Jumat, 28 Juni 2013

The Chcolate Chance




Penulis                 :Yoana Dianika

Penerbit              : Bentang Pustaka

Cetakan               : Pertama, Maret 2013

Jumlah hal.         : 350 halaman

Buku ini  adalah salah satu seri “What’s your Love Flavour” yang dikeluarkan oleh Penerbit Bentang Pusataka. Sebelumnya saya telah meresensi “The Coffee Memory” yang juga termasuk salah satu seri tersebut. Kali ini yang dipilih adalah coklat sebagai representasi dari cinta dan kehidupan. Coklat yang memiliki rasa manis pun mengandung rasa pahit di dalamnya. Tingkat rasa coklat dari yang dark yang dominan rasa pahit hingga coklat yang manis bisa mewakili warna kehidupan. Bahwa hidup pun banyak tingkatan pahit-manisnya, dan jika kita mampu menemukan cara untuk menikmati prosesnya, maka kita akan merasakan rasa manis yang menyenangkan.

Rabu, 05 Juni 2013

Montase




Penulis                 : Windry Ramadhina
Penerbit              : Gagas Media
Terbitan               : kedua, 2013
Jumlah hal.         : 357 halaman

Seperti biasa, Gagas Media selalu menyuguhkan sinopsis yang menggugah rasa ingin tahu di sampul belakang buku. Covernya pun menurut saya pribadi, cukup menggugah. Dan sampulnya berhasil merepresentasikan bagian-bagian penting dalam buku ini. Sampul depan yang menggambarkan sakura dalam sebuah rol film bisa secara umum menggambarkan cerita dari novel ini (jika kita mampu menebak dengan baik).

Ya, buku ini menceritakan tentang dunia sinematografi dari sudut pandang seorang Rayyi, terkadang disapa Bao, yang merupakan seoarang mahasiswa IKJ dari Peminatan Produksi. Pada dasarnya ia mencintai dunia perfilman dokumenter, namun beban sebagai anak satu-saru dari Irianto Karnaya yang merupakan seorang Produser yang cukup besar namanya di dunia perfilman Indonesia membuat Rayyi hanya berani bermimpi untuk mendalami dunia film dokumenter.

Sabtu, 01 Juni 2013

Tuesdays with Morrie




Penulis                 : Mitch Albom
Penerjemah         : Alex Tri Kartjono Widodo
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Terbitan               : Kedelapan, Juli 2011
Jumlah hal.         : 209 halaman

Seperti biasa, saat membaca karya Mitch Albom saya sering kali tertatih-tatih. Bukan karena bahasanya yang berat, tapi karena tulisannya sangat berisi. Ada yang membaca benar-benar untuk mendapatkan  hiburan, jadi hanya sekedar membaca dan menikmati kesenangan membaca itu sendiri. Tapi ada juga tipe pembaca yang berusaha mengambil pelajaran dari apa yang dibaca. Nah tipe seperti ini akan cukup tertatih saat membaca karena fokusnya agak terbagi antara mengikuti alur cerita dan memaknai isi bacaannya.

Buku Mitch Albom tidaklah setebal buku-buku lain yang saya resensi sebelumnya seperti Libri diLuca atau The Hunter, tapi membutuhkan waktu yang sama lamanya dalam menyelesaikan buku ini seperti saat menyelesaikan dua buku tersebut.

Tidak banyak yang bisa saya jabarkan tentang karya Mitch Albom selain berkata bahwa, “Seperti biasa, buku Mitch Albom selalu berisi pesan untuk lebih menghargai waktu yang kita miliki”. Karya Mitch Albom yang lain seperti The Timekeeper pun mengangkat hal yang sama. Tapi dengan cara penuturan yang berbeda dan masalah yang berbeda. Keduanya pun memiliki daya tarik yang berbeda.