Jumat, 28 Februari 2014

Kelas Memasak Lilian



“... koki sejati, yaitu orang yang dapat membaca orang dan rempah-rempah, dapat mengantisipasi reaksi orang sebelum mereka kali pertama mencicipi hidangan.” (hal.11)



Judul Asli: The School of Essential Ingredients
Penulis: Erica Bauermeister
Penerjemah: Word++ Translation Service
Penyunting: Otaviani
Desain Sampul: Tyo
Ilustrasi isi: Wisnu
Pemeriksa Aksara: Novianita, Morien Gloree
Penata aksara: Bowo
Penerbit: Bentang
Cetakan: 2009
Jumlah hal.: x +234 halaman
ISBN: 978-979-1227-74-2

Setiap makanan memiliki keajaiban. Rempah dan bahan makanan bahkan bisa menuturkan kata-kata. Begitu yang diyakini Lilian kecil. Ia masih ingat keajaiban yang muncul di rumahnya berkat segelas susu bercampur kulit jeruk dan bermacam jenis rempah istimewa. Setelah mereguknya, sang ibu yang telah sekian lama tenggelam dalam kesedihan kembali mengingat hidup yang terlanjut ia abaikan.

Bertahun-tahun kemudian keajaiban itu dirasakan oleh seluruh siswa dalam kelas memasak yang diadakan Lilian setiap Senin mala. Satu per satu dari mereka diubah oleh aroma, cita rasa, dan tekstur makanan yang mereka masak, termasuk kue dengan krim putih yang mencetuskan pikiran sedih mengenai betapa rapuhnya sebuah pernikahan dan saus tomat pedas yang tampaknya menggairahkan sebuah cinta, tetapi justru mengakhiri cinta yang lain.

Perlahan, rahasia memasak Lilian menembus keluar dapur dan menyebarkan harapan bagi hati yang berduka dan terluka. Seperti lezatnya hidangan yang penuh keajaiban, begitu pula kehidupan mereka yang menjadi lebih baik untuk dinikmati.

“sebuah papan aroma, rasa, dan pertemanan dalam dunia kuliner”
-Seattle Post-Intelligencer

***

“... cinta adalah sesuatu yang tidak membutuhkan kartu ucapan agar kalian mengingatnya.” (hal 189-190)

Buku ini adalah sebuah buku yang bercerita tentang keindahan dalam dunia kuliner. Bagaimana racikan dan makanan bisa merepresentasikan kehidupan dan bahkan mempengaruhi kehidupan manusia. Makanan tidak lagi hanya bernilai sebagai pengisi perut dan penambah tenaga semata.

Buku ini menceritakan tentang kehidupan Lilian dan kursus memasaknya serta murid-murid yang ada di kelasnya. Lilian kecil yang “trauma” dengan buku karena melihat ibunya tenggelam dalam rangkaian kata, menemukan bahwa ia bisa merenggut perhatian ibunya melalui sebuah masakan. Mencampur minuman ibunya dengan sebuah resep “ajaib” yang berasal dari rempah dan kulit jeruk yang ia masak dengan penuh cinta dan harap.

Setelah itu, cerita maju ke saat Lilian telah memiliki restoran sendiri dan membuka kursus memasak setiap Senin malam di dapur restorannya. Di sini, cerita berpindah dari satu kehidupan ke kehidupan lain. Masing cerita mengambil sepotong kehidupan murid Lilian dan pengaruh kursus memasak tersebut pada hidup mereka.


Ada Claire yang mulai meragukan eksistensinya sendiri sebagai sosok yang memiliki sebuah identitas sebagai individu mandiri. Ia lebih dikenal sebagai istri James, atau ibu dari anak-anaknya. Ia bahkan mulai lupa bagaimana rasanya menjadi seorang pribadi yang kebahagiaan dan kehidupannya tidak tergantung dari suami atau anak-anaknya. Ini membuatnya merasa bingung dalam bersosialisasi dengan orang lain. Ia pun mengikuti kursus memasak Lilian, dan pada moment itu ia menemukan jawabannya melalui proses memasak kepiting.

Cerita berpindah ke kehidupan Carl. Carl mengikuti kursus memasak Lilian bersama dengan istrinya, Helen. Menu kue perkawinan putih, membuat Carl bernostalgia pada kehidupan pernikahannya yang indah namun berbumbu luka setelah mengetahui dari mulut Helen sendiri, bahwa istri yang sangat ia cintai telah menjalin affair dengan laki-laki lain. Pada akhirnya ia menyadari bahwa resep pernikahan yang langgeng dan bahagia itu tidak ada.

Setelah itu, cerita berpindah ke sisi Antonia. Ia bekerja sebagai dekorator dapur. Ia menghadapi sebuah dilema saat melihat sebuah dapur tua yang membuatnya jatuh cinta namun oleh pemiliknya yang baru ingin diubah menjadi dapur yang modern dan minimalis. Antonia tidak tega menghancurkan dapur yang menggambarkan kehangatan sebuah keluarga besar yang entah sudah menjadi bagian manis kenangan dari berapa generasi. Namun saat bersama-sama menyiapkan menu Thanksgiving di kelas memasak Lilian, ia pun menemukan cara untuk mempengaruhi pemilik tersebut agar mempertahankan dapur yang indah itu.

Cerita berlanjut ke kehidupan Tom, pria yang selalu berwajah muram di kelas memasak Lilian. Ia kehilangan cinta sejatinya. Ini membuatnya berduka berkepanjangan. Ia bergabung ke kelas Lilian dan akhirnya berusaha membuat dirinya bisa menerima kehilangannya tersebut.  Memasak spagheti dan saus pasta membuatnya belajar menghadapi masa lalunya bersama Charlie, istri yang dicintainya dengan sepenuh hati, yang sangat piawai memasak dan mencintai memasak.

Chloe, gadis paling muda di kelas memasak Lilian, mendapati dirinya adalah seorang penggugup dan kikuk. Maka wajar jika ia sering menjatuhkan barang atau memecahkan piring saat bekerja sebagai pelayan di restoran. Ia memiliki seorang kekasih , Jake, seorang koki di sebuah restoran tempat ia sempat bekerja. Namun ternyata kehidupannya tidak membaik. Hingga akhirnya ia pun belajar membuat saus tomat di kelas memasak Lilian. Ia kemudian menyadari potensi dirinya dan membuatnya berani melangkah dan mengambil keputusan.

Setelah itu, ada Isabelle perempuan setengah baya yang mulai mengabur ingatannya. Kenangan-kenangannya bercampur baur. Antara kenangan 10 tahun yang lalu dengan dua tahun lalu ataupun kenangan kemarin. Di tengah itu semua dia harus mengobati luka hatinya atas pengkhianatan suaminya. Dan dia memperoleh ketenangan di restoran dan kelas memasak Lilian.

Selain cerita dari sisi Carl, ada pula cerita tentang affair yang dilakukan Helen dari sisinya sendiri. Bagaimana ia akhirnya menyadari bahwa ia sangat mencintai Carl namun sudah melukai pria itu. Ini adalah proses yang panjang bagi seorang Helen.

Dan terakhir, kisah ditutup dengan usaha Ian, salah seorang murid di kelas memasak Lilian yang akhirnya menemukan kekosongan hidupnya dan jatuh cinta pada Antonia. Ia pun berjuang mendapatkan hati Antonia dengan masakan. Berhasilkah ia?

Apakah yang membuat kelas memasak menjadi sesuatu yang spesial dan memiiki makna yang lebih dalam dari sekedar berkutat dengan bumbu dapur dan menghasilkan makanan yang enak?

“Kalau kalian jujur dengan apa yang kalian kerjakan, kurasa perhatian dan rasa hormat akan mudah kalian dapatkan.” (hal. 45)

***

“Manusia belajar Rory. Aku benci kalau memikirkan ada usia yang membuat kita harus berhenti.” (hal. 175)
Maaf untuk sinopsis yang kepanjangan. Saya tidak ingin melewatkan hal-hal yang penting dari cerita-cerita dalam buku ini. Bagi anda ini spoiler? Saya yakin bukan. Karena untuk menikmati isi bukunya pembaca harus benar-benar membaca langsung bukunya.

Selama membaca novel ini saya merasa bahwa penulis membuat kegiatan memasak seperti sebuah sihir. Ya, bagaimana memilih wangi yang tepat untuk memperbaiki suasana atau mood seseorang , serta tentang bagaimana proses sebuah makanan dari memilih bahan hingga sampai di meja untuk dihidangkan memiliki makna yang dalam berkaitan dengan kehidupan.

Saya yang masih sangat asing dengan dunia kuliner apalagi yang profesional (mengingat saya anak kostan yang lebih familiar dengan menu sederhana dan praktis seperti sup ayam, tumis kangkung, ayam goreng, dll) cukup kesulitan menangkap semua proses memasaknya. Namun membaca kata-kata dalam buku ini membuat saya merasa bahwa bahwa kegiatan memasak itu ternyata indah dan penuh sihir ya. (^_^)

Saya suka dengan buku ini. Dan menariknya proses penerjemahan buku ini dilakukan menggunakan “Word++ Translation Service”. Jadi pujian perlu diberikan pada editor yang membuat buku ini tidak terlalu sulit dicerna.

Hanya satu yang ingin saya protes dari buku, kenapa judulnya harus “Kelas Memasak Lilian”? Kenapa tidak judul aslinya saja? Karena kelas memasak Lilian hanyalah media dan bukan inti dari cerita. (>_<)
Dengan mempertibangkan semua ini , saya memilih menyematkan 4 bintang untuk buku ini. Cerita yang menarik, cara bercerita yang mengalir dan indah, cover yang manis, dan terjemahan yang cukup baik membuatnya layak mendapatkan 4 bintang itu. (^_^)

***
Quote

“Dalam dunia Lilian, buku adalah sampul dan kata-kata adalah suara dan gerakan, bukan bentuk” (hal. 7)

“... reaksi orang pada rempah-rempah tampaknya sama dengan reaksi mereka pada orang lain. Mereka dapat bersikap santai dengan sendirinya kepada sebagain orang atau sebaliknya gemetar sampai-sampai perasaannya membeku ketika bertemu orang lain.” (hal. 11)

“... tidak semua ranting dalam sebuah sarang itu lurus.” (hal. 73)

“Pernikahan adalah sebuah lompatan kepercayaan. Kalian adalah jaring pengaman masing-masing.” (hal. 74)

“... hidup itu indah. Sebagian orang hanya mengingatkan dirimu pada hal itu daripada orang lain.” (hal. 157)

“... ingatan itu diciptakan, baik seorang merenungkannya atau tidak.” (hal. 163)


***
“Apa yang kau lakukan untuk membuatmu bahagia? Cuma kamu.” (hal. 49)
Kalimat ini punya makna yang dalam. Dijelaskan lebih lanjut dalam kalimat berikut:
“ Agar dengan sengaja melakukan sesuatu yang membuatmu bahagia, kau harus mengenal dirimu sendiri.” (hal. 50)
 ***

 Review ini saya sertakan dalam RC:






8 komentar:

  1. Buku yang sama dengan posbar ku, tapi isinya nggak sama persis, tapi kita sajikan berbeda, kok bisa ya...
    http://jasminehamd.blogspot.com/2014/02/kelas-memasak-lillian.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. wajar kok (^_^)
      Itu tergantung minat, sudut pandang, hal2 subyektif lainnya (^_^)

      He..he..untuk pertama kali dapat posbar yg bukunya sama..ha..ha..

      Hapus
  2. Betul, judulnya membuat rancu nih! hohoho xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, judulnya kurang ngena ke ceritanya (>_<)

      Hapus
  3. wuah... sama.... aku juga review buku ini untuk posbar, barengannya banyak nih. asyik juga baca review banyak orang untuk buku yang sama, jadi bisa melihat pendapat-pendapat yang berbeda. :)

    http://readbetweenpages.blogspot.com/2014/02/kelas-memasak-lilian.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah baca reviewnya..
      Ha..he..beda pembaca beda juga sudut pandangnya ya.. (^_^)

      Hapus
  4. Wuih...ini kayaknya buku yang paling banyak direview buat posbar kuliner nih... ;)

    @lucktygs
    http://luckty.wordpress.com/2014/02/27/review-macaroon-love/

    BalasHapus
  5. gara2 baca beberapa review buku ini, jadi kepingin baca ulang :)

    BalasHapus