Kamis, 26 Desember 2013

Hercule Poirot’s Christmas



Judul terjemahan: Pembunuhan di Malam Natal
Penulis: Agatha Christie
Penerjemah: Mareta
Renovasi sampul: Dwi Koendoro
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: ketujuh, Desember 2002
Jumlah hal.: 296 halaman
ISBN: 979-655-629-4

“Lelaki tua yang lemah seperti ini, begitu kurus, kering-tetapi-dalam kematiannya- begitu banyak darah....” Suara Hercule Poirot menghilang.

Si tua Simon Lee mengundang seluruh keluarganya untuk bersama-sama merayakan Natal di Gorston Hall. Dia menciptakan hiburan bagi dirinya sendiri dengan mempermainkan nafsu serakah mereka. Permainan ini ternyata mengusik kekuatan dan nafsu terpendam yang akhirnya membawa kematiannya.

Hercule Poirot menghadapi kasus pembunuhan yang direncanakan dengan sangat cermat dan dilaksanakan dengan brilian, tetapi... ada terlalu banyak darah!
***

Novel ini bercerita tentang sebuah pembunuhan yang terjadi di Gorston Hall. Kematian seorang pria tua, Simon Lee yang digambarkan sebagai pria yang jahat namun juga cukup murah hati. Kematiannya menjadi sebuah cerita pengungkapan tentang tabiatnya yang ternyata membentuk karakter anak-anaknya.

Cerita tidak langsung dibuka dengan berlatar tempat Gorston Hall. Cerita dibuka dengan berbagai latar tempat terkait kepentingan setiap orang dan tanggapan mereka akan undangan untuk merayakan natal di Gorston Hall yang datang dari si tua Simon Lee. Natal tahun itu meenjadi berbeda sebab setelah sekian lama tercerai berai karena berbagai alasan, semua anak Simon Lee berkumpul untuk merayakan natal bersamanya. SEMUA anaknya!!


Alfred Lee, anak Simon Lee dan Lydia, istrinya adalah anak Simon Lee yang tinggal di Gorston Hall. Alfred sangat memuja ayahnya, sedangkan Lydia sebenarnya tidak begitu suka pada ayah mertuanya. Namun karena kecintaannya pada suaminya, ia pun berusaha menutupi ketidaksukaan itu dan menolerirnya.

Namun Natal itu, Alfred marah pada sang ayah yang mengundang kembali Harry Lee, saudaranya yang sudah sangat mempermalukan keluarga dan selalu bertindak sesukanya. Terutama karena Simon Lee mengundangn Harry tanpa sepengetahuan Alfred.

Harry memang benar-benar datang dan muncul setelah bertahun-tahun tidak muncul. Ia pernah melarikan diri dengan uang yang ia “curi” dari sang ayah serta biasanya memberi kabar hanya jika dia sedang membutuhkan uang.

David Lee, anak Simon Lee yang sangat membeci sang ayahnya. David membenci ayahnya karena penderitaan yang ditimbulkan Simon Lee pada ibunya. Ibu David, adalah perempuan lemah, sakit-sakitan dan tidak bahagia. Dan setelah ibunya meninggal, David langsung pergi dari rumah dan tidak pernah kembali. Kedatangannya kali ini karena dorongan istrinya, Hilda, yang ingin agar ia mencoba memaafkan sang ayah dan memenuhi undangannya.

Selain Alfred, David, dan Harry, Ada pula George Lee. Ia adala anak Simon Lee yang berkecimpung di dunia politik. Istrinya, Magdalene, adalah perempuan muda yang pesolek. George adalah laki-laki yang pelit dan Magdalene adalah perempuan yang biaya hidupnya tinggi. George memenuhi undangan Simon Lee karena dia masih terus bergantung pada sokongan dana yang dia dapatkan dari ayahnya.

Kempat anak dan tiga menantu Simon Lee akhirnya berkumpul untuk merayakan Natal. Ternyata selain mereka ada dua tamu lagi yang ikut berkumpul yakni Pilar, anak dari Jennifer, anak perempuan satu-satu Simon Lee yang telah meninggal. Selain Pilar ada juga Stephen Farr anak dari Ebener Farr, sahabat lama Simon Lee.

Kemeriahan itu segera berganti mimpi buruk saat pada malam natal, Simon Lee ditemukan meninggal dunia. Ia diyakin telah dibunuh oleh seseorang. Ruangan tempat ia meninggal berantakan dan menunjukkan tanda-tanda perkelahian. Berdasarkan bukti-bukti yang terkumpul, pembunuh Simon Lee bukanlah orang di luar rumah melainkan orang yang berada di rumah.

Kecurigaan pun jatuh pada semua anak-anak, cucu, dan tamu yang ada di rumah itu. Terlalu banyak tersangka yang memiliki motif untuk membunuh Simon Lee. Namun siapakah sebenarnya pembunuh itu? Kenapa ia membunuh Simon Lee dan bagaimana?
***

Ini pertama kalinya saya mereview buku Agatha Christie meskipun bukan pertama kalinya saya membaca karya Agatha. Ini karena sebelumnya saya sudah membaca buku “There Were None” (kalau nggak salah) saat duduk di bangku SMP. Bagi saya buku itu bagus sekali dan menarik. 

Saya akhirnya menyadari sebara sulitnya mereview buku-buku detektif seperti ini. Sulit untuk tidak membuat review yang ditulis menjadi spoiler. Hm..so, biarkan saya mendeskripsikannya secara umum tanpa membocorkan apa pun *berjalan berjingkat-jingkat*

Hm..novel ini sebenarnya tidak terduga. Ending cerita dan pelakunya benar-banar gagal saya tebak. Penggunaan sudut pandang orang ketiga semakin menghidupkan cerita. Ini karena pembaca bisa “mengintip” banyak sudut pandang dan percakapan untuk bisa ikut menebak-nebak pelakunya. Saya pribadi sejak awal berpikir, “Hm..jangan-jangan Simon Lee itu pura-pura mati. Hal ini ada hubungannya dengan blurb yang seolang mengarahkan fokus utama ke Simon Lee.

Selain itu, seleran humor Simon Lee perlu diragukan. Simon Lee bahkan sengaja membuat marah anak-anaknya. Dan ternyata tidak lama kemudian Simon Lee ditemukan sudah tidak bernyawa. Hm..setelah itu satu persatu alibi dan motif setiap orang diungkap. Banyak hal yang tidak terduga yang dimunculkan penulis. Namun penyuguhannya memang menarik.

Hm..sepertinya saya akan membaca novel-novel karya Agatha Christie yang lain. Saya ingin melihat lebih banyak lagi kepiawaiannya memunculkan fakta-fakta yang tidak terduga kepada pembaca.

Oiya, ada satu hal yang membuat saya bingung. Yakni tentang balon yang melayang ke udara. Bukankah kalau balon ditiup dengan secara manual oleh manusia, maka balon tersebut bukan jenis balon gas yang bisa terbang ke udara dengan sendirinya? Kok ada bagian yang bercerita tentang balon yang melayang di udara?

ini cover barunya (^_^)

OK, di luar itu, saya suka ceritanya. Cover?? Hm..masih lebih bagus cover terbarunya. He..he.. So,, kalau harus memberi nilai untuk buku ini dalam skala 1-10, maka saya memberinya nilai 8.

***
Quote:
“Aku berpendapat bahwa dunia adalah sebagaimana diri  kita sendiri menerimanya.” (Hal. 19)
“Ada suatu kelemahan – suatu penyerahan yang membuat seseorang menjadi jahat – padahal kalau seseorang itu dihadapi dengan sikap tegas, dia bisa berubah menjadi manusia yang lain!” (hal.33)
“...perkawinan memang merupakan sesuatu yang luar biasa – dan aku rasa pihak ketiga – bahkan seorang anak hasil dari perkawinan itu sendiri – tidak berhak menilai perkawinan tersebut” (hal. 33)
“Dalam percakapan ada hal-hal yang bisa terungkap! Kalau manusia banyak yang bercakap-cakap sulit menghindari berbohong” (hal 158)

1 komentar: