Senin, 17 Februari 2014

The Sherlockian



“Ketika kau menyingkirkan hal-hal yang mustahil, apa pun yang tersisa, betapa pun mustahil, pasti merupakan kebenarannya” (hal. 339)


Penulis: Graham Moore

Penerjemah: Airin Kusumawardani
Penyunting: Yulliya Febria
Proofreader: Widyawati Oktavia & Elly Afriani
Penata Letak: Erina Puspitasari
Desainer sampul: Gita Mariana
Penerbit: Bukune
Cetakan: I, November 2013
Jumlah hal.: xii+ 544 halaman
ISBN: 602-220-119-5
Arthur Conan Doyle mengerutkan alisnya dalam-dalam dan hanya memikirkan pembunuhan. "Aku akan membunuhnya." Dia bergumam.


Pada 1901,delapan tahun setelah warga London dikejutkan dengan "pembunuhan" Sherlock Holmes oleh Conan Doyle, penulis legendaris itu tiba-tiba menghidupkan Holmes kembali. Namun, sang Penulis tidak memberi penjelasan apa pun. Setelah kematian Conan Doyle, sebuah buku harian yang menjadi pintu masuk ke pikiran penulis misteri paling hebat di dunia itu menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi.


Namun, benarkah demikian?



Januari 2010.Setelah dilantik menjadi anggota Laskar Baker Street—klub elite peneliti Sherlock—Harold White tak pernah membayangkan akan memburu buku harian Conan Doyle. Kematian Alex Cale, pakar terkemuka yang bertahun-tahun telah mencari buku harian itu, mengubah segalanya. Tiba-tiba saja, Harold harus mengambil alih pemburuan buku paling dicari ratusan peneliti selama satu abad itu.Juga memburu sang pembunuh.

Bersiaplah memecahkan dua misteri paralel dari dua masa dan tempat yang berbeda dalam sebuah kisah yang begitu menegangkan!

****

"Autentik…, cerdik, dan gesit…, sebuah perjalanan dari kekonyolan menuju keagungan."
—Janet Maslin,New York Times

"Menghibur… cerdas… Moore memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai Holmes."
—Los Angeles Times

***

“Ketika ada keinginan untuk sebuah konsistensi, kita harus mencurigai adanya penipuan” (hal. 336)


Novel ini bercerita menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan 2 tokoh utama yang hidup di dua zaman yang berbeda. Mereka terhubung oleh satu hal yakni “buku harian yang hilang”. Harold White yang akhirnya diakui sebagai seorang Laskar Baker Street termuda seperti halnya Sherlockian lain memiliki ketertarikan dan rasa penasaran yang cukup besar pada buku harian Arthur Conan Doyle yang hilang. Conan Doyle memiliki kebiasan untuk menulis buku harian secara rutin. Namun ada satu seri buku hariannya yang hilang yakni pada rentang waktu 11 Oktober hingga 23 Desember 1900. Kisah Harold White bersetting waktu Januari 2010. 


Di lain bagian, kita akan disuguhi kehidupan Arthur Conan Doyle di rentang waktu yang sama dari Diari yang Hilang tersebut. Di bagian ini, Arthur-lah tokoh utamanya. Sikap Arthur tentang Sherlock Holmes, tokoh yang ia ciptakan juga ditampakkan dengan jelas. Di zamannya (dan mungkin hingga saat ini), sosok detektif Holmes sering kali dianggap nyata oleh pembacanya. Ternyata ini memberi tekanan tersendiri dalam kehidupan Arthur. Itulah mengapa Arthur memilih “membunuh” Holmes. Namun suatu hari, Arthur “menghidupkan” kembali Sherlock Holmes. Namun Holmes yang ia hidupkan berbeda dengan sebelumnya. Karakternya menjadi lebih sinis, praktis, dan seolah antipati pada kepolisian dan hukum. Penjelasan tentang hal ini lambat laun terbuka dalam cerita yang disuguhkan dalam bagian cerita di masa Arthur.

Harold White, berusaha semakin keras untuk mengejar buku harian yang hilang tersebut karena kematian Alex Cale, salah seorang anggota Laskar Baker Street, setelah mengumumkan bahwa ia telah menemukan buku harian yang hilang tersebut. Sebelum kematiannya, Alex sempat menyampaikan tentang perasaannya yang merasa selalu diikuti. Di hari yang seharusnya menjadi hari dimana Alex memperlihatkan buku harian tersebut, Alex ditemukan meninggal di kamar hotelnya dengan kondisi kamar yang berantakan dan sebuah pesar bertuliskan “Sederhana” sebagai sebuah pesan kematian.

Dari kejadian ini, Harold pun berusaha melacak pembunuh Alex sekaligus menemukan buku harian tersebut. Di sisi lain, kita disuguhi mengenai kehidupan Arthur Conan Doyle yang juga sedang berusaha memecahkan sebuah kasus pembunuhan. Ini seolah menjadi sebuah pembuktian sendiri oleh Arthur bahwa Sherlock adalah sebuah sosok fiktif dan ia lebih nyata dan lebih cerdas daripada sosok yang ia ciptakan tersebut.

Secara bergantian, kita disuguhi dengan kasus-kasus ini. Tentang Harold yang ditemani oleh Sarah Lindsey, seorang wartawan yang menemaninya dalam upaya memecahkan kasus Alex dan menemukan buku harian tersebut. Tentang perasaan Harold pada Sarah dan kucurigaan yang juga selalu menghampirinya tentang siapa sebenarnya Sarah dan mengapa pembawaannya selalu berhasil membantu Harold melewati moment-moment penuh krisis.

Berhasilkah Harold menemukan pelaku pembunuhan Alex Cale dan buku harian Conan Doyle? Apa yang terjadi di kehidupan Arthur Conan Doyle hingga membuat Arthur memilih menghidupkan kembali tokoh Sherlock Holmes yang ia benci?
***

“Apa artinya, Watson?.... Benda apa yang digunakan dalam lingkaran kepedihan dan kekerasan dan ketakutan ini? Semua pasti merujuk pada sebuah akhir.
Jika tidak, jagat raya kita diatur oleh kemungkinan, dan itu adalah suatu hal yang tidak terbayangkan” – Sir Arthur Conan Doyle dalam “The Adventure of the Cardboard Box” (hal. 345)

Buku ini dibuka dengan sederet pujian yang membuat saya berharap banyak pada buku ini. Syukurlah ekspektasi ini terbayar dengan manis. Keseruan membaca buku The Sherlockian ini sukses membuat saya susah tidur. Saya tanpa henti bertanya  tentang “Apa? Siapa? Kenapa? Bagaimana?” dalam kedua part cerita.

Cerita yang dituturkan bergantian antara kehidupan masa kini yang digambarkan dalam masa Harold dan kehidupan masa lalu yang menggambarkan kehidupan Arthur Conan Doyle juga berhasil menggoda saya untuk terus membuka halamannya. 

Cara penulis menuturkan cerita membuat saya bertanya-tanya apa ini diambil dari kisah nyata? Ini karena dimensi kehidupan Arthur Conan Doyle benar-benar terasa hidup. Cerita persahabatannya dengan Bram Stoker juga membuat saya tertarik untuk mencaritahu lebih banyak tentang kehidupan mereka berdua. 

Dan ternyata di akhir cerita kita akan diberi tahu bahwa novel ini mengadaptasi kehidupan nyata. Dan saya harus mengakui cara Graham Moore menuliskannya memang memikat. Ah, saya jadi ingin membeli buku karyanya lagi (>_<) *memaksa diri puasa belanja buku!!!!*


Ah, rasanya saya ingin memberi 5 bintang pada buku ini. Sayangnya sampulnya masih kurang menarik  bagi saya. Jadi, izinkan saya memberinya 4,5 bintang. (^_^)v

saya lebih suka cover edisi ini (^_^)
Ah, saya jadi semakin addict pada novel-novel detektif. 

“Kebenaran apa pun lebih baik daripada keraguan tiada akhir” (hal. 441)
***
Quote
“Pengobatan adalah ilmu yang sangat tidak pasti. Bidang tersebut lebih pantas disebut seni daripada fiksi.” (hal. 158)

“Cinta berubah menjadi penurut seiring bertambahnya usia, seperti seekor anjing pemburu yang setia. Cinta menjadi sesuatu yang mulia dan berharga, dijauhkan dari dunia dan dikunci dalam kotak perhiasan. Cinta tumbuh menjadi sesuatu yang dapat diandalkan – cinta adalah telur, cinta adalah ham, cinta adalah surat kabar pada pagi hari.” (hal. 159)

“Kurasa aku menyukai pemikiran bahwa masalah selalu memiliki solusi. Kurasa, itulah daya tarik cerita-cerita misteri, entah itu cerita Holmes atau yang lainnya. Dalam cerita-cerita semacam itu, kita hidup di dunia yang bisa dimengerti. Kita hidup di sebuah tempat yang setiap masalah memiliki sebuah solusi, dan jika kita cukup pintar, kita bisa mencari tahu solusi tersebut.” (hal. 397)

“Keadilan itu tidak mutlak, tapi jawabannya, setidaknya, wajib ada.” (hal. 399)

“Harold sadar pada saat itu bahwa masalah tanpa solusi bukanlah sesuatu yang menjengkelkan, melainkan sensasi yang paling gila dan paling mengerikan di seluruh dunia.” (hal. 426)

“Tipuan yang ditulis dengan baik selalu memangsa anggapan pembacanya. Sesuatu yang ditulis dengan mudah dianggap sebagai suatu kebenaran oleh pembaca –karena, bagaimana mungkin tidak?- ternyata salah. Sesuatu yang tidak dipertanyakan akhir dipertanyakan. Sesuatu yang rasanya tidak butuh diamati akhirnya diamati, dan sebuah jawaban berhasil ditemukan di tempat yang paling tidak terduga.” (hal. 467)
***
Tentang Penulis
Graham Moore, lulusan Universitas Kolombia. Ia dibesarkan di Chicago, yang sangat dingin. Kemudian, ia pindah ke New York, yang tidak terlalu dingin meskipun -anehnya- orang-orang yang tinggal di sana menganggap sebaliknya. Sekarang, dia tinggal di tempat yang sama-sekali-tidak-dingin, yaitu Los Angels, meski ia pernah berfikir tak akan pernah tinggal di kota itu. Hidup itu memang lucu.

“Arthur memperhatikan kondisi hubungan internasional di sana: heroin dari Jerman, morfin dari Inggris, opium dari Cina, dan semuanya digunakan dengan bebas hingga semua orang tidak sadarkan diri dalam dunia khayalan mereka masing-masing” – The Sherlockian
Tidakkah ini seperti menggambarkan dunia interkoneksi saat ini yang kita sebut dengan globalisasi
 ***
Review ini saya ikutkan dalam RC berikut:







Tidak ada komentar:

Posting Komentar