Jumat, 13 Desember 2013

Cinta Kemarin




Penulis: Dila Putri
Editor: eNHa
Proofreader: Gita Romadhona
Penata Letak: Nopianto Ricaesar
Desain Sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: pertama, 2012
Jumlah hal.: viii + 212 halaman
ISBN: 979-780-468-2
Aku punya cerita.

Tentang seseorang yang menghabiskan separuh hidupnya mencari cinta. Menelusuri ke segala arah, bertanya ke semua orang. Dan, pada suatu masa, orang itu mulai merasa lelah. Mulai pesimis. Apakah semustahil itu cinta hadir untuk dirinya?

Saat itulah cinta datang. Sungguh-sungguh menghampirinya, benar-benar berdiri di hadapannya. Namun, tahukah kau apa yang dia lakukan kemudian? Berjalan menjauh. Dan, melanjutkan pencariannya lagi.

Aku punya cerita.

Tentang orang yang terlalu banyak berharap. Tentang sebuah kekeraskepalaan. Tentang aku dan lelakiku. Tentang cerita yang tak kunjung lengkap
***
Novel ini bercerita tentang Danisa, perempuan berusia 23 tahun yang bekerja sebagai  guru di sebuah international pre-school sekaligus seorang penerjemah freelance. Ia juga senang melukis tapi hanya sebatas hobby. Ia dan kekasihnya, Bimo sudah dua tahun bersama. Namun belum membicarakan tentang pernikahan. Bukan berarti Danisa ingin segera menikah. Namun ia juga ingin punya gambaran jelas tentang masa depannya.

Bimo adalah seorang wartawan, dan pekerjaannya itu membuat Danisa harus memiliki kesabaran ekstra karena sering kali Bimo mendadak membatalkan janji karena tuntutan pekerjaan. Selain itu, terkadang Bimo “menitipkan” Danisa kepada sahabat-sahabatnya, Erik dan Aryo.

Erik sudah lama dikenal oleh Danisa. Sedangkan Aryo baru dikenal oleh Danisa meskipun dia sudah lama tahu bahwa Aryo dan Bimo sudah lama bersahabat. Aryo adalah seorang pelukis, ini membuat Danisa nyaman untuk bertanya dan belajar banyak hal tentang dunia melukis. Bimo pun sering mempercayakan Danisa pada Aryo.

Hingga suatu hari Bimo membawa kabar bahwa ia harus pindah ke Nottingham demi pekerjaan barunya. Ini membawa hubungan Danisa dan Bimo ke fase baru, Long Distance Relationship (LDR).
Awalnya Danisa berusaha sendiri untuk menghadapi kondisi baru tersebut. Namun akhirnya dia butuh teman berbagi. Aryo dan Eriklah pilihannya.

Danisa lebih dekat dengan Aryo karena ada kesamaan hobby. Namun akhirnya kedekatan mereka ternyata berujung ke hal lain. Bimo pulang dan memina Arya menjauhi Danisa. Hubungan persahabatan Aryo dan Bimo pun retak. Di sisi lain Danisa masih terus penasaran pada sosok Airin, mantan istri Aryo. Dan ia pun pada akhirnya mulai bingung pada isi hatinya sendiri. Apakah ia masih mencintai Bimo atau ia menyukai Aryo?
***

Hm..buku ini sebenarnya sudah saya miliki sejak awal tahun 2013. Buku ini adalah kado ulang tahun yang datang terlambat dari sahabatku, Ika Kurniasi. Saya pun sudah menamatkannya tidak lama setelah buku tersebut saya terima pada Januari 2013. Namun karena sempat dipinjam oleh ibu kos-ku tersayang, akhirnya baru sekarang saya bisa mereview-nya.

Novel ini adalah novel yang juga mengangkat dunia melukis sebagai salah satu bagian latar ceritanya. Meskipun dimensi itu tidak sekuat yang ada di novel Roma. Mengambil setting cerita di Bandung, maka cerita ini terasa lebih dekat bagi saya.

Dari segi konflik memang menarik karena melibatkan sahabat kekasih. Selain itu kehadiran sosok Airin yang membuat Danisa penasaran pun ikut membuat saya penasaran. Namun ternyata tidak ada hal yang terlalu spesial dari konflik yang dibawa oleh tokoh ini selain kebetulan bahwa perempuan ini adalah ibu dari salah satu murid favoritnya.

Akhir cerita cukup diluar perkiraan saya. Saya tidak menduga mereka akan membuat sebauh kesalahan besar yang akhirnya membuat Danisa semakin bingung dan tidak tahu harus melakukan apa. Ia sulit untuk kembali bersama bimo dan ia pun dibenci oleh Aryo.

Hm.. dari segi konflik cerita tidak terlalu “wah”, namun pengemasannya sudah cukup baik dan alurnya juga menarik untuk terus diikuti. Selain itu covernya pun menarik. Jadi, saya memberi nilai 8 untuk novel ini (^_^)v
***
Quote:
“Waktu tidak pernah terasa berlalu, tahu-tahu kita telah melihat punggung waktu dan berusaha mengejarnya agar bisa melihat wajahnya.” (hal. 53)

“To me faith means not worrying” by John Dewey (hal. 65)

“Saat mata bertemu mata, maka seluruh dunia tidak akan terlihat” by Kahlil Gibran (hal. 240)

1 komentar:

  1. Sy sdh bc novel ini, bagus sy sk...bahkan sempet nangis pas d bgian akhir...

    BalasHapus