Jumat, 09 Mei 2014

Dead Poets Society : Berdasarkan film karya Tom Schulman



“Kebanaran adalah selimut yang membuat kita ketakutan!” (hal. 114)
“... words and idea can change the world” qoute from Dead Poets Society movie


Penulis: N.H Kleinbaum
Penerjemah: Septiana Ferniati
Editor: Kurniasih
Desain dan Ilusrtasi Cover: Antorio Bergasdito
Layout: Satia Nugraha-ha
Jumlah hal.: 226 halaman
ISBN: 979-97652-0-x

Todd Anderson dan teman-temannya di Welton hampir tak bisa percaya betapa berbedanya hidup yang mereka jalani sejak guru bahasa Inggris mereka yang baru, sang flamboyan, John Keating, menantang mereka untuk “membuat hidupmu luar biasa!” Terilhami oleh Keating, mereka menghidupkan kembali Dead Poets Society –sebuah kelompok rahasia yang terbebas dari tekanan dan harapan pihak sekolah dan para orangtua, mereka biarkan gairahnya liar tak terkekang. Ketika Keating membawa mereka pada syair-syair indah karya Byron, Shelly, dan Keats, mereka tidak saja menemukan keindahan bahasa, juga pentingnya membuat setiap saat jadi bermakna.

Tetapi para anggota Dead Poets tak lama menyadari bahwa kebebasan yang baru mereka temukan itu bisa berakibat tragis. Dapatkah mereka dan pribadi yang mengilhaminya melawan tekanan pihak-pihak berwenang yang ditunjuk untuk menghancurkan mimpi-mimpi mereka?

***

“Dan jangan batasi puisi pada kata. Puisi dapat ditemukan dalam musik, selembar foto, dalam suatu cara makanan disiapkan –apa pun dengan hal pewahyuan di dalamnya. Ia bisa ada di dalam hal-hal yang paling sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari tetapi tidak harus, takkan pernah jadi biasa. ...” (hal. 111)


Saya baru saja menonton film Dead Poets Society yang dibintangi oleh Robin Williams ini. Filmnya sukses membuat saya menangis (T_T) terutama di beberapa bagian saat Neil berusaha memperjuangkan passion dia pada dunia akting. Namun orangtua terutama ayahnya sangat menentang hal tersebut.

Film dan buku Dead Poets Society ini sama-sama dibuat tahun 1989 *tahun kelahiran saya*. Isinya sangat menarik. Menggugat tentang sistem pendidikan saat itu. Dimana keseragaman membebani mereka yang memang berbeda. Tentang tuntutan orang tua atas pilihan-pilihan yang menurut mereka terbaik UNTUK anak mereka namun tanpa sadar hanya MENUNTUT yang terbaik dari anak mereka. Tidak jarang hal ini bertentangan dengan minat anak tersebut. 


Ada anak-anak yang karena bentukan sosialnya menjalani hal ini dengan penuh kepatuhan berpikir bahwa pilihan-pilihan untuknya sudah ditetapkan dan pilihan-pilihan lainnya sudah tertutup. Sosok ini tercermin dalam diri Todd Anderson. Ia yang memiliki kakak dengan prestasi gemilang akhirnya tersisih dan mencoba memahami bahwa hidupnya adalah untuk membanggakan kedua orangtuanya; yang berarti ia harus mengikuti semua perintah mereka. Ini karena ia tidak bisa membuat orangtuanya merasa bangga atas dirinya sebanding atau melebihi kebanggaan mereka atas prestasi kakaknya.

Ada pula Neil Perry yang dididik untuk memenuhi impian-impian orang tuanya seolah itu impiannya sendiri. Ini nampak dari dialog yang ada di buku Dead Poets Society ini:


“Kau punya kesempatan yang tak pernah kuimpikan!” teriak Pak Perry. “Aku takkan membiarkanmu menyia-nyiakannya.” (hal. 197)

Semua prestasi yang diperoleh Neil bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk membuat ayahnya bangga. Parahnya, sang ayah masih saja terus menuntut banyak hal dan  mengatur hidup Neil. 

Kehadiran John Keating sebagai guru bahasa Inggris yang baru mengubah hidup Todd, Neil, dan sahabat-sahabat mereka. John Keating menggugah mereka sejak kelas pertama. Ia mengajarkan mereka sebuah frasa yang hebat. Carpe Diem, yang dalam bahasa Inggri bermakna Seize the Day. Saat saya meng-googling makna Carpe Diem. Muncul tulisan berikut:


Carpe diem, adalah sebuah frasa dalam bahasa Latin yang artinya adalah: "Petiklah hari." (Horatius) Kalimat lengkapnya adalah: "carpe diem, quam minimum credula postero" yang berarti: "petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok."
Maksud kata-kata ini adalah orang dianjurkan untuk hidup memanfaatkan hari ini secara lebih optimal tidak menunda sesuatu untuk hari esok, dengan begitu kita lebih dapat memanfaatkan waktu yang diberikan secara optimal.
Kalimat ini sering disalahartikan sebagai "makan dan minumlah, karena esok kita mati".

Sangat menarik. Sayangnya dalam buku istilah Carpe Diem  ini diterjemahkan sebagai Raihlah Kesempatan. Saran saya makna kata Carpe Diem sebaiknya ditulis di awal novel, karena maknanya dalam bahasa Indonesia tidaklah sesimpel kalimat “raihlah kesempatan”. Saya lebih suka jika tulisan Carpe Diem ini dibiarkan tetap tertulis seperti itu.

Dihari pertama kelas bahasa Inggris bersama Mr. Keating, Todd dan teman-temannya digugah oleh Mr.Keating untuk berfikir tentang kehidupan mereka dan akan seperti apa mereka di masa depan. Ia membisiki mereka semangat Carpe Diem ini.

Pertemuan berikutnya, Mr. Keating membuat satu gebrakan lagi. Ia menyuruh semua muridnya merobek halaman pengantar dari buku mereka yang berisi petunjuk dalam menilai sebuah puisi. Ia menyampaikan bahwa ide seperti itu merusak. Bahwa puisi tidak bisa nilai dengan ukuran-ukuran seperti itu. Dalam filmnya ada kalimat ini:


“ We don’t write and read poetry because it’s cute. We read and write poetry because we are members of the human race. And the human race is filled with passion”


Ia mengajak murid-muridnya untuk ikut berkontribusi menghasilkan sebuah syair dalam kesadarannya sebagai seorang manusia.

Kelas-kelas Mr.Keating membuat Todd dan teman-temannya menikmati puisi sambil tetap kritis dan menemukan ide mereka sendiri. Suatu hari, Neil berhasil menemukan sebuah buku tahunan yang memuat profil Mr. Keating. Di dalamnya disebutkan tentang Dead Poets Society. Saat mereka bertanya pada Mr. Keating tentang perkumpulan tersebut ia menjawab:


“Dead Poets Society adalah sebuah perkumpulan yang dibuat untuk mengisap sum-sum kehidupan. ... . Nama itu merujuk pada kenyataan bahwa untuk bergabung dengan organisasi itu kalian harus mati. ... . Kehidupan benar-benar menjanjikan. Keanggotaan penuh membutuhkan masa belajar seumur hidup. Aduh, bahkan aku masih calon anggota rendahan.” (hal. 76 – 77)

Akhirnya, Todd, Neil, Charile, Knox, Pitts, Meeks, dan Cameron membentuk kembali Dead Poets Society dipimpin oleh Neil. Mereka melakukan pertemuan di malam hari. Membaca puisi dan mencoba menemukan passion hidup mereka masing-masing. Hingga akhirnya Neil menemukan dunia acting sebagai impiannya. Ini jelas bertentangan dengan keinginan ayahnya yang mengatur agar ia bisa menjadi dokter. Namun dorongan Carpe Diem membuatnya mengambil resiko. Hingga akhirnya ia terpilih memerankan peran utama dalam sebuah drama. Namun bisakah ia memperjuangkan mimpi ini dihadapan orangtuanya?

Ada pula Knox yang cenderung pendiam dan penurut berusaha melakukan sesuatu untuk mendapatkan Chris, kekasih dari anak sahabat ayahnya. Ia yang selalu diam, akhirnya berusaha mengejar Chris bahkan hingga melakukan hal gila yang tidak mirip dengan dirinya sendiri. Begitu pun Charlie yang mulai mencari kebebasan dengan caranya sendiri. Todd yang selalu minder dan tidak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri serta cenderung tertutup akhirnya berusaha menyuarakan dirinya. Mengeraskan suaranya, berani tampil membaca puisinya dan mulai berani mencintai dirinya sendiri meski disaat yang bersamaan dia meragukan kepedulian orangtuanya padanya.

Semua semangat Carpe Diem ini mengisi mereka. Namun sebuah tragedi datang. Menampilkan dunia nyata yang kejam. Bahwa menjadi berbeda dan mengejar passion kita sendiri tidaklah mudah. Lingkungan sekitar terutama orang tua adalah tantangan yang paling besar yang harus dihadapi dalam memperjuangkan impian ini.

Menonton dan membaca Dead Poets Society akan menggugah kita untuk memandang ulang banyak hal. Mungkin akan mengingatkan kita pada polemik di dalam diri sendiri. Tentang pilihan-pilihan dalam hidup dan tentang mimpi dan kenyataan.

Buku dan film Dead Poets Society ini menurut saya saling melengkapi. Ada adegan di dalam film yang diubah dan dihapus; ada juga cerita yang tidak terdapat di film namun ada di dalam bukunya. Membaca bukunya membuat saya semakin mengenali kraakter di dalam tokoh. Namun menonton filmnya membuat saya lebih bisa merasakan makna dari setiap puisi yang disebutkan karena dideklamasikan dengan menarik.
Untuk filmnya saya memberinya 5 bintang. Psst.. film ini bahkan menjadi salah satu film yang wajib di tonton oleh siswa sekolah menengah di Amerika. Filmnya juga berhasil memenangi Oscar.

Dan untuk bukunya saya memberinya nilai 4,5 bintang (^_^). Nilai setengahnya saya simpan sebagai wujud protes karena kata Carpe Diem diterjemahkan menjadi “raihlah kesempatan” yang menurut saya menyempitkan makna kata tersebut. (>_<)

Oiya, pengantar di buku Dead Poets Society ini pun menarik untuk dibaca dan ditelaah. Yang membahas tentang seragam dan keseragaman. Tentang menjadi berbeda ditengah keseragaman. Bisa jadi renungan menarik mengingat realita di masyarakat kita memang seperti itu.


“Anak-anak, ada kebutuhan yang amat besar dalam diri kita semua untuk diterima, namun kalian harus percaya betapa unik atau berbedanya kalian, bahkan jika itu janggal atau tidak populer. Sebagaimana dikatakan Frost,’Dua jalan bercabang di hutan, dan aku –aku memilih jalan yang jarang dilalui. Dan itu telah membuat segala sesuatunya berbeda.’” (hal. 129)


Saya teringat sebuah kalimat tentang “Lakukanlah seolah tidak akan ada lagi hari esok”. Dengan hal ini kita akan berusaha memberi yang terbaik yang kita punya seolah besok kita akan mati dan hari ini adalah kesempatan terakhir kita. 

Carpe Diem!!!


“Ada saat untuk berani dan ada saat untuk berhati-hati, dan seorang pria bijak memahaminya.” (hal. 159)

***
Quote
“Tunjukkan padaku hati yang terbebas dari mimpi-mimpi murahan, dan akan kutunjukkan padamu seorang pria bahagia!” (hal. 73)
“Jika orang mengalami peningkatan secara pasti dengan petunjuk mimpi-mimpinya, ia akan menemui kesuksesan tak terduga dalam waktu bersamaan.” (hal. 85)
“Saya selalu berpikir pendidikan adalah pembelajaran untuk berpikir sendiri” (hal. 157)
 “Kebiasaan-kebiasaan lama mengekalkan kehidupan yang mekanis.Kebiasaan-kebiasaan itu membatasi pikiran Anda.” (hal. 169)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar