Senin, 10 Februari 2014

Biru Pada Januari




Penulis: Aditia Yudis
Editor: Yulliya
Proofreader: Windy Ariestanty
Penata letak: Wahyu Suwarni
Desainer sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2012
Jumlah hal.: vi + 362 halaman
ISBN: 979-780-583-2
Akan kuberitahu kau satu hal yang paling kuinginkan saat ini....

Waktu berhenti sehingga aku dan kau terbingkai dalam keabadian.

Aku tak ingin semua berlalu, seringkas embun meninggalkan pagi. Simpan saja kata-kata bersalut madumu. Aku tak butuh rayu, aku hanya ingin bersamamu.

Selalu.
***
Hubungan Mayra dan Samudra telah berjalan selama 7 tahun. Mereka bahkan sudah tinggal bersama. Namun pernikahan tampaknya masih belum siap dijalani oleh mereka. Hubungan jarak jauh yang terjalin karena Samudra tinggal di Balikapapan dan Mayra di Jakarta akhirnya menjadi halangan dan terus menjadi bahan perdebatan mereka.

Samudra ingin mereka tinggal di Balikpapan, sedangkan Mayra tidak ingin meninggalkan pekerjaannya dari Jakarta sebagai seorang editor. Kebersamaan mereka yang sudah lama membuat mereka saling terbiasa satu sama lain. Namun ternyata pertengkaran mereka terkait pernikahan yang oleh Mayra ingin ditunda selama 6 bulan serta penolakan Mayra untuk tinggal di Balikpapan mulai menjadi masalah dan memunculkan jarak di antara keduanya.


Jarak ini ternyata cukup diisi oleh sosok masa lalu yang datang kembali. Camelia, perempuan yang pernah membuat Samudra tergila-gila namun tidak berhasil memilikinya secara mendadak masuk ke kehidupan Samudra. Mereka pun terbawa suasana.

Di lain pihak, Mayra bertemu dengan Adam Adhitya, lagitnya. Ia pernah jatuh cinta pada laki-laki itu, namun tidak mendapat respon yang diharapkannya. Kini Adam muncul sebagai partner dalam sebuah project  yang melibatkan skill mereka berdua. Selain itu, Adam tanpa sengaja mengetahui rahasia yang disembunyikan Mayra dari Samdura. Rahasia yang membuat Mayra meminta agar rencana pernikahan mereka ditunda 6 bulan.

Cinta dan kesetiaan Mayra dan Samudara diuji. Apakah waktu 7 tahun yang mereka lewati bersama malah membuat cinta mereka kalah oleh rasa jenuh, ataukah cinta mereka kian meneguh?
***

Buku ini tergolong cukup tebal jika dibandingkan dengan buku-buku Gagas Media lainnya. Saya tertarik membacanya karena tergoda judul, sampul, dan blurb-nya. Melihat sampulnya berwarna biru dan gambar sepasang cincin yang tenggelam sukses membuat saya jatuh hati.

Awal cerita menarik untuk diikuti, namun di akhir-akhir cerita saya mulai merasa bosan. Mungkin karena saya tidak paham tentang mudahnya Samudra terbawa perasaan saat bersama Camelia. Selain itu sikap Camelia yang akhirnya malah menjadi pihak yang berusaha memisahkan Mayra.

Emosi-emosi dalam hubungan ini membuat saya bingung. Tentang kebingungan Mayra. Kenapa ia bertahan dengan Samudra? Cintakah pada Samudra? Atau ia hanya terlalu mencintai keluarga besar Samudra yang memberinya rasa nyaman dan aman?

Kok dengan mudahnya rasa ingin melindungi Samudra terpancing saat melihat Camelia menangis, namun saat Mayra yang menelponnya sambil menangis malah tidak terbesit sedikit pun keinginan untuk langsung terbang menemui Mayra.

Dalam buku ini saya menemukan beberapa kesalahan penulisan seperti :
kata “minggu” di halaman 3 yang seharusnya tertulis “Minggu”.
Di akhir halaman 192 tertulis: “Taruh di lemari ya itu, Dam,” kata Adam sambil menunjuk ke arah jejeran lemari.  Yang benar “kata Mayra”.
Di halaman 241, paragraf 5 tertulis “menjali” seharusnya “menjalin”

Hm, jika harus memberi nilai untuk buku ini maka saya memberinya 3 bintang. Tadinya mau saya belri 2,5 bintang, namun karena mempertimbangkan kesukaan saya terhadap sampulnya maka saya bulatkan saja menjadi 3 bintang (^_^)v
***
Quote
“Mencintai dalam jarak sama halnya memeluk bayangan – tak terlihat, tetapi nyata.” (hal. 12)
“Aku akan menikah denganmu, tapi beri aku waktu lagi. Aku ingin sempurna untukmu, Sayang,” (hal.14)

“Kamu gak akan bisa menyentuh langit..., itu hanya lapisan udara yang membiaskan cahaya. Ketika kamu terbang tegak lurus dari permukaan bumi, kamu tak akan pernah sadar kapan kamu menembus langit. Kamu gak pernah tahu... Langit biru itu hanya untuk matamu. Kamu hanya bisa melihat, tanpa bisa merasakannya.” (hal. 49)

“Buat gue, lo itu langit. Tak bisa tersentuh. Bahkan, nggak bisa gue pastikan di mana lo ada. Gue cuma bisa liat betapa birunya lo dari permukaan tanah.” (hal. 204)

“Kalau begitu, izinkan gue menjadi sinar matahari yang bisa turun untuk menjejak tanah lo.” (Hal. 204)
***
 Review ini saya ikutkan dalam RC berikut:





Tidak ada komentar:

Posting Komentar