Jumat, 30 Agustus 2013

Blue Romance




Penulis : Sheva
Penerbit: PlotPoint Publishing
Cetakan: Kedua, November 2012
Jumlah hal.: vi + 216 halaman
ISBN : 978-602-9481-16-7

Buku ini membuat saya tertarik sejak pertama melihatnya di Rumah Buku. Entah kenapa saya sangat suka membeli buku yang covernya menampilkan gambar secangkir kopi dan ceritanya berhubungan dengan kopi. Honesty, saya bukanlah penggila kopi akut. Saya memang sangat suka menenggak bergelas-gelas cappucino saat suntuk atau saat full inspirasi dan butuh dopping agar mata tetap melek. (^_^)v

Blue Romance adalah sebuah omnibook dimana beberapa cerita saling berhubungan secara tidak langsung. Dalam buku ini Kafe Blue Romance adalah tali penghubungnya. Semua cerita menggunakan kafe tersebut sebagai latarnya. Sebuah kafe yang buka 24 jam dengan interior yang unik. Kafe ini punya jendela kaca besar yang dipenuhi tulisan-tulisan. Selain itu dindingnya dipenuhi berbagai hal yang dibagikan oleh dan kepada pengunjung kafe ini. Ada foto-foto polaroid hingga post-it yang menarik. Hm..membaca deskripsinya saya yakin saya pun akan suka nongkrong lama di kafe ini sambil memerhatikan sekitar dan menulis berbagai hal yang berseliweran di kepala saya. (kenapa jadi curhat gini yah?)

An Affair to Forget




Penulis: Armaya Junior
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: kedua, 2008
Jumlah hal.: vi + 240 halaman
ISBN: 979-780-217-5

Buku ini saya temukan terselip di antara jualan Garage Sela di salah satu kafe. Saya membelinya dengan  harga yang sangat murah. Saya pikir buku ini pasti tidak menarik. Kenapa sampai dijual oleh pemiliknya. Namun ternyata tidak seburuk sangkaan saya.

Jika kemarin saya membaca buku tentang rumah tangga yang retak karena kemandulan (After D-100) maka kali ini saya membaca tentang hubungan yang retak akibat perselingkuhan. Ya, tema yang sangat umum. Namun kali ini mengambil jalan keluar yang agak berbeda.

Adalah sebuah kelaziman jika wanita yang mengetahui bahwa suaminya berselingkuh memilih untuk menuntut cerai dan marah pada sang suami. Namun kali ini berbeda. Tokoh utama dalam dalam novel ini adalah seorang pria (dan lagi-lagi saya gagal menemukan nama pria ini) yang punya sahabat bernama Anna. Ia dan Anna sudah sangat lama berteman bahkan kadang banyak yang berfikir kenapa mereka tidak berpacaran saja. Kini Anna sudah menikah dengan Toni dan memiliki dua anak laki-laki yakni Aldi dan Marco. Namun rumah tangga Anna goyah. Awalnya Anna curiga bahwa suaminya berselingkuh hingga kemudian dia pun melihat langsung perselingkuhan suaminya.

Kamis, 29 Agustus 2013

Pada Suatu Hari Nanti – Malam Wabah





Penulis                 : Sapardi Djoko Damono
Penerbit              : Bentang Pustaka
Cetakan               : Pertama, Juni 2013
Jumlah hal.         : 94 + 88 halaman

Buku ini didesain dengan sistem ‘Side A-Side B”. Saya gak yakin yang mana side A dan mana yang B. Tapi saya pribadi lebih suka menganggap bahwa “Pada Suatu Hari Nanti” sebagai Side A. Alasannya?? Subyektif sih. Lebih karena saya selalu merasa bahwa aktivitas selalu dimulai di siang hari, saat sinar matahari masih menyapa. 

‘Pada Suatu Hari Nanti” berisi kumpulan cerita yang dibuat berdasarkan sejumlah dongeng ataupun cerita rakyat yang sudah sangat wellknown di masyarakat (khususnya yang memang senang membaca). Namun cerita ini kemudian dikembangkan dengan sudut pandang yang unik dan bahkan jadi berbeda dari yang aslinya.

Lihatlah kisah Rama-Shinta yang kemudian “dipelesetkan” dengan sangat anggun oleh penulis. Beliau mengajak kita berimajinasi tentang bagaimana kalau pertikaian antara Rahwana dan Rama diubah menjadi perang kecerdasan. Maka seperti yang bisa dibaca dalam buku ini, hasilnya akan menjadi tidak terduga-duga (^_^)v

After D-100




Penulis : Park Mi Youn
Penerjemah : Putu Pramania Adnyana
Penerbit : Haru
Cetakan: Pertama, Juni 2013
Jumlah hal. : 382 halaman
ISBN: 978-602-7742-18-5

Sejak membaca buku Crying 100 Times saya tertarik untuk membaca buku terjemahan yang diterbitkan oleh penerbit Haru. Saya tertarik untuk melihat cara penulis Asia Timur selain Haruki Murakami. Tidak banyak buku-buku terjemahan dari Asia Timur yang saya baca. Dan semuanya terkesan “berat” seperti karya Haruki Murakami ataupun The Hunter karya Asa Nonami.

Membaca Crying 100 Times dan Her Sunny Side yang lebih ringan membuat saya tertarik membaca terjemahan lainnya. Jika dua buku tersebut adalah karya penulis Jepang, maka kali ini saya mencoba karya penulis Korea. Dengan menjadikan cerita Drama Korea yang selau mengharu-biru maka saya pun menduga bahwa novel ini akan menjadi novel yang “cengeng” yang menguras air mata pembaca atau menceritakan konflik yang sangat menyedihkan.

Sejujuranya, tema ceritanya memang menyedih yakni tentang kemandulan *jadi ingat novel Test Pack* namun penulisnya menceritakannya dengan optimmis. Menggunakan sudut pandang orang pertama, novel ini dipenuhi dengan pikiran-pikiran Kang Gyung Hee, tokoh utama dalam novel ini, yang cukup ceria. Namun ketika masalahnya semakin kompleks kita akan bertemu dengan sosok Gyung Hee yang lebih sinis, lebih pemarah, dan bahkan yang kebingungan dan bersedih.

Novel ini dimulai dengan penuturan Gyung Hee tentang hidupnya yang normal dengan suaminya, Lee Jung Chul, yang ia cintai. Sayangnya tanpa sengaja ia melihat sebuah rahasia yang disembunyikan suaminya darinya. Ia pun mulai menjadi kritis terhadap sikap suaminya yang selama ini dingin padanya dan bahkan tidak terlalu menganggap penting kehadirannya.  Sejak itu ia pun berjanji pada dirinya sendiri bahwa 100 hari setelah ia melihat foto itu, ia akan meminta cerai dari suaminya.

Membaca Sastra Indonesia 2013, Klasik dan Kontemporer

Satu lagi reading challenge yang saya ikuti walaupun penyelenggaranya, mbak Melanie ( ma petite bibliotheque), enggan menyebut event ini sebagai challenge. Sebenarnya saya ikut Challenge ini karena saya memang lebih suka membaca buku berbahasa Indonesia daripada buku Import *rada minder*. Maka ini menjadi salah satu challenge yang menyenangkan buat saya. He..he.

ah sudahlah tak perlu berpanjang lebar. Ini dia rulenya yang saya copy dari Blog mbak Melanie

Rulenya adalah sebagai berikut:

Selasa, 27 Agustus 2013

Stasiun




Penulis : Cynthia Febrina
Penerbit : PlotPoint Publishing
Cetakan : Pertama, Mei 2013
Jumlah hal.: 171 + viii
ISBN : 978-602-9481-36-5

Buku ini sudah membuat saya tertarik beberapa kali di toko buku dan akhirnya saya pun membeli buku ini pada bulan Agustus berbekal THR yang saya dapat dari keluarga. Saya tertarik dengan covernya yang menarik. Selain itu saya merasa bahwa cerita ini terasa lebih akrab oleh saya karena saya pribadi pun pernah mengalami perjalanan menggunakan kereta ekonomi dan Commuter Line.

Buku ini mengambil sudut pandang orang pertama namun dalam kacamata dua orang tokoh utama yakni Adinda dan Ryan. Keduanya punya latar belakang yang berbeda. Adinda adalah pendatang baru dalam “Survival di dunia perkeretaan” sedangkan Ryan adalah “anak kereta” sejati.

Senin, 26 Agustus 2013

Buying Monday (2)

Ok, ini pengakuan dosa saya yang kedua. Setelah bulan lalu ternyata lupa memasukkan beberapa buku yang tidak ikut serta dalam perjalan mudik saya. Nah kali ini saya mencoba menulisnya dengan lebih lengkap dan semoga tidak ada lagi yang terlupa.

Nah, buku-buku yang saya beli antara lain:


1.) The Book of Tomorrow karya Cecelia Ahern (sila baca resensi di sini)

Buku ini saya beli di Makassar saat jalan-jalan ke Gramedia bersama sahabat saya. Buku ini adalah buku pertama yang saya beli di bulan Agustus ini dengan berbekal uang THR yang saya peroleh dari keluarga.

Selanjutnya ada sejumlah buku yang saya beli di Rumah Buku demi membuat kartu member di toko buku tersebut. mengingat saya harus melakukan pembelanjaan minimal 100ribu  maka saya pun memborong tiga buku ini dengan diskon 20%. Buku-buku itu adalah:

Bliss




Penulis : Kathryn Littlewood
Penerjemah : Nadia Mirzha
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I, November 2012
Jumlah hal.: 310+Viii
ISBN : 978-979-433-690-8

Buku ini adalah seri pertama dari The Bliss Bakery Trilogy. Sudah lama saya tertarik untuk memilkinya mengingat banyak yang berkata bahwa ceritanya menarik. Hingga akhirnya saya menerima buku ini sebagai sebuah hadiah ulang tahun yang diberikan lebih cepat (Thankyou Herdi :*)

Buku ini berkisah tentang keluarga Bliss yang nampak seperti sebuah keluarga yang biasa-biasa saja yang terdiri dari Purdy Bliss (ibu), Albert Bliss (Ayah), beserta keempat anak mereka Thy, Rose, Sage, dan Leigh. Cerita dituturkan oleh penulis dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan menjadikan Rose sebagai tokoh utama.

Rose merupakan anak perempuan tertua dengan seorang kakak laki-laki yang tampan, Thy. Dan dua adik yang lucu dan menggemaskan. Ia merasa menjadi anak yang paling tidak menonjol dan bahkan seperti diabaikan. Padahal Rose yang paling sering membantu di Toko Roti Bliss yang dikelola oleh orang tuanya. Dia pula yang paling sering membantu mengurus adik-adiknya saat orang tuanya sibuk.

Rose sangat menyukai Toko Roti Bliss dan sangat penasaran dengan resep kue yang dimiliki orang tuanya. Hal ini karena Rose ingat bahwa ia pernah melihat ibunya mengaduk halilintar dalam semangkuk adonan. Ia pun yakin bahwa orang tuanya menggunakan sihir dalam kue yang mereka buat. Hingga akhirnya kesempatan itu datang.

Orang tua Rose harus pergi ke kota sebelah untuk membantu menghentikan wabah penyakit dengan menggunakan resep kue mereka. Maka mereka pun menitipkan toko roti pada Rose. Mereka juga menunjukkan sebuah buku resep “Bliss Cookery Booke” yang telah diwariskan turun temurun di keluarga mereka. Rose dipercaya memegang kunci pintu tempat buku resep tersebut disimpan. Akhirnya kecurigaan Rose mulai terbukti. Namun sayangnya orang tuanya melarang mereka menggunakan buku resep. Rose dilarang menunjukkan buku tersebut kepada orang lain.

Tidak lama setelah orang tua mereka pergi, datang seorang wanita yang mencurigakan yang mengaku sebagai bibi mereka. Namanya Lily.

Jumat, 23 Agustus 2013

Scene on Three (2)

"aku takut, Pak." Akhirnya Lahang berkata. Pelan sekali.
Bapaknya tak langsung menjawab. Dia tercenung, seperti melamun. Mereka berdua diam. Lama sekali.
 "aku tahu." Bapak menyahut. "Tapi, suka atau tidak, ajalku akan datang. Bisa karena penyakit ini, bisa juga karena yang lain."
Lahang menunduk.
"Berapa pun waktu yang diberikan, ta seharusnya dihabiskan dengan ketakutan," sambung bapaknya lembut, "karena ketakutan, anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian."
Lahang menelan liurnya. Kerongkongannya tercekat.
"Aku masih hidup, Lahang," ucap bapaknya, lebih tegas kali ini, "kau juga masih hidup. Maka hiduplah. Jangan seperti orang mati."
Dia berdiri, pelan-pelan sekali. Kemudian, berbalik tanpa berkata lagi.

Itu adalah sepenggal kejadian yang diceritakan dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora (resensinya baca di sini). Bagian ini saya baca saat berada di pesawat yang bertolak dari Makassar menuju Cengkareng. Saat membacanya saya harus menguatkan diri agar air mata saya tidak jatuh dan membuat bingung penumpang yang duduk di samping saya.

Tata Kota Kerajaan Mataram


Naskah : Mustofa W Hasyim
Cerita : Pang Warman
Gambar : Fida Irawanto
Penerbit : REKOMPAK
              Kementrian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya
              Java Reconstruction Fund
Cetakan : Pertama, Maret 2011

Buku ini adalah Seri Pendidikan Pusaka untuk Anak Daerah Istimewa Yogyakarta. Saya memperolehnya secara gratis saat mengikuti kegiatan yang diadakan oleh BPPI (Badan Pelestarian Pusaka Indonesia) dalam rangka HUT BPPI, HUT RI, dan HUT Boscha pada 17 Agustus lalu.

Nah, membaca buku ini kita bisa mendapat gambaran tentang kondis Kotagede. Dengan mengambil penokohan lewat sudut pandang seekot perkutut, kita akan berjalan-jalan menyusuri daerah Kotagede sambil mendapat sedikit cuplikan tentang Kotagede. Selain itu ilustrasinya pun menarik.

Diceritakan bahwa seekor perkutut datang ke Kotagede untuk menemui induk asuhnya sekaligus melihat kembali Kotagede yang sudah lama ia tinggalkan. Daerah pertama yang ia datangi adalah Pasar Legi. Di sana ia melihat hiruk pikuk kegiatan masyarakat di sekitaran Pasar Legi. Ia kemudian di sapa oleh seekor burung Gereja.


Dengan bantuan burung Gereja ia pun mencari kembali rumah tempat ia tinggal dulu sambil berharap bahwa induk asuhnya masih ada di sana. Dalam perjalanan mencari rumah tersebut Burung Gereja berbagi info tentang Kotagede bak seorang Guide. Ia pun menghubungkan informasi dari Burung Gereja dengan dongeng dan cerita yang dulu sering diceritakan oleh induk asuhnya saat ia kecil.

Hingga akhirnya sampailah dia di tempat tujuan berkat bantuan Burung Gereja yang mengerahkan seluruh teman-temannya untuk mencari rumah yang dimaksud dengan ciri-ciri yang diceritakan oleh Burung Perkutut. Ia pun berhasil menemui induk asuhnya.

lewat buku ini saya memang jadi sedikit tahu tentang kerjaan Mataram tapi saat membahas kawasan dengan keterangan  selatan, utara, timur dan barat, saya jadi agak kesulitan sebab navigasi saya cukup buruk. he..he.. (^_^)

Sayangnya jika buku ini dimaksudkan untuk buku anak-anak, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yakni:
- ilustrasinya memang menarik namun kurang "ceria" untuk anak-anak
-tulisannya terlalu padat sehingga membosankan jika dilihat sekilas
- gaya bahasanya terlalu serius sehingga untuk anak-anak usia SD mungkin akan sedikit kesulitan sebab banyak istilah yang kurang familiar bagi anak-anak.

Kamis, 22 Agustus 2013

Semata Cinta




Penulis                 : Chacha Thaib
Penerbit              : Wahyu Media
Cetakan               : Kedua, 2013
Jumlah hal.         : 242 halaman

Saya tertarik pada buku ini karena melihat covernya yang manis dan sebuah ungkapan yang tertulis di covernya, “Karena yang setia tak perlu diminta untuk menunggu”. Saya kemudian menemukan beberapa pendapat orang di cover belakangnya beserta sedikit keterangan tantang tema cerita di buku ini.

Saat mengetahui bahwa novel ini bercerita tentang Long Distance Relationship (LDR) saya pun tertarik membacanya. Mungkin ini ada hubungannya dengan relationship saya yang dulu yang kandas karena jarak setelah kebersamaan kami yang hampir 3 tahun. Dan kini saya kembali menjalani LDR dengan pria yang sayangi. Dan kali ini kondisinya sama dengan tokoh cerita, yakni jarak Jakarta-Bandung menjadi penghalang. *aduh jadi curcol gini*

Buku ini mencertikan tentang Arani yang bekerja di majalah In Town, Bandung dengan kekasihnya bernama Nugie yang merupakan seorang wirausaha. Nugie memang berasal dari Jakarta. Pertemuan mereka terjadi tanpa sengaja saat Arani melakukan liputan untuk majalahnya dan tertarik dengan desain chloting line milik Nugie. Akhirnya mereka pun jadian dan telah menjalani LDR selama 2 tahun.

Namun tampaknya setelah LDR 2 tahun pun Arani masih saja merasa Insecure hingga suatu hari ia melihat Nugie jalan berdua dengan clientnya, Disya. Padahal saat itu Arani telah bersusah payah untuk datang ke Jakarta dan mengajak berbaikan setelah pertengkaran mereka. Akhirnya Arani pun mulai meragukan Nugie. Ia pun tidak bisa berhenti mempersalahkan jarak di antara mereka.

Rabu, 21 Agustus 2013

Marginalia: Catatan Cinta di Pinggir Hati




Penulis                 : Dyah Rinni
Penerbit              : Qanita
Cetakan               : I, Februari 2013
Jumlah hal.         : 304 halaman

Pengejaran saya atas novel-novel pemenang Lomba Penulisan Romance Qanita masih terus berlanjut. Setelah memulainya dengan membaca Macaroon Love. Pengejaran saya berlanjut ke Seven Days dan kini Marginalia. Harus saya akui bahwa kualitas-kualitas cerita roman yang menjadi pemenang lomba ini memang bagus. Saya jadi kasihan pada jurinya yang pasti kebingungan dalam menetapkan pemenang.

Marginalia adalah sebuah istilah yang merujuk pada sebuah kegiatan membuat catatan pinggir. Setelah mengetahui makna kata ini, maka kita bisa menebak bahwa konflik yang terjadi dalam novel ini pastilah ada hubungannya dengan catatan pinggir yang dibuat oleh pembaca pada sebuah buku.

Senin, 19 Agustus 2013

The Book of Tomorrow



Penulis                 : Cecelia Ahern
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan               : pertama, Juli 2013
Jumlah hal.         : 477 halaman
Penerjemah       : Nurkinanti Laraskusuma

Sudah menjadi penyakit saya untuk membeli novel yang bercerita tentang buku atau perpustakaan. Penyakit ini masih tergolong baru. Baru beberapa bulan terakhir saya seperti tergila-gila pada hal yang berbau buku dan perpustakaan.  Buku-buku yang menyebabkannya adalah “Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken” dan buku “Libri di Luca”. Maka ketika membaca sinopsis buku ini saya pun tertarik untuk membelinya. Ini adalah buku pertama yang saya beli di bulan Agustus ini dengan bermodalkan  THR yang tidak seberapa.

The Book of Tomorrow menceritakan tentang kehidupan Tamara Goodwin, seorang remaja berusia 16 tahun, yang hidupnya seketika berubah karena kematian sang Ayah. Ayahnya memilih mengakhiri hidup di ruang kerjanya dengan sebotol pil dan wiski akibat terlilit utang. Dengan itu sang Ayah pun mengakhiri kemewahan hidup yang selama  ia nikmati. Rumah dan sejumlah hunian di luar negeri ikut disita oleh Bank hingga akhirnya dia harus menumpang untuk tinggal di sebuah wilayah bernama Kinley yang bahkan tidak ditemukan dalam GPS.

Hidup Tamara yang benar-benar berlimpah selama 16 tahun membuat dia lebih sering bertindak sesukanya. Ia mengucapkan apa pun yang ingin diucapkannya. Melakukan apa pun yang dia inginkan sebab itulah yang diizinkan oleh orang tuanya. Mereka memberi Tamara kebebasan dan melimpahinya dengan liburan dan barang-barang mahal. Sikap ini pun benar-benar tidak membantu Tamara melewati hari yang sangat membosankan. Teman-teman lamanya yakni Zoey dan Laura tidak membantu sama sekali. Ia bahkan merasa bahwa mereka tidak (atau dirinya) tidak lagi cocok dalam pergaulan yang ia tinggalkan di Dublin.


Hingga suatu hari datanglah perpustakaan keliling ke desa tempat tinggalnya. Ia berkenalan dengan pria yang mengemudikan van perpustakaan keliling tersebut, Marcus. Dan dari sana ia tanpa senagja menemukan sebuah buku yang tergembok. Namun ketika ia berhasil membuka gembok tersebut, dengan bantuan Suster Igantius, ia bingung mendapati bahwa buku tersebut ternyata kosong. Ia cukup kesal saat mengetahuinya. Namun beberapa hari kemudian ia menemukan bahwa buku tersebut menulis sendiri. Ya, muncul tulisan yang ia kenali sebagian tulisannya yang rapi. Namun ia tidak merasa telah menulis di dalam buku tersebut. Dan hebatnya buku itu menuliskannya dengan menggunakan tanggal esok hari. Dan benar-benar menuliskan hal-hal yang akan terjadi keesokan harinya.

Kamis, 15 Agustus 2013

12 Menit


Penulis : Oka Aurora
 Penerbit: Noura Books
Cetakan: Pertama, Mei 2013
Jumlah hal. : 343 halaman




Untuk pertama kalinya sejak membuat blog ini saya memberi nilai di atas 8,5 untuk sebuah buku yang ditulis oleh penulis Indonesia. walau sejujurnya, cover buku ini menurut saya kurang menarik. Warnanya terlalu gelap. Kurang cerah. Kurang merepresentasikan apa yang disajikan dalam cerita ini. Hal ini sempat mempengaruhi minat saya untuk membaca buku ini.

Bahkan jujur di awal membaca novel ini pun saya sempat merasa bosan. Membuat perhatian saya teralih ke novel lain. Dan kini setelah berhasil menamatkannya dalam waktu 3 jam di sela perjalanan kembali ke Bandung setelah mudik lebaran di Majene, maka saya harus mengakui bahwa kali ini saya ditemani oleh salah satu teman seperjalanan terbaik yang pernah saya punya.

Novel ini dibuka dengan situasi latihan marching band disertai berbagai istilah yang sangat asing bagi saya. Tapi ini salah satu kesenangan yang saya temukan dalam membaca yaitu mendapat ilmu baru yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Nah, setelah itu menyusul deskripsi beberapa anggota marching band. Perlu diingat, dalam novel ini penulis menggunakan kata ganti orang ketiga sehingga tokoh yang bisa dieksplorasi hidup, pikiran dan sudut pandangnya menjadi lebih banyak. Hal ini jelas bisa menjadi keuntungan sekaligus menjadi petaka jika penulis tidak mampu mengolahnya dengan baik.

Selasa, 13 Agustus 2013

Lady Love (Gadis Penakluk)


Penulis: Diana Palmer
Penerbit: Gramedia
Cetakan: Kedua, September 2012
Jumlah hal. : 241 halaman

Seperti biasa Diana Palmer berhasil mengolah konflik dengan menarik. Dikisihkan bahwa Merlyn Forrest Steel adalah anak satu-satu dari seorang milyader, Jared Steele. Namun kekayaan ayahnya malah menjadi petaka. Ia baru saja memutuskan pertunangannya dengan Adam James karena mengetahui bahwa Adam mendekatinya hanya karena ingin menjadi rekanan ayahnya. Adam adalah pria yang ia kenal dari hasil pencomblangan ayahnya. Sudah sejak lama sang ayah sibuk mencari pasangan yang cocok untuk Merlyn. Akhirnya Merlyn pun lelah dengan upaya ayahnya itu.

Puncaknya, ia pun melakukan protes dengan sang ayah. Akhirnya mereka bertaruh. Sang ayah akan berhenti mencomblanginya jika ia berhasil hidup tanpa nama dan kekayaan Ayahnya. Merlyn pun menyanggupinya. Ia kemudian mencari pekerjaan dengan membantu seorang penulis melakukan research tentang sejarah kerajaan Inggris, Lila Thorpe. Ia pun kemudian datang membantu Lila di rumahnya yang indah.

Senin, 12 Agustus 2013

Winter to Summer: 11.369km untuk satu cinta


Penulis : Icha Ayu
Penerbit : Stiletto
Cetakan : V, Agustus 2012
Jumlah hal. : 176 halaman

Cerita di dalam novel ini dimulai di Bandara saat Kirana harus meninggalkan kota Paris untuk bertolak menuju Jakarta. Kirana yang merupakan mahasiswa Indonesia penerima program short course program di Jenewa-Swiss mencurahkan isi hatinya. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama yakni dari sisi Kirana, penulis mencoba berbagi beberapa hal tentang budaya Barat-Timur.

Dalam novel ini, meskipun Kirana menjlani program short course namun yang menjadi pokok permasalahannya bukanlah tentang masalah-masalah yang dia hadapi selama mengikuti program tersebut, bahasan tentang hubungannya dengan seorang pria Perancis bernama Emmanual (disapa Manu) yang menjadi fokus masalah. Itulah sebabnya cerita dalam novel ini memiliki alur maju-mundur. Dengan memposisikan pusat alur waktu adalah saat Kirana akan kembali ke Jakarta yang berarti harus berpisah dengan Manu, maka pembaca dimudahkan menilai waktu dari peristiwa yang diceritakan. Masa lalu adalah yang terjadi sebelum ia berangkat, dan yang terjadi setelah ia berangkat adalah peristiwa yang terjadi kemudian.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Her Sunny Side


Penulis: Koshigaya Osamu
Penerbit : haru
Cetakan : Kedua, Mei 2013
Jumlah hal. : 224 halaman

Novel dibuka dengan pertemuan kembali dua orang teman SMP. Dengan mengambil sudut pandang dari pihak cowok, Okuda Kosuke, cerita ini pun dituturkan dengan agak lambat.
Kosuke diceritakan bertemu kembali dengan Watarai Mao, teman SMPnya yang dulu terkenal bodohnya seantaro sekolah. Sangking bodohnya, ia sering menjadi bahan olok-olok di sekolah mulai dari murid-murid hingga guru-gurunya. Namun saat usia mereka telah menginjak 25 tahun dan bertemu kembali, ternyata Mao telah berubah menjadi wanita dewasa yang sukses dan gigih serta tentu saja cerdas.

Pertemuan mereka itu terjadi saat perusahaan pakaian dalam tempat Mao bekerja menjadi klien perusahaan perikalanan tempat Kosuke bekerja. Pertemuan ini sangat mengejutkan Kosuke. Sejak saat itu, komunikasi mereka kembali terjalin. Dimulai dari komunikasi via handphone hingga akhirnya bertemu di luar urusan bisnis. Saat itu, sambil terus menjalin hubungan yang kian lama kian dekat, Kosuke sibuk menelaah cerita masa lalu mereka dan perasaannya sendiri.

Mereka pun akhirnya menyadari perasaan satu sama lain. Hingga akhirnya berfikir untuk menikah. Namun hambatan hadir dengan ketidaksetujuan orang tua angkat Mao (ya, Mao memang anak angkat) atas hubungan mereka. Mereka beralasan bahwa Mao menyimpan sesuatu tentang masa lalunya sehingga Kosuke akan merasa diberatkan oleh hal itu. Namun ternyata Kosuke tidak masalah dengan hal tersebut. Akhirnya, mereka pun kawin lari. Menikah secara hukum di catatan sipil tanpa upacara pernikahan tradisional.

Setelah cerita rumah tangga mereka pun bergulir. Hubungan keduanya dan cara mereka saling menyesuaikan diri. Namun lama kelamaan ada yang aneh dengan diri Mao. Kosuke merasa ada sesuatu yang disembunyikan Mao. Sakitkah?? Ada masalahkah?? Kecurigaan Kosuke kian membesar namun tidak ada bukti yang berarti atas kecurigaannya itu.

Ya, novel ini akan membawakan cerita dengan alur maju mundur. Dan dengan satu sudut pandang semata. Apa yang dilihat dan dirasakan oleh Kosuke karena diceritakan dalam sudut pandang orang pertama jadi cukup mudah untuk dibayangkan. Sampulnya pun manis.

Jadi, kalau harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-1 0, maka saya memberinya nilai 8.