Minggu, 06 April 2014

Daddy Long-Legs



“Menjalani hidup seperti yang tertera di dalam buku jauh lebih menyenangkan daripada menulisnya.” (hal. 59)


Penulis: Jean Webster
Penerjemah: Ferry Halim
Penyunting: Ida Wajdi
Pewajah isi: Aniza Pujiati
Penerbit: Atria
Cetakan: Februari 2010
Jumlah hal. : 235 halaman
ISBN: 978-979-1411-83-7

Jerusha Abbott (dia lebih suka dipanggil Judy) sudah mencapai usia kedaluarsa di Panti Asuhan John Grier. Artinya, dia seharusnya tidak boleh tinggal di sana lagi. Untunglah salah seorang dewan pengawas Panti Asuhan John Grier menawarkan kesempatan untuk mengirim Judy Abbott ke perguruan tinggi.

Satu-satunya syarat yang diminta adalah gadis itu harus menulis surat pada dewan pengawas tersebut setiap bulan. Si Tuan Budiman yang tidak mau diketahui jati dirinya itu cuma sempat dilihatnya dari jarak jauh, dan dia memiliki tungkai kaki yang luar biasa panjang—mirip laba-laba—sehingga Judy menyebutnya “Daddy-Long-Legs”.

Hidup Judy di perguruan tinggi diramaikan oleh teman-teman, pelajaran, pesta, dan persahabatan dengan si ganteng Jervis Pendleton yang kian bertumbuh. Dengan adanya begitu banyak hal yang terjadi dalam hidupnya, Judy hampir tidak bisa berhenti menulis!

***
Judy adalah anak panti yang mendapatkan keberuntungan. Ia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dari Daddy Long-Legs. Gelar ini ia berikan berdasarkan deskripsi sekelebat penyokongnya yang aneh. Ya aneh, karena syarat yang harus dipenuhi Judy untuk bisa mendapatkan bantuan tersebut hanyalah kewajiban untuk selau menulis surat pada pria tersebut.

Setelah itu, kita akan disuguhi cerita-cerita tentang kehidupan Judy di perguruan tinggi. Perasaannya saat bergabung dengan anak-anak perempuan normal yang memilii orang tua dan bahkan sebagia besar dari mereka berasal dari keluarga yang kaya dan terpandang. Ada pula cerita persahabatan Judi dengan Sallie McBride serta hubungan Judy dengan keluarga Pendleton khususnya Julia Pendleton dan Jervie Pendleton.

Novel ini menyuguhkan cerita tentang kehidupan Judy sejak ia masuk ke perguruan tinggi hingga lulus dari perguruan tinggi. Perjuangan Judy sebagai anak panti asuhan yang harus beradaptasi dengan kehidupan “elite” yang ia dapati di perguruan tinggi. Perjuangan Judy mengejar ketertinggalan pengetahuannya daripada teman-temannya yang lain terkait sastra klasik yang banyak dibaca oleh gadis-gadis dari keluarga kaya tersebut.


“Terima kasih karena telah membuat seorang siswa tingkat pertama yang sakit, jengkel, dan merana menjadi ceria. Mungkin, Anda memiliki banyak saudara dan sahabat yang mencintai Anda, dan Anda tidak tahu bagaimana rasanya kesepian. Tapi saya tahu.” (hal. 56)

“Kita membutuhkan karakter yang kuat bukan cuma untuk menghadi masalah-masalah besar dalam hidup ini. Setiap orang bisa bertahan terhadap terpaan krisis dan hantaman tragedi dengan keberanian. Namun, untuk mampu menghadapi gangguan-gangguan kecil sehari-hari dengan gelak tawa –menurut saya hal ini benar-benar membutuhkan semangat baja.” (hal. 63)
***

Hal yang selalu saya sukai dari membaca karya klasik adalah semangat positif yang ditinggalkannya setelah saya membaca buku tersebut. Buku ini adalah salah satu karya klasik yang saat ini sudah diterjemahkan ke berbagai negara, difilmkan, serta dibuat cerita “plesetan”nya di berbagai negara.

Saya pernah membaca sebuah  novel teenlit yang cara berceritanya sangat menarik yakni buku Life in refrigerator’s Door. Saat membaca buku tersebut saya merasa idenya sangat menarik. Namun membaca novel ini membuat saya berfikiri gaya penulisan di buku tersebut menjadi lebih biasa. Ini mengingat karya Jane Webster ini diterbitkan tahun 1912 dan menggunakan cara bertutur yang hampir sama.

Hebatnya, penuturan Judy yang bak monolog (bicara sendiri) dalam bentuk surat yang ia alamtkan pada Daddy Long-Legs nya membuat kita tetap merasa bahwa tulisan tersebut sangat meriah. Kita tetap akan bisa membayangkan Judy yang ceria serta interaksinya dengan orang lain walaupun tidak ada dialog yang berarti dan penceritaannya benar-benar terbatas oleh frame cerita sudut pandang personal yang dituturkan melalui surat.

Selain itu sikap kritis yang ceria adalah salah satu hal yang saya sukai dari buku ini. Di halaman 103 ditulis sebagai berikut,
“Siswa yang baik adalah mereka yang benar-benar memerhatikan detail secara teliti,” kata profesor kimia.
“Hati-hatilah jangan sampai mata kalian terpaku pada detail melulu,” kata profesor sejarah. “Berdiamlah dalam jarak cukup jauh agar bisa melihat perspektifnya secara keseluruhan.”
Jadi, Anda bisa melihat dengan jelas bahwa kami terpaksa menyesuaikan diri antara pelajaran kimia dan sejarah.

Apakah saya memahaminya dengan tepat? Penulis bersikap sarkas dalam bagian ini. Namun dituturkan dengan menarik. Dan bukankah kondisi ini masih terus terjadi dalam dunia pendidikan saat ini khususnya di Indonesia? (^_^)v

Ah, benar-benar buku yang mengundang senyum dan menyimpan banyak nilai moral. Dan seperti biasa jika harus memberi nilai untuk sebuah karya klasik, maka saya punya kecenderungan untuk memberi nilai yang tinggi. Izinkan saya memberinya nilai 5, masing-masing untuk cover yang menarik, cara bercerita yang unik, penokohan yang kuat, nilai moral yang terselip, dan sikap positif yang saya dapatkan setelah membaca buku ini.

“Sebagian besar orang tidak menjalani hidup, mereka cuma berpacu melawan hidup. Mereka berusaha meraih sasaran yang jauh di cakrawala, dan selama berjuang, mereka menjadi terengah-engah kehabisan napas serta indah. Kemudian, begitu sadar, mereka sudah tua serta letih, dan sudah tidak penting lagi apakah mereka berhasil mencapai sasaran mereka atau tidak.” (hal. 172)

***
Quote:
“Jangan menghakimi kalau kau tidak mau dihakimi” (hal.49)

 “Saya tidak sepaham dengan teori yang menyebutkan bahwa kemalangan, duka, dan kekecewaan bisa membuat kekuatan moral berkembang. Orang-orang bahagialah yang mampu menebarkan benih kebaikan.” (hal. 67)

“Anda tahu tidak, Daddy, saya rasa kualitas paling penting yang perlu dimiliki seseorang adalah imajinasi. Imajinasi membuat seseorang mampu menempatkan diri mereka di tempat orang lain. Imajinasi membuat mereka menjadi orang yang baik dan bisa bersimpati serta penuh pengertian.” (hal. 123)

“Sebagian besar orang tidak menjalani hidup, mereka cuma berpacu melawan hidup. Mereka berusaha meraih sasaran yang jauh di cakrawala, dan selama berjuang, mereka menjadi terengah-engah kehabisan napas serta indah. Kemudian, begitu sadar, mereka sudah tua serta letih, dan sudah tidak penting lagi apakah mereka berhasil mencapai sasaran mereka atau tidak.” (hal. 172)

“Kalian kaum pria seharusnya mampu membuat kami para wanita merasa penasaran, tapi sentuhan kalian kurang ringan.” (hal. 193)

“Hidup ini bersifat monoton; Anda harus sering sekali makan dan tidur. Namun, bayangkan betapa sangat monotonnya bila tidak ada kejadian tak terduga di antara sela-sela waktu makan.” (hal. 198)

“Saya mengenal banyak gadis (Julia, contohnya) yang tidak sadar bahwa mereka bahagia. Mereka terbiasa dengan perasaan itu sehingga seluruh indra mereka menjadi mati, tetapi bagi saya –saya benar-benar sadar setiap detik dalam hidup ini bahwa saya bahagia.” (hal.210)

P.S: Maaf, saya tidak bisa menahan diri untuk mencatumkan banyak quote menarik dari buku ini. Karena saya berharap quote-quote ini akan bisa dibaca oleh orang lain meskipun tidak bisa membaca buku Daddy Long-Legs ini.

6 komentar:

  1. Jadi daddy long legs nya siapa? *berharap minta dikasih spoiler* mirip candy2 ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidaaaakk..saya takut ditabok Massa..
      Jadi, Daddy Long-Legs itu ya.. bapak-bapak botak pakai tongkat dan serem.. tapiiiii..bohong sih..
      he..he..
      :P

      Hapus
  2. Aku pernah baca yg versi ilustrasinya, belum kesampaian baca novel lengkapnya nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, ada versi ilustrasinya?? Aku malah lebih dulu baca komik Korea yang mengadaptasi cerita ini..he.he.. (^_^)v

      Hapus
  3. Aku suka banget novel ini. Manis, lucu, dan penuh semangat.

    BalasHapus
  4. Aku suka banget novel ini. Manis, lucu, dan penuh semangat.

    BalasHapus