Rabu, 31 Desember 2014

Finchickup: Financial Check Up for Ladies



“Motivation is what gets you started, habit is what keeps you going” (hal. 31)


Penulis: Farah Dini Novita
Penyunting: Pratiwi Utami
Perancang Sampul: Satrio
Foto Sampul: iStock.
Ilustrasi isi: Upit Dyoni
Pemeriksa Aksara: Pritameani & Titis A.K.
Penata Aksara: refresh.atelier & Tri Raharjo
Penerbit: B First (PT Bentang Pustaka)
Cetakan: Pertama, Mei 2014
Jumlah hal.: xiv+234 halaman
ISBN: 978-602-1246-03-0

Punya hobi jalan-jalan? Nggak boleh absen nonton di bioskop tiap weekend? Selalu kalap kalau lagi ada midnight sale? Rutin ke salon buat jaga penampilan? Suka nongkrong di kafe buat ketemuan sama teman-teman se-gank?

Toss! Kita punya kebiasaan yang sama berarti.
Hal-hal yang menyenangkan memang susah banget buat direm.
Cari uang, kan, sudah susah, masa mau keluar uang juga masih susah. Hahaha ....
Tapi memang males banget, ya, kalau dengar nasihat teman atau ortu yang nyuruh kita berhemat. Buat investasi masa depan, katanya. Masuk akal, sih. Kita nggak mau juga,kan, kerja bertahun-tahun, tapi ternyata digit di tabungan nggak juga bertambah?

So, gimana ya caranya supaya tetap bisa senang-senang, tapi aset yang ada terus bertambah? Tenang ... buku ini solusinya :).

Cheers,
Dini
Senior Financial Executor

***

Bicara tentang perencanaan keuangan kini sudah menjadi hal yang mulai dibutuhkan. Kenaikan harga BBM yang tidak diikuti kenaikan gaji pokok jelas membuat kelimpungan. Bagaimana bisa nongkrong kalau pemasukan tetap tapi harga minuman favorit di kafe langganan naik? Biaya transportasi ke toko buku naik. Harus makin banyak jalan kaki nih *Ha..ha.. curhat*

Nah, buku yang ditulis Dini ini bisa menjadi pemandu yang menyenangkan. Dengan gaya bahasa yang ringan Dini mengajak pembaca untuk menyadari pentingnya melakukan perencanaan keuangan dan investasi. Ia dengan jelas menjelaskan berbagai hal terkait perencanaan keuangan agar tetap punya tabungan tapi bisa tetap menjalankan hobi *nggak..saya nggak bilang hobi belanja lho. Hobi mah bisa apa saja :D*

Dengan gaya bahasa yang ringan –pakai “gue”- membacanya terasa seperti ngobrol seru dengan kawan yang hitungan matematikanya jago banget. Ha..ha.. kok gitu? Soalnya di setiap pembahasan, Dini gak segan-segan menyodorkan contoh kasus dan hitung-hitungannya gimana, jadi lebih mudah dipahami.

Rengganis: Altitude 3088



“Selalu ada keringanan untuk setiap beban. Selalu tersedia solusi untuk setiap masalah dan musibah. Alam juga seperti itu sifatnya.” (Hal. 216)

Penulis: Azzura Dayana
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Ilustrator: Naafi Nur Rahma
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Pertama, Syawal 1435 H/ Agustus 2014
Jumlah hal.: 232 halaman
ISBN: 978-602-1614-26-6
Dia baru saja menyelinap keluar. Terbangun oleh gemerisik angin yang menabrak-nabrak tenda. Dua lapis jaket membungkus tubuhnya. Satu jaket polar dan satu jaket parka gunung. Tak ada seorang manusia lain pun yang terlihat. Seluruh penghuni kerajaan sang dewi telah tertidur.

Padangannya lurus ke depan. Kemudian, tiba-tiba saja tatapannya berubah menjadi tajam. Sangat tajam. Menatap lekat sesuatu. Atau lebih dari satu. Perlahan-lahan dia berjalan meninggalkan tenda. Meninggalkan teman-temannya yang tidur di dalam tenda. Menjejaki rerumputan basah dalam langkah-langkah pasti. Dermaga tua itu tujuannya. Mendekati tarikan magnet bercahaya. Memanggil-manggilnya dengan suara tak biasa.
 
Rengganis, pentas apa sebenarnya yang tengah dilangsungkan?

Hingg pagi hari datang, anak muda itu tak pernah kembali lagi ke tenda....

***

“A traveler without observation is like a bird without wings” (hal. 120)

Serombongan pemuda(i) berkumpul di Surabaya untuk memulai pendakian mereka ke Pegunungan Hyang. Lima laki-laki dan tiga perempuan yang menjadi satu tim dengan tujuan yang sama : menjejak Puncak Rengganis. Mereka adalah Fathur, Dewo, Dimas, Rafli, Acil, Ajeng, Nisa, dan Sonia. Delapan orang ini punya sifat yang berbeda-beda. Acil yang paling paham medan yang akan mereka lalui ditunjuk menjadi guide. Dewo didaulat menjadi pimpinan regu. Fathur sebagai asistennya. Nisa sebagai bendahara dan Ajeng sebagai komandan dalam hal masak-memasak. Yang lain bertugas sesuai kebutuhan tenaga bantuan yang sedang diperlukan saja.

Sejak awal mereka bergerak sebagai sebuah tim yang solid. Saling mengisi, hingga di tengah cerita Rafli sering menyelisihi instruksi Dewo. Ini sempat menimbulkan ketegangan. Ini lebih karena Rafli menyimpan ketertarikan pada Sonia. Hal ini membuat sikap dan reaksinya sedikit berlebihan dan mengganggu stabilitas kerja sama kelompok mereka. Interaksi kedelapan orang ini banyak diceritakan dalam novel ini.

Senin, 29 Desember 2014

The Marriage Roller Coaster



“It’s funny that most of the time the person you love the most, is also the person you hate the most. The person you wanna kiss, is also the person you wanna kill. The person you cannot live without, is also the person you wanna let go.” (Hal. 179)


Penulis: Nurilla Iryani
Editor: Herlina P. Dewi
Desain Cover: Teguh Santosa
Layout: DeeJee
Proof Reader: Tikah Kumala
Penerbit: Stiletto Book
Catakan: I, Desember 2013
Jumlah hal.: 206 halaman
ISBN: 978-602-7572-22-5
Kehidupan pernikahan itu bagaikan rollercoaster. Yes? No?

Jungkir balik! Kadang di atas, kadang di bawah. Ada yang menikmati dan tertawa bahagia, ada juga yang tersiksa dan menangis tersedu. Setelah mencobanya, setiap orang punya pilihan masing-masing: ingin terus mencoba atau justru kapok luar biasa.

Bagaimana dengan Audi dan Rafa? Kehidupan urban yang dijalani pasangan ini memberi tantangan lebih pada pernikahan mereka. Bagaimana mencari waktu untuk bersama di tengah kesibukan mereka. Bagaimana mengatur mood setelah semua energi positif hilang di kantor. Bagaimana menahan godaan dari orang yang pernah hadir di masa lalu.

Akankah mereka terus mencoba dan bertahan?
 Atau justru kapok dan menyerah?

***

“.... Marriage is like roller coaster. Ada ups and downs. ...” (Hal. 175)

Bagaimana rasanya menikahi laki-laki yang dicintai? Bahagia? Apakah kehidupan pernikahan itu seindah masa pacaran? Banyak kisah nyata terkait cerita semacam ini, namun menarik juga membaca karya fiksi yang saya rasa pun bisa jadi memang ada di dunia nyata.

Pernikahan Audi dan Rafa memang masih sangat muda. Baru setahun lebih. Namun ternyata kisah cinta yang dialami di masa pernikahan tidak seindah yang diharapkan Audi. Rafa adalah seorang workaholic. Awalnya hal itu tidak menjadi masalah bagi Audi sebab ia sendiri juga bekerja sebagai marketing researcher. Meskipun tetap saja ia masih tidak bisa memahami mengapa suaminya selalu pulang malam.

[PostBar] Riddle Secret Santa 2014




Wah, gak terasa sudah akhir tahun lagi. Ini kedua kalinya saya ikut berpartisipasi dalam event tahunan Blogger Buku Indonesia (BBI), Secret Santa. Dan sebenarnya event Secret Santa 2012 BBI yang membuat saya jatuh cinta hingga memutuskan mendaftar sebagai member BBI dan alhamdulillah diterima.

Kenapa bisa suka??
Soalnya, seru sih?! Member BBI yang ikut dalam event ini harus menebak siapa yang mengiriminya kado. Dan setiap peserta harus mengirimkan kado kepada targetnya dan diwaktu yang sama ia pun menjadi target dari peserta lainnya. 

Minggu, 28 Desember 2014

Book Kaleidoscope 2014 – Day 3: Top Five Best Book Covers



Hosted by Fanda Classclist

Hari ini saya hampir saja lupa ikut serta dalam Book Kaleidoscope 2014 yang digagas oleh Mbak Fanda. Padahal kali ini adalah edisi yang paling saya sukai. Yup, memilih 5 cover paling menarik bagi saya selama 2014 ini.


Saat harus memilih cover yang paling saya sukai, maka buku ini adalah yang paling pertama terlintas di kepala. Saya memang membelinya karena naksir dengan covernya. Kemudian saat melihat blurb di belakangnya saya semakin jatuh cinta. Membaca kalimat “Mengimamimu adalah mimpi terbesarku.” Jelas seketika membuat saya makin penasaran.

An Abundance of Katherines: Ketika Teori Mencampakkan – Dicampakkan Dirumuskan



“Kau bisa sangat mencintai seseorang, pikirnya. Tapi kau tidak bisa mencintai sebesar kau merindukan mereka.” (hal. 152)



Judul asli: An Abundance of Katherines
Judul terjemahan: Tentang Katherine
Penulis: John Green
Alih Bahasa: Poppy D. Chusfani
Editor: Barokah Ruziati
Desain Cover: Martin Dima
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: 320 halaman
ISBN: 978-602-02-0527-1
Katherine V menganggap cowok menjijikan.
Katherine X hanya ingin berteman.
Katherine XVIII memutuskan Colin lewat email.
Kalau soal pacar, ternyata tipe yang disukai Colin Singleton adalah cewek-cewek bernama Katherine.
Dan kalau soal Katherine, Colin selalu jadi yang tercampak.

Setelah diputuskan oleh Katherine XIX, cowok genius yang hobi mengutak-atik anagram ini mengadakan perjalanan panjang bersama teman baiknya. Colin ingin membuktikan teori matematika karyanya, supaya dapat memprediksi hubungan asmara apa pun, menolong para Tercampak, dan akhirnya mendapatkan cinta sang gadis.

***

 “Kita terpaku untuk menjadi sesuatu, menjadi spesial atau keren atau apalah, sampai ke titik ketika kita tidak tahu lagi kenapa kita membutuhkanya; kita hanya merasa membutuhkannya.” (Hal. 282)

Seumur hidupnya Colin selalu menjadi anak ajaib yang mencolok. Dan seperti umumnya yang terjadi di masyarakat, mereka yang memiliki IQ tinggi punya kesulitan dalam bersosialisasi. Sayangnya tokoh Colin termasuk orang yang kemampun bersosialisasinya sangat minim. Dia hanya punya satu teman yang bernama Hassan. Seorang muslim yang sebenarnya juga cerdas namun selalu ingin santai menghadapi hidup. Hanya dia yang mampu bertahan untuk bergaul lama dan akrab dengan Colin. Mau memahami keanehan si anak ajaib.

Sabtu, 27 Desember 2014

Book Kaleidoscope 2014 – Day 2: Top Five Most Memorable Quotes


Hosted by Fanda Classiclit
Hari ini hari kedua untuk Book Kaleidoscope 2014 yang digagas oleh Mbak Fanda. Kali ini edisi kilas balik quote dari buku-buku yang sudah dibaca dan direview selama 2014. Sebenarnya tidak mudah memilih kalimat-kalimat yang berkesan, karena ketika kalimat itu saya masukkan dalam reviewan saya, itu berarti pada saat membacanya ada sebuah kesan yang membuat saya menyukai kalimat tersebut.


Tapi berhubung saya wajib memilih lima saja, maka saya pun harus membuka-buka kembali ingatan dan juga reviewan yang sudah saya posting di My Little Library ini. Dan inilah hasilnya:
1.)

Aku mencintai siapa pun yang mengikatku dengan pernikahan –Kara dalam Diorama Rasa karya Fadhila Rahma


Saya memilih kalimat ini bukan karena sedang galau jodoh. Bukan. Tapi karena saya menyukai ketegasan yang Kara dalam menyampaikan hal ini. Dan ia menjadikannya prinsip. Ia mengatakan ini saat Adrian merasa cemburu dengan mantan suami Kara. Tapi jawaban Kara yang disampaikan dengan lugas ini jelas mampu menenangkan hati Adrian.

Jumat, 26 Desember 2014

Book Kaleidoscope 2014 – Day 1: Top Five Book Boy Friends

 
Hosted by Fanda Classiclit

Ini adalah tahun kedua bagi saya mengikuti Book Kaleidoscope yang di host Mbak Fanda. Sejak tahun lalu saat harus mem-posting edisi boy friend ini saya sering kali kebingungan. Tidak banyak tokoh yang berhasil membuat saya jatuh cinta. Selaini itu, saya ini tidak begitu pandai mendeskripsikan wajah orang. Ketika membaca sebuah buku, biasanya wajah setiap tokoh di dalam teater yang terputar di kepala saya tidak memiliki wajah. Karakter merekalah yang membekas bagi saya. Maka jangan berharap akan menemukan wajah-wajah ganteng sebagai gambaran terdekat dari tokoh yang membuat saya jatuh cinta. He..he.. Nanti akan saya jelaskan saja karakter apa yang dimiliki tokoh tersebut hingga membuat saya jatuh cinta.

Berikut 5 laki-laki yang membuat saya jatuh cinta saat menemukannya di dalam dunia yang diciptakan penulisnya. (urutan ini tidak didasari peringkat)

Api Tauhid



“Dari sejarah ini kita bisa belajar bahwa masa depan dan warna sebuah bangsa atau negara, sangat ditentukan oleh menu pendidikan yang dihidangkan kepada generasi penerusnya.”(Hal. xxviii)


Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Editor: Syahruddin El-Fikri
Cover: Ade Fery
Penerbit: Republika
Cetakan: I, November 2014
Jumlah hal.: xxxvi + 574 halaman
ISBN: 978-602-8997-95-9

Kehadiran novel Api Tauhid ini sangat pas dengan perkembangan dunia Islam saat ini. Pada saat dunia Islam dihadapkan pada persoalan radikalisme dan kaburnya orientasi peradaban.

Kekuatan sebuah novel sejarah tentu terletak pada kemampuannya dalam menampilkan peristiwa sejarah secara indah dan menawan. Novel menjadi sarat dengan hikmah sejarah yang berfungsi untuk menjadikan peristiwa masa lalu sebagai pengingat dan pelajaran bagi generasi sesudahnya. Sejarah yang merupakan pengalaman masa lalu (mati) dalam novel ini menajdi hidup kembali (living history), memberikan ibrah yang luar biasa. Inilah yang dihidangkan novel Api Tauhid ini.

Kemampuan untuk menghidupkan kembali peristiwa di balik tokoh berpengaruh dan penuh “keajaiban”, Sang Mujaddid Baiduzzaman Said Nursi, merupakan daya tarik tersendiri dalam novel ini.

Siapa pun yang mengidamkan dan ingin mewujudkan pertemuan berbagai peradaban yang berbeda-beda itu dalam balutan cinta dan penuh perdamaian – bukan pertentangan dan permusuhan (clash of civilization) – harus membaca novel Api Tauhid ini.

Ini bukan hanya novel sejarah yang menyadarkan, tapi juga novel cinta yang menggetarkan. Penulis novel Ayat Ayat Cinta yang legendaris itu meramu kisah cinta berbalut kesucian yang menciptakan keajaiban. Ya, cinta yang suci selalu melahirkan keajaiban dan keteladanan. Novel Api Tauhid ini menyuguhkan hal itu. Selamat membaca!

***

Habiburrahman kembali mengisahkan perjuangan seorang anak santri. Kali ini dengan tokoh bernama Fahmi yang menggandrungi kisah sejarah. Baginya “Keindahan sejarah tiada bandingnya. Karenanya salah satu muatan Al-Quran adalah sejarah Nabi dan umat terdahulu agar kita menyelami lautan hikmah dalam keindahan.” (hal. 9). Kali ini pengejarannya atas kisah sejarah seorang tokoh besar Turki tidak hanya karena minatnya semata. Ia sedang butuh penyejuk hati yang bisa membuatnya mampu berpikir jernih dalam menghadapi persoalan yang tengah menderanya.

Fahmi tengah berduka akibat cinta pada istri yang dinikahinya secara sirri, Firdaus Nuzula, tengah meminta cerai darinya tanpa alasan yang jelas. Nuzula adalah anak Kyai Arselan, seorang pemilik pesantren yang cukup besar dan amat dihormati oleh Fahmi. Hatinya semakin resah saat sang Kyai sendiri yang meminta Fahmi menjatuhkan talak pada Nuzula namun tetap saja tanpa penjelasan yang berarti.

Bulan Nararya



“.... Kadang sikap tulus dapat menyelamatkan kita dari carut-marut dunia yang tidak kita pahami.” (hal. 205)


Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan & Naafi Nur Roha
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Pertama, Dzulqo’dah 1435/ September 2014
Jumlah hal.: 256 halaman
ISBN: 978-602-1614-33-4
Aroma mawar makin tajam tercium.

Aku menundukkan kepala, gigi gemelutukan. Rahang saling beradu. Kedua kaki berdiri tanpa sendi, namun betis mengejang kaku. Berpegangan pada kusen pintu, perlahan tubuh melorot ke bawah. Ada sebaran kelopak mawar yang tercabik hingga serpihan, di depan pintu ruang kerja. Sisa tangkai dan batang serbuk sari teronggok gundul, gepeng terinjak. Cairan. Cairan menggenang, berpola-pola.

Aku bangkit. Terkesiap. Otakku memerintahkan banyak hal tumpang tindih. Lari, keluar, berteriak. Atau lari ke dalam, mengunci pintu. Atau lari masuk, menyambar telepon. Tidak. Anehnya, intuisiku berkata sebaliknya. Tubuhku berbalik, meski melayang dan tremor, dengan pasti menuju tas. Merogoh sisi samping kanan, hanya ada pulpen dan pensil. Merogoh sisi kiri, ada tas plastik kecil, bekas tempat belanjaan yang disimpan demi eco living.
Segera kuambil tas plastik kecil, membukanya, menuju ke arah pintu.
Halusinasiku harus menemukan jawaban. 

***

“Tak mudah mengenali perasaan sendiri. Terlebih bila berlapis lapis demi lapis pertahanan diri yang mencoba melindungi ego. Tak ingin terlihat lemah, prasangka, atau bahkan memang sengaja ingin menyakiti diri sendiri adalah sedikit dari banyak alasan mengapa seseorang tak mau jujur mengakui perasaan.” (hal. 44)
Banyak yang berpikir bahwa seorang terapis atau psikolog adalah orang yang tidak akan terjebak dalam sebuah masalah berlama-lama. Mereka bisa membantu orang lain menyelesaikan masalah, maka itu berarti mereka lebih mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi ternyata anggapan ini belum tentu benar. Hal ini ditampilkan dalam kehidupan Nararya, seorang terapis di mental health centre.

Nararya adalah perempuan yang menjalani pekerjaannya dengan penuh dedikasi. Namun terkadang pekerjaannya pun memberi tuntutan yang cukup berat. Ada tiga orang pasien yang menyita perhatian Nararya secara personal. Mereka adalah Pak Bulan, Sania, dan Yudhistira. 

Selasa, 23 Desember 2014

A Little Princess: Putri Sejati Itu Lahir dari Hati



“Apabila Alam telah menjadikanmu orang yang murah hati, maka kedua tanganmu akan selalu terbuka, begitu pula hatimu; dan meskipun ada kalanya kedua tanganmu kosong, hatimu akan selalu penuh, dan kau masih bisa memberi dari situ- hal-hal yang hangat, ramah, dan penuh kasih- bantuan, kenyamanan, dan keceriaan- dan kadang-kadang suara tawa ramah dan riang pun sudah merupakan bantuan terbaik.” (hal.81)


Penulis: Frances Hodgson Burnett
Alih Bahasa: Julanda Tantani
Desain dan ilustrasi cover: Ratu Lakhsmita Indira
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: pertama, November 2010
Jumlah hal.: 312 halaman
ISBN: 978-979-22-6406-7

Ketika baru datang ke London dan menjadi murid di sebuah sekolah asrama bergengsi. Sara Crewe memiliki segalanya –pakaian-pakaian indah, boneka-boneka cantik, dan ayah yang selalu memenuhi segala keinginannya. Hidupnya nyaris sempurna sampai hari ulang tahunnya yang kesebelas. Sarah mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal dan tidak mewariskan apapun padanya. Gurunya, Miss Minchin, membencinya dan memperlakukannya dengan kejam, karena dia telah jatuh miskin.Kini Sarah mesti menghadapi kesulitan-kesulitannya dan membuktikan bahwa dia tetap seorang “putri raja” yang bisa bertahan dalam menghadapi masa-masa berat itu.

***

Ketika seorang anak dibesarkan dengan kasih dan kebaikan budi, maka materi bukan tolak ukur sebuah kebahagiaan. Ketika seorang anak dibesarkan dengan kecintaan pada buku dan dibiarkan mengembangkan imajinasi, maka kebahagiaan tidak terletak pada apa yang dimiliki melainkan apa yang bisa dipelajari. Hal inilah yang coba diketengahkan oleh Frances Hodgson Burnett.

Karya-karya klasik memang selalu sarat dengan nilai moral. Buku anak-anak A Little Princess ini salah satu contohnya. Karya yang diterbitkan pertama kali tahun 1905 ini mengangkat kondisi masyarakat di Inggris saat itu. Tokoh Sara Crewe adalah seorang anak yang berusia 7 tahun namun dengan kedewasaan dan wawasan yang melampaui umurnya. Ini dilatarbelakangi oleh kondisinya yang sejak kecil tumbuh dewasa tanpa seorang ibu, tinggal di India (jauh dari tanah airnya), ayah yang penyayang dan periang, serta kesenangannya membaca buku. Maka tidak aneh jika seorang gadis kecil sepertinya mampu menganalisis banyak hal sebab ia tumbuh lebih mandiri dan terbuka dalam berpikir.

Minggu, 21 Desember 2014

Meski Cinta Saja Tak Pernah Cukup



“Mencintai pasangan hidup kita itu adalah pilihan kita sendiri.” (hal. 290)


Penulis: Deasylawati P
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penata Letak: Puji Lestari
Desain Sampul: Andhi Rasydan
Penerbit: Indiva
Cetakan: Pertama, Jumadil ‘Ula 1435 H./ Maret 2014
Jumlah hal.: 368 halaman
ISBN: 978-602-1614-07-5

Dunia Yunan berubah 180 derajat saat dia menikah dalam kondisi yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Silmi, teman sekantor Yunan yang idealis itu jadi istri ‘tak terduganya’. Antara kaget, bingung bercampur senang Yunan menjalani kehidupan barunya bersama Silmi, wanita yang diam-diam membuat hatinya selalu bergetar.

Tapi, perjalanan rumah tangga keduanya tak seindah agama. Yunan menyadari bahwa Silmi belum bisa  melupakan lelaki yang ‘hampir’ menjadi suaminya. Dan kenyataan bahwa Silmi masih dan semakin dekat dengan mantan calon suaminya itu membuat Yunan ingin mundur dalam perjuangan cintanya. Di satu sisi, Silmi yang mulai membuka hatinya pada Yunan harus menerima kenyataan bahwa ada hati lain yang sudah lama memendam rasa kepada suaminya.

Akankah cinta sanggup membawa bahtera Yunan dan Silmi berlayar hingga ke pelabuhan bernama bahagia?

***


“..., ibaratnya sekarang ini kamu sudah maju perang. Maka apa pun yang terjadi, cobalah untuk bertahan, jangan pernah menyerah terlalu dini. Tantangan di depan itu tidak akan terlewati kalau tidak dihadapi.” (hal. 235)


Apa jadinya jika kondisi membuatmu menikahi laki-laki yang awalnya tidak pernah terbayangkan akan menjadi pendamping hidupmu? Bagaimana jika perempuan yang kamu nikahi malah sibuk mengakrabkan diri dengan laki-laki yang sempat melamarnya?

Jumat, 19 Desember 2014

[Giveaway] Pengumuman Pemenang Giveaway Merajut Benang Cahaya


Assalamualaykum
Selamat siang. Bagaimana kabar pengunjung My Little Library? Ada yang lagi prepare buat liburan? Atau malah sudah berlibur?

Siang ini saya akan mengumumkan pemenang Giveaway Merajut Benang Cahaya karya Arrifa’ah. Sebelumnya izinkan saya atas kelalaian saya yang sangat terlambat mengumumkan giveaway ini. Mohon dimaafkan dan dilapangkan ya.

Saya juga mau mengucapkan terima kasih kepada Arrifa’ah untuk kesediannya membagikan 2 buku karyanya secara gratis kepada pengunjung My Little Library. Semoga bermanfaat. Sukses terus ya (^_^)9 Saya menunggu kehadiran “anak” berikutnya ya ;)

Ok langusung saja ya saya umumkan pemenang untuk giveaway kali ini. Mereka adalah

Sabtu, 13 Desember 2014

Dunia Anna: Kisah Gadis yang Menemukan Sebuah Kesadaran Kosmik



“Memang benar apa yang dikatakan pada politisi dan menteri-menteri perminyakan bahwa minyak bumi telah mengentaskan banyak orang dari kemiskinan. Namun , banyak juga orang-orang terentaskan dan lantas masuk ke dalam kemewahan yang sia-sia, sebuah penghamburan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah.” (hal.73)

Judul Asli: Anna. En fabel om klodens klima og miljo
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Irwan Syahrir
Penerbit: Mizan Pustaka
Cetakan: I, Oktober 2014
Jumlah halaman: 245 halaman

“Aku cuma bilang kalau aku mau dunia tempat hidupku ini seindah dunia yang Nenek nikmati waktu seumurku. Tahu, kan kenapa? Karena itu utang kalian pada generasi kami!” (Hal. 50)

Kalimat itu adalah luapan kemarahan cicit Anna yang bernama Nova. Ia tengah menggugat generasi sebelumnya atas haknya yang hilang. Yakni hak untuk menikmati keanekaragaman hayati serta hak untuk menikmati bumi yang nyaman untuk ditinggali. Akankah gugatan seperti itu akan kita dengarkan kelak? Gugatan yang datang dari generasi penerus kita. Apa yang mampu kita jawab pada mereka?

Dalam novel karya Jostein Gaarder ini, dikisahkan tentang Anna, seorang gadis yang tengah menanti peringatan ulang tahunnya yang ke-16. Dua hari sebelum ulang tahunnya, Anna mengalami mimpi yang aneh. Dalam mimpinya ia hidup sebagai Nova, cucu buyutnya, yang hidup di tahun 2028. Saat itu, ia sebagai Nova menemukan bahwa hanya sedikit flora dan fauna yang eksis di bumi. Ini jelas berbeda jauh dengan bumi yang dikenal oleh Anna pada tahun 2012.

Selanjutnya, dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, Jostein Gaarder mengisahkan tentang kondisi bumi di dua kurun waktu tersebut secara bergantian. Ia menampilkannya sebagai dunia Anna dan dunia Nova. Dunia saat “bibit kepunahan” berbagai jenis keanekaragaman hayati mulai muncul dan dunia saat kepunuhan itu nyata adanya.

Selain itu, dalam novel ini Jostein Gaarder menampilkan tentang perkembangan teknologi informasi dan transportasi. Tentang kualitas gambar dan suara yang mampu dihasilkan oleh teknologi informasi yang persis seperti aslinya. Sayangnya, di masa yang sama semua keindahan yang layak diabadikan telah menghilang. Sehingga gambar-gambar tersebut kelak disebut sebagai “fosil foto”.  Istilah ini digunakan untuk menggambarkan bahwa spesies-spesies yang punah di alam berhasil “diselamatkan” secara optikal. Ini jelas sebuah ironi.

Senin, 01 Desember 2014

Warna Hati



tidak kah itu menyakitkan?”tanyanya pelan,”benci dan cinta bercampur menjadi satu.” (hal. 182)
 


Penulis: Sienta Sasika Novel
Editor: Anin Patrajuangga
Desain Kover & Ilustrasi: Lisa Fajar Riana
Penata Isi: Lisa Fajar Riana
Penerbit: Grasindo
Cetakan: Pertama, 2014
Jumlah hal.: viii + 204 halaman
ISBN: 978-602-251-435-0

Setiap cinta akan menggoreskan warna sendiri, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi saat kita memilih satu di antara dua hati. Mereka memiliki ruangnya sendiri, memiliki waktunya sendiri, dan memiliki lintasannya sendiri.

Kita pun tidak akan mampu memilih cinta mana yang akan mengembuskan rona-rona kebahagiaan atau justru luka-luka yang akan tergores. Ya, cinta terkadang seperti kembang gula terasa manis, tapi cinta juga terkadang terasa getir.

Dan saat dihadapkan dengan luka, akankah cinta tetap bertahan di tempatnya? Atau berlari menyusuri masa lalu dan kembali pada hati yang dulu tak ia pilih?

Namun, cinta bukan melulu tentang perasaan yang meluap-luap, cinta juga bicara tentang keyakinan akan benang merah yang telah mengikat.

***

Tavita adalah perempuan yang cukup beruntung. Di saat perempuan lain galau karena jodoh, ia malah didekati oleh dua orang pria menarik. Keduanya punya niatan serius dengannya. Lando, seorang laki-laki yang secara fisik menarik, musisi yang tengah merintis kariernya, penyabar dan penyayang. Razka, laki-laki yang secara ekonomi sangat berkecukupan bahkan berkelebihan, selalu bisa memanjakan Tavita, dan bisa membuat Tavita dan keluarganya bahagia. Namun ternyata terjebak di antara dua pilihan ini malah menyulitkan Tavita mengambil keputusan. Ia takut membuat pilihan yang salah. Pilihan yang akan ia sesali.

Dalam novel Warna Hati karya Sienta Sasika Novel ini, pembaca disuguhi dua kehidupan, masing dalam Chapter Jingga dan Chapter Biru. Dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, penulis menampilkan kehidupan yang dijalani oleh Tavita bersama pilihan yang telah ia buat.

Pacarmu Belum Tentu Jodohmu



"Masa remaja itu waktunya untuk belajar & menempa diri, bukan waktunya untuk pacaran" (hal.120)

Penulis: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
Penyunting: Radindra Rahman
Pendesain sampul: Adam S. Muhsinin
Ilustrator: MEDZ
Penata Letak: Tri Indah Marty
Penerbit: Wahyu Qolbu
Cetakan: I, 2014
Jumlah hal.: x + 206 halaman
ISBN: 979-795-877-9

Pacaran bagi kebanyakan remaja mungkin mengasyikkan. Tapi tahukan kamu? Islam itu tidak mengenal pacaran, Bro/Sist. Karena pacaran merupakan perbuatan yang mendekati zina. Lebih banyak mudharat daripada manfaatnya.

Kamu mungkin menganggap, pacarmu adalah segalanya. Berpikir, kalau si doi udah pasti akan menjadi pendampingmu kelak. Sampai-sampai memanggilnya pun udah Mama-Papa, bahkan nggak sedikit yang udah berani ngelakuin hubungan intim layaknya suami-istri. Astagfirullahal adzim. Apa kamu nganggep hal ini biasa, Bro/Sist? Hadeuh... hadeuh... *Nepok jidat*
Ingat dong Bro/Sist, PACARMU ITU BELUM TENTU JODOHMU! Jangan sampai deh nyerahin segalanya. Yang udah pasti banyak ruginya itu di pihak cewek, lho, Sist! Begitu cowokmu udah bosan, kamu ditinggalin begitu aja, dalam keadaan hamil pula. Ibaratnya habis manis sepah dibuang. Kalau udah kayak gini, siapa coba yang bakal ikut nanggung aib? Orangtua kamu juga, ‘kan? Emangnya kamu nggak kasihan sama orangtuanyamu?? Jadi, udah deh nggak usah pacaran, Bro/Sist. Lebih banyak sia-sianya. Tapi kalo kamu udah terlanjut pacaran, ya udah putus aja sekarang!

Buku ini memotret kondisi nyata pergaulan masyarakat remaja saat ini. Penulis menyusun buku ini berdasarkan pengalamannya dalam membimbing dan menerima konsultasi dari para remaja seputar pacaran. Melalui buku ini, penulis ingin berbagi kiat kepada para remaja agar tidak galau soal pacaran dan memberi solusi tentang indahnya menikah tanpa pacaran.

***

Buku Pacarmu Belum Tentu Jodohmu karya Muhammad Syafi’ie el-Bantanie ini adalah sebuah tulisan non-fiksi yang diperuntukkan untuk remaja. Fokusnya?? Apalagi kalau bukan “virus merah jambu” atau asmara. Di masa kini, tontonan dan bahkan bacaan yang digandrungi oleh para remaja di Indonesia lebih sering mengenalkan kegalauan hati pada para remaja. bahkan tidak sedikit “virus aneh” yang ditularkannya seperti pakai “make-up” sejak remaja, minum minuman beralkohol, merokok, hingga free sex. Bahkan tidak jarang semua perilaku ini ditampilkan sebagia bagian dari perilaku orang-orang populer. Menempelkan kesan “keren” pada semua perilaku itu. Ya Rabb.. (-_-“)

Sabtu, 29 November 2014

The Namesake



Cover The Namesake dan puisi saya

Judul Terjemahan: Makna Sebuah Nama
Penulis: Jhumpa Lahiri
Alih Bahasa: Gita Yuliani K
Ilustrasi sampul:©Phillippe Lardy
Desain Sampul: Marcel A.W
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2006
Jumlah hal.: 366 halaman
ISBN: 979-22-2308-8
Ashoke Ganguli datang ke Amerika membawa segudang harapan. Tragedi yang ia alami bertahun-tahun sebelumnya membuatnya ingin memulai kehidupan yang benar-benar baru, berjuang melupakan trauma. Sementara Ashima isterinya datang ke negara itu dengan selaksa kesedihan karena harus meninggalkan kampung halaman yang ia cintai.

Di tengah berbagai perasaan yang berkecamuk itulah putra pertama mereka lahir. Mereka memberinya nama Gogol. Nama yang kelak sangat dibenci anak itu. Bagi Gogol namanya aneh, absurd, sama sekali bukan nama Amerika apalagi India. Ia berharap namanya lebih sederhana, lebih bermakna, dan bukannya sekedar nama penulis favorit ayahnya.
Tapi sebenarnya apakah makna di balik nama?

***

Novel The Namesake karya Jhumpa Lahiri bercerita tentang makna sebuah nama. Yang kemudian berujung pada sebuah pemaknaan menarik bahwa hidup itu “bagaikan sebuah rangkaian kebetulan, tidak terduga, tidak disengaja, satu peristiwa bergulir ke satu peristiwa .”(hal. 323)

Fokus cerita sebenarnya ada di sosok Gogol. Lebih tepat lagi pada nama Gogol yang melekat pada tokoh tersebut. Namun dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga, Jhumpa Lahiri bebas mengambil berbagai sudut pandang untuk membuat seluruh kisah ini jadi utuh.

Cerita di mulai dengan kondisi Ashima, ibu Gogol, yang tengah hamil. Di tengah proses kontarksi yang dialami Ashima, narasi cerita dapat dibuat melebar ke tradisi orang-orang India; tentang jarangnya seorang istri memanggil nama suaminya. Mereka lebih sering menggunakan kata ganti. Setelah itu, Jhumpa Lahiri benar-benar mengisi cerita dengan narasi panjang. Alur cerita campuran dimanfaatkan Jhumpa Lahiri untuk mempertahankan minat pembaca.

Kisah kecelakaan Ashoke, ayah Gogol, diceritakan sedari awal. Sebab kecelakaan ini punya peran penting hingga nama penulis Nikolai Gogol menjadi sangat berarti bagi Ashoke bahkan mendorongnya untuk memberikan nama Gogol pada anak pertamanya. Setelah itu, kisah berkutat pada kehidupan Ashoke dan Ashima di negeri orang. Negeri yang asing. Negeri yang jauh dari sanak-keluarga. Negeri yang membuat Ashima merasa sendirian dan tercerabut dari akarnya.

Setelah Gogol lahir dan dewasa, cerita berpindah ke kehidupan Gogol. Jika sebelumnya Jhumpa Lahiri memusatkan cerita pada kehidupan orang tua Gogol, maka berikutnya narasi diambil sangat dekat dengan kehidupan Gogol. Tentang masa remajanya saat ia semakin menyadari betapa aneh namanya dan menyalahkan nama tersebut atas keanehan dirinya. Juga moment saat nama Nikolai Gogol menjadi salah satu materi pelajaran di high school. Hingga pada bulatnya keputusan Gogol memilih mengganti namanya menjadi “Nikhil”.

Setelah itu cerita terus mengalir hingga akhirnya di satu moment, di akhir kisah, muncul sebuah penerimaan dalam diri Gogol bahwa ia pun akan merindukan nama itu ketika tidak ada lagi yang memanggilnya dengan nama itu. Di waktu yang sama dia pun menyadari bahwa nama Gogol akan selalu punya tempatnya sendiri di kehidupan Gogol. Tidak akan terhapus. Hanya tenggelam.

***

Sejujurnya, saya harus mengakui dengan sangat malu bahwa buku ini sudah bertahun-tahun saya miliki. Sekitar 2009 atau 2010, saya lupa persisnya, saya membeli buku ini di obral buku. Harganya? Seingat saya, hanya 10 ribu atau 15 ribu. Pada saat itu saya bahkan belum tahu siapa Jhumpa Lahiri ini. Dan anehnya, buku ini ikut terbawa dengan barang-barang yang saja ajak merantau ke kota Bandung.

Kini, membaca buku ini dan kemudian menamatkannya membuat saya semakin menyadari betapa jauh genre bacaan saya berubah. Dahulu, saya tidak akan sanggup menyelesaikan sebuah buku yang 90% isinya adalah sebuah narasi. Buku The Namesake ini 95% persen berisi narasi. Hanya sedikit dialog yang dituangkan oleh Jhumpa Lahiri. Namun ternyata karyanya tetap menarik diikuti.

Yang membuat saya tertarik adalah tentang Nikolai Gogol yang kisah hidupanya sempat disebutkan di buku ini. Nama penulis ini cukup asing. Saya pun mencoba memasukkan nama tersebut di mesin pencari google daaaann.. voila.. tetap saja asing bagi saya (-_-“). Tapi ini menjadi pengetahuan yang menarik. Mungkin jika tidak membaca buku ini, saya tidak akan berkenalan dengan nama Nikolai Gogol.

Selain tentang Nikolai Gogol, saya juga mendapatkan beberapa informasi tentang budaya India. Seperti budaya pemberian nama di India. Orang-orang India memberi nama panggilan untuk anak mereka saat masih bayi hingga kanak-kanak. Namun nantinya mereka akan diberi nama bagus atau bhalonam, yang menjadi nama resmi mereka. Bhalonam ini yang akan dicantumkan di kartu identitas, di ijazah, buku telpon, dan semua tempat umum lainnya.

Bagi yang tidak begitu menyukai deskripsi panjang, maka buku ini akan menjadi cobaan yang berat. Namun layak untuk dicicipi. Cara Jhumpa Lahiri bercerita dengan memanfaatkan alur maju-mundur serta menampilkan keseharian kehidupan seorang imigran. Tentang perasaan keterasingan serta tentang usaha untuk tetap mempertahankan budaya. Kisah-kisah ini membuat penuturan Jhumpa Lahiri jadi luas dan beragam.

Selain itu, dalam hal penokohan Jhumpa Lahiri benar-benar menggambarkan perkembangan tokohnya dengan baik. Terutama pada tokoh Ashima, perempuan yang lahir dan besar di India yang tidak punya obsesi besar namun akhirnya tinggal di Amerika karena mengikuti suaminya. Pada awalnya ia menanggung sendiri rasa kesepian dan sedihnya. Banyak hal-hal yang membuatnya merasa tidak nyaman. Namun di akhir cerita Ashima digambarkan mampu menikmati dan menerima kehidupannya. Ia bahkan menjadi lebih mandiri. Ia bisa menyetir. Namun tetap menggunakan sari. Ia masih orang India namun menggunakan paspor Amerika. Perubahan-perubahan ini tidak terjadi begitu saja melainkan berproses bersama konfilk di dalam buku ini.

Sejujurnya ini di luar ekspektasi saya. Saya pikir, saya tidak akan mampu menikmati karya ini karena full dengan narasi. Namun ternyata saat buku ini berakhir, saya malah berharap bisa mendapat cerita kehidupan Ashima selanjutnya. 

Trus kekurangan buku ini apa?? Hm..ceritanya full narasi sehingga beberapa deskripsi kadang membuat bosan. Namun itu masih bisa diterima karena gaya berceritanya yang mengalir. (^_^)
***
Tentang penulisnya sendiri ada informasi menarik nih.
Karya pertama Jhumpa Lahiri yang dipublikasikan adalah kumpulan cerita yang berjudul "Interpreter of Maladies. Naskah ini sempat ditolak banyak penerbit. Namun setelah diterbitkan ternyata berhasil memenangi beberapa award seperti O Henry Award tahun 1999, Hemingway Award tahun 1999, dan Pulitzer Award  tahun 2000.

Karya terbaru Jhumpa Lahiri adalah The Lowland. Karya ini masuk dalam nominasi  Man Book Prize. Dan terakhir menurut berita dari portal berita online antaranews.com (http://www.antaranews.com/berita/466651/jhumpa-lahiri-masuk-nominasi-penghargaan-sastra-asia-selatan) diinformasikan bahwa Jhumpa Lahiri masuk ke dalam nominasi penghargaan Sastra Asia Selatan.

Wuih..keren ya (^_^)