Selasa, 28 Mei 2013

Libri di Luca




Penulis             : Mikkel Birkegaard
Penerbit         : Serambi
Cetakan          : III, April 2010
Jumlah hal.     : 587 halaman

Saat pertama kali melihat sampul buku ini dan membaca sinopsisnya, saya seketika tergugah. Namun karena saat itu saya sedang tidak memiliki cukup uang untuk membeli buku, akhirnya saya menunda membelinya. Sayangnya, saat itu saya tidak memotret sampul bukunya (hal yang biasa saya lakukan saat tertarik pada sebuah buku namun belum sanggup membelinya) dan parahnya lagi saya lupa judul bukunya (mungkin karena kalimatnya tidak familiar bagi saya).

Akhirnya, butuh waktu satu tahun bagi saya hingga akhirnya berhasil memiliki buku ini. Saya berkali-kali melakukan pencarian atas buku ini dengan mengandalkan ingatan saya akan sampul bukunya yang gelap dan ukurannya yang agak berbeda dari novel lainnya. Pencarian saya berakhir di Islamic Book Fair di Bandung yang dilakukan di awal bulan Mei 2013 ini.

Di bab pertama cerita ini, penulis mendeksripsikan kesenangan seorang Luca Campelli yang hidup dengan kecintaan pada buku dan memiliki sebuah toko buku antik. Hal ini memberikan suntikan semangat bagi penggila buku seperti saya karena saya mampu mengenali beberapa deskripsi tentang hal-hal yang menyenangkan dari sekedar menjelajahi toko buku, menyentuh sampulnya dan membaca secara acak judul dan penulis sebuah buku dalam labirin toko buku.

The Hunter




Penulis                 : Asa Nonami
Penerjemah         : Julanda Tantani
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan               : I, Desember 2012
Jumlah hal.         : 536 halaman

Buku ini membuat saya tertarik karena sebelumnya saya baru saja menamatkan buku “The Tokyo’s Zodiak Murderer” (jika saya tidak salah ingat judul, dan saya lupa nama penulisnya (^_^)v). Apalagi ketika membaca sinopsis saya melihat bahwa novel ini pun ber-genre detektif. Maka ketika sedang berada di Pesta Buku Bandung, buku ini pun berhasil saya beli. (Ah, selalu menyenangkan saat bisa membeli buku yang kita inginkan dengan harga yang lebih murah).

Buku ini dibuka dengan kronologi dari sisi saksi mata saat sebuah kebakaran terjadi. Kebakaran yang ketika diinvestigas lebih jauh ternyata bermotif pembunuhan. Akhirnya satuan Polisi Kriminal pun dikerahkan untuk menyelidiki masalah ini. Termasuk detektif perempuan bernama Takako Otomachi yang merupakan mantan polisi patroli sepeda motor.

Dalam proses penyidikan, sejumlah kasus baru bermunculan dengan ciri-ciri yang aneh. Yakni keberadaan gigitan hewan dengan taring dan kekuatan yang cukup besar. Dalam kasus yang pertama memang korban pun memiliki luka gigitan hewan, namun tidak menjadi penyebab kematiannya. Namun pada kasus berikutnya, kematian korban disebakan oleh cabikan hewan buas yang dicuriga sebagai anjing namun memiliki ciri yang berbeda.

Goodbye Happiness





Penulis                 : Arini Putri
Penerbit              : Gagas Media
Cetakan               : I, 2012
Jumlah hal.         : 310 halaman

Saat membaca awal buku ini, saya sempat merasa tertipu sebab ternyata mengambil setting di Korea. Sejujurnya saya kurang tertarik tentang hal-hal yang berbau K-Pop itu (Faktor usia mungkin..ha..ha..). Tapi saat itu saya tetap melanjutkan membaca namun ternyata kisah ini berhasil membuat saya terhanyut dan sejujurnya sempat nyaris mengeluarkan air mata. Maklum saya tipe melankolis apalagi ketika didukung oleh music yang sesuai (^_^)v

Cerita ini dimulai dengan konflik awal dan ternyata mengambil alur mundur. Pembaca disuguhkan dengan deskripsi situasi yang dianggap “gawat” yakni penguman pembatalan pernikahan yang dilakukan oleh seorang artis Korea bernama Krystal Key. Dan setelah itu pun dimulailah kilas balik yang bersetting di Indonesia.

Diceritakan pertemanan yang terjalin antara Krystal Key dan Skandar, teman sekelasnya. Pertemanan dengan dua orang yang memiliki karakter yang berbeda. Skandar yang cuek dan Krystal yang pemalu. Mereka dua orang dengan mimpi yang berbeda. Skandar yang mencintai dunia fotografi dan Krsytal yang mencintai panggung teater.

Senin, 27 Mei 2013

My Life As Writer




Penulis             : Haqi Achmad & Ribka Anastasia Setiawan
Penerbit           : Plot Point
Cetakan          : pertama, Maret 2013
Jumlah hal.     : 191 halaman

Buku ini saya beli online bersama buku “Antologi Cerpen” yang diterbitkan oleh Plot Point bersama Klub Buku Indonesia (sebuah komunitas yang saya sempat ikut menjadi penggiatnya). Saat melihat judulnya saya tertarik untuk membeli mengingat kesenangan saya menulis dan juga kegilaan saya pada buku sehingga saya mengenal penulis-penulis tersebut meskipun bukan pengagum berat mereka.

Pada dasarnya saya bukan penyuka buku-buku motivasi. Menurut saya buku-buku seperti itu sangat naif. Setiap orang memiliki pengalaman hidupnya sendiri dan tumbuh dna besar serta harus menghadapi tantangan yang berbeda. Tidak ada dua  manusia yang benar-benar memiliki latar belakang, kehidupan dan tantangan yang semuanya benar-benar sama persis. Sehingga kehadiran buku motivasi itu saya rasa hanya akan mengena pada mereka yang benar2 merasa bahwa buku tersebut memang cukup merepresentasikan apa yang tengah dihadapi atau pernah dialaminya.

The Coffee Memory




Penulis                 : Riawani Elyta
Penerbit              : Bentang
Cetakan               : Pertama, Maret 2013
Tebal                     : 224 halaman

Hal pertama yang membuat saya tertarik pada buku ini adalah sampul bukunya yang unik. Ya, bagi para penerbit, pastikan sampul anda cukup menarik saat tertangkap mata oleh para penikmat buku. Selain itu, bagi penggila buku yang juga mengoleksi buku, keunikan sampul sebuah buku bisa menjadi pertimbangan  yang sangat penting saat mereka ingin menambah koleksi buku. Tapi tetap saja selera itu sangat subyektif jadi belum tentu menurut saya menarik, bagi orang lain pun menarik.

Saat pertama kali membaca bab pertama buku ini saya langsung berfikir, “Wah dia membukanya langsung dengan sebuah klimaks. Hm..menarik..dan cukup berani”. Bagi yang sudah sering membaca berbagai jenis novel dari berbagai genre, maka membuka sebuah novel dengan cerita klimaks sangat butuh kehati-hatian karena jangan sampai anti-klimaks terjadi di pertengahan hingga akhir cerita. Itu akan membuat pembaca menjadi enggan untuk melanjutkan bacaannya.

Di bab awal kita disuguhi kehidupan seorang Dania yang kehilangan suaminya, Andro. Ia dan suaminya membuka sebuah kedai kopi bersama. Kegilaan Andro pada kopi menular pada Nia –sapaan akrabnya- dan kegilaan Andro pada kopi membuat Dania selalu menghubungkan aroma kopi dengan sosok suaminya itu.

Meniti Jembatan Emas



Penulis                 : Yan Daryono
Penerbit              : PT Grafiti Budi Utami
Cetakan               : Pertama, 2008
Jumlah hal.         : 369 halaman

Jika berbicara tentang pahlawan wanita Indonesia, maka nama RA Kartini menjadi nama yang paling familiar. Hal ini mungkin ada hubungannya dengan kurikulum sekolah kita yang memang lebih mengedepankan sepak terjang seorang Kartini (entah dengan alasan apa *maaf ini pendapat pribadi*). Nama Raden Dewi Sartika tidak cukup dikenal bahkan oleh mereka yang tinggal di kota Bandung. Perempuan-perempuan Bandung kadang lebih banyak tahu tentang RA Kartini daripada Raden Dewi Sartika.

Hal ini cukup disesalkan. Bisa jadi karena tulisan tentang R.Dewi Sartika masih sangat sedikit. Saya sendiri saat mencoba mencari buku-buku tentang beliau hanya berhasil menemukan 3 buku yang benar-benar berisi tentang kisah hidup dan perjuangan beliau.  Selain ketiga buku tersebut, penulis berhasil menemukan 2 buku yang merupakan kumpulan tulisan yang salah satu tulisannya membahas tentang Dewi Sartika. Tapi sudahlah, tak perlu membahas hal ini cukup jauh. Lebih baik saya berfokus pada buku yang ingin saya resensi.

Buku “Meniti Jembatan Emas” adalah buku yang mencoba mem-fiksi-kan kisah hidup Raden Dewi Sartika. Buku ini secara runut, berdasarkan kronologi waktu, bercerita tentang perjuangan Dewi Sartika muda saat merintis “Sakola Istri” yang kemudian berubah nama menjadi “Sakola Kautamaan Istri” yang kemudian berubah menjadi “Sekolah Raden Dewi”. Perjalanan ini tidak mudah, karena ternyata mendapat tentangan bahkan dari kaum Menak yang notabene adalah orang pribumi.

Berjuta Rasanya



Penulis                 : Tere Liye
Penerbit              : Mahaka Publishing
Cetakan               : IV, Agustus 2012
Jumlah hal.         : 205 halaman

Saya membaca buku ini meskipun tidak sesuai urutannya. Saya terlebih dahulu membaca Kumpulan Cerpen Tere Liye yang merupakan buku lanjutan dari “Berjuta Rasanya” ini yang berjudul “Sepotong Hati yang Baru” (kalau nggak salah, karena buku yang itu tertinggal di rumah yang di Makassar). Mungkin itu sebabnya saya merasa pernah membaca beberapa cerita karena ada yang mengambil tema yang sama namun cerita yang berbeda.

Di kumpulan cerpen ini ada beberapa cerita yang menarik dan ada pula yang bagi saya cukup membosankan. Cerpen pertama yang berjudul Bila Semua Wanita Cantik mengangkat tema yang menarik yang jika ditelaah lebih jauh, mencoba mengkritisi standar cantik. Bahwa standar itu pada dasarnya dibentuk oleh lingkungan dan bisa berubah kapan saja. Kecantikan yang tidak akan berubah adalah kecantikan hati.

Minggu, 26 Mei 2013

Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken



“..setiap kali membuka sebuah buku, aku akan bisa memandang sepetak langit. Dan, jika membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku sendiri menjadi lebih besar dan luas”

Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerjemah : Ridwana Saleh
Penerbit : Mizan
Cetakan :II, Juli 2011, Gold Edition
Jumlah hal. : 282 halaman

“Sebuah buku adalah dunia ajaib penuh simbol yang menghidupkan kembali di mati dan memberikan hadiah kehidupan yang kekal kepada yang hidup”

Sebagai seorang penggemar karya Jostein Gaarder, membaca buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken pada saat sekarang ini tergolong terlambat. Saya jauh lebih dulu mengenal Vita Bravis, Misteri Soliter dan Gadis Jeruk yang merupakan karya Jostein Gaarder lainnya. Maka jika harus membandingkan buku ini dengan buku-buku lainnya maka harus saya akui bahwa penuturan di buku ini jauh lebih ringan apalagi memang karya ini tampaknya ditujukan untuk anak-anak.

Buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken adalah sebuah buku yang disuguhkan dengan cara yang cukup menarik. Buku ini disetting agar pembaca seolah membaca sebuah buku surat yang ditulis secara bergantian oleh dua orang sepupu yang tinggal secara terpisah. Mereka bernama Berit Boyum dan Nils Boyum, keduanya berusia sekitar 12 tahun –kalau ditelusuri dari cerita mereka-. Keduanya bertukar buku surat yang tampak sepeti sebuah diary bersama yang mereka isi. Awalnya mereka lebih fokus pada cerita keseharian mereka, namun akhirnya isi ceritanya lebih berfokus pada wanita bernama Bibbi Bokken.

Kehadiran sosok Bibbi Bokken ini bermula dari cerita Nils yang menemukan surat aneh yang ditulis oleh seorang bernama Siri untuk Bibbi Bokken tentang buku yang bahkan belum ditulis tentang sebuah “perpustakaan ajaib”. Hal ini menggelitik rasa ingin tahu mereka sehingga mereka pun memutuskan untuk mencoba menelusuri sosok Bibbi Bokken dan keberadaan buku tersebut hingga keberadaan perpustakaan ajaib yang disebut-sebut itu. Setelah itu cerita ini menjadi semakin seru saat banyak kebetulan yang menunjukkan jalan kepada mereka untuk semakin mendekati jawaban-jawaban atas pertnyaan mereka. Namun diwaktu yang sama mereka pun merasa terancam dan diawasi oleh seseorang (atau sekelompok orang). Hal ini semakin ditegaskan dengan munculnya Mr.Smile yang seolah berupaya mencelakakan mereka dan merebut buku surat tersebut. Sebenarnya apa yang telah mereka ketahui dan dapatkan hingga ada pihak-pihak yang menginginkan buku surat mereka?

Bagi seorang yang tergila-gila pada buku, maka buku Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken ini layak untuk dibaca dan dimiliki. Banyak pengetahun terkait buku yang akan kita temukan di dalam buku ini. Seperti kata “incunabula” dan “Bibliografer” yang mungkin masih asing bagi orang-orang yang belum benar-benar berkecimpung dalam dunia buku dan kepustakaan. Selain itu orang-orang yang benar menyukai buku akan lebih mampu membayangkan dan merasakan kesenangan-kesenangan yang digambar di dalam buku ini. Tapi bagi yang belum begitu suka membaca buku, buku ini tetap cukup recomended  karena cara penuturannya ringan dan ceritanya orisinil.

Kalau harus memberi nilai untuk buku ini dengan skala 1 – 10, maka buku ini mendapat nilai 9 dari saya. (^_^)v

“Siapa yang bisa menemukan buku yang tepat, akan berada di tengah-tengah teman terbaik”

Quote lainnya:
 "Ini pemikiran yang penting, Nils. Maksudku, fantasi tak berbeda dengan kebohongan. Terkadang fantasi adalah kebohongan itu sendiri."

"Jika fantasi sama dengan kebohongan, para penulis mestilah merupakan pembohong yang paling antusias. Maksudku mereka hidup dari situ dan orang-orang dengan sukarela membeli kebohongan mereka."

"Aku rasa, beberapa orang senang berbohong, sedangkan yang lain senang dibohongi. Dalam setiap masyarakat, dibangun gedung-gedung besar yang didalamnya kebohongan berkumpul berbaris-baris, dan kita menyebutnya sebagai perpustakaan. Kita pun dapat menjulukinya sebagai "laboratorium kebohongan" atau yang paling mirip2 itu. Mungkin paling baik kita menamai perpustakaan dengan "tempat penyimpanan lelucon dan fakta""