Rabu, 12 Februari 2014

Bila Mencintaimu Indah





Penulis: Triani Retno A
Penerbit: Quanta (imprint Elex Media Media Komputindo)
Cetakan: 2013
Jumlah hal.: 201 halaman
ISBN: 978-602-02-1425-2

Keisha Damayanti, seorang reporter di sebuah stasiun televisi swasta B-TV. Cantik, pintar dan penuh semangat. Hidupnya penuh gairah. Tapi, semuanya kemudian berubah. Keisha harus menghadapi kenyataan pahit.

Maura, sahabatnya, tewas dibunuh oleh para perampok. Eggy sahabat terdekatnya yang bekerja sebagai pengacara di LBH Ummat pun hilang tanpa jejak. Suatu ketika, Harry Nasution —reporter berita kriminal di B-TV—mengungkap fakta bahwa jasad tak dikenal yang ditemukan dalam kondisi termutilasi di sebuah hutan adalah Eggy.

Keisha sedih tak terperi. Kepergian Eggy menyadarkannya tentang banyaknya waktu yang telah ia sia-siakan. Tentang kesombongannya untuk mengakui perasaan hatinya pada Eggy. Namun, kesedihan itu tak membuat Keisha berhenti.
Dalam sebuah reportase investigasi mengenai trafficking, Keisha dianiaya oleh sekelompok orang hingga babak belur dan koma. Kejadian itu membuat Keisha trauma. Namun, kejadian itu juga membuka hati Keisha tentang lelaki lain yang mencintainya. Bukan Andy Mueller yang ingin mengajak Keisha pindah ke Jerman.

Siapakah lelaki istimewa yang menggantikan posisi Eggy di hati Keisha? Bagaimana kelanjutan penyelidikan kasus pembunuhan Eggy? Masihkah Keisha bertahan menjadi reporter berita, dengan segala risiko penuh bahaya? Bila Mencintaimu Indah, sebuah novel yang sarat pesan tentang kehidupan.
***
Novel ini mengangkat cerita tentang Keisha Damayanti. Keisha yang selepas SMA melanjutkan studi ke Amerika. Meninggalkan sahabat-sahabatnya; Andre, Imel, Maura, dan Eggy. Sepulang dari Amerika, Keisha memilih berprofesi sebagai reporter.

Ia pun berusaha menyiarkan berita dengan idealisme tentang menyampaikan kepada publik. Di tengah hiruk pikuk pekerjaannya, Keisha menyimpan kesedihan mendalam atas perginya Maura dan menghilangnya Eggy. Ya, Eggy menghilang. Kerinduan Keisha pada Eggy menyisakan sesal. Ia yang pernah mendapatkan pengakuan cinta dari Eggy yang kemudian ia tolak kini harus mengakui betapa ia merindukan Eggy dan ia ingin menyampaikan perasaannya pada Eggy.


Di lain pihak muncul Andy Mueller, pria dari Jerman yang mengagumi Keisha. Andy yang ingin menjaga Keisha. Andy yang selalu memperhatikan Keisha. Namun Keisha masih terus memikirkan Eggy yang telah menghilang selama sebulan lebih tanpa jejak.

Hingga suatu hari ditemukan sesosok mayat yang diduga sebagai Eggy. Ternyata Tuhan tidak memberi Keisha kesempatan untuk menyampaikan perasaannya pada Eggy. Setelah itu Keisha dirundung duka. Ia menenggelamkan diri pada pekerjaannya dan semakin geram pada kebobrokan yang ada di negara ini. Ia pun terus menyelidiki pembunuhan Eggy. Namun ini malah menimbulkan bahaya bagi nyawa Keisha. Berhasilkah Keisha menemukan pembunuh Eggy? Akankah Keisha bisa buka hatinya lagi setelah kepergian Eggy?

***

Buku ini dibuka dengan percakapan ala remaja dengan gurauan garing tapi sukses bikin saya senyum-senyum sendiri saat membacanya. Tapi hanya di chapter pertama kehidupan masa remaja ini berjalan. Chapter berikutnya, kita disuguhi kehidupan dewasa seorang Keisha.

Setelah itu diceritakanlah kehidupan Keisha, tentang Maura yang dibunuh oleh perampok (hiks..ngeri dan sedih), tentang Eggy yang hilang dan membuat Keisha merindukannya setengah mati dan kesedihan Keisha yang mendalam setelah mengetahui bahwa Eggy telah dibunuh dan mayatnya ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan. Hiks..sedih..

Kemudian kehadiran Andi dan Harry yang ingin menggantikan posisi Eggy di hati Keisha. Selain itu sebuah kejadian yang mengancam nyawa Keisha karena reportase yang ia lakukan membuat Keisha mempertanyakan lagi idealismenya.

Konflik dalam novel ini memang menarik tapi bagi yang ingin disuguhi cerita romance, maka di dalam buku ini tidak begitu kental drama percintaannya. Namun di lain pihak banyak pesan moral yang bisa dipetik dari dialog tokoh-tokohnya. Sayangnya, saya tadinya mengira bahwa novel ini akan bernuansa sedikit islami *melirik covernya* tapi ternyata salah. He..he.. 

Untuk keseluruhan novel ini saya anggap menarik meskipun kurang “letupan-letupan” yang bisa membuat buku ini cukup membekas di hati pembaca. Tapi dari segi alur, saya rasa rapi dan pesan-pesan moralnya pun tersampaikan dengan baik.

Jika harus menyematkan bintang untuk novel ini, maka saya memberinya 3 bintang \(^_^)/
***
Quote
“Gimana bisa memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara kalau nasionalsime aja nggak punya? Kalau politisi nggak nasionalis, bisa-bisa yang diperjuangkannya hanya dompetnya dan isi rekeningnya. Makanya ada politisi yang korupsi, ada yang bisa disuap, ada aja yang lupa kalau dia dipilih oleh rakyat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.” (hal. 8)

“Kalau nggak berani nanggung resiko, lebih baik nggak usah hidup” (hal. 16)

***
Tentang Penulis

Triani Retno A, lahir di Bandung, 24 Desember. Alumnus SMAN 3 Bandung dan JIP Fikom Universitas Padjadjaran, Bandung.

Sekitar 200 cerpennya telah dimuat di berbagai majalah dan surat kabar (Kawanku, Anita Cemerlang, Muslimah, Say, Sekar, Kartika, Story, Aneka Yess, Tribun Jabar, dll). Selain itu juga telah mempublikasikan 12 novel dan kumcer solo (antara lain Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya, The Reunion, Foolove, Smile Aku Naksir Kamu, Bukan Jilbab Semusim, Masih Ada Hati Bicara, dan Kilau Satu Bintang), 2 kumcer antologi, 6 Buku nonfiksi solo (antara lain 25 Curhat Calon Penulis Beken dan Ordinary Mom), 1 buku nonfiksi duet, dan 18 buku antologi nonfiksi (antara lain Dalam Kasih Ibu, Business Mom, Jumpalitan Menjadi Ibu, Titik Balik, dan A Cup of Tea for Writer).

Pernah menjadi pemenang harapan pada beberapa lomba penulisan novel: News (Dar! Mizan, 2005); Bintang Masih Bersinar (Gema Insani Press, 2006). Selain itu juga menjadi Pemenang Berbakat dalam Lomba Cerita Konyol Gramedia Pustaka Utama 2008 (Bodyguard Bawel: Pembela Kebanaran dan Kebetulan), Pemanang Harapan dalam Lomba Cerita Detektif Majalah Bobo (2009), dan Pemanang I Lomba Kisah Inspiratif Titik Balik (Leutika, 2010). Tahun 2011 menjadi salah satu dari 100 Perempuan Inspiratif Nova. 

Kontak dapat melalui FB: Triani Retno A (Teera Jadi Dua), Grup FB: Curhat Calon Penulis Beken (admin), dan twitter @retnoteera

***
Review ini saya ikutkan dalam RC berikut:



13 komentar:

  1. wow,,, kok aku bacanya agak serem ya, ada mutilasi segala -,-
    duh apa rasanya org yg kita sayang dimutilasi,, jgn sampe deh.
    sepertinya ini kisahnya sedih2 gitu ya. pengen baca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sempat sedih baca buku ini.
      Jadi pengen segera nge-sms yang tersayang biar gak keburu telat (>_<)

      Hapus
  2. bacanya agak bergidik ngeri, api jadi makin penasaran. Memberi pengetahuan tentang tindak kriminal. Wow!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, baca buku ini bikin belaajr banyak hal (^_^)

      Hapus
  3. judulnya bikin jleb.
    kirain ceritanya melow. ternyata bunuh-bunuhan. :DDDD

    BalasHapus
    Balasan
    1. ceritanya juga cukup sedih kok terutama dibagian Keisha yang terus mencemaskan Eggy. (T_T)

      Hapus
  4. lihat review nya malah jadi penasaran sama jalan ceritanya.. pengen baca bukunyaaa

    BalasHapus
  5. Serem sinopsisnya *secara aku paling nggak suka adegan pembunuhan* hiks

    setuju sama mbak, covernya menjurus ke religi yah ^^v

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he..ceritanya nggak detektif-detektif gitu kok.
      (^_^)

      Terima kasih sudah baca review saya (^_^)

      Hapus
    2. Makasih resensinya, Tria. Aku baru baca yang ini :)

      Saya memang nggak pake "mainstream" anak masjid, aktivis dakwah, dsb. Yang saya ajukan sebagai nilai islami dalam novel ini adalah gaya hidup dan cara pandang mereka, seperti nggak mau pacaran, pengasuhan anak dalam Islam, dan keteguhan dalam menyampaikan kebenaran.

      Anyway, makasih yaaaa....

      Hapus
    3. @Amanda: Gak bunuh-bunuhan, kok. Kalem aja. :)

      Hapus
  6. Dilihat dari cover saya setuju dgn mba Atria! saya pikir akan bnyak pembeli yg terkecoh dngan cover‘a. tapi melihat reviewnya yang lumayan memberi penilaian positif saya pikir pembaca tak akan menyesal membeli buku ini..

    BalasHapus