Senin, 10 Februari 2014

Batas




Penulis: Agustina K. Dewi Iskandar
Editor: Anin Patrajuangga
Desain Cover: Dyndha Hanjani P
Penata isi: Yusuf Pramono
Penerbit: Grasindo
Cetakan: 2014
Jumlah Hal: x + 134 halaman
ISBN: 9786022513148

Bukan salah takdir ketika Alila dan Sho dipertemukan dalam situasi yang membuat mereka tak mungkin bersama, karena masih ada penebusan dosa dan tanggung jawab yang tarik-ulur berdialog dan menjelaskan dirinya masing-masing untuk dimenangkan.

Bukan salah takdir ketika Alila dan Naka dipertemukan di antara pergulatan cinta dan politik yang membangun sekat-sekat dan membenturkan perjalanan Alila dan Naka yang tidak sempurna namun khidmat dengan ketidakbahagiaan.

Bukan salah Alila, ketika ia bisa melihat masa depan dan masa lalu seseorang hanya dengan menyentuh tangan sekilas saja.

Namun apakah sesungguhnya bahagia, jika selalu saja ada pergerakan lain yang lebih memiliki kuasa dalam menciptakan kisah yang sempurna? Hidup mereka semua berubah ketika segala ruang kemungkinan untuk bahagia dipaksa untuk memahami batas absolut. Pada akhirnya, mereka tak bisa mengelak saat takdir juga yang menjawab berbagai tanda tanya besar dalam perjumpaan mereka, mengenai kebersatuan dan keberpisahan cinta...
***
Alila, perempuan yang oleh ayahnya disebut sebagai “Gadis Waskita”, ini karena ia memiliki kemampuan yang melebih kemampuan manusia normal lainnya. Alila bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang hanya dengan menyentuh tangannya. Kemampuan ini ternyata menggerogoti mental dan hidup Alila. Ia menjadi orang yang tertutup. Ini mungkin ada hubungannya dengan berbagai peristiwa yang terjadi sejak ia kecil yang terkait dengan “kelebihan” yang ia miliki.

Naka, laki-laki yang melarikan diri dari kejaran orang-orang yang menginginkan kejeniusannya. Karena idealismenya ia menentang kelompok yang menginginkan kecedasannya. Dan ternyata karena mempertahankan idealisme itu dia harus kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupnya. Sejak itu ia memilih untuk menjauh dari hubugan antarmanusia. Ia tidak lagi percaya pada cinta. Hingga akhirnya ia bertemu Alila.

Sho, laki-laki yang memendam rasa bersalah yang mendalam pada Alila. Ia pun melepaskan perempuan yang sangat dicintainya agar bisa terus mendampingi Alila. Namun, sampai kapan kebenaran itu bisa ia sembunyikan dari Alila?

Ditengah hubungan ketiga orang ini, bahaya muncul dan membuat semuanya menjadi penuh dengan luka dan kehilangan. Mereka pada akhirnya harus rela kehilangan identitas mereka sendiri. Lantas apakah ini semua sepadan dengan cinta yang akhirnya bertemu dalam jalinan takdir?

***
Jujur, saya cukup skeptis saat menatap sampul buku ini. Bahkan, buku ini tidak akan saya jamah jika bukan karena salah seorang adik kelas saya menitipkannya pada saya. Akhirnya saya pun tergoda membaca lembaran-lembarannya. Dan akhirnya tidak bisa berhenti hingga akhirnya menuntaskannya.

Prolognya sukses membuat saya kebingungan. Siapa gadis ini? Apa yang ia lihat dari orang itu? Apa hubungannya dengan kisah dalam novel ini?

Akhirnya satu persatu cerita dituangkan. Jujur, saya harus berkata bahwa orang yang menulis tentang seorang yang jenius jelas harus membekali diri dengan pengetahuan yang luas dan harus menuangkannya dengan cerdas dan menarik melalui tokoh jenius yang ia ciptakan.

Dan ternyata, kejeniusan ini malah membuat saya tetap tertarik. Bertanya-tanya, apa yang Naka ciptakan? Seberapa berbahaya? Seberapa penting?

Konflik, alur, dan klimaks buku ini benar-benar apik. Klimaksnya tepat dan antiklimaks benar-benar menjelaskan banyak hal. Dari segi ketebalan, buku ini tergolong tipis, namun muatannya menurut saya cukup padat.

Yang menjadi kekurangan buku ini adalah sampul yang kurang menarik dan bagi saya kurang mencerminkan isi buku. Warnanya terlalu soft dan jadi kurang menarik untuk dilirik di toko buku. Tapi kalau dari segi isi? Saya suka dengan buku ini.

Jika harus menyematkan bintang untuk buku ini, maka saya memberinya 4 bintang. (^_^)v
***
“Cinta adalah sesuatu yang nyata. Perasaan yang akan membuat kita kuat, bahkan saat kita sedang mengalami derita dan terpuruk jatuh, apalagi bila kecintaan itu kita tujukan pada subyek yang tepat. Cinta pada Tuhan, misalnya?” (hal. 13)

“Tapi Bunda, cinta itu materialistis. Dia juga bersifat ambigu. Cinta nggak pernah konsisten dengan pilihannya. Begitu banyak yang harus dibandingkan, begitu banyak yang mesti diharapkan. Cinta nggak bisa hanya puas dengan apa yang dilihat dan dijalani. Tetap harus ada pengorbanan yang lain. Tapi saat cinta kita istimewa, maka orang-orang akan mencari cinta yang biasa. Aku menyesal  sudah jatuh cinta, Bunda” (hal. 13)

“Cinta tidak pernah biasa, Naka. Ia akan selalu menjadi istimewa, bahkan dalam kewajarannya. ...” (hal.13)

“Kesepian. Pertanyaan abadi yang tak pernah menemukan jawaban.” (hal. 37)

“...saya yakin kalau ada kuasa lain di luar kuasa manusia yang lebih besar. Alila yang mengajarkan itu. Mereka bukan dewa. Mereka juga bisa diruntuhkan. Selama kita yakin bahwa Tuhan bersama kita...” (hal. 78)

“Itukah yang namanya dikotomi moral manusia? Tahu berdosa dan ingin tobatan nasuha, tapi masih tetap bisa mengaku bahagia...” (hal. 101)

“Naka, kebahagiaan seringkali menjadi sebuah ilusi yang terkadang berakhir pada batas waktu yang berada di luar prediksi manusia.” (hal 103)
***
Profil Penulis
Agustina K Dewi Iskandar, dan semua orang memanggilnya dengan nama Ina. Sarjana Komunikasi UNPAD yang lahir di Jakarta 1981 dan berdomisili di Bandung, kini tengah menikmati dan menjalani irama hidupnya sambil terus menulis dan bermusik di sebuah kelompok musik bertitel inaccoustic. Berprofesi sebagai Dosen di Fakultas Desain Itenas dan Unpas Bandung, ia juga bekerjad sebagai Creative Writer di Perusahaan Digital Marketing Medialine. Sempat aktif di beberapa kelompok teater di Bandung; selain mengembangkan kelompok teaternya sendiri yaitu KGR (Kelompok Generasi Remaja) pada tahun 1998. Di samping menulis naskah iklan dan naskah drama yang sempat dibukukan oleh Goethe Institute dan dipentaskan oleh beberapa kelompok teater di berbagai daerah, juga menulis puisi, cerita pendek, dan esai yang sering dimuat di jurnal, buletin, dan media cetak, pernah juga menerbitkan beberapa antologi cerpen dan puisi di bawah beragam penerbit. Karya yang baru dirilisnya adalah kumpulan cerita inspiratif berjudul Hot Chocolate For God yang diterbitkan di bawah penerbit di Yogyakarta, dan ReMemoare’ yang diterbitkan oleh Grasinda.

Never fight battles only with wishes! Quote yang menjadi penyemangat bagi setiap perjalanan hidupnya yang  semakin lengkap dengan kehadiran seorang putri bernama Azka Zahra Maziya serta dua orang putra bernama Kelana Kakilangit dan Abyakta Faeyza Zain.

Ina dapat dikontak melalui:
Twitter: @inabicara
Facebook: www.facebook.com/ agustina.iskandar
Email: in_a_dieka@yahoo.com

***
 Review ini saya ikutkan dalam RC berikut:






Tidak ada komentar:

Posting Komentar