Kamis, 27 Februari 2014

Bumi Hangus



“Lihatlah bendera Merah-Putih yang berkibar. Bendera berkibar karena angin. Dan kita semua telah menjadi anginnya di masa perjuangan. Sekarang, kita juga yang harus menjadi anginnya, agar bendera tetap berkibar.” (hal. 345)


Penulis: Sunaryono Basuki KS
Penyunting: M. Fajar Af
Lay out: Antok Priyo R
Pemeriksa Aksara: Umar Tajuddin
Desain sampul: Windutampan
Penerbit: Pinus
Cetakan: I, Januari 2009
Jumlah hal.: 352 halaman
ISBN: 979-99007-5-1

Bumi hangus adalah sebuah novel sejarah tentang perjuangan melawan kolonial. Bumi hangus merupakan strategi perang yang menjadi pilihan terpaksa untuk menghadapi kekuatan kolonial dengan cara meluluhlantakkan gedung-gedung, jalan, rumah-rumah penduduk dan fisilitas lainnya, meski itu milik sendiri. Namun strategi berkorban ini, semata-mata diambil untuk menghancrukan kekuatan penjajah yang telah merebut dan menduduki tanah kelahiran. Hal itu dilakukan tak lain demi kemerdekaan meski berdiri di atas timbunan reruntuhan, harta benda, dan mempertaruhkan ribuan nyawa.
***

Buku ini seperti sebuah omnibook dimana mengambil waktu dan tempat yang masih saling terhubung namun dengan banyak sudut pandang.  Ada tokoh Bandem, anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar yang selalu suka bersekolah dan bernyanyi di sekolah. Namun kesenangannya ini terganggu karena ia dan keluarganya harus beberapa kali berpindah sekolah karena jabatan orang tua Bandem. Ayah Bandem adalah Schoolopziner, Pemilik Sekolah Republik. Ia yang memegang berkas-berkas dan informasi tentang guru-guru republik. Sehingga demi keselamatan nyawa-nyawa guru tersebut, Ayah Bandem harus berpindah sambil membawa semua berkas-berkas tersebut. Sebab jika Belanda menemukannya, maka mereka akan memaksa guru-guru tersebut mengajar di sekolah yang dibangun oleh tentara Sekutu; jika menolak, maka pihak Sekutu ini akan bertindak semena-mena dan bahkan membunuh mereka.


Selain itu, ada juga sudut pandang Kabib, kakak sepupu Bandem yang sudah lama tinggal bersama keluarga Bandem. Ia sempat terpisah dari rombongan pamannya. Selain itu ia pun terus berfikir tentang kondisi negeri Indonesia. Ia juga ikut mendukung pergerakan perwira Indonesia baik yang terdaftar dengan cara yang ia mampu.

Ada juga cerita Rahmat, seorang berdarah bangsawan yang kemudian ikut memperjuangkan kemerdekaan. Ia bersedia menjadi mata-mata dengan resiko dianggap sebagai pengkhianat republik. Sebab tanpa keberadaan mata-mata, tentara republik tidak akan bisa menyusun strategi yang tepat untuk melawan tentara sekutu.

Lain lagi cerita dari Susilo, seorang pejuang yang ikut bergerilya. Ia yang sebenarnya masih berstatus pelajar akhirnya ikut angkat senjata. Ia ikut menggempur  kekuatan Sekutu yang berusaha kembali menduduki Indonesia meskipun saat itu Proklamasi Kmerdekaan Republik Indonesia sudah diproklamirkan.

Cerita-cerita ini mengambil rentang waktu 1947-1948 di masa Agresi Militer Belanda I & II. Cerita dengan menggunakan banyak sudut pandang dan akhirnya ditutup dengan manis. Dalam bingkai kemenangan sekaligus sebuah “teguran” bagi pembaca yang menjadi generasi “pembangunan” yang seharusnya meneruskan perjuangan dari generasa “pejuang dan pembela kemerdekaan”.


 “Tidak mudah untuk paham mengenai arti merdeka. Mereka belum pernah merdeka. Konon sudah dijajah Belanda selama 350 tahun, jadi kita tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi bangsa merdeka. Lalu, masih dijajah Jepang selama tiga setengah tahun. Mereka dilempar dari satu penjajahan ke penjajahan lain.” (hal. 136)

***

Buku ini adalah sebuah novel yang membuat kita berfikir melalui sudut pandang rakyat Indonesia biasa yang bukanlah tokoh penting dan tidak tercatat dalam sejarah. Tokoh-tokoh seperti ayah Bandem, Kabib, Susilo, Endang, Yu Nah, Rahmat, Pak Imam, dan lain-lain saya yakin benar adanya di masa itu dan mungkin dengan nama yang berbeda namun dengan peran dan pergulatan yang kurang lebih sama dengan tokoh-tokoh yang dituliskan dalam buku ini.


Kamu bukanlah tentara sewaan,
Tetapi prajurit yang berideologi
sanggup berjuang
Menempuh maut untuk kelahiran
Tanah Airmu.
Percaya dan yakinlah,
Bahwa kemerdekaan suatu negara,
Didirikan di atas timbunan reruntuhan
ribuan jiwa
Harta Benda rakyat dan bangsanya,
tidak akan dapat dihapuskan oleh manusia siapapun juga.


Itu adalah kutipan puisi karya Jendral Soedirman yang menjadi pembuka cerita di novel ini. Puisi membuat kita kembali mengingat tentang seberapa besar pengorbanan rakyat Indonesia dulu, dan seberapa besar tanggung jawab kita sebagai generasi penerus kemerdekaan ini. Dan memang puisi merepresentasikan kisah yang akan dituturkan oleh penulis.

Cerita dituturkan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga namun mengambil dari berbagai situasi yang melingkupi beberapa tokoh. Pemikiran tentang kemerdekaan pun dijabarkan menarik dalam novel ini. Kita menjadi tahu pengorbanan rakyat sipil. Berbeda dengan sudut pandang yang diceritakan melalui mata Ir. Soekarno, Bung Hatta, Tan Malaka, dan tokoh-tokoh besar lainnya. Ceritanya sangat sederhana. Tanpa intrik politik. Hanya berfikir tentang bagaimana bertahan hidup dan memperjuangkan kemerdekaan agar generasi berikutnya tidak menjadi “kacung” bangsa lain.

Salah satu bagian menarik dari buku ini adalah filosofi yang ia ungkapkan tentang kemuliaan sungai yang terus mengalir memberi manfaat tanpa pernah meminta pamrih. Hal ini dijelaskannya dalam halaman 128. Ada pula kalimat menarik dalam menggambarkan tentang penjajahan Jepang di Indonesia.


Mereka kelompok bangsa yang besar, tetapi ternyata tidak berdiri sama tinggi. Saudara tua boleh menampar saudara muda, dan saudara muda harus menerima nasib mendapatkan “didikan” serta “ajaran” dari saudara tua.


Juga tentang posisi mata-mata yang mungkin saja sekarang kita kenal sebagai pengkhianat bangsa. Orang-orang yang bekerja untuk Belanda. Namun dibaliknya, merekalah yang membantu perjuangan dengan membocorkan sejumlah informasi penting. Dan mungkin saja sebaliknya, sejumlah orang yang memilih berada di pihak Belanda dan masuk menyusup ke barisan perjuangan republik.

Sayangnya cover buku ini kurang menarik. Padahal ceritanya sendiri menarik diikut. Tulisan judul dan nama penulisnya pun agak samar karena pemilihan warna yang kurang tepat serta latar gambar yang ternyata mengganggu tampilan sampul depan. Mungkin akan lebih menarik jika menggunakan sampul polos dan mencetak puisi Jend.Soedirman di sampul tersebut. Ini hanya ide sok tahu saya sih. He..he.. Soalnya rasanya sayang jika buku ini tidak dibaca karena sampulnya tidak menarik untuk memikat hati pembaca di rak buku. 

Jika harus menyematkan bintang untuk buku ini, maka saya memberinya 4,5 bintang. Bukunya mendidik dan bikin kita menelaah kembali perjuangan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (^_^)9
***
Quote
“.... Anak-anak harus kita siapkan untuk masa depan. Kalau pemudanya mengangkat senjata langsung berhadapan dengan tentara Belanda, anak-anak harus siap bekerja nantinya. Merekalah nanti yang jadi pekerja, yang jadi pemimpin” (hal. 35)

“...apakah dengan dicaci maki maka perbuatan baik kita menjadi batal?” (hal.53)

“.... Hanya dengan persatuan dan kordinasi yang baik suatu tindakan dapat berhasil dengan baik. ...” (hal. 91)

“Ada pengalaman yang harus dilakoni sendiri, dan ada juga pengalaman yang disadap dari pengalaman orang lain. Semua jenis pengalaman iut menjadi khasanah pengalaman pribadi, yang dapat dipergunakan dapat menapaki hidup di masa depan.” (hal 129)

“Kalau tidak pasti siapa kawan siapa lawan, lebih baik tutup mulut.” (hal. 248)

“Masa depan adalah sebuah rahasia, yang boleh diminta tetapi tak boleh ditolak.” (hal. 276)

“Siapakah yang bisa menetapkan mengenai lahir, jodoh, dan ajal? Rahasia Allah tidak bisa diambil oleh manusia. Biarkanlah rahasia itu tetap menjadi rahasia, sehingga kita dapat mensyukurinya ketika dia datang.” (hal. 296)

PS: Foto akan menyusul sesegera mungkin. Maaf (-_-)




5 komentar:

  1. haha pantes, aku cari foto covernya gara2 dibilang kurang menarik, ternyata memang belum ada ya ;p sepertinya latar belakang kisahnya bagus, jarang buku yg membahas masa2 agresi militer belanda... biasanya cuman menjelang kemerdekaan aja...

    BalasHapus
  2. Wow, lagi-lagi tentang Sejarah Indonesia, jadi tertarik pengen baca buku-buku kayak gini ;)

    @lucktygs
    http://luckty.wordpress.com/2014/02/27/review-the-jacatra-secret/

    BalasHapus
  3. haiah mau komen foto cover buku ternyata udah diduluin sama mba astrid XD
    jadi penasaran pingin bacaa

    BalasHapus
  4. "Kalau tidak pasti siapa kawan siapa lawan, lebih baik tutup mulut.” (hal. 248) -> sukaa :D

    BalasHapus
  5. baca ripiunya jadi pengin baca juga, tapi kalo liat penerbitnya, kayaknya susah nyarinya ya.... :(

    BalasHapus