Minggu, 26 Januari 2014

Braga Siang Itu



Penulis: Triani Retna A
Editor: Yasintha
Setting: Alek
Desain Cover: Sarah Zerlinda Wijaya
Korektor: Ariata
Penerbit: Sheila (Imprint Penerbit Andi)
Cetakan: 2013
Jumlah hal. : iv + 140 halaman
ISBN: 978-979-29-4157-9

Tatapan Ben menyusuri wajah lembut Fei, mencoba mencari sorot mata gadis berkulit kuning langsat itu. Namun Fei tampak lebih tertarik memperhatikan awan.
“Tak apa?” tanya Ben lagi, menegaskan.
“Kalau kamu yakin itu yang terbaik, pergilah,” kata Fei datar.
“Terima kasih, Fei.”
Fei mengangguk. Khayalnya mengembara ke sebuah negeri di balik awan
*
 “Braga Siang Itu” merupakan kumcer yang terdiri dari lima belas cerpen. Kelima belas cerpen ini berfokus pada perempuan. Konflik yang diangkat dalam cerpen-cerpen ini dikemas dengan apik dan menarik oleh Triani Retno A. Cerpen-cerpennya banyak menghiasi media cetak nasional maupun lokal.

***
Buku Braga Siang Itu adalah kumpulan cerpen karya Triani Retno A yang dibukukan. Sejumlah cerpen yang ada di dalam buku ini sudah pernah diterbitkan di berbagai media massa. Total cerpen yang ada di “Braga Siang Itu” adalah sebanyak 15 cerpen dengan tema yang beragam.


Cerita pertama berkisah tentang sosok anak kecil di pasar yang bernama Rahmi. Ia bekerja mengangkatkan barang-barang di pasar. Tokoh “aku” dalam cerita ini menyimpan kekaguman pada sikap santun Rahmi dan penasaran terhadap ibunda Rahmi yang berhasil mendidik anak tersebut hingga baik perangainya padahal anak itu hidup di pasar.

Setiap cerita di dalam buku ini selalu punya pesan moral yang kuat.
Dan benar-benar mengusung tema yang sangat mudah kita temukan di sekitar kita. Mulai dari cerita anak-anak pasar, cerita mitos-mitos tentang kepercayaan bahwa jika kita bermimpi salah satu gigi kita tanggal, berarti salah satu anggota keluarga akan ada yang meninggal, sampai cerita tentang tanaman Sansevieria yang lazim disebut lidah mertua.

Cerpen-cerpen di buku ini sangat kental dengan suasana kota Bandung. Tidak hanya judul buku yang mengusung nama salah satu jalan paling terkenal di Bandung, Jl. Braga, tapi juga ada kalimat-kalimat dalam bahasa Sunda yang akan cukup sering terdengar jika berdiam cukup lama di Bandung.

***
Salah satu cerpen favorit saya dalam buku ini adalah yang berjudul “Gigi”. Saya sudah sering mendengar mitos tentang arti-arti mimpi. Salah satunya saat bermimpi salah satu gigi kita tanggal itu berarti akan ada keluarga yang meninggal. Cerpen ini mengangkat cerita tentang mitos tersebut. Namun akhir cerpen ini benar-benar sukses bikin saya nyengir lebar saat membacanya. Ha..ha.. Mimpi tokoh “Al” bahwa seluruh gigi depannya copot kontan membuatnya cemas setengah mati. Dan ternyata itu berarti?? Ah, baca sendiri saja lanjutannya.

Buku “Braga Siang Itu” saya peroleh langsung dari penulisnya Mbak Retno. Tapi ini tidak membuat review saya menjadi tidak fair. Saya menyukai hampir semua cerita di dalam buku. Dan sejujurnya cerpen berjudul “Braga Siang Itu” malah yang kurang memberi kesan bagi saya. Begitu pun cerpen yang berjudul “Surat Untuk Presiden”. Mungkin karena dalam kedua cerpen ini tidak ada bagian yang mempengaruhi emosi saya baik untuk kesal, bersedih, tertawa, atau menangis. Dua cerpen ini cukup datar dan lebih cenderung seperti digurui (>_<). Begitupun dalam cerpen “Suara”, dimensi politiknya mungkin terasa asing bagi saya yang sudah tidak tertarik lagi pada dunia politik serta semua hiruk-pikuk yang mewarnainya. Sehingga membaca cerpen ini pun tidak lagi membuat saya mengantisipasi apa-pun.
Sedangkan cerita-cerita yang lain terasa lebih membekas karena saya berhasil merasakan kekesalan seperti dalam cerpen Saat Malin Bertanya, serta cerpen Merajut Hari. Tema kedua cerpen tersebut sama, yakni menggugat tentang kedurhakaan. Apakah hanya seorang anak yang bisa durhaka? Tidak adakah orang tua yang durhaka?

Oiya, untuk cerpen "Braga Siang Itu" berlatarkan jalan Braga. Dan dari cerpen ini kita bisa tahu lebih banyak tentang sejarah jalan Braga. Tentang asal nama jalan Braga yang sampai sekarang masih belum pasti sumbernya. Katanya, kata "Braga" diambil dari bahasa Sunda yakni "Ngabaraga" yang berarti menyusuri sungai. Ini karena di dekat Braga mengalir Sungai Ci Kapundung. Ups..sepertinya saya membocorkan beberapa info penting (>_<)

Setiap cerpen dalam buku ini selalu punya pesan moral dan mengangkat realitas dalam masyarakat kita. Seperti dalam cerpen Sarapan yang juga menjadi salah satu favorit saya. Cerpen ini mengangkat tentang berita-berita di televisa dan hubungannya dengan tumbuh kembang anak. Cerpen ini juga mengangkat tentang perlunya orang tua untuk bersikap bijak dalam menghadapi pemberitaan di televisi yang bisa memberi impact buru bagi anak. Tentang orang yang harus semakin cerdas dan taktis menjawab pertanyaan anak-anak yang semakin kritis. 

Jadi, jika harus menyematkan bintang untuk novel ini, maka saya memberinya 3,5 bintang. Covernya masih kurang menarik perhatian. Selain itu layout untuk bagian "Daftar Isi" saya rasa agak mengganggu karena dihalaman berikutnya daftar cerpennya terlalu sedikit. Bagaimana kalau Daftar Isi dibuat menjadi satu halaman saya? Hm... Kalau dari segi isi? Saya suka dengan cerita-cerita yang punya pesan moral.

Oiya, menurut saya, buku ini lebih cocok dibaca oleh New Adult, yakni anak kuliahan atau yang lebih tua. Sebab untuk remaja, gaya bahasa dan tema-nya mungkin tidak begitu menarik bagi mereka. Selain itu tokoh dan konfliknya memang lebih cocok untuk dewasa.

***
Tentang Penulis
Triani Retno A, lahir di Bandung, 24 Desember. Alumnus SMAN 3 Bandung dan JIP Fikom Universitas Padjadjaran, Bandung.

Sekitar 200 cerpennya telah dimuat di berbagai majalah dan surat kabar (Kawanku, Anita Cemerlang, Muslimah, Say, Sekar, Kartika, Story, Aneka Yess, Tribun Jabar, dll). Selain itu juga telah mempublikasikan 12 novel dan kumcer solo (antara lain Ibuku Tak Menyimpan Surga di Telapak Kakinya, The Reunion, Foolove, Smile Aku Naksir Kamu, Bukan Jilbab Semusim, Masih Ada Hati Bicara, dan Kilau Satu Bintang), 2 kumcer antologi, 6 Buku nonfiksi solo (antara lain 25 Curhat Calon Penulis Beken dan Ordinary Mom), 1 buku nonfiksi duet, dan 18 buku antologi nonfiksi (antara lain Dalam Kasih Ibu, Business Mom, Jumpalitan Menjadi Ibu, Titik Balik, dan A Cup of Tea for Writer).

Pernah menjadi pemenang harapan pada beberapa lomba penulisan novel: News (Dar! Mizan, 2005); Bintang Masih Bersinar (Gema Insani Press, 2006). Selain itu juga menjadi Pemenang Berbakat dalam Lomba Cerita Konyol Gramedia Pustaka Utama 2008 (Bodyguard Bawel: Pembela Kebanaran dan Kebetulan), Pemanang Harapan dalam Lomba Cerita Detektif Majalah Bobo (2009), dan Pemanang I Lomba Kisah Inspiratif Titik Balik (Leutika, 2010). Tahun 2011 menjadi salah satu dari 100 Perempuan Inspiratif Nova. 

Kontak dapat melalui FB: Triani Retna A (Teera Jadi Dua), Grup FB: Curhat Calon Penulis Beken (admin), dan twitter @retnoteera
***
 Review ini saya sertakan dalam:


kategori Freebies Time

40 komentar:

  1. Braga? Settingya di Braga kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, untuk cerpen Braga siang itu settingnya di Braga :D

      Hapus
  2. Oooh, jadi braga itu nama kota :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he..iya, nama salah satu ruas jalan di Bandung.
      Tapi bisa juga nama orang sih, tapi saya sendiri belum pernah punya kenalan bernama Braga (^_^)v

      Hapus
  3. Ini sepertinya bakal jadi bahan bacaan yang bagus ya kak (ya kalo aku menang GAnya) hho. Dengan setting di Braga, Bandung. Ini bakal jadi bacaan yang ga akan aku lepas, sebelum selesai. Bandung loh.. Bandung! Tempat yang aku impi-impikan untuk aku kunjungi. Ya seenggaknya kalopun aku ga bisa kesana, ya aku baca buku yang latar tempatnya disana kan:3
    dari reviewnya lengkap kak, tapi udah hampir terlalu lengkap deh menurutku. Jadi ga terlalu surprise begitu bacanya, dan covernya udah termasuk kreatiflah menurutku. Soalnya aku kalo disuruh buat pasti ga bisa hho.

    Nama: anggi santri utami

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk..yuk..sini main ke Bandung (^_^)v
      Tenang, nggak semua cerita saya kupas kok.
      he..he..

      Hapus
  4. review nya keren kak, udah merangkup seluruh keisihan novel. hahaha..
    Bikin kita yg belum baca pingin ikut baca. apalagi settingnya di jalan Braga Bandung, dulu pas liburan ke sana, sering lewat situ, jalannya keren, emang sih gak sekeren dago yak? hahaha.. covernya keren kok, cover kayak gitu tuh, yg gak bisa di tebak isinya, bikin nambah penasaran pingin cepat-cepat baca. kalau ada politiknya sih emang bukan buku anak muda banget ya yg baru akan beranjak dewasa, cocok buat anak kuliahan terutama yg suka sm hukum and politic.. tapi review dari awal smpai akhir bagus kok, gak bikin bosen baca ;))

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he..iya genre-nya lebih ke young adult atau new adult. (^_^)
      tapi banyak pelajaran yang bisa dipetik dari buku-buku ini, lho

      Hapus
  5. young adult ya? mungkin memang karena tema politik ga masuk buat anak remaja ya. btw, braga itu menarik, meski ramainya bikin pengunjung membludak. nice review, mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. he..he..Braga memang menarik. Ruas jalan yang punya sejarah panjang meskipun panjang jalan ini sendiri cukup pendek
      *kok rasanya bahasa saya ini rada aneh..he..he..*

      Hapus
  6. Aku kira 'Braga Siang Itu' jenisnya novel, kayak menceritakan si tokoh laki-laki dan perempuan yang ketemu di Braga terus kenalan. Maksa banget punya analisa gitu ya... Hahah :D Ternyata bukan, salah besar banget malah, ternyata kumpulan cerpen toh..... baru ngeh sekarang.

    Kalau dari kata Kak Atria bilang ini cocok buat New Adult, berarti buat aku belum ya? Masih remaja muda gitu xD *pamer masih muda* Tetep seneng sama kekhasan Braga yang bener-bener memorable banget. Bagi sebagian orang yang belum pernah datang dan pertama kalinya datang, ada 'aura' lain dari Braga yang bikin kita jadi pengen kembali terus. Daya magnetnya gitu deh...

    Kalau dari reviewnya, aku suka lah... tapi hati-hati Kak, takut malah dibikin spoiler >< Hoho...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha..spoiler mah kalo ngbocorinnya tuntas. Kan ini ngebocorin dikit2. Semacam meniup2kan wangi masakan ke orang biar tergoda mencicipi.. Ha..ha..

      Iya, genrenya agak dewasa, bukan karena vulgar atau gimana, hanya konflik dan masalah yang diangkat lebih bijak aja. Takutnya anak muda malah bosen bacanya.
      Ha..ha..

      Hapus
  7. Aku kira ini novel hehe ternyata kumcer yah :D

    Semenjak baca Perahu Kertas jadi kayak addict sama novel yg settingnya di Bandung XD kayaknya boleh nih masukin ke want-to-read hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kenalan dengan karya Mbak Eno. Dimensinya beda dengan Dee, lebih membumi dan sarat pesan moral..he..he..
      *aduh bahasa saya aneh (>_<)*

      Hapus
  8. Reviewnya menarik. Selain mencantumkan identitas buku, kaka juga mencantumkan identitas penulis beserta semua karyanya. Biasanya (dari review yg pernah aku baca) jarang banget pereview yg mencantumkan informasi penulis sampai sedetail ini. Tapi kalo boleh jujur review ini kepanjangan ka, yang tadinya aku semangat membaca tapi lama kelamaan males juga hehe. Mungkin lain kali bisa dipersingkat lagi ka huahaha


    Nama: Linda Novianty
    Twitter: @cumee22
    Email: cumee22@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. He..he..disimpen masukannya.
      saya ini hobi nulis ngalor ngidul jadi suka nulis apa2 jadi kepanjangan..
      (^_^)v

      Hapus
  9. Oh kumpulan cerpen toh, Aku pikir bukan :D

    Kadangkala, kumpulan cerpen tuh jadinya ceritanya hanya sedikit aja, aku sih kalo baca kumpulan cerpen suka kurang puas hahaha

    Tapi dari judul ataupun covernya dan tentu isinya seperti yang mbak review buku ini memang cocok dibaca untuk YA atau NA :))

    @Oktaviamithaa

    BalasHapus
  10. Ohh ternyata Braga memang bukan nama tokoh, tapi setting bukunya, sebuah jalan di kota Bandung.

    Resensinya detil sekali, memuat info-info berguna bagi calon pembaca buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, sudah baca review saya (^_^)

      Hapus
  11. Penasaran ama yang cerpen 'Braga Siang Itu'. Rindu Braga nih! ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayuk main ke Bandung lagi. Sekarang ada Braga Culinary Festival (^_^)v

      Hapus
  12. Aku remaja. Berarti aku gak disaranin buat baca dong? Ah, tapi aku penasaran banget sama cerpen-cerpennya. hehehe... D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan nggak disarankan, hanya takut kalo remaja yang baca malah jadi bosan. He..he..
      Tapi buku ini bagus kok karena banyak pesan moralnya. (^_^)

      Hapus
  13. Membaca reviewnya beneran bikin mupeng pengen baca deh, karena di review di jelaskan bahwa cerpen-cerpen di buku tersebut sangat kental dengan suasana kota Bandung. Iya kayanya kalau saya baca itu buku, pasti bakal menghidupkan kembali kenangan-kenangan waktu saya masih tinggal di Bandung semasa kuliah. Apa lagi ada judul cerpen " Braga Siang Itu" dari baca judulnya aja saya sudah dirajam rindu nih sama Bandung, khususnya di sekitaran Braga ! Selain itu di atas juga di jelaskan banyak pesan moralnya dan cocok untuk dibaca oleh New Adult, yakni anak kuliahan atau dewasa, hmm cocok banget buat saya lahap itu buku hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk..yuk..dibaca biar rindunya semakin membuncah (^_^)

      Hapus
  14. Pengin baca...
    Baru tahu kalau Braga itu nama jalan...
    Hehehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, di Bandung ada jalan yang namanya Jalan Braga. (^_^)

      Hapus
  15. udah lama gak baca kumcer....
    aku bukan orang bandung dan gak pernah ke bandung. aku gak tau braga, gak tauuuuuuuu ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk cari tahu..
      *gandeng tangan..diajakin ke jalan Braga*

      Hapus
  16. keren, mereviewnya sungguh dalam. sampai kepada emosi-emosi saat membacanya. memang hal itu perlu untuk gambaran bagi org yg belum membacanya. Braga siang itu, sepertinya menarik. saya hanya pernah sesekali ke bandung, mungkin dengan membaca buku ini, saya bisa lebih mengenal bandung lebih dekat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk kenalan sama Bandung lebih dekat lagi. (^_^)

      Hapus
  17. Reviewnya sangat menarik dan membuat aku penasaran sama buku ini, apalagi memberapa cerita mengandung unsur nyata yang ada dikehidupan. Jl. Braga memang tempat menarik dengan bangunan khas bergaya eropa. Aku sudah beberapa kali ke Bandung, namun belum sampai ke Braga. Jadi buku ini sangat menarik apalagi dengan cover yang manis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti kalu main ke Bandung datang ke jalan Braga, jangan lupa ajak saya dan Mbak Eno juga buat kopdar (^_^)
      he..he..

      Hapus
  18. jadi kepengen baca.. awalnya aku kira ini novel. TApi ternyata kumcer.. Settingnya kebanyakan Bandung.. makin pengen bacaaa..

    BalasHapus
  19. perasaan udah comment tapi ternyata belum. ^^
    setting bandung selalu punya sensasi tersendiri. :)

    BalasHapus
  20. Cukup bagus resensinya kak... Tapi menurutku susunan resensinya agak berantakan, jadi agak nggak fokus bacanya, rada bingung gitu. Kalau lebih urut pasti lebih enak dibaca kak..

    BalasHapus
  21. Wahhh... Braga itu nama jalan ya? Baru tahu,hehe :D
    Sepertinya cerpen-cerpennya menarik buat dibaca. Apalagi beberapa dari cerpennya sudah pernah dipublikasikan lewat media massa..

    BalasHapus
  22. baca review‘a lumayan memberikan nilai positif buat buku ini. saya jadi mikir : dngan tema yg beragam+menceritakan bnyak hal yg “beraroma” bandung, mengundang minat buat punya buku ini (saya slalu berpikir, pasti menyenangkan tinggal di bandung. hehe).

    BalasHapus
  23. Makasih resensinya, Tria. :) Makasih apresiasinya, temen-temen. :)
    Braga Siang Itu memang lebih ke segmen dewasa, makanya bahasanya juga lebih baku dan serius (Jangan coba-coba bandingkan dengan bahasa saya di Kayla Twitter Kemping atau Genk Kompor :D ) ---> Saya bisa dewasa, loooh... :D

    Aku kopas ke blogku, ya. :)

    BalasHapus