Kamis, 13 Februari 2014

BAB I buku Orang Mandar Orang Laut: Berkenalan dengan Mandar dan Budaya Baharinya



Penulis: Muhammad Ridwan Alimuddin
Penyunting: C. Sri Sutyoko Hermawan
Perancang Sampul: Rully Susanto
Penata letak: Wendie Artswenda
Cetakan: Pertama, April 2005
Tulisan ini adalah sebuah postingan awal dari upaya mengajak teman-teman untuk ikut membaca bersama buku “Orang Mandar Orang Laut”. Awalnya saya mengajukan usulan ini dalam sebuah group di Facebook, namun belum ada peminatnya. Tapi saya *dengan keras kepala* bertahan untuk mengajak orang-orang untuk membahas Bab demi Bab dalam buku ini.
Apa bedanya sih mereview dan membaca per-bab begini? Bagi saya pribadi, membaca seperti ini membuat saya bisa membahas lebih lengkap tentang sebuah buku. Tapi bukan berarti akan membuat saya membocorkan seluruh  isi bukunya kepada orang yang membaca tulisan ini. Hanya lebih teliti, dan jadi lebih banyak belajar daripada membaca seluruh isi buku kemudian menuliskannya dalam 1 -3 halaman tulisan.
Dalam Bab I yang berjudul Kesahajaan Budaya Bahari Mandar penulis mengajak kita mengenal suku-bangsa Mandar. Dari seluruh suku yang ada di Sulawesi Selatan dulunya orang hanya mengenal suku Makassar, dan Bugis. Ketika menyebutkan Mandar, maka akan muncul pertanyaan “Daerah mana itu?” Sejujurnya hal ini saya alami sendiri sebagai perempuan mandar yang sejak kecil ikut merantau mengikuti orang tua, dan kini terdampar berdua bersama adik saya di kota Bandung.
Banyak yang tidak mengenal suku Mandar. Saat saya menyebut saya dari Sulawesi mereka akan langsung menyebut Makassar atau “Orang Bugis ya?” Maka sejujurnya kehadiran buku ini menjadi sebuah kesyukuran bagi saya. Buku ini diawali dengan memperkenalkan kepada pembaca tentang suku-bangsa Mandar.
“Mandar adalah salah satu suku-bangsa di Nusantara yang budayanya berorientasi laut”
Itu adalah penjelasan pertama Ridwan Alimuddin tentang Mandar.  Lebih lanjut ia menyebutkan karakteristik suka Mandar yang berbeda dengan suku Makassar atau Bugis yang  juga berorientasi laut. Ridwan Alimuddin pun menyampaikan bahwa suku Mandar memiliki keulungan bahari yang ditemukan dalam 3 bentuk teknologi perikanan yakni:
1.       Rumpon
2.       Menangkap ikan sambil menghanyut di laut, dan
3.       Perahu Sande’
Dari 3 bentuk teknologi di atas saya lebih familiar dengan Perahu Sande’. Apalagi kini sudah ada perlombaan Sande’ yang bahkan bertaraf Internasional seperti Sande’ Race.
Selain itu dijelaskan pula tentang posisi Mandar di masa lalu yang menjadi pihak yang terpengaruh oleh kondisi hubungan Kerajaan Makassar dan Bugis. Ridwan Alimuddin sempat merinci tentang aliansi kerajaan yang ada di tanah Mandar yakni Pitu Ba’bana Binanga dan Pitu Ulunna Salu.  Penulis juga sempat membahas secara singkat tentang kondisi di Mandar setelah kemerdekaan dan akhirnya pada 2004 resmi menjadi sebuah provinsi tersendiri yang berpisah dengan Sulawesi Selatan.
Selanjutnya, pembaca diajak berkenalan dengan sosial dan budaya Bahari Mandar di Pambusuang. Secara jelas penulis menceritakan tentang rumah nelayan Mandar yang erat kaitannya dengan Budaya Bahari yang sudah sejak lama mengakar di masyarakat Pambuasuang. Ridwan Alimuddin juga menjelaskan tentang jenis-jenis nelayan (Posasi’) serta pembagian tugas mereka saaa melaut.
Ia menceritakan bagaimana hubungan kekerabatan menjadi pondasi yang kuat bagi para nelayan untuk membina hubungan kerja; bagaimana para nelayan ini memiliki aturan yang fair dalam kesehariannya melaut; serta bagaimana posisi sosial seseorang ditentukan oleh pengalaman, pengetahuan hingga kepemilikan modal.
Ridwan Alimuddin menyampaikan secara lugas kekagumannya pada kemampuan budaya bahari Mandar beradaptasi terhadap perubahan alam, sosial masyarakat dan zaman agar bisa terus menumpukan hidup pada aktivitas melaut yang ia “baca” dari pengamatannya di Kampung Pambusuang.
Dengan membaca BAB I buku ini saya belajar banyak tentang kehidupan nelayan Mandar. Saya sendiri walaupun orang Mandar namun belum pernah menetap lama di sana sehingga masih asing dengan semua yang ditulis Ridwan Alimuddin. Namun ini menjadi sebuah pengetahuan baru yang membuat saya bangga menjadi orang Mandar.
Kini saya bisa lebih lantang menyanyikan sepenggal lagu anak-anak yang saya ingat. Sebab ternyata sejak dulu orang Mandar terkenal sebagai pelaut ulung. *bangga*
“Nenen moyangku seorang pelaut. Gemar arungi luas Samudera.”
Oiya, saya suka dengan tulisan Ridwan Alimuddin yang menyampaikan pengamatannya dengan cara bercerita namun juga menyematkan data-data ilmiah untuk menjelaskan maksudnya dan mendukung pernyataan yang ia sampaikan. (^_^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar