Rabu, 26 Februari 2014

Seribu Kerinduan


“... sometimes, we need to stop blaming the past and start creating the future.” (hal. 175)
 
sampul buku dan halaman yang ditandatangani oleh Mbak Herlina P Dewi (edited by Fotorus App)

Penulis: Herlina P Dewi
Editor: Paul Agus Hariyanto
Proof reader: Tikah Kumala
Desain cover: Teguh Santosa
Layout Isi: Deeje
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: I, November 2013
Jumlah hal.: 242 halaman
ISBN: 978-602-7572-19-5

Sudah, jangan lagi kamu menghakimiku. Jangan lagi kamu memperolokku. Percuma saja. Aku sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi, kecuali rasa kebas ini. Dan sekarang, biarlah kehidupan memilihkan jalan untukku. Menjadi pelacur.”

Renata, seorang fashion editor dengan karier cemerlang di kantornya, harus pasrah pada keadaan. Setelah berpisah dengan Panji, lelaki yang sudah dipacari selama empat tahun karena perjodohan biadab itu, dia pergi ke semua tempat yang pernah mereka singgahi untuk menelusuri jejak-jejak kebersamaan. Hidup menjadi sangat membosankan baginya, karena hari-harinya kini hanya dihabiskan untuk mengenang Panji. Dia pun lantas memilih menjadi pelacur, karena dengan profesi barunya itu, dia kembali merasa dicintai, dihargai, dibutuhkan, dan disanjung.

Namun, ia sadar, menjadi pelacur hanyalah sebuah persinggahan sebelum dia benar-benar melanjutkan hidup sesuai dengan keinginannya. Lantas, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin dijalaninya? Tanpa Panji? Bisakah?

***

Buku ini bercerita tentang Renata yang karena patah hati, akhirnya hidupnya berantakan. Saat patah hati, ia pun kehilangan semangat hidup dan berujung dengan dipecatnya ia dari pekerjaan yang sangat ia cintai yakni sebagai fashion editor. Ia pun merasakan kekosongan dalam hidupnya.

Selama proses patah hati ini, Renata kemudian memilih pekerjaan sebagai pelacur. Seolah ingin memperlihatkan kepada dunia kemarahannya. Tentang ia yang jatuh dan hancur karena apa yang dilakukan dunia padanya. Dunia merenggut cintanya dan pekerjaan yang ia cintai. Dan ia merasa bahwa pertemuannya dengan Dion, membuka pintu untuknya menjadi pelacur. Ia merasa inilah pilihan yang diberikan dunia. Lantas ia pun memutuskan untuk menjadi “pelacur elit”. Menjadi pelacur membuatnya merasa dibutuhkan, diinginkan dan dicintai.

Tapi sampai mana Renata bertahan memendam kemarahan dan sakit hati itu? Berapa lama ia akan menjadi pelacur? Seumur hidupkah? Apakah dengan menjadi pelacur ia akan bisa melupakan Panji?


“.... Kalau kita terus-terusan menyalahkan masa lalu, kita justru akan terus hidup bersamanya, dam semakin sulit melepaskan diri.” (hal. 175)

***
Aku ingin melupakan semua kesunyian malam ini.
Itulah sebabnya aku menulis,
agar aku bisa mengubah senyuman menjadi rindu,
gelap menjadi kenangan,
dan beku menjadi cinta.
(Renata Kumala – fashion editor novelist)

Kutipan di atas adalah pembuka dari novel ini. Kalimat yang manis dan membuat saya mencoba meresapinya. Cerita di dalam novel ini menggunaka sudut pandang orang ketiga. Dengan berpusat pada kehidupan Renata serta sesekali cerita kehidupan Panji. Dengan menggunakan alur maju-mundur, kita disuguhkan kisah masa kini yang terjadi karena alasan di masa lalu.

Cerita dimulai dengan mengambil suasana Renata yang sedang patah hati. Renata yang masih belum bisa melepaskan Panji, akhirnya kembali dibayangi oleh cerita masa lalu saat ia dan Panji menemui orang tua Panji. Setelah itu alur maju-mundur ini terus dipakai oleh penulis untuk menjelaskan kehidupan cinta Panji dan Renata di masa lalu.

Panji yang akhirnya gagal membujuk orang tuanya agar mau menerima Renata ternyata malah dijodohkan dan tidak bisa menolak hal itu. Renata akhirnya ditinggalkan dengan hati yang hancur. Renata bahkan sempat datang ke pernikahan Panji dan Ayu. Sepulang dari sana Renata malah dipecat dari kantor akibat sering mengabaikan pekerjaannya sejak putus dari Panji.

Setelah itu kita disuguhi pergelutan batin Renata yang marah terhadap dunia. Hingga akhirnya bertemu Dion dan sejak itu menjadi pelacur. Ia pun kemudian berteman baik dengan Dion.

Sejujurnya saya harus mengangkat jempol untuk cara Herlina P Dewi menggambarkan patah hati Renata. Sangat real dan membuat saya bisa ikut merasakan kesedihan dan kemarahan-kemarahan Renata. Penulis juga berhasil membangun penokohan yang bagus. Buktinya, saya berhasil dibuat memendam kesal pada sosok Panji yang ternyata anak mama. Tidak mampu mempertahankan Renata, dan malah memilih tunduk pada perjodohan padahal dia adalah LAKI-LAKI DEWASA!! *wuih, huruf kapital semua*

Cerita kehidupan Renata menjadi menarik untuk diikuti selain itu menyajikan pemahaman baru tentang dunia prostitusi. Bahwa yang menjadi pelacur tidak hanya karena kekurangan materi, namun punya kebutuhan tertentu seperti ingin merasa dicintai, serta alasan-alasan lain.

Namun, sayangnya ending ceritanya kurang nendang. Argh..harus ya..harus yaaaaa 
*pengen nimpuk Renata.. ditimpuk balik sama mbak Herlina*

Covernya? Hm..bagus dan menampilkan “kesenduan” tentang kerinduan dan luka hati Renata. Sesuai dengan isi novel. Tapi rasanya kok saya agak ragu cover ini akan menarik mata saat dipajang di toko buku. 

Jika harus menyematkan bintang untuk buku ini, maka saya memberinya 3,5 bintang untuk alur cerita yang menarik, karakter tokoh yang kuat, dan patah hati yang menggigit. (^_^)v

***

Quote
“Buat Renata, writing is healing.Dia bisa menumpahkan semua perasaanya lewat tulisan, dan setelah itu, dia berharap semua beban hidupnya bisa terobati” (hal.219)

“...menulis adalah sebuah aktivitas paling terpencil di dunia” (hal. 235)

***
 Review ini saya ikutkan dalam RC berikut:




11 komentar:

  1. Balasan
    1. Iya, menampilkan sebuah cerita yang membuat kita memandang dari sisi yang berbeda dari yang selama ini kita pahami (^_^)

      Hapus
  2. Semoga yang pada baca buku ini bisa mengambil pelajaran ya, mba. Jujur, serem juga sih baca reviewnya. Renata saking patah hati, sepatah-patahnya sampe merelakan diri jadi pelacur. Kalo saya pribadi berarti harapannya kalo baca buku ini semoga sekalian bisa belajar psikologi atau kejiwaan, gimana cara punya coping mechanism yang baik, supaya ga loncat jauh banget kayak Renata huehehe #kayakyangmaupatahhatiaja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kita bisa belajar dari sebuah buku tergantung sudut pandang kita. Memang seharusnya kita jadi bisa ikut berfikir tentang keputusan-keputusan Renata dan benarkah pilihan-pilihannya itu?

      Hapus
  3. O my God, kalo aku patah hati aku nggak mau jadi Renata. *sadiss. Oia mbaaaak kenapa endingnya dibocorin? Aaaa aku jadi tau deh kalo akhirnya gimana :'(

    BalasHapus
  4. Sedikit terkejut saat baca reviewnya Mbak Atria, dari review blog sebelah nggak disebut kalau Renata nya berubah haluan jadi pelacur. Eyaampun, mungkin jangan bilang-bilang kali ya, setidaknya nggak asing sama nama Renata, Panji, dan Dion :D

    BalasHapus
  5. Patah hati dan memilih jadi pelacur!?? :O *syok

    Sumpah jadi penasaran pengen memasuki pikiran Renata >.< Segitu putus asa atau sakit hatinya atau dendamnya ia sampai melakukan hal itu?!! Ih penasaran ih u.u

    BalasHapus
  6. Rikzan Ubaidillah12 Maret 2014 11.03

    Mengharukan dan menghanyutkan. Membuatku paham, bahwa wanita jika patah hati akan sanggup melampiaskannya dengan melakukan tindakan yang nyeleneh.

    BalasHapus
  7. wah novel yang sangat menyentuh, melihat kehidupan dari sisi yang tak lazim bagi kebanyakan orang.

    BalasHapus
  8. Wah,, sedikit terkejut dgn tokoh renata yang menghancurkan hidupnya karena kerinduan yang mendalam, mengharukan & menyentuh seakan mengajarkan bahwa didunia ini apapun bisa terjadi..

    BalasHapus
  9. Wah reviewnya detail banget…
    setiap orang pasti mersakan yang namanya rindu.
    Membahas soal kerinduan memang sesuatu yang tak akan pernah bosan untuk diulas. Apa lagi disajikan dalam bentuk novel, kerinduan memang sesuatu yang sangat menarik untuk diulas.
    Covernya saja sudah kentara banget menggambarkan sepi, kelam, dan kerinduan. Duh melancholic abisssssss. Saya banget deh. Sepertinya bacaan yang cocok untuk saya #Eaaaaaa *bukan kode kok :D

    BalasHapus