Kamis, 12 Desember 2013

The Vanilla Heart




Penulis: Indah Hanaco
Penyunting: Laurensia Nita
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Penerbit: Bentang Pustaka
Cetakan:  Pertama, Juni 2013
Jumlah hal.: vi+262 halaman
ISBN: 978-602-7888-47-0
Komposisi: Cinta, Kejujuran, Ketulusan, dan Kesabaran

Cara Penyajian: Tuangkan kejujuran, ketulusan, dan kesabaran ke dalam cangkir. Tambahkan 180cc air cinta, aduk dan sajikan.

Aroma lembut vanila itu sangat kuat menguar,
merasuk dan mempengaruhi cita rasa hidup manusia.
Karena kejujuran rasa vanila mengajarkan kita,
bahwa ketulusan dan kesabaran memampukan kita meraih cinta.

Kau membuatku sadar bahwa cinta itu perjuangan.
Berjuang mendapatkan, meluluhkan, dan mempertahankan.
Hingga aku menyadari, bahwa hadirmu bagai vanila,
mampu mendatangkan kesederhanaan cinta yang tidak biasa.
Tapi tahukah kau, dirimu terkadang menyebalkan.
Terlalu cepat berlari, hingga membuatku takut dan ragu

***
Cerita dibuka dengan pertemuan pertama antara Huga, Dominique, dan Kyoko dalam sebuah kejadian yang hampir mencelakai Kyoko dan Dominique. Kacaunya kejadian itu malah berujung pada sebuah lamaran spontan dari Hugo kepada Dominique. Lamaran ini ada hubungannya dengan kejadian tidak menyenangkan yang dialami Hugo.

Hugo baru saja dikecewakan oleh sang kekasih, Farah. Farah membatalkan rencana pertunangan mereka tepat saat Hugo dan keluarganya datang ke rumah Farah untuk membicarakan pertunangan tersebut. Ini membuat harga diri Hugo terluka dan ia bahkan mempertanyakan tentang perasaan Farah padanya selama 7 tahun mereka bersama.

Ini membuat Hugo patah hati dan membatalkan niatannya untuk bersekolah di Meulbourne bersama-sama dengan Farah. Ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke Bristol, Inggris untuk menjauh dari Farah dan semua kenangan mereka. Hugo menghabiskan waktu 5 tahun di Bristol sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Di Indonesia, tanpa sengaja ia mengetahui bahwa Dominique bekerja di perusahaan milik keluarganya tempat ia mengaplikasikan ilmu yang ia peroleh selama berada di Bristol. Sedangkan di saat yang sama, Dominique yang masih menyimpan kekesalan akibat pertemuan mereka dulu malah bersikap buruk pada Hugo.

Sebenarnya kedatangan Hugo dalam hidup Dominique bersamaan dengan patah hati yang dialami Dominique karena laki-laki yang ia cintai, Jerry, jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, Inggrid. Dominique, Kyoko, dan Inggrid sudah berteman sejak mereka SMU. Jerry adalah kakak kelas mereka di SMU, dan Kyoko sudah lama menyukai laki-laki itu.

Akhirnya cerita pun mengalir hingga akhirnya Hugo secara paksa membuat Dominique mau membiarkan Hugo berada disisinya, membatu Dominique merelakan sakit hatinya. Selain itu, kehadiran seorang Farah pun menjadi masalah lain yang menggangu hubungan yang sedang coba dirajut Hugo dan Dominique.

Berhasilkah Hugo membuat Dominique mencintainya? Apakah Farah akan kembali masuk ke kehidupan Hugo? Apakah Dominique bisa mengobati sakit hatinya saat laki-laki yang ia cintai bersanding dengan sahabatnya sendiri di pelaminan?

***
Pembuka cerita ini memang menarik. Kecelakaan yang berujung lamaran adalah hal yang tidak saya duga. Saya pun bertanya-tanya tentang penyebab ke-absurd-an tindakan Hugo yang seenaknya melamar Dominique. Lagipula kenapa Dominique? Kenapa bukan Kyoko? Itu adalah hal yang tidak saya dapatkan penjelasan lengkapnya.

Selain itu, penyebab Farah memutuskan Hugo pun menurut saya cukup tidak masuk akal. Dan bahkan hingga akhir tidak ada penjelasan lengkap yang muncul tentang keputusan Farah membatalkan rencana pertunangan mereka. Bagi saya ini adalah “lubang” tersendiri dalam seluruh rangkaian cerita ini.

Novel ini bertutur dengan runut. Ada masanya, narasi dari penulis mengisi cerita untuk memahamkan pembaca. Namun ada kalanya percakapan pun muncul untuk membagikan sejumlah cerita dan filosofi menarik terkait Vanilla. Ini membuat cerita tidak garing, dan tidak juga terasa berat karena terlalu banyak  narasi. Saya adalah jenis pembaca yang tidak bisa menikmati narasi yang terlalu panjang. Ini bisa membuat saya mengantuk.

Namun sejujurnya dibeberapa bagian, gaya bahasa penulis cenderung terlalu indah. Contohnya pada kalimat “...akhirnya tidak banyak pertanyaan yang diuntai sang mama.” Yang muncul saat menjelaskan hal yang simple yakni, ibu Dominique yang tidak memberi Dominique pertanyaan saat ia pulang terlambat.

Hm..saya rasa itu saja hal yang agak mengganggu bagi saya. Sisanya?? Sudah cukup baik kok. Mulai dari sampul, alur cerita, dan konfliknya. Dan seperti seri “Love Flavour”  yang lain, seri ini menyajikan banyak filosofi hidup dan cinta yang sesuai dengan judulnya yakni berhubungan dengan Vanilla.

Filosofi favorit saya yakni saat menjelaskan bahwa Vanilla adalah lambang kerendahhatian. Vanilla butuh usaha yang keras untuk melakukan penyerbukan sebab hanya 12 jam waktu yang ia miliki untuk melakukan penyerbukan. Padahal dari segi penampilan dia tidak glamour. Tidak menunjukkan kemewahan berlebih entah itu dalam hal rupa atau aroma. Namun hebatnya, saat Vanilla diolah dan menjadi campuran makanan atau minuman maka vanilla bisa memberi pengaruh yang luar biasa pada rasa dan aroma makanan atau minuma tersebut. 

Hm..ok, waktunya menganugerahi buku ini dengan nilai dalam skala 1 – 10. Saya menyematkan nilai 8 untuk buku ini karena cover yang menarik, ide dan filosofi yang unik, dan konflik yang berhasil diolah dengan baik. (^_^)
 
Tentang penulis:
Indah Hanaco besar dan lahir di kota kecil bernama Pematangsiantar, salah satu sudut di Pulau Sumatra. Mulai suka menulis sejak SMP dan akhirnya menembus media nasional pada 1993 lewat sebuah cerpen. Namun, aktivitas menulis mulai berhenti saat Indah bekerja di sebuah bank swasta.

Kini, Indah menetap di Puncak, Bogor, tepat di antara hamparan kebun teh bersama keluarga tercinta. Memantapkan hati menjadi penulis sejak 2011. Beberapa novelnya yang sudah terbit adalah Mendua, Black Angle, Jungkir Balik Dunia Mel, Loves in Insa-Dong, Cinta tanpa Jeda, The Course of Beauty, Love Letter, Meragu, dan Everything for You. Jika ingin memberi saran dan masukan, Indah bisa dihubungi via email di indah_hanaco@yahoo.com atau twitter di @IndahHanaco.


Quote:
“Seharusnya dia menyadari bahwa hidup ini tidak semestinya bertumpu pada satu hal belaka. Ada banyak poin lain di dunia ini yang butuh konsentrasi dan fokus perhatian yang tidak terbagi.” (hal. 34)

“Aku tidak mau kamu menjadi sesinis Daniel atau sesantai Rocco. Hidup ini indah kok! Hanya saja, memang ada saatnya kita berada di titik terendah atau tertinggi. Itu sesuatu yang natural.” (hal.34)

“Kadang kita hanya butuh bicara dan didengarkan orang lain, bukan sederet panjang nasihat untuk menyelesaikan masalah.” (hal.52)

“Vanilla tidak pernah memiliki beragam rasa dan aroma. Vanilla setia pada rasa dan aromanya sendiri yang istimewa.” (hal. 53)

“Vanilla itu mampu memberi efek menenangkan bagi orang yang mencicipinya. Entah itu dipakai sebagai campuran makanan atau minuman. Vanilla menjadi penyeimbang untuk hal-hal bertolak belakan yang dialami manusia. Hidup tidak selamanya manis atau pahit, kan? Kehidupan setiap manusia selau ada campuran keduanya. Nah, itulah yang membuatnya seimbang.” (hal. 61)

“Vanilla tidak pernah mencuri aroma menawan yang bukan miliknya. Vanilla menjadi bermakna dengan menjadi diri sendiri” (hal. 82)

“Kita sama-sama belum tahu. Tetapi mungkin kita harus mencari tahu. Ada apa sebenarnya dengan masalah hati manusia. Kenapa cinta bisa menjadi bias. Antara penjajahan, pengabdian, atau penghambatan?” (Hal. 90)

“....Tidak semua masalah karena cinta harus diselesaikan dengan cinta yang baru pula, kan?...” (hal. 97)

“Kyoko itu sering lupa, kalau hati tidak bisa didesak atau dipaksa.” (hal. 107)

“Vanilla selalu memiliki ciri dan keteguhan hati. Aroma dan cita rasanya tetap bertahan dalam segala bentuk pengolahan.” (hal. 128)

“Vanilla menjadi contoh sifat kerendahan hati. Penampilannya tidak mentereng, tetapi setelah diolah memberi dampak yang luar biasa. Dia menyembunyikan kehebatannya di balik penampilannya yang sederhana.” (Hal. 160)

“Vanilla mewarnai rasa sehingga kita tidak hanya mengenal kepahitan yang sangat pahit. Atau kemanisan yang sangat manis. Vanilla membuat kita tahu, ternyata ada kepahitan yag manis atau kemanisan yang pahit.” (hal. 254)

“Vanilla itu seperti cinta yang tulus. Semakin diresapi, semakin kuat. Tidak ada kamuflase atau tipuan di sana....” (hal. 258)

9 komentar:

  1. Judulnya attractive, yah: The Vanilla Heart. Vanilla, rasa yang paling netral dari semua rasa. Belum pernah baca buku ini sih, tapi kayaknya sekarang mulai memikirkan nih untuk nyari kemudian baca buku ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, buku2 Seri Flavour of Love menarik karena ada filosofi2nya (^_^)v
      Kalau buku yg ini tokoh cowoknya loveable banget deh. He..he..
      coba cicipi deh :D

      Hapus
  2. Rikzan Ubaidillah31 Mei 2014 11.21

    Filosofi yang keren. Jadi pengen nulis buku bertema filosofi juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. cie.. Nulis aja, Dek. Ntar kalau bukunya udah beres kirim ke aku buat direview. ha..ha..
      (^_^)v

      Hapus
  3. Cerita ini kayanya enak ya,mau dicoba untuk di coba tapi saya masih bingung kak,nama pemerannya Huga atau Hugo.Disatu sisi huga sedangkan disisi lainnya Hugo.Jelaskan ya kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ha..ha.. maaf ini benar-benar karena Typo saya (>_<)
      Terima kasih sudah diberitahu. Sudah saya edit.
      Terima kasih sudah mampir..
      (^_^)

      Hapus
  4. Setuju banget sama filosofi tentang vanilla. Soalnya saya juga pernah baca cerita yang berfilosofi vanilla dan tokoh utamanya yang berkarakter seperti rasa vanilla, itu menarik banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Menarik ya membaca tentang filosofi-filosofi seperti ini.
      Bikin kita dapat banyak pencerahan. (^_^)

      Hapus
  5. Ini buku Mbak Indah yang pertama aku baca, plus tanda tangannya pula :D Lebih lengkap rasanya menikmati kisah Hugo dan Domi *tapi aku belum review, hehe ^^v*

    Kisah yang ditawarkan juga sebenarnya hampir sama dengan kebanyakkan yang ada, cuma asyiknya Mbak Indah juga menyajikan kisah Hugo yang lagi di luar negeri, Bristol. Pemaparan tentang Bristolnya juga menarik, dan mudah dipahami *itu yang terpenting, menurutku*, seakan membayangkan Bristol ini macam-macam Braga *apa sih?*

    Bukunya Young Adult, tapi menurutku cenderung Adult karena tokohnya yang memang sudah dewasa seumuran orang kantoran. Sayangnya, aku lebih suka lagi kalau The Vanilla Heart menggali lebih banyak setting, contohnya kesukaan Domi yang mendengar radio dan menggunakan nama samaran, soalnya tiba-tiba datang di pertengahan :D

    BalasHapus