Kamis, 16 Januari 2014

Get Lost






Penulis: Dini Novita Sari
Penyunting: Agatha Tristanti
Desain: Yanyan Wijaya
Ilustrasi Cover: Rendi Arrahman
Penerbit: Bhuana Sastra
Cetakan: 2013
Jumlah hal. :198 halaman
ISBN 10: 602-249-439-7
ISBN 13: 978-602-249-439-3

I need to get lost...
and get lost needs no itinerary...

Lana Sagitaria senang melakukan perjalanan sebagai selingan untuk mengatasi kejenuhannya menghadapi rutinitas sebagai karyawati. Alasan klasik, tetapi begitulah yang dia percaya selama ini. Hingga suatu ketika, dia memutuskan untuk berjalan mengikuti kata hatinya, tanpa itinerary, membiarkan dirinya hanyut dalam arus perjalanan. Siapa sangka, perjalanan ini justru membawanya pada jawaban penting atas pertanyaan yang selama ini terpendam jauh di lubuk hatinya. Jelajah kakinya ke beberapa kota dan negara, juga pertemuannya dengan orang-orang asing, membuatnya berkaca pada kenangan berbagai peristiwa penting dalam hidupnya, termasuk hilangnya seseorang yang sangat berarti bagi dirinya. Akankah kenangan itu tetap tinggal, ataukah sudah saatnya untuk dilepaskan?


***
Novel ini bercerita tentang Lana, perempuan yang senang menjadi traveler. Kesenangannya menjelajah erat kaitannya dengan sosok Dharma, laki-laki yang ia cintai sejak lama tapi sekarang telah menghilang. Perjalanan Lana Sagitaria ini pada akhirnya menjadi perjalanan untuk menemukan jawaban dan memperoleh sebuah kesadaran tentang cinta dan keberadaan sosok Dharma.


Cerita dibuka dengan perjalanan Lana ke Bali. Liburan 4 hari yang dijalaninya di Bali membuat ia terkenang pada sosok Dharma. Dharma-lah yang menularkan kesenangan  berjelajah kepada Lana. Dan Lana pun menemukan bahwa meskipun Dharma menghilang tanpa kabar, namun perasaan Lana masih tertaut padanya. Di Bali ia bertemu dengan Tozan, orang Bali yang ia kenal dari dunia Maya dam baru pertama bertemu langsung. Di Bali ia mengenal Oleq, orang asing yang seenaknya curhat kepada Lana dan menjadi refleksi bagi Lana atas perasaanya terhadap Dharma. Kedekatan yang tidak memiliki status yang jelas. Lana tidak beranai meminta kejelasan karena takut Dharma akan menjauh darinya. Di Bali ini juga Lana bertemu teman seperjalanan yang menyenangkan yakni Rama, Alvin, Brain, Happy, dan Gandhi. Bersama mereka Lana menikmati liburan yang menyenangkan.

Cerita berikutnya adalah perjalanan Lana ke Singapura. Di sana ia bertemu dengan Paul. Pertemuannya dengan Paul diwarnai insiden yang lucu. Dan di Singapura ini, Lana menjadi saksi bagi kisah cinta yang penuh perjuangan, yang sempat terpisah hingga akhirnya bisa bersatu kembali.

Perjalanan Lana berikutnya adalah ke Seoul. Karena sebuah keberuntungan, Lana akhirnya bisa liburan ke Korea Selatan. Di Seoul, Lana di dampingi oleh Kang Soo Jung, teman yang diperkenalkan oleh Gia, sahabat Lana. Cerita perjalanan di Korea penuh kejutan dan keseruan. Pencarian atas Hanbok warisan turun temurun keluarga Kang Soo Jung membuat Lana bisa bertemu dengan personel boyband Korea “4AM”. 

Dan cerita terakhir adalah cerita “pulang”nya Lana ke Surabaya. Perjalanan pulang ini juga yang akhirnya berhasil membawa Lana pada jawaban atas pertanyaannya tentang Dharma yang tidak bisa berhenti dia pikirkan. Bagaimana kabar Dharma? Baik-baikkah? Adakah Dharma mencintainya? Semua pertanyaan itu pada akhirnya datang menghampirinya melalui sosok Kresna.
***




Memperoleh buku ini sebagai sebuah hadiah giveaway rasanya sangat menyenangkan. Desember adalah bulan favorit saya untuk 2013. Kenapa? Karena banyak buku yang dihadiahkan pada saya. Mulai dari hadiah yang saya terima dari hasil ikut kuis hingga hadiah ulang tahun yang terlambat. Buku Get Lost ini saya terima bersama buku “I’mpossible” dan sesuai dengan syarat lombanya, maka saya harus mereview buku ini. Oiya, terima kasih banyak kepada Zelie (Book Admirer) untuk GA dan hadiahnya yah.

Get Lost memang menarik, karena lebih terasa seperti mengintip diary Lana Sagitaria. Diary ini tidak hanya bercerita tentang perjalanan yang ia alami seperti tempat-tempat yang ia kunjungi dan hal-hal materi lainnya, melainkan sampai ke “bisikan hati” terdalam seorang Lana terutama tentang Dharma.

Sejujurnya, kesan traveling di novel ini tidak begitu terasa, kenapa deskripsi arah, tempat, dan hal-hal yang biasa dipandang saat melakukan penjelajahan di sebuah tempat tidak terlalu mendominasi. Hal ini bisa menjadi sebuah keuntungan dan bisa juga menjadi kekurangan. Bagi orang yang tidak begitu suka dengan bacaan traveling, maka kondisi ini menjadi lebih disukai. Itu karena saat membacanya saya tidak akan berfikir, “Ah, saya nggak ngerti  tempat apa yang dijelaskan di buku ini, sih?” sehingga saya akan menikmati drama percintaan yang terselip dalam cerita. Namun, di pihak lain, orang-orang yang senang traveling akan jauh lebih menyukai tentang tempat-tempat wisata dan bagaimana kondisi serta cara untuk mencapai agar mereka bisa melakukan perjalanan serupa dengan tokoh utama dalam buku ini.

Alur waktu dalam cerita ini rapi meski saya sempat bingung di bagian saat Luna bernostalgia tentang perjalanan kereta yang pernah dia alami. Alur waktunya maju mundur dan saya sempat agak missing (entah ini hanya terjadi di saya atau tidak). Hm, hanya dibagian itu saya bingung, untuk seluruh cerita saya anggap masih rapi dan mudah dipahami.

Yang saya sukai dari novel ini adalah pikiran-pikiran Lana yang ia tuangkan dan menurut saya punya arti yang cukup dalam tentang kehidupan. Contoh beberapa kalimat yang saya anggap memang mewakili kehidupan nyata secara langsung adalah pada hal 36

“Manusia memang hidup ditakdirkan untuk mencari jawaban. Selalu ada pertanyaan yang menggelisahkan mereka. Yang tak kita ketahui, seringnya jawaban itu sudah tersedia di hadapan kita, tapi kita saja yang terlalu jauh mencarinya, hingga seolah tak tampak.”

Kalimat-kalimat yang cukup filosofis seperti ini bertebaran di beberapa titik di buku ini. Dan saya suka dengan buku yang seperti ini, karena membuat orang berfikir lebih banyak dan berefleksi lebih banyak tentang diri dan hidupnya sendiri saat membaca.

Hm, saya pikir, buku ini mungkin akan lebih menarik jika di setiap bab ada satu atau dua foto (kalau penerbit tidak mau berwarna, mungkin bisa memilih foto yang walaupun diubah menjadi hitam-putih keindahan atau hal yang menarik dari foto itu tetap bisa dinikmati pembaca).

Untuk cover saya pikir sudah cukup menarik dan mencerminkan cerita yang ada di dalam buku. Sedangkan untuk tampilan di dalam buku, dari segi paragraf dan layout-nya sudah menarik. Tapi akan lebih menarik jika setiap awal Bab diletakkan sebuah gambar yang menjadi representasi tempat yang dituju Lana.

Jadi, kalau saya harus memberi bintang untuk buku ini, maka saya akan memberinya 3 bintang, masing-masing untuk alur cerita yang rapi dan menarik, cover yang bagus, dan nilai-nilai baik yang dikandung dalam buku ini. (^_^)
***
Quote:
“Jadi masih sebegitu superiornyakah warga negara asing di mata penduduk Indonesia sendiri? Bukankah seharusnya saudara sendiri lebih diutamakan daripada orang asing?” (hal. 15)

“Kenyamanan itu mencandu menimbulkan rasa ketergantungan yang akut. Kurasa, sudah tak seharusnya lagi aku bergantung kepada dia.” (hal. 22)

“Manusia memang hidup ditakdirkan untuk mencari jawaban. Selalu ada pertanyaan yang menggelisahkan mereka. Yang tak kita ketahui, seringnya jawaban itu sudah tersedia di hadapan kita, tapi kita saja yang terlalu jauh mencarinya, hingga seolah tak tampak.” (hal. 36)

“Pertanyaan memang ditakdirkan untuk menjadi kawan setia bagi manusia, sejalan dengan sifat kita yang tak pernah puas. Kamu sebagai petualang, pasti akan bertanya, ‘mau ke mana lagi setelah ini’, bukan?” (hal. 41)

“...rumahku adalah semesta ini. Terdiri dari banyak ruangan di mana masing-masing memberikan cerita tersendiri. Di mana setiap ruangan pun berisi para pengelana lain yang berbagi spasi denganku. Aku rasa, panggilanku adalah mencicipi setiap kamar di semesta ini.” (hal. 54)

“Seorang bijak pernah berkata bahwa perjalanan diukur bukan dari seberapa jauh jarak yang telah kita tempuh, tetapi dari berapa banyak teman yang kita peroleh darinya” (hal. 70)

“Apa saja bisa terjadi saat kita jatuh cinta, Paul. Entah itu cinta pertama, kedua, ataupun pandangan kesekian. Bagiku, cinta itu bukan untuk dipertanyakan, melainkan dirasakan.” (hal. 79)

“Perjalanan menuju rumah. Perjalanan menjemput rindu.” (hal. 139)

“.... Kami tidak mau terburu-buru untuk mencapai surga kami, karena bukankah segala sesuatu yang diraih dengan ketergesaan tidak akan bertahan lama?” (hal. 170)

“.... Kadang-kadang, ketidaktahuan membantu kita untuk meniadakan rasa curiga. Ketidakmengertian terhadap ucapan mereka tidak memberiku banyak pilihan kecuali: curiga atau percaya. Dan aku memilih yang kedua. Sebagai musafir yang bertamu di tanah asing, aku dan kawan-kawnan memilih untuk mengganggap semua orang yang kami temui adalah baik, hingga kami bertemu yang berkebalikannya.” (hal. 171)

Tentang penulis
Terlahir dengan nama Dini Novita Sari –akrab di sapa Dini atau Dinoy- di Surabaya pada tanggal 30 November hampir 30 tahun yang lalu. Sehari-hari berprofesi sebagai karyawan swasta, tetapi juga sedang mengaktifkan kegemaran menjadi hal-hal yang bermanfaat. Suka jalan-jalan, membaca, dan suka menulis. Semua kegemarannya dipadukan untuk menulis buku tentang perjalanan, baik fiksi maupun non-fiksi berupa catatan perjalanan. Artikel catatan perjalanannya pertama kali diterbitkan dalam buku kompilasi Traveling Note Competition, berisi kisah dari 30 penulis.

Sapa penulis di aku twitter @dinoynovita, atau layangkan masukan kalian setelah membaca buku ini ke E-mail dinoy.novita@gmail.com.
Terima kasih.
 ***
Review ini saya ikutkan dalam RC berikut:
untuk kategori Freebies Time



2 komentar:

  1. "Sejujurnya, kesan traveling di novel ini tidak begitu terasa, kenapa deskripsi arah, tempat, dan hal-hal yang biasa dipandang saat melakukan penjelajahan di sebuah tempat tidak terlalu mendominasi."

    Terima kasih banyak Atria untuk ulasannya, seneng bacanya dan seneng kamu suka baca cerita Lana. ^^ Untuk masukannya, aku mau tanggapin kalimatmu yang aku kutip di atas, hehe. Nah aku emang beberapa kali baca novel tentang perjalanan, dan aku sempat mengeluh karena ada yg nggak nge-blend antara dramanya dengan detail tempatnya, ada yang terlalu detail sehingga malah seperti buku panduan. Hehe. Tapi, baca, review, dan nulis sendiri pasti beda. Dari pengalamanku baca aku coba bikin yg unsur deskripsi tempatnya nggak terlalu berbuih, nanti bosen yg baca. :) Tapi emang untuk beberapa pembaca bilang kurang digali tuh. Jadi ini jadi masukan yg berarti banget buat penulisanku selanjutnya. Sekali lagi, terima kasih, Atria... ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, mbak. Senang bisa mengapresiasi karya dalam negeri yang berbobot (^_^)

      Iya, deskripsi di dalam novel bertema traveling memang bisa jadi pisau bermata dua. Bisa jadi kelebihan dan kekurangan, tergantung bagaimana penulis menempatkannya. Juga tergantung selera pembaca juga sih. He..he..

      Saya tunggu buku berikutnya ya, mbak. He..he..
      Terima kasih sudah mampir di blog saya (^_^)

      Hapus