Sabtu, 26 April 2014

Surat Untuk Ruth



“Kami ditakdirkan untuk tidak bersama. Walau kami mungkin bisa saling cinta.” (hal.38)


Penulis: Bernard Batubara
Editor: Siska Yuanita
Desain Cover: Marcel AW
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: April 2014
Jumlah hal.: 168 halaman
ISBN: 978-602-03-0413-7

 Ubud, 6 Oktober 2012

Ruth,

Satu hal yang ingin kutanyakan kepadamu sejak lama,
bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama?

Aku dan kamu tidak bisa memaksa agar kebahagiaan berlangsung selama yang kita inginkan.
Jika waktunya telah usai dan perpisahan ini harus terjadi, apa yang bisa kita lakukan?

Masihkah ada waktu untuk kita bersama, Ruth?

JIka memang kamu harus pergi, berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk menikmati saat-saat terakhir bersamamu. Meski tidak lama, hanya sebentar, seperti senja yang senantiasa kamu lukis, atau seperti ciuman pertama kita yang ragu-ragu. Berilah aku waktu sedikit lebih panjang untuk memelukmu, karena aku belum mengungkapkan seluruhnya yang ingin kukatakan kepadamu.

Ironis, Ruth. Kamu berkata “Aku sayang kamu” tepat pada saat kamu harus meninggalkanku.


- Areno
***

Novel ini adalah sebuah novel yang isinya didominasi oleh narasi. Tokoh aku bermonolog tentang semua hal terutama tentang kisah ia dan Ruth. Tokoh Aku bernama Areno Adamar atau akrab disapa Are. Are dalam buku ini diceritana sedang menulis surat untuk Ruth. Itu adalah cara ia belajar menerima keadaan bahwa ia tidak dapat bersama dengan Ruth, perempuan yang dianggapnya memiliki kecantikan misterius. Kecantikan yang membuatnya jatuh cinta.

Dalam novel ini monolog tokoh Are akan membawa kita mengenal lebih jauh Are dan kisah cintanya bersama Ruth. Pengalaman sebagai pihak yang dikhianati tidak membuatnya berhenti percaya bahwa masih ada cinta di luar sana. Kemudian ia bertemu Ruth, perempuan yang unik dan misterius. Ia jatuh cinta lagi.
Ruth sosok sangat tetutup. Kemisteriusannya tidak membuat Are mundur. Meski Ruth tak pernah berkata bahwa ia mencintai Are, namun ia yakin bahwa perasaanya berbalas. Hingga suatu hari Ruth memutuskan mengakhiri hubungan mereka setelah sebelumnya berkata bahwa ia menyayangi Are.

Dan surat itu membuat kita menyelami hari-hari yang dilalui Are setelah Ruth pergi. Bagaimana surat (yang kita intip isinya ini) menjadi media bagi Are untuk belajar merelakan. Bagaimana akhir kisah Are dan Ruth?


“..., apa pertanggungjawaban Tuhan yang telah menciptakan takdir? Apa yang ia lakukan untuk menyembuhkan sepasang hati yang, karena takdir, tidak bisa bersama? Apakah hikmah, jikapun ada, yang bisa Dia sampaikan kepada dua orang yang telah jatuh terlalu dalam namun harus menerima takdir bahwa pada akhirnya mereka harus berpisah?” (hal. 39)


***


“Cinta, menurutku, adalah hasrat untuk memiliki. Sementara “sayang” adalah keinginan untuk menjaga. Pada kondisi yang tak bisa kujelaskan, sayang berada pada pengertian yang lebih serius daripada cinta. Cinta sesaat, sayang selamanya. Cinta liar dan berapi-api, sayang tenang bagai air. Cinta menggebu-gebu, sayang cenderung meredam” (hal. 26)


Saya bukanlah penikmat novel narasi. Saya lebih suka dengan novel yang banyak dialognya. Lebih suka mengenal karakter dalam buku melalui interaksinya pada sekitar. Tipe bercerita di buku ini benar benar not my cup of tea. Jadi penilaian saya belum tentu fair.

Membaca buku ini saya merasa bosan berkali-kali. Namun karena bertekad untuk menamatkannya maka saya pun terus melanjutkan membaca dengan tempo yang berbeda-beda. Ada kalanya saya menikmati kecepatan (tidak saya skip..tapi benar-benar membaca tanpa memaknai). Hm..dibeberapa bagian cerita ini menarik diikuti, terutama ketika bercerita tentang percakapan antara Are dan Ruth serta kenapa hubungan mereka harus berakhir.

Oiya, syukurlah endingnya cukup membekas bagi saya. Ini adalah akhir yang tidak terduga bagi saya, namun entah mengapa saya jadi bingung, akhir cerita memang tak terduga namun terasa tidak konsisten. Bagaimana mungkia ia bisa terus menulis dalam kondisi seperti itu?

Ok, baiklah tanpa berpanjang-panjang lagi, saya memberi buku ini dua bintang untuk ending yang tak terduga dan cover yang manis. (^_^)v


“Pada satu titik, cinta akan habis tergerus, dan yang tersisa adalah sayang” (Hal. 26)




1 komentar:

  1. nice post sob..
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu...
    salam kenal yach...
    kunjungi blog saya juga ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    http://chaniaj.blogspot.com/ dan situs kesayangan kami http://oliviaclub.com
    serta sites.google kebanggaan kami https://sites.google.com/site/pokeronlineterpopuler/
    di oliviaclub.com poker online uang asli terbaik di indonesia dengan teknologi teraman dan tercanggih.
    main dan ajak teman anda bergabung dan dapatkan 20% referral fee dari house commision untuk turnover teman ajakan anda...

    BalasHapus