Jumat, 10 Januari 2014

Carrie




Penulis: Stephen King
Penerjemah: Gita Yuliani K
Desain dan ilustrasi sampul: Steven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Oktober 2013
Jumlah hal.: 256 halaman
ISBN: 978-979-22-9951-9
Carrie White adalah gadis yang tidak populer, tapi dia memiliki kemampuan tersembunyi. Carrie bisa membuat benda-benda bergerak jika dia memusatkan perhatiannya pada benda itu. Kemampuan ini membuatnya berkuasa dan menjadi sumber dosanya.

Carrie hanya ingin menjadi gadis normal di sekolah, tidak diejek sebagai gadis aneh, dan... bisa pergi ke pesta dansa sekolah. Hingga seorang gadis berusaha menebus kesalahannya pada Carrie dengan memberikan semua keinginan Carrie tersebut. Kebaikan itu berubah menjadi malapetaka yang takkan pernah dilupakan teman-teman sekolahnya dan seisi kota.

"Mengerikan dan menakutkan... Kau tidak bisa berhenti membacanya." –– Chicago Tribune

"Dijamin akan membuatmu bergidik."––The New York Times

***
Novel ini dibuka oleh bagian pertama dengan judul “Olahraga Berdarah”. Kutipan dari sebuah berita mingguan menjadi pembuka cerita. Judul berita tersebut adalah “Laporan Adanya Hujan Batu”. Cerita tentang hujan batu ini tidak menjelaskan apapun. Hal ini akan tetap seperti itu sampai dipertengahan cerita.

Setelah itu cerita langsung dilanjutkan ke kejadian di sebuah kamar mandi sekolah. Sekelompok anak-anak yang mencemoh seorang anak perempuan karena ternyata untuk pertama kalinya ia mengalami menstruasi. Anak perempuan yang dicemoh itu bernama Carrie White. Ia adalah seorang anak perempuan yang sejak kecil selalu menjadi korban penyiksaan dan ejekan oleh teman-temannya.

Semua ini ada hubungannya dengan didikan ibunya dan kepercayaan ibunya sebagai seorang yang cenderung fanatik dan berpandangan berbeda tentang apa itu religius dan sikap-sikap manusia di dunia. Ibunya bahkan menggangga persetubuhan yang dilakukan suami istri itu adalah dosa. Ini membuat Carrie tumbuh menjadi anak yang berbeda. Awalnya dia diejek karena hal ini. Karena ia berdoa di mana pun. Dan meyakini ajaran ibunya sebagai hal yang paling benar. Sejak saat itu ia pun selalu menjadi korban kekerasan baik secara verbal maupun fisik.

Hingga akhirnya haid pertamanya membawanya pada kesadaran tentang kekuatan yang dia miliki. Ia memiliki kekuatan telekenesis yang memungkinkan ia untuk menggerakkan berbagai benda sesuai dengan keinginannya tanpa perlu menyentuh benda tersebut.


Akhirnya dengan kekuatan ini ia pun menuntut balas. Semua dilakukan di Malam Prom sekolah, yang awalnya diharapkan menjadi salah satu moment terbaik dalam hidupnya. Namun ternyata berbalik menjadi mimpi buruk bagi seluruh orang yang ada di kota Chamberlain. Malam itu, Carrie adalah teror bagi semua orang. Teror yang muncul dari pembalasan dendam penuh darah. Menuntut keadilan dan menjadi pedang Tuhan.

***
Ini adalah pertama kalinya saya membaca novel Stehphen King. Novel dengan genre Thriller ataupun horor jarang menjadi pilihan saya. Saya memang membaca novel detektif tapi jelas ini berbeda dengan novel thriller yang memiliki detektif. Jika novel detekttif berkutat pada pencarian fakta melalui sudut pandang sang detektif, maka novel thriller akan berkutata pada dimensi psikologi dan perilaku pelaku kejahatan.

Novel Carrie ini membawa saya pada sebuah kejadian yang nyaris saya yakini benar-benar terjadi. Namun saya sampai sekarang berhasil menahan diri agar tidak menuliskan kata kunci, “Chamberlain, Maine, Mei 1979”. Saya meyakini ini fiktif, namun saya tetap berfikir bahwa itu adalah sebuah kejadian fiktif yang berhasil disetting oleh Stephen King. Namun tentang telekenesis saya paham tentang perdebatan ini. Saya sudah lama mendengarnya dan menolak percaya sampai saya benar-benar melihat sendiri buktinya dan punya hubungan personal dengan orang yang memiliki kemampuan itu.

Namun, dengan membaca buku ini saya harus mengakui kepiawaian Stephen King. Kemampuannya mempengaruhi membaca untuk mempercayai kejadian ini seolah benar-benar terjadi memang hebat. Bagaimana ia menjelasakan telekenesis sebagai penyakit yang turun melalui gen dan keturunan mirip dengan hemofilia membuat kemampuan ini seolah benar-benar bisa mendapat penjelasan ilmiah.

Tokoh Carrie sendiri pun berhasil digambarkan sebagai sosok yang kejam namun sebenarnya hanya menyerap kekejaman ibu dan lingkungannya. Berarti benarlah keyakinan bahwa karakter seorang anak tergantung dari lingkungannya. Tapi cara mereka menanggapi lingkungan ini berdasarkan pengetahuan si anak sendiri. Jika dua orang anak mendapat perlakuan yang sama namun keyakinan dan pendidikan berbeda bahkan bertolak belakang, maka ini akan menimbulkan reaksi yang berbeda. Reaksi yang berbeda ini akan menyebabkan perilaku yang berbeda.

Keyakinan beragama ibunda Carrie yang ekstrim mempengaruhi cara Carrie memandang dunia. Semua yang dialami sejak kecil membentuk sisi gelap dirinya dan membuat dia meutuskan melakukan pembalasan. Teror itu mungkin dipicu oleh kejadian di Malam Prom. Namun niat itu sudah lama muncul. Jika tidak, Carrie tidak mungkin melatih kemampuan telekenesis-nya secara sadar.

Hm..tampaknya saya sudah menulis banyak spoiler. Namun saya rasa, spoiler apapun yang terdapat di dalam tulisan ini tidak akan membantu seseorang menyusun perasaan yang digerakkan oleh tulisan Stephen King. Kengerian yang datang bersama rasa penasaran itu hanya akan muncul dari pengalaman membaca langsung buku Carrie ini.

Hm..Jika saya harus menyematkan bintang-bintang untuk karya Stephen King ini, maka saya memberinya nilai 4 bintang. Cover yang menarik, cerita yang nyaris real, plot yang tidak umum, dan penokohan yang detail dan kuat memang layak membuahkan 4 bintang tersebut.

***
Tentang Penulis
Stephen Edwin King (lahir di Portland, Maine, Amerika Serikat, 21 September 1947; umur 66 tahun) adalah seorang penulis asal Amerika Serikat. Ia populer lewat novel-novel horor tulisannya. Kisah-kisah yang ia tulis sering melibatkan protagonis yang "biasa", misalnya keluarga kelas menengah, seorang anak-anak, atau penulis. Selain kisah-kisah horor, King juga menulis cerita dalam genre lain, termasuk The Body dan Rita Hayworth and Shawshank Redemption (masing-masing diadaptasikan menjadi film layar lebar berjudul Stand By Me dan The Shawshank Redemption), serta The Green Mile dan Hearts in Atlantis. (sumber: di-copy langsung dari wikipedia)
***
 review ini saya ikutkan dalam Reading Challenge

untuk kategori Not My Cup of Tea


Tidak ada komentar:

Posting Komentar