa ini. Awalnya karena sempat iseng membaca bagian awal novel ini di toko buku. Saat itu saya melihat ada buku yang segelnya sudah dilepas entah oleh siapa. Melihat covernya yang ternyata dibuat dua side dengan gambar seorang perempuan berjilbab di satu sisi, dan gambar seorang pria di cover yang lainnya.

Saya pun memulai bacaan dari sisi laki-lakinya. Penuturan awal di buku ini menarik. Saya kemudian kembali mengecek penulisnya, ternyata kedua sisi ini ditulis oleh orang yang sama. Bagi saya, sebuah pencapain jika seorang perempuan berhasil menulis dengan sudut pandang karakter tokoh laki-laki. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, saya berhasil digugah untuk penasaran pada kelanjutan kisahnya. Akhirnya setelah sempat menyesal karena tidak segera membawa buku tersebut ke kasir dan kepikiran oleh buku ini selama beberapa hari, akhirnya saya berhasil memilikinya.

Saya memulai membaca novel ini dari sisi tokoh Adrian, seorang laki-laki yang berusia 30-an dan mapan, yang mulai memiliki keinginan untuk menikah. Ia belum menemukan sosok yang ingin ia peristri. Namun pikiran bahwa hidupnya tidak terasa lengkap karena belum ada seorang istri mulai sering mengganggunya. Ia pun melakukan sebuah hal impulsif yang berujung pada perkenalannya dengan Kara. Sejak pertama melihat Kara entah mengapa ia terdorong untuk memperhatikan perempuan itu. Hingga akhirnya terbuka jalan baginya untuk mengenal Kara. Dari sini perjuangan Adrian untuk mendapatkan Kara sebagai istri bisa kita ikuti.

Selama membaca dari sisi Adrian, saya menyimpan rasa  penasaran tentang status janda yang disandang Kara tanpa ada penjelasan lebih jauh tentang alasan ia bercerai. Kenyataan tentang dia pernah menikah diutarakan oleh beberapa orang serta bagaimana perceraian itu sempat membuat Kara depresi pun diketahui oleh Adrian dari orang-orang dekat Kara. Namun saat membaca dari sisi Adrian, tidak ada penjelasan jelas tentang hal ini.

Saat akhirnya membaca buku ini dari sisi Kara saya pun mulai paham tentang missing piece tersebut. Tentang alasan-alasan Kara yang tetap menjaga jarak dengan Adrian setelah Adrian menyampaikan keinginannya untuk menikahi Kara. Serta tentang sikap Kara yang seolah membiarkan Adrian berjuang sendirian atas hubungan mereka.

Saya bersyukur membaca buku ini dengan memulainya dari sisi Adrian karena dari sisi ini, kita akan tetap tertarik untuk membaca dari sisi Kara. Sedangkan saya pikir, jika kita mulai membacanya dari sisi Kara, maka bagian Adrian akan cenderung terasa membosankan karena ada beberapa pengulangan dan dari sisi Kara bagian tersebut jauh dituturkan dengan lebih lengkap. Jadi saya sarankan untuk memulai membaca buku dari sisi Adrian dulu agar kenikmatan membaca dari kedua sisi bisa terasa.

***
Membaca tentang cinta dan tema percintaan memang terasa lebih menarik. Bahkan dalam novel dengan lebel Islami sekalipun. Bedanya, yang diangkat bukan lagi kisah percintaan dan kegalauan dari masa pendekatan, pacaran, dan proses menuju pernikahan. Dalam novel Islami cerita cinta antara pria dan wanita diangkat dari sudut pandang yang lebih serius. Tentang keputusan untuk menikah tanpa menjalani proses pacaran demi menjaga kesucian cinta itu. Tentang keyakinan akan jodoh. Tentang penyerahan diri pada Tuhan dengan keyakinan bahwa Dia lebih tahu yang terbaik bagi hamba-Nya.

Kisah di dalam novel ini pun kurang lebih seperti itu. Bagaimana ikhtiar dan akhirnya proses tawakkal dan ikhlas yang berupaya dilakukan oleh Adrian dan Kara saat keingan menikah itu mendapatkan tantangan. Keduanya berikhtiar, bertawakkal, dan akhirnya berusaha ikhlas dengan cara masing-masing yang didasarkan pada pengalaman hidup masing-masing.

Yang agak berbeda dari novel ini adalah penggambaran sosok Kara sebagai janda di usia muda. Di Indonesia, terutama yang hidup agak jauh dari kota, kata “janda” masih memiliki stigma negatif. Perempuan lebih sering diposisikan sebagai pihak yang salah karena kata itu seolah menjadi cap bahwa ia gagal mempertahankan suaminya. Seolah itu adalah kesalahan perempuan sepenuhnya. Melalui novel ini penulis berusaha membagi opininya bahwa persepsi masyarakat tentang hal ini perlu dibenahi. Perempuan sebaiknya tidak lagi menjadi “tersangka utama” atas retaknya rumah tangga, atau dianggap sebagai “ancaman” karena berstatus “janda”, Bisa jadi perempuanlah yang menjadi korban. Karena sebenarnya jika seorang suami keukeuh ingin bercerai, maka perempuan tidak akan bisa punya pilihan lain. Sebab yang berhak menjatuhkan talak adalah suami dan perempuan hanya bisa menerimanya >_<

***

Nah, setelah membaca novel ini, saya pun harus mengakui bahwa saya menikmati membaca novel Islami. Dan saat membaca novel ini tidak muncul sedikit perasaan bahwa saya tengah digurui, yang sejujurnya sering saya rasakan saat membaca novel Islami. Oiya, saya pun baru menyadari bahwa novel ini tidak mengangkat Ayat atau Hadist tertentu. Mungkin itu yang membuat kesan digurui jadi tidak terasa. Namun ketiadaan Ayat dan Hadist bukan berarti membuat nilai-nilai Islami dalam novel ini hilang begitu saja. Nilai-nilai Islaminya bisa kita tangkap dari perilaku tokoh-tokohnya. Seperti sikap Kara yang berusah menjaga kehormatannya, sikap Adrian yang berusaha berbakti pada orang tuanya, sikap Adrian sebagai suami yang baik, serta sikap Kara yang berusaha menjadi istri yang baik. 

So, good job Mbak Fadhila Rahma atas keberhasilannya menulis buku ini. Plot yang menarik, penuturan cerita yang runtun dan enak dibaca, serta nilai-nilai yang berusaha dibagi dalam buku ini berhasil membuat saya suka. Pantas jika naskah ini menjadi Pemenang Kedua Lomba Menulis “1000 Wajah Muslimah”. Ah, jadi penasaran mencari buku yang jadi pemenang pertamanya (^_^)v4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar