Selasa, 29 April 2014

Hari – Hari Salamander: Kumpulan Cerita Pendek Penulis Perempuan



“Pernahkah kalian merasa sendirian? Miliaran manusia yang hidup di sekitar kalian hanya lalu lalang tanpa bisa kalian raih.” Namaku Ai karya Lisa Febriyanti(hal. 42)


Penulis : BJD Gayatri, Debra Yatim, Deniya Patricia, Lisa Febriyanti, Nindya Paramitha, Suryani “One” Amin, Qorihani, Ni Putu Rastiti, Valentina Sagala, Yolaratna M. Kase
Editor: Heni Wiradimaja
Desain Grafis: pokjajambubatu
Tim Produksi: Nina Masjhur, Valentina Sagala
Foto: Olin Monteiro
Penerbit: Buku Perempuan
Cetakan: Tahun 2012
Jumlah hal.: 120 halaman
ISBN: 978-979-15460-3-4

 Setelah bulan lalu gagal mengikuti satu pun teman Baca Bareng BBI saya pun bertekad untuk mengikuti minimal salah satu tema di bulan April ini. Saat membaca bahwa salah satu temanya adalah tema perempuan saya pun bermaksud mereview tulisan tentang Kartini. Tapi akhirnya urung saya kerjakan saat melihat seonggok buku ini. Ah, sepertinya akan menarik jika saya ikutkan dalam Baca Bareng BBI ini.

Dan saat membaca cerpen pertama yang berjudul: Blues Biru dalam Kenangan  karya BJD Gayatri saya pun merasa tidak salah pilih buku. Buku ini memberi pengetahuan yang menarik tentang Gender. Tokoh “Johanna Muller” yang ada dalam cerpen ini benar-benar meruntuhkan gambaran tentang “perempuan” yang diciptakan atau dikonstruksi oleh masyarakat. Yah, cerpen ini sebenarnya kental dengan nilai-nilai feminisme dan upaya perjuangan kesetaraan gender. 


Cerpen kedua berjudul “ Hari-Hari Salamander” tidak mengangkat tentang nilai yang diusung oleh BJD Gayatri sebelumnya. Namun mengambil hal berbeda. Dengan cerita yang berfokus pada sepasang sepatu, dimana sepatu tersebut menyaksikan pasang-surut hidupnya dan ternyata sepatu tersebut pun menjadi sebuah saksi dari isu yang jauh lebih besar. Izinkan saya mengutipnya:


“Sepatu Salamander  saya ternyata mengusung begitu banyak impian, impian yang kini sudah usang dan tidak relevan. Tapi pada masanya, betapa kuatnya sebuah impian...” (hal. 26)


Ada 6 cerpen lain yang ada di dalam buku ini semuanya dengan ide yang beragam namun selalu memiliki sentuhan feminim. Tidak hanya tentang isu posisi perempuan dalam masyarakat namun juga cara bercerita yang lebih menyentuh hati. Yang lebih peka membahas hal sekitar. Semua cerpennya mempunya gaya khas masing-masing. Membaca buku ini membuat saya merasa lebih “kaya”. Bagaimana tidak, jika bahkan sebuah kisah tentang AIDS pun bisa memberi kita pelajaran hidup padahal ia hanya dituturkan dalam 12 halaman. Bagaimana tidak, jika kisah tentang “kelas Gender” yang dilakukan di salah satu pelosok daerah di Sulawesi Selatan bisa mengganggu stabilitas sebuah rumah tangga kecil?

Saya menikmati semua kisah dalam buku ini. (^_^)

Jika harus memberinya bintang, saya memberinya 4,5 bintang. Kok kurang 0,5 dari nilai sempurna? Hm..Karena sampulnya kurang sesuai. He..he.. (^_^)v

2 komentar:

  1. hehe covernya emang kurang nendang ya.. padahal kayaknya isu-isu yang diangkat di buku ini menarik deh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mbak. Isu-isunya menarik. Bikin kita mikir beberapa hal. Ringan tapi muatannya "berat" (^_^)v

      Hapus