Selasa, 31 Desember 2013

Roma




Penulis: Robin Wijaya
Editor: Ibnu Rizal
Proofreader: Alit Tisna Palupi
Penata letak: Dian Novitasari
Desain sampul: Jeffri Fernando
Ilustrasi isi: Ayu Laksmi
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2013
Jumlah hal.: x+374 halaman
ISBN:  979-780-6146

Pembaca tersayang,

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cerita berujung cinta. Robin Wijaya, penulis novel Before Us dan Menunggu mempersembahkan cerita cinta dari Kota Tujuh Bukit.

Leonardo Halim, pelukis muda berbakat Indonesia, menyaksikan perempuan itu hadir. Sosok yang datang bersama cahaya dari balik sela-sela kaca gereja Saint Agnes. Hangatnya menorehkan warna, seperti senja yang merekah merah di langit Kota Roma. Namun, bagaimana jika ia juga membawa luka?

Leo hanya ingin menjadi cahaya, mengantar perempuan itu menembus gelap masa lalu. Mungkinkah ia percaya? Sementara sore itu, di luar ruang yang dipenuhi easel, palet, dan kanvas, seseorang hadir untuk rindu yang telah menunggu.

Setiap tempat punya cerita. Roma seperti sebuah lukisan yang bicara tanpa kata-kata.

Enjoy the journey,

EDITOR
***
Cerita di buka dengan prolog yang belum menghadirkan tokoh utamanya. Melainkan memberi gambaran tentang impian dan hal yang dihargai oleh tokoh utama laki-laki, Leonardo Halim (yang akrab disapa Leo). The Lady adalah sebuah masterpiece baginya yang hanya dibagikan ke publik untuk dipandangi namun tidak untuk dimiliki. Kelak pembaca akan tahu bahwa The Lady akan menjadi sebuah jembatan tak kasat mata atas cerita ini.
Novel ini mengangkat kisah tentang Leo, seorang pelukis yang sangat mengagumi Michelangelo dan mencinta seni. Ia bertemu dengan Felice Patricia di Roma dalam sebuah moment yang tidak mengenakkan yang melibatkan lukisan Leo. Namun entah mengapa kehadiran Felice sangat membekas di hati Leo.
Pertemuan mereka berikutnya terjadi di Bali, saat Leo ikut meramaikan pameran seni di Taman Budaya, Bali. Di waktu yang sama Felice datang ke Bali untuk menghadiri pernikahan kakaknya, Anna. Namun karena ada masalah diantara ia dan ibunya, akhirnya Felice lebih sering memilih untuk menghabiskan waktu di luar cottage karena ingin menghindari ibunya. Saat itulah mereka bertemu kembali.

Kali ini pertemuan mereka lebih ramah. Bahkan Leo menemani Felice yang masih enggan pulang ke cottage. Mereka kemudian saling bercerita. Leo bercerita tentang impiannya. Felice mendapatkan penghiburan dari Leo. Namun pertemuan mereka yang tanpa rencana pun memberi mereka perpisahan yang tanpa rencana. Hingga akhirnya Leo menghubungi Felice dan mengabarkan bahwa ia tengah berada di Roma.
Leo meminta Felice menjadi pemandunya di Roma selama sehari. Ia ingin merekam banyak pemandangan indah untuk ia jadikan inspirasi bagi karyanya. Selama di Roma inilah, keedekatan Felice dan Leo berkembang. Sayangnya, ada yang terlupa.
Felice memiliki seorang kekasih bernama Franco yang berprofesi sebagai pemain bola. Fernando adalah pria yang sangat romantis dan sangat pandai menggombal. Di lain pihak, Leo telah memiliki Marla. Kekasih yang sudah setahun menemani dan mengurusnya. Lantas bagaimanakah mereka akan menjalani kedekatan itu? Apakah yang tumbuh di antara mereka memang cinta? Bersatukah Leo dan Felice dengan Roma sebagai saksinya?
***
Yup, satu lagi kisah cinta dibukukan dengan berlatar Eropa. Satu lagi cerita dengan tema cinta sampai di pembaca. Sebelum membaca review ini lebih lanjut, saya harus mengingatkan bahwa saya bukanlah reviewer yang saat membaca merasa menjadi bagian dari kisah itu. Saya lebih cocok diposisikan sebagai penonton dari setiap adegan yang disuguhkan penulis dalam novelnya. Hanya segelintir karya yang bisa membawa saya dalam pusaran perasaan yang diciptakan dalam cerita.
Saat membaca novel bertema romantis, sering kali “kebetulan” adalah kunci dari semua kemungkinan itu. Ini mungkin memang terjadi di dunia nyata tapi rasanya terlalu sulit membayangkannya sebagai dunia yang terjadi di duniaku.
Konflik yang ditawarkan dalam buku ini tidak tergolong baru. Ya, kisah diantara dua tokoh yang pada akhirnya menikmati pertemuan yang singkat dan merasa telah jatuh cinta. Sayangnya pada akhirnya mereka berfikir “Kenapa baru sekarang kami bertemu setelah salah satu dari kami memiliki pasangan?”. Merasa tidak asing, ya cerita ini sudah banyak saya temukan dalam novel. Yang membuatnya berbeda adalah setting cerita dan cara penyampaiannya.
Yang menarik dalam buku ini adalah banyak quote-quote yang menarik untuk disimpan, setting tentang Roma serta penjelasan singkat tentang karya-karya Michelangelo. Quote yang menarik selalu ditempatkan di bawah judul setiap chapter seolah ia menjadi sub judul. Dan memang quote tersebut merupakan penggambaran yang tepat atas kejadian dalam chapter tersebut.
Untuk cover, saya suka dengan yang simpel. Dan menurut saya sampul novel Roma ini simple tapi menarik meskipun membuat kita tidak begitu bisa menebak dengan apa yang akan terjadi di dalam novel. Begitupun dengan blurb-nya. Tidak  tertebak, namun cukup menggugah. (^_^)
Nah, jika harus memberi nilai untuk novel ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 7,5 (^_^). Ini mungkin karena dimensi romance yang terlalu mendominasi tanpa pesan moral yang cukup berarti untuk pembaca.
Quote:
“Dan passion. Orang nggak akan bergerak dengan totalitas tanpa terjebak di dalam hasrat, kan?” (hal.13)
“Mereka yang mengerjakan sesuatu dari hati, karyanya akan memiliki jiwa. Where the spirit does not work with the hand, there is not art” – Da Vinci (hal. 14)
“Tawa dan kebersamaan yang hangat tidak akan tergantikan oleh apa pun” (hal. 20)
“Kamu menyenandungkan lirik. Kudengar cinta memanggil. Namamu yang telah menjadi lagu di tidur malamku” (hal. 118)
“Aku tidak mengejar kesempurnaan. Tapi aku menikmati proses menuju sempurna. Seperti Michelangelo menikmati setiap waktu, tenaga, dan pikirannya yang digunakannya dalam menciptakan sebuah mahakarya” (hal. 178)
“Setiap orang punya ruang dan tempat tersendiri. Mereka yang pergi dan datang, tak akan pernah bisa saling menggantikan” (hal. 198)
“Rindu yang Tuhan ciptakan adalah jarak terdekat di antara perpisahan” (hal. 206)
“...Tapi bukankah cinta memang datang perlahan? Menghuni hati tanpa perencanaan lebih dulu? Bahkan, sebelum perasaan terungkap, manusia lebih dulu menyimpannya” (hal. 302)
“Setiap orang tidak berubah tanpa motif. Sikap adalah manifestasi dari perasaan.” (hal. 309)
“Pagi yang dingin menyadarkanku. Tak ada kamu yang menjadi matahari terbit bagiku.” (hal. 312)
“Ternyata rumah dan keluarga adalah surga penuh kebahagiaan” (hal. 302)
“....Ingatlah selalu, Felice, kalau cinta akan berawal dan berakhir di tempat yang sama....” (hal. 324)
“Tidak ada yang lebih membuatmu bahagia selain mengetahui cinta datang dan diberikan kepada orang yang tepat. Namun, jika kenyataan berkata sebaliknya, mungkin kamu hanya perlu bersiap untuk melepas dan merelakannya” (hal. 332)
“Ada perbedaan tipis di antara benci dan cinta. Dan yang menyekat keduanya hanyalah perasaan tak mau memaafkan.” (hal. 336)
“Felice, kamu tahu kenapa kita membenci seseorang? Seringkali karena kita menaruh cinta yang begitu besar dan lupa akan risiko dikecewakan. Padahal, cinta menerima segalanya. Cinta adalah tentang kekurangan dan kelebihan.” (Hal. 341)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar