Kamis, 28 November 2013

History Reading Challenge 2014 – A Sail to the Past





Yeah, akhirnya ikut Reading Challenge lagi. Harusnya saya kapok mengikuti banyak Reading Challange setiap tahun karena di 2013 saya gagal memenuhi sejumlah Reading Challange. Hm..tapi saya akhirnya memberanikan diri mengikuti Reading Challange *yang mungkin tidak hanya satu, nggak kapok euy*

Nah, salah satu Reading Challenge yang tertarik saya ikuti adalah Reading Challenge yang diadakan mbak Fanda, FandaClassiclit. Tantangan yang menarik adalah karena buku yang diwajibkan adalah buku non-fiksi. Jadi fiksi sejarah tidak diperkenankan *uh..oh..I really love fiction*

Nah, dalam Challenge ini ada 3 level yaitu:
Student: membaca 1 – 3 buku
Scholar: membaca 4 – 6 buku
Historian: membaca 7 atau lebih buku.

Nah, saya menantang diri sendiri untuk membaca 7 buku. Ya, saya memilih level Historian. *mendadak keringat membutir di dahi*. 

Sabtu, 23 November 2013

Till We Meet Again




Penulis: Yoanna Dianika
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Kelima, 2012
Jumlah hal.: iv + 291 halaman
ISBN: 978-979-780-500-5

Saat pertama kali aku melihat dia hari itu aku sudah berbohong beberapa kali.

Aku bilang, senyumnya waktu itu tak akan berarti apa-apa. Aku bilang, gempa kecil di dalam perutku hanya lapar biasa Padahal aku sendiri tahu, sebenarnya aku mengenang dirinya sepanjang waktu. Karena dia, aku jadi ingin mengulang waktu.

Dan suatu hari, kami bertemu lagi. Di saat berbeda, tetapi tetap dengan perasaan yang sama. Perasaanku melayang ke langit ketujuh karena bertemu lagi dengan dirinya. Jantungku berdetak lebih cepat seolah hendak meledak ketika berada di dekatnya. Aku menggigit bibir bawahku, diam-diam membatin,”Ah, ini bakal jadi masalah. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta kepadamu.”

Apakah aku bisa sedetik saja berhenti  memikirkan dirinya? Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku jatuh cinta, tetapi ragu dan malu untuk menyatakannya.
***

Hm..membaca blurb buku ini sekali lagi setelah membaca novel ini, saya malah memiringkan kepala, bingung. Karena sejujurnya bagi saya blurb ini menarik namun tidak mencerminkan cerita sama sekali. Kisah yang saya baca di dalam buku ini tidak pernah seterbuka itu mengungkapkan pikiran-pikirannya, bahkan dalam narasi sekalipun.

Novel ini berpusat pada kehidupan seorang gadis muda yang sangat mencintai biola dan seni teater. Ia bernama Elena. Ia tinggal berdua dengan ayahnya di kota Bandung. Ibunya yang merupakan orang Austria, Esther, telah meninggal saat ia kecil. Sebelum ibunya meninggal, Elena dan orang tuanya tinggal di Austria. Namun setelah ibunya meninggal, sang Ayah, Sebastian, memutuskan untuk kembali ke tanah airnya agar tidak selalu bersedih karena mengingat kepergian wanita yang dicintainya itu.

The Man Who Loved Books Too Much




Karya: Allison Hoover Bartlett
Penerjemah: Lulu Fitri Rahman
Penerbit: Pustaka Alvabet
Cetakan: 1, April 2010
Jumlah hal.: 300 halaman
ISBN: 978-979-3064-81-9

Apa yang sanggup kaulakukan demi cintamu pada buku?

Bagi John Charles Gilkey, jawabannya: masuk penjara.

Gilkey, si pencuri buku yang tak pernah bertobat, telah mencuri buku-buku langka dari seluruh penjuru negeri. Namun, tak seperti kebanyakan pencuri yang mencuri demi keuntungan, Gilkey mencuri demi cinta: cinta pada buku. Barangkali, sama obsesifnya dengan Gilkey adalah Ken Sanders, seseorang yang menyebut dirinya “bibliodick” (penjual buku yang merangkap sebagai detektif) dan sangat ingin menangkap si pencuri. Sanders—seumur hidup menjadi kolektor dan penjual buku langka berubah menjadi detektif amatir—tak akan berhenti memburu si pencuri yang mengacaukan perdagangannya.

Mengikuti kedua karakter eksentrik ini, jurnalis Allison Hoover Bartlett terjun ke dalam gairah dunia buku yang fanatis, hingga akhirnya mendapati dirinya terjebak di antara orang-orang yang tertarik menemukan harta kekayaan yang dicuri Gilkey dan seorang lelaki yang ingin tetap menyembunyikan harta kekayaan itu: sang pencuri itu sendiri. Dengan perpaduan ketegangan, wawasan, dan humor, Bartlett merangkai permainan kejar-kejaran ala kucing dan tikus menjadi narasi yang sangat memukau dan memacu adrenalin: tidak saja menunjukkan bagaimana Gilkey melakukan kejahatannya dan bagaimana Sanders akhirnya menangkapnya, tapi juga mengeksplorasi romansa buku, keinginan untuk mengoleksinya, dan godaan untuk mencurinya. Semua kolektor punya cerita tentang bagaimana mereka bisa jatuh cinta pada buku, begitu juga dengan Gilkey dan Sanders. Dan, Bartlett meletakkan cerita mereka ke dalam konteks yang lebih besar dari gairah terhadap buku, pengoleksian, dan pencurian selama berabad-abad.

Mengantarkan pembaca ke dalam dunia obsesi kesusastraan yang luas dan kaya, The Man Who Loved Books Too Much menunjukkan peran besar buku dalam kehidupan kita, penghormatan yang menjadikan buku-buku itu tetap dipertahankan, dan keinginan yang membuat sebagian orang mempertaruhkan apa saja demi memiliki buku yang mereka sukai.
***

Buku ini saya temukan di Book Fair Bandung bulan Oktober lalu dengan harga 15ribu rupiah. Tertarik dengan judulnya, dan blurb buku ini akhirnya saya pun membelinya. Sayangnya baru pada awal November ini saya bisa membaca dan menamatkannya. *sedangkan buku Penghancuran Buku dari Masa ke Masa yang sudah lebih dulu saya baca belum kunjung tamat..maaf (-__-“)*

Diceritakan tentang penulis, Allison Hoover Bartlett yang meminjam sebuah buku tua yang diterbitkan pada 1630 dari seorang teman yang dititipi oleh saudaranya yang baru saja meninggal untuk mengembalikannya ke perpustakaan asalnya. Namun ternyata buku tersebut sudah tidak terdaftar di perpustakaan tersebut lagi. Ini membuat penulis menganggapnya sebagai buku curian.

I Love My Boss



Penulis: Alberthiene Endah
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Kedua, Mei 2006
Jumlah hal.: 344 halaman
ISBN: 979-22-1941-2
Salahkah bila sekretaris naksir bosnya sendiri? Semua orang menyikapi itu dengan pandangan menghina. Tapi apa salahnya, jika keadaan itu ditinjau dari cinta sepasang manusia (tanpa embel -embel bos dan sekretarisnya)?

Setahun bekerja di sebuah perusahaan event organizer, Karina Dewi tak bisa mengelak dari pesona bosnya, Rene Natalegawa. Pria muda yang sukses, cerdas, tampan, karismatik... dan sedang dalam proses perceraian dengan istri yang selama ini menjadi "hantu" baginya.

Celakanya, sang istri, Mariska, mendadak menelepon Karina dan memintanya jadi "mata-mata" untuk meneropong tingkah polah Rene, dan membantu Mariska merekatkan lagi kedekatannya dengan Rene. Mana cinta yang akan keluar jadi pemenang? Cinta tulus sekretaris, atau cinta posesif istri?
***

Sudah lama juga sejak terakhir saya membaca buku dengan genre “metropop” terpampang di sampul. Hm seingat saya, saya bahkan tidak punya buku metropop dalam rak buku yang saya miliki di Makassar. Maka itu artinya buku ini adalah buku metropop pertama yang saya punya. Meskipun termasuk buku lama dan saya beli dar hasil “cuci gudang” anggota BBI yang lain.

Dunia sekretaris jelas merupakan dunia yang memang rentan terhadap gunjingan orang-orang. Mereka cukup serba salah saat harus bertugas. Jika mereka cuek, maka mereka dianggap tidak melakukan pekerjaan dengan baik, sedangkan jika mereka terlalu perdulian pada keperluan si bos maka mereka akan dianggap keganjenan. (-___-“)

Pollyanna Grows Up




Penulis: Eleanor H Porter
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Orange Book
Cetakan: Pertama, September 2010
Jumlah hal.: x + 361 halaman
ISBN: 978-602-8436-95-3

“Oh, Ruth, aku ingin memberimu satu dosis Pollyanna!”
“Aku tidak menginginkannya Della, aku bukan pasienmu yang perlu diberi obat...”
“Pollyanna bukan obat, Sayangku, meskipun beberapa orang bilang dia sejenis penambah tenaga. Banyak orang mempraktikkan permainan sukacita yang dilakukannya.”
“Permainan sukacita? Sungguh tak lazim!”
***
Pollyanna beranjak dewasa, tapi perangainya tak berubah. Ia masih berusaha mempraktikkan permainan sukacita setiap saat. Ia menghadirkan keceriaan di rumah sahabat barunya, Mrs. Ruth Carew, yang dirundung duka akibat kehilangan keponakannya.
Namun, masih dapatkah Pollyanna melihat sisi menggembirakan dalam hidup ketika pamannya yang baik hati, Dr. Chilton, meninggal dunia dan perekonomian merosot? Mampukah ia menopang dna menghibur Bibi Polly, yang kembali menjadi pemuram dan menarik diri dalam kesedihan?
Keberadaan Jimmy Bean, Jamie dan Sadie di sekitar Pollyanna juga menghadirkan beragam warna dalam hidup gadis itu. Lika-liku persahabatan, keluarga dan romantika cinta.
***

Hei, sudah membaca buku Pollyanna?? Baca juga resensi buku pertamanya, Pollyanna di sini. Nah saya langsung melanjutkan membaca buku Pollyanna Grows Up begitu selesai membaca Pollyanna. Ini karena gadis kecil dalam buku ini membawa harapan optimis kita tentang kehidupan dan sukacita. Saya jadi penasaran bagaimana jika Pollyanna tumbuh dewasa? Apakah realita membuatnya berubah?

Pollyanna









Penulis: Eleanor H Porter
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penerbit: Orange Book
Cetakan: Pertama, Mei 2010
Jumlah hal.: x + 300 halaman
ISBN: 978-602-8436-79-3

Tak pernah terpikir oleh Miss Polly Harrington bahwa hidupnya yang selama ini teratur dan penuh ketenangan akan ditingkahi kehadiran seorang gadis cilik. Gadis itu adalah keponakannya sendiri, POLLYANNA, yang dirawatnya karena sudah menjadi yatim piatu.

Pollyanna sosok yang ceria dengan cepat membuat orang-orang di sekitarnya bahagia. Ia menularkan kepada mereka suatu permainan ‘Sukacita’ (the glad game), sehingga siapa saja yang tidak menghabiskan waktu dengan mengeluh atau bermuram durja. Menurut Pollyanna, pasti ada sesuatu yang menyenangkan dalam kondisi apa pun.

Tetapi suatu ketika, Pollyanna mengalami kecelakaan dan terancam lumpuh seumur hidup. Masih bisakah ia bergembira dan bersukacita dengan keadaannya?
***

Buku ini adalah salah karya klasik Amerika dari seorang penulis perempuan Amerika. Buku ini sendiri pertama kali terbit di Amerika pada tahun 1913. Wah, berarti tahun ini karya itu sudah menginjak usianya yang ke 100 tahun. *tepuk tangan meriah* Eleanor H Porter sempat menikmati kejayaan tulisannya. Ia meninggal pada tahun 1920, saat karyanya memasuki cetakan ke 47. 

Novel Pollyanna adalah novel yang ditujukan untuk anak-anak. Judul Pollyanna ini berasal dari nama tokoh utamanya. Pollyanna adalah seorang gadis kecil sebatang kara. Ia kehilangan ibunya sejak kecil dan kemudian ayahnya yang bekerja sebagai pendeta meninggal dunia. Pollyanna akhir diasuh oleh bibinya yang bernaa Bibi Polly. Bibi Polly adalah adik dari ibunya.

Friday’s Recomendation #1



http://renslittlecorner.blogspot.com/2013/11/fridays-recommendation-26-giveaway.html?showComment=1385086787300#c519099282194251588

Ini pertama kalinya saya mengikuti meme ini. Saya entah bagaimana sangat kesulitan untuk mengikuti meme secara rutin. Satu-satunya meme yang tulis dengan rutin adalah meme Buying Monday. Jadi izinkan saya mengikutinya. Memang cukup terlambat juga mengikutinya. Mudah2an masih bisa.

Meme ini diperuntukkan untuk merekomendasikan buku yang dianggap sangat bagus atau menarik, atau ingin merekomendasikan buku import untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa.

Nah kali ini saya ingin merekomendasikan sebuah buku ke teman-teman yang lain. Mungkin dianggap terlau serius, namun saya rasa untuk orang yang sangat suka pada buku dan bahkan cinta pada buku, sebaiknya memiliki buku ini.

Sabtu, 09 November 2013

Wonder




Penulis: R.J Palacio
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: Atria
Cetakan: I, September 2012
Jumlah hal.: 430 halaman
ISBN: 978-979-024-508-2

Don’t judge a book boy by its cover his face

“Kuharap, setiap hari adalah Hallowen. Kita semua bisa memakai topeng setiap saat. Lalu kita bisa berjalank-jalan dan saling mengenal sebelum melihat penampilan kita di balik topeng.”

August (Auggie) Pullman lahir dengan kelainan ­Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa. Meskipun dia sudah menjalani serangkaian operasi, penampilan luarnya tetap saja terlihat berbeda. Namun, bagi segelintir orang yang mengenalnya, dia adalah anak yang lucu, cerdas, dan pemberani.

Auggie mengalami petualangan yang lebih menakutkan daripada operasi-operasi yang dijalaninya ketika dia menjadi murid kelas lima di Beecher Prep. Kalian pasti tahu menjadi murid baru itu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi Auggie adalah anak biasa dengan wajah yang tidak biasa.

***

Arghh.. tampaknya daftar buku favorit bertambah satu lagi yakni novel Wonder karangan R. J Palacio ini. Awalnya saya tertarik membaca Wonder karena melihat cuplikan yang dibuat oleh anggota Blogger Buku Indonesia lainnya. Selain itu cukup banyak yang merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Maka mantaplah tekad saya untuk membelinya. Bahkan buku ini adalah buku yang saya beli sebagai hadiah ulang tahun untuk diri sendiri *ada gitu orang yang memberi hadiah ulang tahun untuk dirinya? Ada. Saya orangnya*

Saat menulis resensi ini saya heran karena buku  Wonder yang saya beli September lalu adalah cetakan I yang keluar pada September 2012. Hm..rasanya aneh buku ini tidak digandrungi. Tapi lupakanlah. Bukankah begitu? Tren buku itu suka terlambat. Tidak jarang, buku-buku yang sudah lebih dulu mendapat pengakuan di dunia internasional baru mendapat sambutan luas di Indonesia beberapa tahun kemudian. Hm..sebut saja The Hobbit. Buku itu pun tidak terlalu terkenal di Indonesia.

Ok, di luar animo masyarakat Indonesia, saya malah melihat bahwa novel ini adalah salah satu bacaan yang sebaiknya dibaca oleh banyak orang. Wonder bercerita tentang Auggie yang mengalami kelainan ­Mandibulofacial Dysostosis (sejujurnya saya pun baru tahu tentang penyakit tersebut saat membaca novel ini). Kelainan ini adalah anomali gen (saya tidak hafal penjelasan medisnya, dan rasanya pasti akan membosankan jika saya menyebutkannya di sini). Penyakit ini membuat Auggie memiliki wajah yang benar-benar “berbeda” dari anak-anak normal lainnya. Matanya yang posisinya sangat rendah. Telinganya yang tampak mencuat, dan wajah yang tidak simetris. Kelainan ini membuat Auggie dan kelurganya; yakni Ayah, Ibu, dan kakaknya, Via; harus terbiasa menghadapi pandangan aneh orang kemanapun mereka pergi bersama.

Dear Friend with Love





Penulis: Nurilla Iryani
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan: II, Januari 2013
Jumlah hal.: ix + 146 halaman
ISBN: 978-602-7572-07-2

Katanya, a guy and a girl can’t be just friends. Benarkah? How about Karin dan Rama?
Delapan tahun! Itu bukan waktu yang sebentar untuk menunggu. Tapi yang aku dapat selama ini justru semua cinta dengan puluhan wanita lain di luar sana. Puluhan wanita yang selalu berakhir membuatmu kecewa. Rama, sadarkah kamu, wanita yang nggak akan pernah mengecewakanmu justru berada di dekatmu selama ini? Aku. Sahabatmu, tolol!

Satu di antara seribu alasan kenapa gue nyaman bersahabat dengan Karin adalah ketidakwarasnnya membuat gue tetap waras di tengah gilanya kehidupan Jakarta. Ya, dia adalah teman adu tolol favorit gue. Oh iya, gue punya satu lagi alasan: dia cantik banget, man! Nggak malu-maluin diajak ke pesta kawinan kalau gue kebetulan sedang jomblo. Paket komplit!

***

Membaca blurb di sampul belakang buku ini, saya sadar bahwa ide ceritanya sudah umum. Cerita persahabat laki-laki dan perempuan. Novel yang membahas hubungan seperti ini biasanya pada akhirnya akan menjawab pertanyaan itu dengan membenarkan teori bahwa laki-laki dan perempuan tidak akan bisa bersahabat saja. Atau novel lain akan menghadirkan cerita yang menentang anggapan ini.
Buku ini pun seperti itu, ia menyuguhkan jawaban yang tidak lugas membenarkan ataupun menyalahkan. Ia memang membuka cerita dengan isi hati (tepatnya sering kali adalah teriakan hati) Karin yang menyimpan cinta untuk sahabatnya, Rama. Namun karena tidak ingin merusak hubungan persahabatan mereka, Karin memilih menunggu Rama menyadari perasaannya. Tidak berniat menyampaikan perasaannya.

Travel in Love




Penulis: Diego Christian
Penerbit: Noura Books
Cetakan: I, April 2013
Jumlah hal.: 324 halaman
ISBN: 978-602-7816-42-8

Di peron stasiun,
Aku berdiri dengan carrier 85 liter di sisi. Sebentar lagi rangkain Argo Parahyangan akan membawaku mengawali perjalanan 30 hari: Jawa, Bali, dan Lombok.

Di atas bukit bintang,
Aku ditemani seorang sahabat yang masih berduka atas kekasihnya. Seperti aku yang belum merelakan si Pecinta Gunung, laki-laki si pemilik senyum teduh.
Di atas kapal yang berayun,
Aku harus kuat menghadapi hadirnya si Orang Asing. Juga ketika banyak rahasia yang terungkap atau kata-kata yang dulu tak terucap.
Di pantai yang indah,
Aku duduk menatap laut, sejauh ini aku tak tahu cinta macam apa yang kutemui di perjalanan ini. Karena perjalanan ini terlalu panjang untuk dilalui sendiri.
Di perjalanan ini,
Aku ingin kamu menemaniku....
***

Buku ini perpaduan antara buku traveling dan fiksi. Saya paham bahwa buku ini sebenarnya adalah pengalaman perjalanan yang di fiksikan. Ini semakin terasa saat penulis menceritakan secara detail alur jalan yang dilalui tokoh utamanya, Paras.

Sejujurnya ini adalah novel traveling pertama yang saya baca. Buku ini saya beli beberapa bulan lalu, dan sudah selesai saya baca di awal bulan Oktober, namun entah kenapa saya benar-benar lupa untuk menulis resensinya. Saya baru menyadari saat melihat pembatas buku magnetic-nya di kulkas pagi ini. Akhirnya saya pun mengecek daftar novel yang diawali hurut T untuk mengecek resensinya. Ternyata memang belum saya buat. He..he..

Paras melakukan traveling ini bersama sahabatnya, Jatayu. Mereka punya tujuan yang sama yakni melepaskan masa lalu. Paras ingin melupakan Kanta dan cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Jatayu ingin merelakan kepergian Kelana, saudara kembar Kanta, yang meninggal karena terlalu banyak menghirup asap belerang saat memimpin pendakian ke Gunung Semeru.

Jumat, 08 November 2013

Rumah Cokelat




Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Buah Hati
Cetakan: I, Desember 2011
Jumlah hal.: 226 halaman
ISBN: 978-602-8663-74-8

Jadi ibu muda bekerja di Jakarta tidak mudah!

Hannah Andhito adalah tipikal perempuan masa kini di kota besar; bekerja di perusahaan multinasional, mengikuti tren fashion dan gaya hidup terkini sambil berusaha menabung untuk keluarga kecilnya, sangat menyukai melukis dengan cat air (yang ternyata baru ia sadari adalah passion-nya!), memiliki suami yang tampan dan family-oriented, sahabat SMA yang masih in touch, serta si kecil Razsya yang usianya jalan 2 tahun.

Sempurna? Awalnya Hannah merasa begitu sampai Razsya bergumam bahwa ia menyayangi pengasuhnya yang sehari-hari selalu bersamanya. Perjalanan Hannah menemukan makna menjadi seorang ibu yang sesungguhnya dimulai sejak momen itu.
***
Ini adalah buku pertama Sitta Karina yang saya resensi. Dengan genre MomLit, buku mengangkat cerita seorang ibu yang bekerja. Kisah ini jelas menjadi terasa real karena kondisi ini sudah banyak terjadi di masyarakat. Banyak perempuan yang memilih menjadi wanita karir karena sejumlah alasan. 

Hannah, seorang perempuan yang tengah menikmati kehidupannya sebagai wanita karir dengan seorang suami yang baik hati dan anak yang aktif. Cerita dimulai dengan menggambarkan rutinitas sehari-hari dan mungkin akan kita anggap wajar dan sering kita lihat dilakukan oleh ibu-ibu muda lainnya, yakni menemani si buah hati sambil membaca tabloid fashion atau gaya hidup. Awalnya ini adalah gambaran yang biasa saja. Hal yang wajar bagi Hannah.

Ia merasa semuanya baik-baik saja sampai ia mendengar anaknya bergumam mengatakan sayang pada pengasuhnya, Upik. Hal ini menjadi pukulan berat bagi Hannah. Hannah mulai merasa bahwa posisinya sebagai ibu di mata Razsya tersaingi oleh Upik. Ia menjadi lebih sensitif bahkan otaknya terus bekerja membandingkan antara dirinya dengan Upik.

Selain itu, ia semakin dibuat stress atas sikap ibunya yang ternyata terlalu memanjakan Razsya, padahal Hannah dan suaminya, Wigra, telah sepakat bahwa mereka akan mendidik Razsya dengan lebih disiplin. Seperti bahwa kalau makan harus di meja makan, bukan di depan tv. Belum lagi ibunya yang menggunakan “bahasa dewasa” kepada Razsya tanpa filter. Hal ini membuat hubungan Hannah dan ibunya sering kali diwarnai ketegangan.

Sketsa Terakhir




Penulis: Kei Larasati & Vanny PN
Penerbit: PlotPoint Publishing
Cetakan: Pertama, Juni 2013
Jumlah hal.: viii + 221 halaman
ISBN: 978-602-9481-37-2

Saat waktu akhir mendekat, hidup terlihat seperti jalinan garis-garis yag kutorehkan di buku sketsa milikku. Serapuh helai kerta yang bisa kuremukkan saat garis-garis yang gagal tak bisa dihapus lagi. Aku sadar, keinginan hati tak bisa dibohongi. –Tio

Ketika ada cinta yang tulus memilihku, aku tetap tidak kuasa untuk tidak mengejar cinta yang kupilih. –Rena

Aku pikir hidupku akan sempurna bersama Tia. Kenapa Tuhan menciptakan akhir? Menciptakan sakit yang tak bisa diobati. –Dru

Aku menunggumu. Selalu. – Martin

Ini adalah kisah tentang ketulusan. Dalam persahabatan dan dalam cinta. Saat waktu tak berpihak padamu, sejauh mana ketulusan akan membawamu.
***

Sebuah cerita tentang persahabata, cinta, dan pilihan. Siapa yang menduga bahwas sebuah penyakit akan membawa hubungan di antara keempat tokoh ini menjadi rumit. Memaksa mereka membuat pilihan dan menghadapi kenyataan.

Tio Anata seorang design  director di Ruang Desain, usaha yang dia bangun bersama sahabatnya, Martin. Hidup Tio seketika berubah saat vonis dari dokter ia terima. Ia menderita Leukimia Mielositik Akut. Dokter berkata bahwa waktunya hanya tinggal 2-5 tahun lagi. Sejujurnya, ia sudah menduga hal itu. Mengingat ibunya pun meninggal karena kanker. Awalnya Tio menghadapinya dengan menutup diri. Ia memutuskan pertunangannya dengan Dru.

Buying Monday [4]



God, ini adalah Buying Monday yang paling saya takutkan untuk menulisnya. Entah karena saya akhirnya menyadari berapa banyak budget yang diserap oleh buku-buku ini dari kantong saya setiap bulannya. But, as my promise, I’ll tell the truth. Dan untuk Aul- The Black in The Book- host meme ini, semakin hari saya semakin takut menuliskan pengakuan dosa bulanan ini..ha..ha..

Ok, buku-buku yang muncul di daftar pertama ini adalah buku-buku yang harusnya masuk di buntelan bulan lalu namun baru sampai di awal Oktober. Buku-buku ini saya beli online. Mereka adalah

Selasa, 05 November 2013

Always With Me




Penulis: Hyun Go Wun
Penerbit: Haru
Cetakan: Pertama, 2013
Jumlah hal.: 428 halaman
ISBN: 978-602-7742-23-9

KISAH LELAKI YANG SANGAT PERCAYA PADA ‘TAKDIR’, DAN WANITA YANG MENGANGGAP SEMUA KEJADIAN HANYA ‘KEBETULAN SEMATA’.

Chae Song Hwa, Cinderella Bertubuh Besar
“Dasar lelaki cabul! Awas saja kalau kau tertangkap tanganku lagi.”

Lelaki itu sungguh arogan. Ia menganggap bahwa seluruh wanita di Korea Selatan harus menyukainya. Selain itu, ia juga punya kebiasaan berbicara banmal kepada para pasiennya seenaknya. Ia bahkan dengan beraninya memanggilku ‘ajumma’, mentang-mentang ia  dokter pengobatan tradisional. Entah apa yang terjadi padanya, setelah selama ini bersikap tak sopan padaku, kini tiba-tiba saja lelaki itu tak hentinya memintaku menjadi kekasihnya.
Mencurigakan! Pasti ada sesuatu yang busuk di balik semua sikapnya itu.

Yoon Sang Yup, Romeo yang Kurang Ajar
“Pasti nanti kau akan menyesal. Sudahlah, tidak usah banyak alasan. Ayo, berpacaran denganku!”

Setiap pagi wanita itu selalu tertidur di dalam kereta dengan bau alkohol yang tercium kuat dari tubuhnya. Tidak hanya itu, bahkan air liurnya sampai menetes-netes. Benar-benar ‘suguhan’ sebelum bekerja yang tidak menyenangkan. Namun entah sejak kapan, wanita bernama Song Hwa ini mulai membuatku tersenyum.
 Akan tetapi, ketika aku mengajaknya berpacaran, mengapa ia malah menjawabnya dengan permainan gunting-batu-kertas? Aneh. Apa yang sebenarnya ada di dalam kepala wanita itu? 
***

Cerita dibuka dengan pertengkaran sepasang suami istri. Menampilkan cinta sepihak seorang istri dan kekecewaan cinta yang tak sampai dari seorang suami. Dan satu orang bocah kecil menjadi saksi pertengkaran itu. Jujur saja, hingga pertengahan cerita kilasan pertengkaran itu selalu membuat saya bertanya-tanya. “Kenapa adegan itu yang dipilih sebagai pembuka? Apa hubungannya dengan kisah cinta Chae Song Hwa dan Yoon Sang Yup?”